Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Yang Terabaikan


__ADS_3

Hari berganti.


Lin Jian bangun lebih awal. Diselimutinya Yunza yang masih tertidur pulas, kemudian turun dari ranjang tidur. Dia memakai kembali pakaiannya satu persatu lalu pergi meninggalkan kamar.


Keluar dari kamarnya, Lin Jian langsung masuk ke ruangan di sebelah kamarnya untuk menemui Wang Xi. Di sana, Wang Xi sudah menunggu kedatangan Lin Jian untuk memberitahukan informasi yang didapatnya tadi malam.


"Bagaimana?" tanya Lin Jian sembari duduk di kursi.


Wang Xi menjawab dengan gelengan kepala. "Tidak satupun orang mengetahui tentang keluarga Mu, atau lebih tepatnya, mereka menyembunyikannya dan menolak memberitahu," jawabnya.


"Sudah kuduga," batin Lin Jian. "Lalu, bagaimana dengan Kepala Desa?" tanyanya kemudian.


"Tepat setelah kepergian Pangeran malam itu, aku melihat dia menulis sebuah surat dan menyuruh seseorang mengirimnya ... ke Istana Hou Zzi."


Lin Jian lantas membelakkan matanya. "Ternyata, semua ini memang ada hubungannya dengan ayah Kaisar. Hanya dia yang tahu tentang semua ini," gumamnya.


"Yang Mulia," seru Wang Xi. "Aku menemukan sebuah tempat yang diduga dulunya berdiri kediaman Mu di sana. Namun tempat tersebut sangat kumuh dan terpencil, bangunannya hampir dilahap habis oleh rumput liar yang menjulang tinggi," ucapnya.


"Kediaman Mu?"


"Benar. Terdapat sebuah papan kuno bertuliskan 'Mu' yang sebagiannya telah habis dimakan rayap. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Yang Mulia?" tanya Wang Xi.


Lin Jian beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju pintu. "Temani aku pergi ke sana, Wang Xi. Aku ingin tahu, apa yang bisa aku temukan di sana," ujarnya.


"Baik, Yang Mulia," jawab Wang Xi. Mereka pun pergi bersama.


Waktu berlalu begitu saja. Matahari sudah condong ke barat, namun Yunza belum juga bangun. Sampai akhirnya, dia tak sengaja menyenggol meja di dekat ranjang kemudian membuatnya terbangun.


Ia duduk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Namun dia menyadari betul bahwa Lin Jian sudah tidak ada di sana. "Kemana dia pergi?" batinnya.


"Sejak tadi malam, aku curiga Lin Jian ada menyembunyikan sesuatu dariku. Mengajakku datang ke tempat ini pasti bukan hanya untuk melihat festival musim panas saja," gumamnya sambil menaruh tangan di dagu.


Tak berapa lama, dia menyibakkan selimut kemudian turun dari tempat tidur. "Tidak! Aku tidak boleh hanya diam saja! Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya Lin Jian sembunyikan," ucapnya sembari memakai pakaiannya.


Setelah itu, dia pergi meninggalkan kamarnya.


Di waktu yang sama, di Istana Hou Zzi.


Seseorang datang menemui Kaisar sambil membawa sebuah surat. Kaisar membaca surat tersebut dengan raut wajah serius. "Jadi, Lin Jian pergi ke desa Jongwu untuk mencari tahu tentang ibunya? Apa Jenderal Thang yang memberitahunya?" tanyanya.

__ADS_1


"Ijin menjawab, Yang Mulia. Suatu malam sebelum keberangkatannya ke desa Jongwu, pangeran kedua memang diketahui datang ke kamp militer dan membicarakan sesuatu dengan Jenderal Thang secara pribadi," jawab orang tersebut.


Kaisar terdiam sejenak. Apa yang sudah terjadi beberapa hari terakhir ini benar-benar membuatnya resah. "Satu bulan sudah berlalu, gulungan itu pasti sudah berada di tangan Kaisar Long. Aku tidak bisa terus berleha-leha," gumamnya.


"Berikan aku sebuah kertas dan kuas. Setelah itu, pergilah panggil penasehat kemari," titahnya. Orang itu melaksanakan perintahnya. Setelah memberikan kertas dan kuas dia pun pergi melaksanakan perintah lainnya.


Kaisar mulai menulis beberapa kalimat di atas kertas. Apa isinya hanya dia saja yang tahu. Yang pasti, surat tersebut ditujukan untuk Kaisar negeri seberang. Setelah itu, dia mengikat surat tersebut di kaki burung dan melepaskan burung itu pergi.


Sementara itu, di negara Long.


Kaisar Shen memanggil Han Xi dan putera mahkota untuk membicarakan sesuatu. Tak hanya mereka saja, namun pangeran perwakilan dari negara Yangjou pun turut hadir.


"Negara Hou sedang merencanakan sesuatu untuk membalas kekalahannya pada perang beberapa waktu lalu. Seorang mata-mata mengatakan kalau negara Hou sudah memiliki sekutu, yakni negeri seberang," ucap Kaisar.


"Negeri seberang? Kaisar mereka adalah seseorang yang sangat keras kepala dan ambisius. Bagaimana mungkin mereka mau bersekutu dengan negara Hou yang mungkin tidak akan menguntungkan mereka?" tanya putera mahkota.


"Kau salah, kakak pertama. Jangan lupa kalau negara Hou memiliki kekayaan sumber daya alam yang juga selama ini sedang kita incar. Kemungkinan, Hou menjanjikan membagi sumber daya tersebut sebagai balasannya," jawab Han Xi.


"Apa yang dikatakan Han Xi benar." Kaisar membela. Tak lama, dia melirik pangeran negara Yangjou, Xian Fang, lalu bertanya kepadanya. "Bagaimana tanggapan pangeran Xian Fang mengenai masalah ini?"


Pangeran dari negara Yangjou, Xian Fang. Seorang pria yang memiliki kecerdasan tinggi dan menguasai kemampuan bertarung yang sangat baik. Dia juga merupakan calon menantu kerajaan Long, pria yang akan menikahi Xiao Lu kelak.


"Jika aku menjadi mereka, aku pasti sudah melakukan persiapan sebelum musuh menyerang terlebih dahulu. Dan mungkin tidak lama lagi, mereka akan melakukan pergerakan," sambungnya.


Semua orang menyetujui pendapat masuk akal yang diutarakan Xian Fang.


"Kekuatan militer Hou cukup lemah dibandingkan negara Long. Namun, berbeda halnya dengan negeri seberang. Mereka memiliki pangeran yang sangat mahir dalam berstrategi," ucap Kaisar.


"Untuk itu, kita juga harus mempersiapkan semuanya sedini mungkin. Jadi, bagaimana pendapat Kaisar Yangjou mengenai persekutuan kita ini?" tanyanya.


Semua orang menatap Xian Fang, menunggu jawabannya.


"Aku sudah membicarakan hal ini dengan ayah Kaisar. Dia bersedia memberikan 500 pasukan untuk membantu negara Long," jawabnya.


"500 pasukan?" Semua orang terperajat kaget mendengar jumlah yang terbilang tidak banyak tersebut.


"Pangeran Xian Fang, apa kau becanda? 500 pasukan tidaklah banyak," kata putra mahkota Shen.


Mendengar hal itu, Xian Fang tersenyum. "Sepertinya kalian salah paham, aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku," katanya.

__ADS_1


"500 pasukan tersebut akan diberikan sebelum pernikahan berlangsung. Dan setelah pernikahan selesai, 4500 pasukan sisa akan dikirim. Begitu yang ayah Kaisar katakan," lanjutnya.


Kaisar bertanya, "jadi, mau tidak mau pernikahan harus segera dilaksanakan sebelum mereka mulai bergerak. Benar begitu?"


"Benar. Kaisar tidak perlu khawatir, negara Yangjou selalu menepati ucapan mereka. Tidak hanya bantuan pasukan, ayah Kaisar juga sudah menyiapkan hadiah lainnya sebagai ketulusannya," jawab Xian Fang.


Kaisar mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, apakah Kaisar Yangjou sudah memutuskan tanggal pernikahannya?" tanyanya.


Dengan tegas, Xian Fang menjawab, "sudah. Tanggal 29 bulan depan."


Sekali lagi, semua orang dibuat terkejut dengan perkataan Xian Fang.


"Tanggal 29 bulan depan? Itu tidak mungkin!" tolak Han Xi.


"Pangeran Xian Fang, tanggal 29 bulan depan adalah peringatan kematian Permaisuri. Bagaimana bisa aku menggelar pernikahan pada hari itu?" ujar Kaisar.


"Kaisar Shen, itu sudah menjadi keputusan ayahku. Setuju atau tidaknya terserah padamu," ucap Xian Fang acuh tak acuh.


"Tentu saja tidak! Apa kalian---"


"Han Xi!" Kaisar menyela ucapan Han Xi sambil mengangkat tangannya memintanya diam. "Aku setuju. Pernikahan akan dilakukan tanggal 29 bulan depan."


Ditengah kekecewaan Han Xi atas persetujuannya, Kaisar kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengakhiri pertemuan hari ini. Beberapa orang pun berangsur pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Han Xi, tetaplah di sini. Ada yang ingin Ayahanda katakan padamu." Han Xi pun menghentikan langkah kakinya.


Setelah semua orang pergi, barulah Han Xi bertanya, "mengapa Ayahanda menyetujuinya? Kita tidak mungkin menggelar pesta pernikahan di hari kematian ibunda!"


Kaisar beranjak dari tempat duduknya. "Apa yang kau katakan benar. Tapi apa kau lupa sesuatu? Hari kematian ibundamu bersamaan dengan hari lahirnya Yunza. Setiap tahun kita selalu berduka atas kepergian ibunda apa pernah merayakan dengan suka cita demi Yunza?" tanyanya.


Han Xi tertegun mendengar ucapan ayahnya. Jangankan merayakannya, sekadar ucapan selamat ulang tahun pun tak pernah orang ucapkan pada Yunza.


"Sepanjang hidup ayah, ayah tidak pernah memerhatikan Yunza. Selalu saja menyalahkannya atas kematian ibunda, padahal Yunza hanyalah seorang anak yang tidak tahu apa-apa. Ayah sangat menyesal." Suara Kaisar gemetaran.


"Kali ini. Setelah perang ini selesai ... tolong bawa Yunza kembali dari negara Hou. Ayah ingin memberikan kasih sayang yang tidak pernah didapatkan olehnya. Han Xi, bisakah kau berjanji?" tanyanya dengan berderai air mata.


Hati Han Xi turut bersedih. Setiap tahun, dia pun hanya memikirkan peringatan kematian ibundanya saja dan tidak memikirkan perasaan adiknya.


"Ayahanda, aku berjanji akan membawa Yunza kembali ke sini," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2