
"Apa?" Kaisar Long terkejut mendengar informasi yang diberikan Han Xi kepadanya siang itu.
"Tidak salah lagi, Ayahanda. Berdasarkan dari gulungan yang dikirim Gu Rong, Negara Hou sedang menyiapkan rencana untuk mengambil kedaulatan mereka lagi dari kita," tutur Han Xi.
Kaisar duduk tegak dengan kedua tangan menyanggah dagunya. "Kalau perang kembali terjadi, sebelum itu, kita harus menjemput Yunza pulang dulu," ucapnya.
"Lebih baik jangan melakukannya, Ayahanda. Aku memiliki firasat kalau Yunza akan lebih aman jika tetap berada di sana," sanggah Han Xi.
Menanggapi hal tersebut, Kaisar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama dia mengulurkan tangannya hendak mengambil cangkir teh di atas meja.
Sesaat setelah menyentuh cangkir, tiba-tiba Kaisar menarik kembali tangannya sambil meringis kesakitan.
"Ayah Kaisar, Anda baik-baik saja?" Han Xi terlihat khawatir melihatnya.
Kaisar mengangkat tangannya dan berkata, "aku baik-baik saja. Han Xi, kembalilah. Ada beberapa hal yang harus segera aku selesaikan."
Mendengar hal itu, Han Xi beranjak dari tempat duduknya. Sebelum pergi, dia membungkukkan badannya kemudian berkata, "aku akan meminta tabib datang memeriksa tangan Ayahanda." Setelah itu dia pergi.
Setelah Han Xi pergi, Kaisar diam melamun sambil mengelus tangannya. "Kenapa ... aku merasakan suatu firasat buruk. Yunza ... apa dia baik-baik saja di sana?" batinnya.
Sementara itu, jauh dari negara Long, gunung Cheng.
Chen Su beserta orang-orangnya terbatuk-batuk ditelan sebuah asap yang mengepul tebak di sekitar mereka. Rasa sesak memenuhi semua rongga dada, pandangan pun menjadi tidak jelas karenanya.
Asap tebal tersebut muncul dari sebuah bola kecil yang dilempar Yunza ke tanah, beberapa saat yang lalu. Kini, tidak diketahui bagaimana dan dimana Yunza.
Akan tetapi, saat asap mulai menghilang, saat penglihatan mereka mulai berfungsi lagi, mereka menyadari kalau Yunza sudah tidak ada di sana.
"Sial! Kemana dia pergi!" Chen Su menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya karena amarah yang memburu. Ia sangat membenci kekalahan yang sering diterimanya.
Namun, sepertinya saat ini Tuhan sedang berpihak padanya. Tak berapa lama, di tanah, dia melihat bercak-bercak darah berada di mana-mana.
Bercak darah tersebut mengarah ke satu arah seakan memberitahukan pada Chen Su kemana perginya Yunza. Mengetahui keberuntungannya, Chen Su lantas tersenyum sinis.
__ADS_1
Ia kemudian berkata, "Shen Yun Ja. Kau memang sudah ditakdirkan untuk mati di tanganku. Tapi jangan menyalahkanku, salahkan saja takdir buruknya itu."
Chen Su membalikkan tubuhnya menghadap orang-orangnya. "Kalian pergilah ke belakang bukit dan pancing kawanan Serigala datang ke sini. Sementara, aku akan mengejarnya dengan jejak darah sebagai petunjuk," ujarnya.
Mereka menganggukkan kepala tanda mengerti. Setelah itu pergi melakukan perintah yang Chen Su katakan.
Chen Su mengalihkan pandangannya pada jejak darah yang ditinggalkan Yunza. Ia menatapnya sampai ke ujung dengan senyum menyeringai. "Shen Yun Ja, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah kali ini!" Dia pun pergi setelah mengatakan hal itu.
Di hutan, di balik pohon.
Yunza duduk menyandarkan tubuh sambil memegangi luka di lengannya. Dari sebuah kantong kecil yang menggantung di pakaiannya, dia mengeluarkan beberapa obat dan perban.
Namun sebelum itu, ia harus melepas panah yang masih menancap tersebut sebelum mengobatinya.
Yunza memegang batang panah dengan perasaan takut dan ragu. Tapi dia sadar bahwa dia harus melakukannya atau nantinya akan terjadi hal yang lebih buruk lagi seperti terjadinya infeksi.
Dia memejamkan mata kemudian mencabut anak panah dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa. "Aarrghh!" ringisnya sambil menahan suara.
Setelah melepaskan anak panah, Yunza segera mengobati lukanya dan membalutnya dengan perban.
"Apa di panahnya terdapat racun?" batin Yunza menerka-nerka. Sebenarnya ia takut, ia sadar bahwa Chen Su masih mengejarnya dan tidak mungkin bahwa dia akan segera menemukannya tak lama lagi.
Benar saja tebakannya. Dalam hitungan menit, Chen Su sudah berada di depannya kini. Dia berkata dengan wajah iblisnya, "aku menemukanmu!"
Yunza tersenyum dengan mata terpejam menanggapi perkataan Chen Su yang terdengar kekanakan. Kemudian, dia berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di lengannya.
"Oh? Kau masih bisa berdiri ternyata. Aku sangat kagum" ucap Chen Su.
"Terima kasih atas pujiannya, Chen Su." Yunza menoleh ke sana kemari. "Kemana orang-orangmu pergi? Bukankah tugas mereka belum selesai jika aku masih hidup?" lanjutnya.
"Mereka akan datang tak lama lagi. Dan saat itu tiba, maka selesailah tugas mereka," jawab Chen Su.
Yunza kembali tersenyum pahit. Dia memasukkan tangannya ke dalam pakaian dan saat itu juga Chen Su langsung bersiap diri.
__ADS_1
Dari balik pakaiannya, Yunza mengeluarkan sebuah belati. Dia menodongkannya ke depan seraya berkata, "ini pertarungan satu lawan satu. Jika kau berani, maju saja!" tantangnya.
Melihat sikap Yunza, Chen Su sangat puas. "Aku tidak keberatan sama sekali. Karena aku tahu kemenangan berada dipihakku." Dia mengangkat busurnya sebagai tanda diterimanya tantangan tersebut.
"Kemungkinan, orang-orang Chen Su pergi untuk memanggil sekawanan Serigala yang berada dibalik bukit sana. Aku harus segera mencari cara untuk bisa pergi dari sini," batin Yunza.
Chen Su menarik anak panah dan melepaskannya ke arah Yunza. Dengan sigap, Yunza menepis anak panah tersebut dengan belati miliknya.
"Tidak disangka, dia sangat mahir memanah. Aku tidak boleh lengah, atau hidupku akan berakhir di sini dengan sia-sia," ucap Yunza dalam hati.
Pada serangan Chen Su yang selanjutnya, Yunza berlari ke balik pohon dan berlindung di sana.
"Kau tidak lain hanyalah seorang pengecut, Shen Yun Ja. Jika berani, keluar dari sana dan hadapi aku secara langsung!" tantang Chen Su.
Di balik pohon, Yunza mengamati pergerakan Chen Su dengan sangat hati. "Tidak bisa memakan banyak waktu lagi, atau mereka akan segera tiba dengan membawa kawanan Serigala. Jika itu sampai terjadi, aku tamat. Tch! Cepat pikirkan sesuatu, Shen Yun Ja!"
Yunza mengintip. "Serigala sangat menyukai daging. Mereka sangat sensitif terhadap bau darah yang sangat menyengat. Jadi, tujuan Chen Su melukaiku karena hal itu salah satunya," gumamnya dalam hati.
"Namun, jika Chen Su mengalami luka, mungkin aku akan selamat. Tapi bagaimana bisa melukainya? Mendekat saja tidak bisa," lanjutnya.
Yunza menundukkan kepalanya dan mengamati belati di tangannya. "Benda kecil ini, apa bisa melukai Chen Su?" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Shen Yun Ja! Kau tidak akan tahu jika udah mencobanya!"
Kemudian pandangannya kembali tertuju pada Chen Su. Dia mencari celah untuk bisa melempar belai tersebut. "Hanya ada satu kali kesempatan, dan aku tidak boleh gagal!"
Segera setelah itu, Yunza langsung melempar belati ke arah Chen Su. Ia berharap belati tersebut bisa melukai Chen Su walau hanya sebesar kuku jari.
Akan tetapi, harapan menghianatinya. "Lemparannya melesat. Tidak! Dia yang berhasil menghindar."
Saat melamun, sekelebat anak panah melintas di depan wajah Yunza. Ia sempat menahan napasnya beberapa detik sampai akhirnya menghela napas dan langsung kembali bersembunyi dibalik pohon.
"Sial! Aku tidak punya senjata lagi!" Yunza memukul batang pohon untuk melampiaskan kekesalannya.
"Apa kau menyukainya? Jika begitu, aku akan membelikannya lebih banyak lagi." Ucapan Lin Jian terlintas di kepalanya. Benda yang dimaksud olehnya adalah tusuk rambut pemberiannya.
__ADS_1
Mengingat hal itu, Yunza menarik tusuk dari rambutnya sampai rambutnya jatuh tergerai. Dia menatap tusuk rambut sambil berkata, "Lin Jian, aku butuh bantuanmu!"