
Suatu malam. Tanpa sepengetahuan siapapun, Yunza mengendap-endap pergi ke tempat Yu Qin dengan berpakaian serba hitam seperti seorang ninja lengkap dengan masker hitam melekat di wajahnya.
"Aku harus mencari tahu tentang identitasnya yang sebenarnya, kemudian mencari cara untuk membatalkan kerjasamanya dengan negara Hou," batin Yunza.
Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian dan waspada, takut jika ada seseorang memergokinya. Saat tiba di depan pintu kamar Yu Qin, Yunza lantas meniupkan dupa tidur ke dalam kamar.
Dia menoleh ke sana kemari. "Dengan begini, akan lebih leluasa," gumamnya.
Setelah beberapa saat menunggu, dia pun mulai bertindak dan masuk ke dalam kamar. Di ranjang, terbaring seseorang yang sedang tertidur pulas.
Yunza pikir bahwa orang itu adalah Yu Qin namun tebakannya melesat jauh. Ia menyadari hal itu saat tetiba sebuah belati sudah ada di dekat lehernya. Seseorang bersembunyi di belakang pintu.
"Aku sempat curiga. Mengapa di depan kamar tidak ada satu pun penjaga. Ternyata dia sudah menantikan kedatanganku," batin Yunza.
Tak lama, dia menurunkan tangannya sambil berkata, "aku pikir siapa, ternyata Nona kedua negara Long, Shen Yun Ja."
Mendengar hal itu, Yunza langsung membelakkan matanya. "Dia mengenalku, bagaimana mungkin?" Lalu menoleh dan mendapati Yu Qin berdiri di sana. Ia segera menjauh darinya.
Keadaan menjadi hening seketika. Yu Qin maupun Yunza tak mengatakan apapun lagi sampai akhirnya Yu Qin berjalan menghampiri sebuah kursi dan duduk dengan tenang di sana.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yunza.
Yu Qin menajamkan tatapannya lalu mengukir senyum seringai. "Menurutmu?" Ia bertanya balik pada Yunza.
Yunza terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan tatapan waspada, "Putra mahkota, Lin Yu." Yu Qin langsung tertawa mendengar jawaban Yunza tersebut.
"Dalam cerita, Lin Yu bersekutu dengan Yu Qin secara diam-diam untuk melakukan kudeta. Dan mereka berdua merupakan dua orang yang berbeda. Akan tetapi, mengapa hatiku malah mengatakan kalau mereka adalah orang yang sama," batin Yunza.
Yu Qin menyandarkan tubuhnya dengan kaki menyilang, lalu menyanggah kepalanya menggunakan tangan kanan yang bertumpu pada lengan kursi.
"Nona Shen Yun Ja, mengapa kau bisa berpikir bahwa aku adalah Putra mahkota, Lin Yu, yang cacat itu?" tanyanya. Yunza terdiam, tak mampu menjawab pertanyaannya.
"Aku menghargai keberanianmu mendatangiku seperti ini. Akan tetapi, apa kau datang hanya untuk menanyakan hal itu saja?" lanjutnya. Ia tersenyum seperti sudah mengetahui maksud kedatangan Yunza.
Yunza terdiam dengan raut wajah penuh keraguan. Sampai akhirnya dia mengutarakan maksud sebenarnya dari kedatangannya. "Batalkan kerja sama antara negeri seberang dengan negara Hou!"
__ADS_1
"Mengapa aku harus melakukannya?" tanya Yu Qin.
"Tujuan dari kerja sama itu untuk menghancurkan negara Long-ku, kan. Aku tidak akan tinggal diam!" balas Yunza.
Yu Qin menurunkan tangannya kemudian bangkit dari tempat duduk. Perlahan, dia berjalan mendekati Yunza. Yunza yang melihat hal itu melangkah mundur ketakutan.
"Aku sedikit terkejut. Bagaimana bisa kau mengetahui rencana yang bahkan belum aku dan Kaisar Lin bahas secara pasti ini?"
Yunza membelakkan matanya. Ia terlalu terbawa emosi sampai terlupa akan hal itu. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menjawab!"
Ia kembali terkejut dengan langkahnya yang sudah terpojokkan. Yunza menoleh dan hanya melihat sebuah dinding di belakangnya, sementara di depannya berdiri Yu Qin yang sudah semakin mendekat.
Yu Qin tersenyum lalu berkata, "tapi untukmu, aku bisa melakukannya. Membatalkan kerja sama dengan negara Hou, namun dengan satu syarat."
Yunza menengadahkan kepalanya. Kesempatan itu tidak ingin dia sia-siakan. "Katakan!" katanya.
Tiba-tiba, Yu Qin menarik Yunza ke dalam pelukannya. Ia memeluknya begitu erat seakan tak ingin melepaskannya. Sambil mencium rambut Yunza dia berkata, "tinggalkan Lin Jian, tinggalkan negara ini dan ikutlah bersamaku. Tinggalah bersamaku maka aku akan menuruti permintaanmu."
Perkataannya membuat Yunza terkejut setengah mati. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dilakukan Yu Qin kepadanya. Yang pasti, pelukannya saat itu sangat hangat.
Apa yang membuatnya seperti itu? Pikir Yunza saat ini. Pria di hadapannya benar-benar berbeda dari Yu Qin yang diketahuinya.
"Shen Yun Ja, dunia ini keras untuk kita berdua. Kehidupan dan kematian selalu berdampingan. Jika tidak mengubahnya, kita akan menjadi orang yang sama dengan akhir yang tragis," ucap Yu Qin lirih pelan.
Yunza terdiam berusaha mencerna maksud perkataan Yu Qin. Akan tetapi, tiba-tiba pintu diketuk seseorang dan segera dia mendorong Yu Qin dari hadapannya.
"Tuan Yu Qin!" seru seseorang di luar kamar.
Yunza panik tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa membiarkan orang lain tahu mengenai kedatangannya menemui Yu Qin.
"Pergilah melalui jendela, cepat!" ucap Yu Qin sambil menunjuk jendela kamarnya.
Yunza bergegas menuju jendela dengan langkah yang tertatih-tatih. Dia tak bisa mempercepat langkahnya karena rasa nyeri yang kembali menyerang.
Saat tiba di depan jendela pun, ia tak bisa memanjat jendela yang hanya setinggi pinggang orang dewasa tersebut.
__ADS_1
Dari belakang, Yu Qin membantunya dengan cara mengangkatnya dengan kedua tangan. "Naiklah," ucapnya. Yunza yang kebingungan hanya bisa menurutinya. Kemudian dia pun berhasil keluar dari kamar Yu Qin.
Yunza yang berada di luar sementara Yu Qin di dalam. Keduanya dipisahkan oleh sebuah dinding kecil. Di sana, mereka saling menatap.
"Lekas kembali ke kamarmu. Udara malam tidak baik untuk kesehatan," ucap Yu Qin sampai akhirnya menutup jendela.
Yunza tertegun. Lagi-lagi dia hanya diam mendengar ucapan Yu Qin yang semakin membingungkannya. Tak berapa lama, dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
"Mengapa dia membantuku? Mengapa? Siapa sebenarnya dia?" batin Yunza diserbu banyak pertanyaan yang membuatnya hampir kalut.
Malam yang sama di negara Long.
Setibanya di sana, Han Xi langsung menemui ayah Kaisar untuk memberitahukannya suatu hal.
"Apa kau yakin, Han Xi?" tanya Kaisar sesaat setelah mendengar informasi itu dari mulut Han Xi.
"Tidak salah lagi, Ayahanda. Dialah pangeran dari negeri seberang yang terkenal itu, Yu Qin Zhao namanya. Aku melihat nama itu terukir dalam aksara kuno di pedang yang dipegangnya saat bertemu denganku," jawab Han Xi.
"Aku merasakan firasat yang tidak baik mengenai kehadirannya di negara Hou. Takutnya terjadi sesuatu pada Yunza," sambungnya.
Ayah Kaisar menaruh tangan di dagu. "Pertama mengadakan pemilihan selir untuk mencari dukungan dari para pejabat. Kemudian kehadiran pangeran dari negeri seberang. Negara Hou ingin memulai perang kembali dan membalas negara Long," kata Kaisar.
"Di samping itu, kau tidak perlu khawatir, Han Xi. Kemungkinan Yunza akan aman di sana. Karena tujuan mereka adalah kita," lanjutnya.
"Lalu, bagaimana, Ayahanda?" tanya Han Xi.
"Itu---" Ucapan Kaisar terhenti saat terdengar ketukan pintu. Lalu seorang penjaga masuk dengan seekor burung di tangannya.
Setelah memberi hormat, dia berkata, "seekor burung datang membawa pesan. Dari secarik kertas kecil tertulis, surat ini dari Nona kedua Yunza untuk Pangeran kedua Tuan Han Xi."
"Untukku?" tanya Han Xi.
Penjaga itu menjawab kemudian memberikan burung dengan surat yang masih menempel di kakinya. Han Xi melepaskan surat tersebut dan membacanya.
"Teruntuk kakakku tercinta, Han Xi. Aku menulis surat ini dengan bantuan kakak iparku, Mei An. Dengan tujuan, ingin mengajukan suatu permintaan, yaitu ... Aku menginginkan pelayan setiamu, Gu Rong, untuk menikahi seorang wanita baik."
__ADS_1