
Shen Xiao Lu berjalan dengan langkah ringan memecah keheningan koridor siang itu. Dia menundukkan kepalanya sambil termagu. Tiba-tiba saja kenangan masa lalu terlintas di kepalanya.
Saat itu dia baru saja menginjak usia empat tahun. Dia pergi ke kamar ibundanya ditemani oleh seorang pengasuh. Namun di sana, alangkah terkejutnya gadis kecil itu saat melihat ibundanya.
"Apa Ibunda sakit? Pelayan, cepat panggil tabib!" seru Shen Xiao Lu kecil dengan wajah cemas.
Ibunya terkekeh kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Ibunda tidak sakit, sayang. Lihatlah, ibunda sangat sehat, bukan? Kenapa kau bisa berkata demikian?" Dia merentangkan tangannya menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Jangan berbohong. Ibunda bilang kalau bohong itu tidak baik. Sekarang lihat, jika ibunda baik-baik saja mana mungkin perut ibunda bisa sebesar ini?"
Suasana hening seketika, semua orang yang mendengarnya terbengong. Sedetik kemudian tawa menggema di kamar tersebut. Ibunya maupun para pelayan tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penuturan gadis kecil itu.
"Apa yang lucu!" Shen Xiao Lu kecil malah merajuk.
"Baiklah, baiklah, sayangku. Tidak ada yang ketawa lagi," ucap ibunya sambil berusaha menghentikan tawa. Begitu juga dengan para pelayan.
Ibu menghampirinya dan menarik lembut lengannya. Kemudian dia kembali duduk di kursi dengan Shen Xiao Lu berdiri di sampingnya.
"Sayang, dengarkan ibunda. Xiao Lu kesayangan ibunda sebentar lagi akan menjadi seorang kakak," ucapnya.
"Seorang adik lagi?" celetuk Shen Xiao Lu kecil.
Ibu mengelus rambut Shen Xiao Lu dengan penuh kasih sayang dan tutur kata lembut.
"Benar. Yang sekarang ini adalah adik sedarah. Dia bertubuh mungil, jadi Xiao Lu harus menjadi kakak yang bisa menjaganya kelak. Menyayangi adik seperti ibunda menyayangi Xiao Lu. Xiao Lu bisa, kan?"
Mendengar hal itu, Shen Xiao Lu menganggukkan kepalanya mesti di usianya yang saat ini dia tak mengerti apa maksud ucapan ibundanya.
Hari berganti hari.
Bulan berganti bulan.
Suatu hari orang-orang di istana berlalu lalang sambil membawa berita gembira. "Permaisuri akan melahirkan." Begitu yang didengarnya dari salah seorang pelayan wanita.
Seketika Shen Xiao Lu berlari dengan semangat menuju kamar ibundanya. Setibanya di sana, dia melihat ayahnya yang hendak memasuki kamar.
__ADS_1
"Ayahanda!" seru Shen Xiao Lu dengan raut wajah gembira.
Ayah Kaisar menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh dengan perlahan. Alangkah terkejutnya saat Shen Xiao Lu melihat raut wajah ayahandanya yang penuh dengan kegelisahan.
Setelah itu, ayah Kaisar melanjutkan langkahnya dan memasuki kamar. Namun belum Shen Xiao Lu menyusul, pintu di tutup rapat-rapat oleh para penjaga di sana.
Shen Xiao Lu tak kehabisan akal. Dia kemudian berlari ke pekarangan di samping. Sayangnya, tinggi badan yang hanya setinggi lengan orang dewasa itu membuatnya tak bisa mengintip dari jendela.
Akhirnya seorang pengasuh tiba. Sambil terengah-engah dia berkata, "Nona kemana saja? Aku cari kemana-mana tidak tahunya ada di sini. Nona, ayo kembali ke kamar," ajaknya.
Alih-alih menjawab, Shen Xiao Lu malah merentangkan tangannya. "Gendong aku! Cepat! Aku ingin lihat apa yang terjadi di dalam," pintanya.
Pengasuh itu tak langsung mengiyakan, justru terdapat keraguan di wajahnya. "N-nona, sebaiknya kita kembali ke kamar. Jika Kaisar tahu dia akan menghukumku," imbuhnya.
"Tidak akan! Cepat cepat!"
Karena paksaan darinya membuat pengasuh itu tak memiliki pilihan lain. Dia menggendong Shen Xiao Lu dan mendekatkannya pada jendela. Dari sana, dia dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam sana.
"Ibunda," ucapnya lirih saat melihat ibunya terbaring tak berdaya sambil menahan rasa sakit.
"Melahirkan? Itu ... seperti mengeluarkan seorang bayi yang ada di dalam perut melalui rahim. Sejauh ini, itu yang aku tahu, Nona."
"Apa itu menyakitkan? Aku lihat ibunya menangis dan kesakitan."
"Orang mengatakan, melahirkan memang sangat menyakitkan. Seseorang menafsirkan bahwa sakit melahirkan sama dengan sakit saat 20 tulang dipatahkan bersamaan."
Shen Xiao Lu menutup mulutnya karena terkejut. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. "Apa Ibunda akan baik-baik saja?" tanyanya dengan suara gemetaran.
Hari berganti. Shen Xiao Lu melihat sebuah peti kayu terbaring di aula. Orang-orang menangis tersedu-sedu di depannya.
Semenjak saat itu, dia tak pernah melihat ibunya lagi. Hatinya meyakini, jika ada 'datang', maka akan ada 'pergi'. Kedatangan adiknya dan kepergian ibundanya. Hal itu yang menumbuhkan rasa benci di hatinya.
Seiring bertambahnya usia keduanya, Shen Xiao Lu kecil selalu mengganggu Shen Yun Ja. Menjahilinya sampai menangis dan bahkan merobek boneka kesayangannya sampai dia sedih dan jatuh sakit.
Hal itu terus ia lakukan sebagai bentuk melampiaskan kekesalannya pada adiknya. Dan bahkan dia melupakan pesan ibundanya untuk senantiasa menyayangi dan menjaga adiknya.
__ADS_1
Ingatan pun berakhir bersamaan dengan menetesnya air mata ke tanah. Shen Xiao Lu yang menyadari hal itu lantas menyeka jejak air mata di pipinya.
Tak sengaja, dia berpapasan dengan dua pelayan yang sedang mengobrol. "Apa kau tahu? Kepala pelayan memindahkanku dari ruang cuci. Awalnya aku merasa senang, tapi setelah tahu bahwa aku harus melayani wanita bodoh itu, aku jadi merasa sangat muak!"
"Aku pikir tidak hanya kau, aku juga. Tch! Entah mimpi buruk apa semalam," balas satunya.
"Tapi sepertinya tidak buruk juga. Kudengar, ia hanya seorang wanita bodoh, dia pasti mudah ditindas dan bisa peras."
"Hihi, benar juga." Mereka cekikikan, dan hal itu didengar oleh Shen Xiao Lu.
Ia menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuh. Dengan tatapan dingin dan penuh amarah, Shen Xiao Lu mengulurkan kedua tangannya kemudian menjambak rambut kedua pelayan itu.
"Aaarrghhhh!" teriak mereka.
Teriakan mereka mengundang seorang pria berparas tampan untuk menghampiri.
"Aaarrghhhh! Sakit! Siapa kau!" berang satunya.
"Aku dengar, barusan kau membicarakan seseorang dan berniat menindasnya. Benar begitu?" tanyanya.
Melihat hal itu, pria itu tak tinggal diam. Dia mencekal tangan Shen Xiao Lu lalu berkata, "lepaskan! Tidak baik seorang Nona cantik melakukan kekerasan pada seorang bawahan seperti ini."
Shen Xiao Lu terdiam lalu menatap pria itu dengan wajah dingin. Mendapatkan perlakuan seperti itu, pria itu malah membalas dengan senyuman.
Dia merasa jijik melihat senyum pria itu, apalagi dengan tangan yang mencekal lengannya. Akhirnya, Shen Xiao Lu melepaskan tangannya dari rambut kedua pelayan itu dengan sangat kasar. Lalu menarik tangannya dari pria itu.
Shen Xiao Lu menatap kedua pelayan yang meringis kesakitan. "Aku peringatkan kalian. Jika aku mendengar kalian menindas adikku, meskipun aku berada di negara Long sekalian aku akan memberi kalian pelajaran yang tidak akan pernah bisa kalian lupakan selama hidup kalian!" ancamnya.
Setelah itu Shen Xiao Lu membalikkan tubuh dan pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun pada pria tersebut.
Namun, sikap Shen Xiao Lu sepertinya telah menarik perhatian pria itu. "Siapa dia?" tanyanya pada kedua pelayan itu.
"K-kalau tidak salah. Dia adalah Shen Xiao Lu, kakak perempuan Shen Yun Ja, permaisuri pangeran kedua," jawab salah satu pelayan.
Pria itu tersenyum menyeringai sambil meratapi kepergian Shen Xiao Lu. Sampai akhirnya penjaga pribadinya berkata, "pangeran kedua sedang menunggu Anda. Mari, Tuanku Zhou Fu."
__ADS_1