
Mendengar hal itu, sepasang mata Yunza membelalak sempurna. "A-apa yang kau katakan? Jangan mengatakan omong kosong seperti itu!" Yunza yang mempercayai ucapannya.
Yu Qin mencengkram kedua tangan Yunza. "Aku mengatakan yang sebenarnya, Yunza." Tak lama dia mengeluarkan sesuatu dari pakaiannya dan memberikannya kepada Yunza.
Sebuah kertas yang terdapat bercak darahnya. Yunza menerima kertas tersebut dan membacanya. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui isi surat tersebut.
"I-ini ... Bagaimana bisa ini terjadi?" Yunza shock.
"Yunza, mereka sudah melakukan apa yang mereka inginkan. Jika kau terus berada di Istana, bukan tidak mungkin kau akan menjadi kambing hitam selanjutnya," ucap Yu Qin.
Wajah Yunza menjadi murung, warnanya pucat pasi dengan keringat dingin mulai menetes dari pelipis. Ia tak mengatakan apapun lagi, lalu beranjak dari tempat duduknya dengan perasaan kacau.
"Yunza," seru Yu Qin dengan nada lembut serta tatapan tulus. Dia memahami perasaan Yunza, dan itu pastilah tidak mudah untuk dia terima.
Dengan kekosongan yang ada dalam dirinya kini, Yunza melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun diambang pintu dia terhenti. "Terima kasih, Yu Qin," ucapnya dengan suara gemetaran. Sementara Yu Qin masih setia meratapi kepergiannya sampai dia hilang dari pandangan.
Yunza kembali ke Istana dengan langkah kaki yang amat berat. "Bagaimana aku harus memberitahu Mi Anra. Apa yang harus aku katakan kepadanya," gumamnya dengan tatapan kosong.
Dia terus bergumam kalimat yang sama sepanjang perjalanan, sampai tidak terasa kakinya sudah membawanya kembali ke Istana.
Namun di sana, tetiba langkah kakinya terhenti. Dia menatap jauh ke depan. "Apa yang harus aku katakan kepadanya? Apa sebaiknya aku tidak memberitahunya?"
"Tidak, tidak! Kau harus memberitahunya Yunza! Bagaimanapun dia adalah istrinya Gu Rong. Dia berhak tahu!"
"Tapi ini menyakitkan untuknya. Dia akan bersedih karena kehilangan orang yang dicintainya lagi!"
"Sebaik-baik orang menyembunyikan bangkai, akan tercium juga baunya. Kelak, dia akan mengetahuinya juga. Jika sampai mengetahui dari mulut orang lain, dia akan merasa sangat sedih!"
"Tapi aku tidak bisa melakukannya!"
"Kau harus melakukannya, Yunza!"
Pikirnya berkecamuk. Akhirnya Yunza memilih suatu keputusan berat. Dia tahu konsekuensinya namun tetap memilihnya. "Aku ... akan memberitahunya."
Tak berapa lama, tibalah Yunza di depan kamar Mi Anra. Namun, dia hanya berdiri sejak tadi di depan pintu tanpa berani mengetuk ataupun masuk.
Akan tetapi, tak lama pintu terbuka dari dalam. Yunza terkejut dan menengadah. Dilihatnya seorang tabib berjalan keluar. Di hadapan Yunza dia membungkukkan badannya dan memberi salam, kemudian pergi.
"Nona?" Mi Anra menyadari kehadiran Yunza.
Seruan Mi Anra mengejutkan Yunza, segera dia pun memasang senyum. "M-mi Anra. Tabib itu ... apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan gugup.
__ADS_1
Mi Anra menghampiri Yunza, kedua tangannya di pegang kemudian ditarik masuk ke dalam kamar. "Tangan Nona dingin sekali," gumam Mi Anra.
Di dalam, mereka duduk berdua di tepi ranjang. Sambil malu-malu, Mi Anra berkata, "itu ... aku baru saja diperiksa oleh tabib, dan dia memberitahuku kalau ... kalau aku sedang mengandung."
Yunza terperajat kaget dan langsung berdiri. Hatinya seolah teriris pisau tipis yang menyayat-nyayat secara perlahan.
Mi Anra ikut berdiri, melihat sikap aneh Yunza dia pun bertanya, "Nona ada apa? Kenapa raut wajah Nona tegang seperti itu?"
Yunza memalingkan wajahnya seketika. "Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? Aku benar-benar tidak bisa memberitahukannya!" batinnya cemas.
Mi Anra mengkerutkan dahinya dan kembali bertanya, "adakah Nona menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak ada. Mi Anra, sebaiknya kau beristirahat." Yunza melangkahkan kakinya hendak pergi, namun Mi Anra menahannya dengan mencekal tangannya.
"Apa yang ingin Nona katakan bisa menyakitiku? Itu sebabnya Nona tidak mau memberitahuku?" tanyanya.
Yunza diam tak merespon, masih dengan memalingkan wajahnya tak berani menatap mata Mi Anra.
Hal itu membuat Mi Anra tak bisa menahannya lagi. Dia mencekal kedua bahu Yunza dan menariknya sampai berhadapan dengannya. "Nona! Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang mengganggu pikiran Nona?" tanyanya.
Saat itu, pandangan mereka saling bertemu. Yunza tak kuasa menahannya lagi kemudian meneteskan air mata. Dia menundukkan kepalanya sambil menangis, tangan kanan menutup mulutnya dan berkata, "maaf, maafkan aku, Mi Anra."
Mi Anra terdiam kebingungan. "A-ada apa, Nona?" tanyanya.
Sekejap kemudian dia jatuh terduduk di atas ranjang tidur dengan tatapan kosong. Dadanya terasa sangat sesak, sulit sekali untuk bernapas.
"A-apa? Apa yang Nona katakan?" tanyanya.
"Mi Anra, maafkan aku." Hanya itu kalimat yang bisa Yunza ucapkan di hadapan Mi Anra.
Kedua tangan Mi Anra mencengkram ranjang tidur. Perlahan kepalanya tertunduk, butiran-butiran air mata pun mulai mengalir deras. "Tidak mungkin!"
Yunza langsung memeluk Mi Anra. Dia pun tak bisa menahan emosinya lagi, kemudian menangis meraung-raung. Tangisannya terdengar sangat pilu. Bagai pedang yang mengiris-iris hati. Perasaannya pasti sangatlah hancur.
Beberapa waktu berlalu, Mi Anra pun tertidur karena kelelahan. Yunza duduk di lantai sambil mengelus-elus kepalanya agar tidurnya nyenyak.
"Pada akhirnya, aku tidak bisa mengubah apapun. Alur cerita malah menjadi kacau, beberapa orang mati karenaku," gumam Yunza.
Ia kemudian membuka telapak tangannya. Kertas dengan bercak darah masih digenggamnya. Tak lama, dia beranjak dari tempat duduknya. "Aku harus segera mengirim pesan ini kepada kak Han Xi," gumamnya.
Yunza menoleh, memastikan kalau Mi Anra masih tertidur. Kemudian dia pun pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Di kamarnya, diam-diam dia mengikatkan kertas milik Gu Rong pada kaki seekor burung pengantar surat. Setelah itu, menerbangkannya ke langit lepas.
"Kak Han Xi, aku harap surat ini sampai ke tanganmu," gumamnya sambil meratapi kepergian burung pembawa surat tersebut.
Setelah itu, Mi Anra berjalan menghampiri sebuah laci. Di dalam, ada barang titipan dari Gu Rong untuk Mi Anra yang belum sempat dia berikan satu bulan lamanya. Namun saat itu, dia mengambil barang tersebut dan berniat memberikannya kepada yang semestinya memiliki.
Dia pun keluar kamarnya sembari menggenggam kalung tersebut. Pergi menemui Mi Anra dan memberikan kalung tersebut kepadanya.
Akan tetapi, dalam perjalanannya menuju kamar Mi Anra dia berpapasan dengan Shenshen. Saat itu, Shenshen yang melihat kalung di tangan Yunza langsung menyabetnya.
"Wah, kalung yang sangat bagus. Dimana kau mendapatkannya, kakak ipar?" tanyanya.
"Kembalikan!" pinta Yunza.
"Tidak! Aku menyukainya dan ini harus menjadi milikku. Berapa harganya? Aku akan membayar dua kali lipat!" ucapnya.
"Aku tidak menjualnya. Cepat kembalikan padaku!" pinta Yunza lagi. Dia berusaha mengambilnya dari tangan Shenshen namun dia malah mengolok-oloknya.
Dia mengangkat tinggi-tinggi tangannya agar Yunza tak bisa menjangkaunya. Kemudian melemparnya ke pelayan, dan terus mengolok-olok dan mempermainkannya.
Yunza sangat kesal karenanya, terlebih saat melihat Shenshen tersenyum puas mempermainkannya. Saat pelayan melempar kalung ke tangannya, Yunza segera mencengkram lengannya.
"Kembalikan!" Yunza melotot sambil mencengkram lebih keras lagi sampai membuat Shenshen meringis kesakitan.
Akan tetapi, untuk membalasnya Shenshen malah menjatuhkan kalung tersebut ke lantai. Kalung yang terbuat dari beberapa permata pun hancur terberai.
"Ups! Tanganku licin!" Shenshen menarik tangannya dari cengkraman Yunza, lalu tersenyum jahat setelah melakukannya.
Yunza menunduk melihat hancurnya kalung yang diamanahkan padanya oleh Gu Rong, sebelum sampai kepada pemiliknya. Itu sangat membuatnya kesal.
Dia mengepalkan tangannya, dengan tatapan tajam dia langsung melayangkan pukulan ke wajah Shenshen sampai dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Kau berani memukulku?" berangnya di bawah sana dengan tatapan mematikan.
Meski sudah begitu, Shenshen tidak ada kapok-kapoknya. Dia kembali berniat membalas Yunza dan hendak mengambil kalung tersebut untuk dilempar jauh. Akan tetapi, sebelum itu terjadi Yunza segera menginjak tangan Shenshen dengan kakinya.
"Aaarrghhhh!" teriak Shenshen.
"N-nona Shenshen!" seru para pelayannya yang tak bisa berkutik.
"Apa kau tidak bisa belajar dari kesalahanmu? Apa sebuah pukulan masih kurang?" tanya Yunza. "Jika ingin menyakiti juga harus melihat dulu orangnya!" Ucapannya benar-benar mengintimidasi Shenshen.
__ADS_1
Sementara Shenshen terdiam, Yunza memungut permata-permata kalung tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka.
Shenshen melotot sambil menggertakkan giginya. "Shen Yun Ja! Kau pikir kau bisa menang hanya karena sebuah pukulan saja? Kau yang mengatakannya sendiri bahwa menyakiti seseorang juga harus melihat orangnya! Heh! Kau akan menerima balasannya!"