
Di ruang ganti pakaian.
Yunza dibantu Mi Anra dan yang lainnya mengganti pakaiannya dengan pakaian menari. Tak hanya itu, riasan dan model rambut pun dipermak sebagus mungkin.
"N-nona, apa Nona yakin? Nona kan ... tidak bisa menari," ucap Mi Anra yang mengkhawatirkannya. "Takutnya, mereka cuma ingin mempermalukan Nona saja," lanjutnya.
Yunza tersenyum di depan cermin. "Mi Anra, apa kau belum memahami majikanmu ini? Kau masih tidak mengenalku?" Ia malah bertanya seperti itu.
Mi Anra dengan cemas berkata, "bukan seperti itu, Nona. Hanya saja ...."
"Iya, iya, aku mengerti. Sebaiknya kau tidak mengkhawatirkan hal itu dan lihat saja nanti," serobot Yunza. Mi Anra pun terdiam dalam kegelisahan.
Sementara itu, Chen Su dan Shenshen mengintip dibalik pintu lain ruang ganti. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Shenshen kepada Chen Su.
"Aku akan mempermalukannya di depan Pangeran Lin Jian serta yang lainnya untuk membalas perlakuannya tadi siang kepadaku. Aku ingin lihat bagaimana wajahnya akan tercoreng di depan tamu penting Kaisar," jawab Chen Su.
Shenshen melirik Chen Su. "Aku selalu muak mendengar omong kosongnya. Tapi bagaimanapun, aku butuh dia untuk membantuku membalas Shen Yun Ja," batinnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Shenshen.
Chen Su tak langsung menjawab dan malah mengambil sesuatu di bawahnya. Sebuah mangkuk berisi sesuatu yang baunya sangat busuk dan memiliki warna yang sangat menjijikan.
Shenshen termual-mual karenanya. "Bau sekali! Apa yang akan kau lakukan dengan kotoran itu?" tanyanya sambil menutup hidung dengan tangan.
"Kau akan masuk ke dalam dan pura-pura tidak sengaja menumpahkan isi mangkuk ini ke pakaian yang dikenakannya," balasnya.
"Apapun itu caranya, pastikan menumpahkan di semua bagian pakaiannya jika perlu tumpahkan di wajahnya karena aku sudah menyuruh pelayan untuk membawa semua baju dan hanya meninggalkan satu saja yang dikenakannya," sambung Chen Su.
"Tunggu dulu." Shenshen menatap heran ke arah Chen Su kemudian bertanya, "kenapa harus aku yang melakukannya? Aku tidak mau membawa kotoran ini!" Ia menolak rencana Chen Su.
Mendengar hal itu, Chen Su merasa geram karena sikap egoisnya. Namun dipikir-pikir, dia pun enggan melakukannya karena tidak kuat dengan bau busuk dari kotoran tersebut.
Ia memikirkan cara untuk membujuk Shenshen. "Aku sudah memprovokasinya dan itu akan membuatnya waspada terhadapku. Dengarkan aku, Shenshen. Apa kau hanya akan diam saja tanpa membalas perlakuannya kepadamu di taman?" Ia menghasut Shenshen.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin membalasnya? Ingat, selain menjahili kita, dia juga merampas perhiasan kita dengan curang! Kau tentu tidak akan membiarkannya begitu saja, kan?" tanyanya.
Mengingat kejadian memalukan itu membuat emosi Shenshen muncul kembali. "Seumur hidupku, tidak ada orang seberani Shen Yun Ja yang berani menghinaku serendah itu! Aku tidak akan membiarkannya," ucapnya.
Chen Su tersenyum jahat mendengarnya. "Ya sudah, cepat pergi. Dia sudah selesai bersiap-siap. Pastikan kau berhasil melakukannya!" dorongnya.
Di dalam, Yunza selesai bersiap. Baru saja berdiri dari tempat duduknya, Shenshen tiba-tiba muncul di depannya dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang.
Seperti biasanya, di hadapan Yunza dia memasang wajah masam yang asamnya mengalahkan asam buah lemon. Yunza mengernyitkan dahinya lalu bertanya, "apa ada?"
Melihat kehadirannya membuat Mi Anra waspada. Ia memperhatikan apa yang disembunyikan Shenshen di belakang tubuhnya.
"Tidak ada, hanya saja ... Ah! Kakak ipar! Ada lebah di belakangmu!" teriak Shenshen dan langsung menyiramkan mangkuk berisi kotoran tersebut ke arah Yunza.
Beruntung, Yunza cekatan dan langsung menghalau menggunakan tangannya membuat kotoran tak sampai menyentuh wajahnya. Sayangnya, gaun bagian bawah serta bagian lengan terkena kotoran tersebut.
"Nona?" Mi Anra sangat terkejut melihatnya.
"Ups! Maaf. Aku kira tadi itu lebah, ternyata bukan. Kakak ipar, kau tidak marah padaku, kan?" tanyanya sambil memasang senyum palsu.
"Tidak, aku tidak marah, kok. Tidak masalah. Aku pikir, adik ipar belum bisa move on dari kejadian di taman dan ... kotoran itu, kan?" Yunza balik menghina.
"Kau!" Shenshen melotot kedua matanya. "Bagaimana mungkin dia masih bisa menghinaku seperti ini!" batinnya sambil menahan emosi.
"Heh!" Ia memalingkan wajahnya kemudian pergi dari tempat itu.
Chen Su yang menyaksikan hal itu merasa senang dalam hatinya karena berpikir kalau rencananya sudah berhasil. Dia menyambut Shenshen dan berkata, "kerja bagus, Shenshen."
Akan tetapi, Shenshen yang masih emosi malah mengabaikannya dan pergi dari tempat itu. Chen Su terheran namun akhirnya menyusul Shenshen.
"Shen Yun Ja, aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan. Muncul dengan pakaian penuh kotoran seperti itu tentu akan mencoreng wajahmu dan membuat Pangeran Lin Jian merasa muak. Namun jika tidak datang, sama saja seperti menggali kuburanmu sendiri," batin Chen Su.
Di dalam, Mi Anra menjadi cemas dengan apa yang telah terjadi. "Bagaimana ini, semua pakaian yang lainnya sudah dibawa pergi oleh pelayan, jika mengambilnya tidak akan sempat," gerutu Mi Anra.
__ADS_1
Yunza mengernyitkan dahinya lalu menutup hidungnya. "Sial sekali! Seharusnya tadi tanganku menepis dengan benar mangkuk tersebut, tapi karena pakaiannya terlalu ketat jadi tidak leluasa bergerak," gumamnya.
Ia kemudian duduk di kursi dan berkata pada Mi Anra, "ambilkan aku pisau, belati, atau apapun itu asalkan benda tajam." Sambil mengulurkan tangannya.
Mi Anra langsung mencari-cari. Di atas meja, di dalam laci, dan tempat lainnya tak luput dari pencariannya. Sayangnya ia tak mendapati apapun.
"Tidak ada, Nona," ucapnya dengan cemas.
Yunza menghela napas kasar, lalu sepasang matanya melirik ke arah cermin. "Pecahkan cermin itu, ambil bagian tajamnya dan berikan padaku," suruhnya. Mi Anra menganggukkan kepalanya.
Mi Anra pun langsung melakukan perintahnya. Dia mengambil cermin dan berusaha memecahkannya. Awalnya dia memukul cermin dengan sebuah benda, namun tidak berhasil.
Kemudian dia menjatuhkannya ke lantai dan berhasil. Segera, dia memberikan potongan cermin yang tajam pada Yunza.
Menggunakan potongan cermin itu, Yunza merobek beberapa bagian pakaian yang terkena kotoran. Rok bawah hampir setinggi lutut harus dipotongnya. Lalu, kedua kain lengan juga dipotongnya dengan bantuan Mi Anra.
Ia tak memotongnya dengan asal-asalan. Yunza menerapkan pengetahuannya tentang desain pakaian di dunia modernnya pada pakaian yang dikenakannya.
Beberapa saat kemudian, terciptalah sebuah gaun yang cantik. Gaun tersebut berwarna ungu muda dengan rok depan setinggi lutut sementara bagian belakangnya menjuntai cantik.
Pada bagian lengannya, dia potong habis. Bagian dada agak terbuka dengan hanya sebuah tali kecil di sebelah kirinya. Melihat hal itu mengingatkannya dengan dunianya.
"Ini seperti longdress yang banyak dipakai oleh wanita kalangan atas saat menghadiri suatu acara. Bisa memakainya di dunia kuno seperti ini benar-benar tidak bisa dipercaya," gumam Yunza.
"L-long dres? Apa itu Nona?" tanya Mi Anra yang tak sengaja mendengar gumaman Yunza.
"Ahahahaha, tidak, kok. Aku hanya mengoceh tadi. Tidak tahu apa itu longdress." Ia beralasan.
"Baiklah, Mi Anra. Ambilkan sepatuku. Mari kita balas mereka berdua," ucap Yunza sambil tersenyum jahat. Setelah itu mereka pun pergi.
Di aula, semua orang sibuk mengobrol sambil menunggu kedatangan Yunza. Ditengah obrolan, bunyi lonceng kaki kembali terdengar. Keadaan menjadi hening seketika dan semua mata menatap ke arah pintu masuk.
Pintu pun terbuka dan perlahan sosok Yunza pun terlihat di sana. Alangkah terkejutnya Chen Su dan Shenshen melihat pakaian yang dikenakan Yunza.
__ADS_1
"B-bagaimana mungkin!"