Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Pagi Setelahnya


__ADS_3

Dia bertabrakan dengan seseorang. "Tuan Gu Rong, Anda baik-baik saja?" tanyanya. Saat dilihat lebih jelas lagi, ternyata wanita itu adalah Mi Anra.


Gu Rong yang berada diambang kesadarannya lantas mendorong Mi Anra dan mencoba untuk pergi. Akan tetapi langkahnya semakin berat dan membuatnya terjatuh.


"Tuan Gu Rong!" Mi Anra membantunya berdiri. "Aku akan mengantar Anda ke kamar Anda, tunggu sebentar ya," sambungnya kemudian memapah Gu Rong pergi.


Lama waktu berlalu, bersusah payah Mi Anra memapah tubuh yang lebih berat darinya. Tak lama, tibalah dia di sebuah kamar yang diduga adalah kamar milik Gu Rong.


Dia mendorong pintu kamar dengan tangan kanannya dan membawa Gu Rong masuk ke dalam. Di dalam, Mi Anra melihat kamar yang begitu sederhana dan bersih. Dia tidak menyangka bahwa Gu Rong adalah pria yang menyukai hal seperti itu.


Mi Anra membawa Gu Rong ke ranjang tidur dan meletakkannya di sana. Dia yang berpikiran polos kemudian berkata, "tunggu sebentar, ya. Aku akan membawa obat pereda rasa nyeri."


Saat hendak melangkahkan kakinya pergi, Gu Rong malah menahannya dengan cara mencekal tangannya. "Jangan pergi," pintanya.


Mi Anra kebingungan dalam situasi seperti itu. Dia menyentuh tangan Gu Rong dan kembali berkata, "aku akan kembali secepatnya." Lalu melepaskan genggamannya.


Hal mengejutkan kemudian terjadi. Dimana Gu Rong dengan kasar menarik Mi Anra ke atas ranjang tidur dan langsung mengurungnya dibawah kungkungannya.


"A-apa yang ingin kau lakukan? Menyingkir!" Mi Anra mendorong tubuh Gu Rong. Namun itu sia-sia.


"Mi Anra, bantu aku." Gu Rong menyentuh lembut bibir Mi Anra sambil mendekatkan wajahnya. Mi Anra yang tidak tahu harus melakukan apa hanya bisa memberontak, namun lagi-lagi hal itu sia-sia.


Dia sangat terkejut saat Gu Rong tiba-tiba menarik pakaiannya dengan kasar dan melakukan hal tidak senonoh padanya. Dia menangis dalam keputusasaan menerima perlakuan Gu Rong.


"Mi Anra, aku ... mencintaimu," bisiknya membuat air mata Mi Anra meleleh.


Malam pun berlalu dengan banyak kejadian yang tidak terduga menimpa mereka.


Esoknya, Yunza terbangun dengan rasa nyeri menyerang kepalanya. Dia hendak menyentuh kepalanya namun tersadar bahwa tangannya terikat sesuatu. Ia pun membuka matanya dan mendapati kedua tangan terikat ke ranjang tidur.


"A-apa ini?" Ia bergumam heran melihatnya.


Samar-samar, pandangannya pun mulai jernih. Dia melihat ke arah jendela kamar yang menyorotkan sinar matahari ke dalam kamar. Terlihat sepasang burung tengah asyik berkicau di sana dan Yunza berusaha mengingat apa yang sudah terjadi semalam.


"Semalam ... aku melakukan apa?" gumamnya sambil mengingat-ingat.

__ADS_1


Beberapa potongan kisah pun muncul berurutan. Dari sejak dia menunggu kedatangan Chen Su bersama rencananya dan pertemuannya dengan Lin Jian malam itu.


"Lin Jian?" Ia membelakkan mata saat ingatan berakhir sampai di sana. Yunza pun dengan cepat menundukkan kepala untuk melihat tubuhnya. Tak ada sehelai benang pun melekat di tubuhnya, ia hanya ditutupi oleh selimut tebal.


Kemudian, pandangannya melirik sosok yang menggeliat di sampingnya. Sekali lagi ia terkejut sampai kedua bola matanya hampir loncat saat melihat Lin Jian tidur di sampingnya sambil bertelanjang dada.


"Tidak ... mungkin!" ucap Yunza dalam keterkejutan.


"Tidaaaaaaaaaak!" Dia pun berteriak sekencang-kencangnya. Teriakannya sampai terdengar di semua area timur dan membuat semua orang yang mendengarnya terheran dan bertanya-tanya.


"Tch! Berisik sekali pagi-pagi!" bentak Lin Jian sambil duduk. Saat menoleh ke arah Yunza, dia mendapati istrinya sedang menangis tersedu-sedu.


"Lin Jian, kau bajingan!"


Mendengar hal itu Lin Jian tersenyum. "Kenapa? Bukankah kau sendiri yang memintaku melakukannya, hah? Semalam seperti serigala betina kehausan, sekarang menangis-nangis seperti itu!" ujarnya.


"Aku ... aku yang memintanya? Ini semua pasti karena efek obat itu. Chen Su, kaulah yang harus bertanggung jawab atas semua ini! Gara-gara dia, aku kehilangan kesucianku!" Ia mengutuk dalam hati.


Melihat ekspresi Yunza membuat Lin Jian merasa sangat puas. Dia akhirnya menurunkan kakinya dari ranjang tidur.


Lin Jian menoleh. "Oh, kalau begitu memohonlah kepadaku untuk itu," pintanya.


Yunza menggertakkan giginya sambil menatap tajam. "Lin Jian, lepaskan ikatan di tanganku ini. Cepat!" pintanya.


Alih-alih menuruti perkataannya, Lin Jian malah berdiri membelakangi Yunza. "Aku tidak menerima permintaan seperti itu! Jika kau tidak mau melakukannya, tunggu pelayanmu datang untuk melakukannya!" ujarnya.


"Kau ingin aku memohon seperti apa?" tanya Yunza.


Lin Jian membalikkan tubuhnya sambil berkata, "sebut aku 'suamiku', barulah aku buka ikatannya."


Yunza memejamkan mata mendengar ucapan memuakkan tersebut. Namun dia tak memiliki pilihan lain ketimbang harus menunggu sampai Mi Anra datang. Itu akan sangat memalukan baginya.


"S-suamiku ... cepat lepaskan ikatan di tanganku!" Awalnya suaranya lembut dan terdengar sungkan dan tidak ikhlas, di akhir Yunza memberikan nada tekanan sebagai pelampiasan rasa muaknya.


Begitu saja sudah membuat Lin Jian sangat puas. Dia tertawa sampai akhirnya naik ke atas ranjang untuk melepaskan ikatan di tangan Yunza.

__ADS_1


Posisi Lin Jian yang berada di atas sementara Yunza di bawah benar-benar membuat suasana menjadi canggung. Yunza memalingkan wajahnya agar tidak berhadapan dengan dada bidang Lin Jian.


"Sial!" Ia mendengus kesal.


Tangan Yunza pun terlepas dari ikatan tersebut, kemudian Lin Jian turun dari tempat tidur. Dia memungut helai pakaiannya dan memakainya kembali di depan Yunza yang masih terbengong.


"Kenapa, apa masih ingin mencobanya?" tanya Lin Jian.


Yunza terkejut kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Tidak tertarik!" sungutnya. Setelah itu, Lin Jian pun pergi meninggalkan kamar Yunza.


Seperginya Lin Jian, Yunza memeluk lututnya sambil menyesali apa yang sudah terjadi malam itu. Meski pun Lin Jian adalah suaminya dan dia berhak atasnya, tapi tetap saja hatinya merasa tidak rela.


"Nasi sudah menjadi bubur," gumam Yunza.


Tak lama, dia menyibakkan selimut untuk turun dari ranjang. Alangkah terkejutnya dia saat melihat pakaian bawahnya masih lengkap. "A-apa? Kami tidak melakukannya?"


Ia seakan tak percaya dan memeriksa kasur. Di sana, tidak ada satu noda apapun dan itu membuatnya senang. "Itu artinya ... kami tidak melakukannya!" Yunza tersenyum bahagia.


Sementara itu, di luar kamar.


Lin Jian berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan wajah frustrasi. "Sial! Aku sudah menahannya sekuat tenaga semalaman!" gumamnya.


"Shen Yun Ja, lain kali aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!" Kemudian dia melangkah pergi.


Di kamar Chen Su beberapa saat kemudian.


Chen Su terbangun dengan rasa nyeri di kepalanya. Saat membuka matanya, dia dikejutkan oleh suara mendengkur seseorang dari sebelahnya. Dia pun langsung menoleh.


"Apa? Tidak mungkin!" Ia amat terkejut dengan keberadaan pria jelek itu di atas ranjang tidurnya. Terlebih dengan tubuh tanpa sehelai benang pun yang melekat.


"Bagaimana bisa seperti ini! Hei, bangun kau bodoh! Kenapa kau bisa ada di sini brengsek!" Dia memukul pria itu sampai ia terbangun.


Diakhiri dengan tendangan, pria itu pun jatuh dari tempat tidur. "Pergi kau bodoh!" berang Chen Su.


Pria itu ketakutan dan memungut pakaiannya kemudian mengenakannya. Chen Su menyuruhnya pergi melalui jendela dia pun pergi melalui jendela.

__ADS_1


Di atas ranjang tidur, Chen Su terbelenggu sambil mencengkram erat selimut di tubuhnya. "Ini pasti ulahnya. Shen Yun Ja! Kau benar membuatku marah kali ini! Aku akan membalas penghinaan ini!" geramnya sambil meneteskan air mata.


__ADS_2