
Panglima Ming bersama pasukannya sudah mengepung kediaman Yunza. Karena perasaannya sebagai seorang ayah yang memiliki seorang putri, dia pun hanya memerintahkan dua orang yang masuk bersamanya untuk membunuh Yunza.
Ketika isyarat sudah diberikan, mereka pun masuk ke dalam. Namun, apa yang ditemuinya cukup mengejutkan. Di dalam kamar, terdapat sebuah gumpalan asap yang sangat pekat. Saat pintu dibuka, asap pun menyebar keluar.
"Ini ... ini dupa bius!" ucap Panglima sambil menutup hidungnya.
Beberapa prajurit yang berada di sekitar kediaman pun tumbang satu persatu karena dupa tersebut. Hebatnya, Panglima Ming masih tegap berdiri meski hanya dengan sehelai kain menutup hidungnya.
"Target melarikan diri! Cari ke semua tempat!" perintah Panglima Ming pada prajurit yang tersisa.
Mereka pun bergegas pergi, begitu juga dengan Panglima Ming. Namun sebelum itu, dia memerintahkan seseorang untuk melaporkan hal ini kepada Kaisar.
Sementara itu, di sebuah tempat beralaskan rumput hijau. Yunza dan Mi Anra berlari sambil menggendong tas berisi pakaian dan keperluan masing-masing. Mereka sudah berlari cukup jauh dari Istana dan sudah mulai kelelahan.
Di tengah jalan, Mi Anra malah menghentikan langkahnya. Dia berdiri sambil terengah-engah serta keringat yang terus bercucuran. Yunza tahu apa yang dilakukannya mungkin bisa membahayakan bayi di dalam perut mereka, namun mereka tak memiliki pilihan lain.
Yunza menghampiri Mi Anra dan membantunya bangun. "Mi Anra, pergilah ke timur! Di sana ada sebuah desa yang cukup jauh dari Istana, mereka tidak akan bisa menemukanmu!" suruhnya.
"Lalu bagaimana dengan Nona?" tanyanya.
"Aku ...." Yunza tetiba menghentikan ucapannya. "Aku tidak bisa pergi dengannya, atau orang-orang itu akan menyakiti Mi Anra jika dia tetap berada di sampingku," kata Yunza dalam hati.
"Aku akan mencari bantuan," ucap Yunza. "Aku akan mengulur waktu sampai Yu Qin tiba," batinnya berkata lain.
"Apa Nona berniat pergi tanpaku?" tanya Mi Anra.
Namun, baru saja Yunza membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, sebuah anak panah melesat menyentuh pipinya dan meninggalkan sebuah goresan.
"Mereka datang!" batinnya.
"Mi Anra, turuti perkataanku! Ini perintah! Cepat bangun dan pergilah ke timur! Jika kau tidak menurutiku maka aku akan sangat marah padamu!" bentak Yunza.
"Tapi Nona---"
"Tidak ada tapi-tapian!" Yunza memalingkan tubuh dan wajahnya dari Mi Anra. Dengan suara gemetaran, dia berkata, "pergi dan hiduplah dengan baik, Mi Anra." Setelah itu Yunza melanjutkan langkahnya meninggalkan Mi Anra.
Mi Anra meneteskan air mata saat Yunza meninggalkannya demi keselamatannya. Namun kemudian, dia bangun dan langsung membalikkan tubuhnya lalu mulai berlari ke arah timur seperti yang Yunza perintahkan.
Dia tidak ingin meninggalkan Yunza bagaimanapun keadaannya, namun di sisi lain ada cinta yang harus dia lindungi.
Yunza menoleh ke belakang sekilas, dia merasa lega karena melihat Mi Anra melakukan apa yang diperitahkannya. "Syukurlah. Kau harus hidup dengan baik, Mi Anra," batin Yunza.
Dia pun mempercepat langkah kakinya, berlari ke sebuah bukit sambil menoleh ke sana kemari. "Mengapa Yu Qin belum datang juga? Apa terjadi sesuatu padanya?" gumamnya.
Panglima Ming bersama pasukannya mengejar Yunza dengan jarak kurang lebih satu kilometer. Saat melihat Yunza, dia pun mulai mengangkat tangannya diikuti oleh para bawahan yang mengangkat busur ke udara.
Kemudian dia menurunkan tangannya bersamaan dengan dilepaskannya anak panah menyerbu Yunza. Tiba-tiba yang dilihat panglima Ming malah berwujud menyerupai putrinya.
__ADS_1
"Ayah! Aku sangat takut!" Sosok itu berteriak sambil menoleh ke arahnya. Pikiran panglima Ming pun menjadi kacau dan langkahnya terhenti seketika.
"Ada apa, panglima Ming?" tanya bawahannya.
Tanpa menjawab, dia kembali melihat Yunza di depan sana. Beruntungnya, tak ada satu pun anak panah yang mengenai Yunza.
Perasaannya menjadi ragu. Namun malah diingatkan dengan perkataan Kaisar. "Jika kau tidak membunuhnya, aku tidak menjamin bahwa kau masih akan melihat anak dan istrimu esok pagi." Kaisar mengancamnya.
Dia tak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Kaisar. Tak lama, dia kembali mengangkat tangannya dan menurunkannya dengan cepat. Puluhan anak panah pun dengan cepat menuju ke arah Yunza.
"Siapkan anak panah berapi," perintahnya. Mereka pun melakukan apa yang dikatakannya dan mulai membakar ekor anak panas dengan api.
Tak berselang lama, dia kembali mengangkat tangannya dan menurunkannya secepat kilat. Bersamaan dengan melesatnya puluhan anak panah berapi ke arah Yunza.
Kali ini, beberapa anak panah tersebut mengenai pakaian Yunza dan mulai membakarnya.
"Aargh!" Yunza menghentikan langkah kakinya dan berusaha memadamkan api di pakaiannya, namun itu tidak berhasil. "Lin Jian," ucapnya dalam tangis.
Mendengar suara jeritan Yunza, Mi Anra lantas menghentikan langkah kakinya dan langsung menoleh. Dia sangat terkejut melihat apa yang terjadi dengannya. "Nona!" Akan tetapi, tidak berani menghampirinya.
Yunza kemudian melepas pakaian luarnya, dengan begitu Mi Anra pun merasa tenang. Sekali lagi keraguan menghampirinya, namun dia masih memilih untuk pergi ke timur dan menyelamatkan diri.
Akan tetapi, tiba-tiba percakapannya dengan suaminya kembali teringat.
"Mi Anra, aku menikahimu karena permintaan Nona Yunza. Namun tidak bisa kupungkiri bahwa aku memang mencintaimu. Akan tetapi, dia tetap yang pertama di hidupku. Tugasku yang terpenting," kata Gu Rong.
"Sejujurnya, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku di atas sebuah janji untuk melindungi Nona Yunza di hadapan pangeran kedua, Han Xi. Aku bisa mati kapan saja dan dimana pun," lanjutnya.
Mi Anra mencengkram erat pakaian Gu Rong dengan tangan gemetaran. "Aku tahu," jawabnya lagi.
Gu Rong menghela napas kasar. "Jika aku mati, tolong jaga Nona setidaknya sampai pangeran kedua Han Xi datang menjemputnya," pintanya.
"Mi Anra, berjanjilah padaku," sambungnya. Sambil berderai air mata, Mi Anra pun menganggukkan kepalanya. Tanpa diminta pun dia akan melakukannya.
Namun karena Gu Rong yang mengatakan, hal itu malah terasa sangat menyakiti hatinya. Mungkin, inilah waktunya untuk menepati janji kepada suaminya tersebut.
"Nona ... maafkan aku. Sepertinya aku harus menyusul suamiku di surga," gumam Mi Anra dalam hati.
Tiba-tiba saja dia menghentikan langkah kakinya, Mi Anra membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Yunza. "Bagaimana bisa aku tetap hidup jika kau mati, Nona! Bagaimana aku bisa hidup dengan baik sedangkan aku tahu rasa bersalah akan menghantuiku sepanjang hidupku!"
Yunza sudah hampir kehabisan energinya, namun Yu Qin yang ditunggunya tak kunjung datang. Sampai akhirnya dia jatuh tersungkur ke tanah dengan napas menggebu.
Hampir semua bagian tubuhnya terasa mati rasa, dia tidak bisa bangkit apalagi untuk berlari. Di atas Padang rumput tersebut, Yunza menangis sambil berkata, "Lin Jian. Aku sangat takut. Kemana kau!"
"Nona!" teriak Mi Anra dari belakang. Yunza terkejut mendengar suaranya kemudian menolehkan kepala.
"Nona! Bangun dan pergilah! Aku akan menghadang mereka!" Mi Anra membentangkan tangannya seakan bisa melindungi Yunza dari serangan.
__ADS_1
Sementara itu, pasukan yang mengejarnya sudah semakin dekat. "Pergi dari sana, Mi Anra!" teriak Yunza.
"Tidak, Nona! Jika aku pergi mungkin aku akan selamat, tapi aku akan terus tersiksa menanggung rasa bersalah!" jawab Mi Anra.
Yunza menggertakkan giginya, dia amat kesal dengan sikap keras kepalanya Yunza. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan menghampiri Mi Anra dengan cara merangkak.
"Mi Anra, apa kau ingin membangkang?" tanyanya.
"Benar!" jawab Mi Anra tanpa rasa takut.
Mi Anra memalingkan pandangannya, lalu berlari ke arah pasukan sambik berteriak. "Tolong hentikan, Tuan! Kalian tidak bisa menyakiti Nona karena dia sedang mengandung! Dia sedang mengandung penerus keluarga Kerajaan!" teriaknya.
Baru saja Yunza hendak mengatakan sesuatu, sebuah anak panah menghampiri Mi Anra dan menancap tepat di dadanya.
Yunza membelakkan matanya sempurna, mulutnya menganga tak kuasa mengatakan apapun. Hatinya amat hancur, seperti dunia berhenti saat itu juga saat melihat Mi Anra ambruk.
"Mi Anra!" teriak Yunza.
"Nona ... jangan sedih. Aku hanya pergi untuk bertemu suamiku. Aku ingin Nona hidup dengan ... baik," ucap Mi Anra. Sampai akhirnya puluhan panah datang menyusul dan langsung menghujani Mi Anra.
Beberapa diantaranya mengenai tubuh Mi Anra sampai membuatnya tumbang sepenuhnya di atas genangan darah.
"Tidak ... Mi Anra." Gemetar suara Yunza sambik mengulurkan tangannya hendak menggapai Mi Anra, namun tidak bisa. Jarak mereka cukup jauh dan Yunza tidak bisa menggerakkan kakinya.
Jantungnya seolah berhenti seketika, nafasnya tertahan di tenggorokan merasakan rasa sakit yang menyesakkan dadanya.
"Tidak ... jangan pergi, Mi Anra. Tidak! Aaarrghhhh!" Yunza berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa sakitnya, namun hal itu tidak mengurangi penderitaannya sedikitpun. Hanya bisa menangis keras sambil meratapi kematian Mi Anra di hadapannya.
Malam itu, awan menutupi sinar bulan seolah-olah menunjukkan seperti itu perasaan Yunza saat ini. Sangat gelap dan terasa sesak.
"Aaaaarghhhh!" Ia menangis sejadi-jadinya sampai suaranya menggema ke segala penjuru. Siapapun yang mendengarnya akan gemetar dengan tangis pilu yang teramat dalam tersebut.
Yunza berusaha merangkak menghampirinya di bawah gempuran anak panah. Tak peduli satu ataupun dua mengenai kaki tangannya, dia hanya ingin menghampiri Mi Anra dan memeluknya.
Namun, tiba-tiba seseorang datang dan menggendongnya. "Yu Qin?"
"Maaf, Yunza. Aku datang terlambat," ucapnya kemudian membawa Yunza pergi.
"Tidak, Yu Qin. Mi Anra masih di sana!"
"Dia sudah mati! Dan aku tidak bisa membawa dua orang sekaligus!"
Yunza meronta, menolak dibawa pergi Yu Qin. "Aku ingin Mi Anra! Lepaskan aku!"
"Jangan egois, Yunza! Jangan sia-sia pengorbanan yang telah dilakukannya!" bentak Yu Qin.
Yunza terdiam membisu. Meski apa yang dikatakan Yu Qin benar, tapi dia tetap tidak ingin meninggalkan Mi Anra meskipun hanya jasadnya saja.
__ADS_1
Yunza menangis tanpa suara sambil menatap Mi Anra di depan sana. "Maaf, maafkan aku Gu Rong. Aku tidak bisa menepati janjiku. Maafkan aku," gumamnya.