
"Kedatangan putera mahkota di medan perang pada saat aku terluka, mempertemukannya dengan Mu Jiangyu kemudian jatuh cinta padanya. Dia pun membawa Mu Jiangyu ke Istana untuk dinikahi. Tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan memperlakukannya dengan sangat buruk," ucap Jenderal Thang.
Lin Jian mengernyitkan dahinya. "Banyak orang mengatakan bahwa ibunda adalah satu-satunya istri yang paling dicintai ayahanda. Namun, saat bersama ibunda, aku hanya melihat kesedihan dari kedua matanya," batinnya.
"Aku selalu melihatnya menangis dan itu sangat menyakitiku. Aku pun mengajaknya pergi diam-diam, namun dia menolak. Karena saat itu dia sedang mengandung," lanjut Jenderal Thang.
"Aku pun bertekad untuk melindunginya selama aku masih ada di Istana dan memikirkan cara untuk membawanya pergi. Akan tetapi ...." Cerita kembali dilanjutkan.
Putera mahkota memanggil Jenderal Thang secara pribadi ke ruangannya. Di sana, putera mahkota bertanya, "apa kau mencintai istriku, Mu Jiangyu?"
"Ampun, Yang Mulia. Sejujurnya akulah yang bertemu dengannya lebih dulu kemudian jatuh cinta padanya sebelum engkau," jawab Jenderal Thang.
"Kau benar, tapi dia sudah menjadi istriku dan akulah orang yang paling mencintainya sekarang."
Mendengar hal itu, Jenderal Thang tersulut emosi. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan cinta namun yang dilakukannya hanya menyakitinya saja! Mungkin kalimat tersebut yang mewakili tatapan tajamnya saat itu.
Tak berapa lama, putera mahkota beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berkata, "Jenderal Thang, aku memerintahkanmu kembali dan memimpin kamp militer. Aku akan membuatkanmu rumah di desa Changju agar kau bisa tinggal bersama istrimu kelak di sana."
Secara tidak langsung, putera mahkota mengusir Jenderal Thang bukan hanya dari Istana saja, namun dari ibukota tempatnya tinggal sebelumnya.
Ia amat kecewa dengan keputusan putera mahkota saat itu. Dia beranjak kemudian melangkahkan kaki menuju pintu. Di ambang pintu, Jenderal menghentikan langkah kakinya.
"Yang Mulia, aku ingin meminta satu hal. Bahagiakan Mu Jiangyu layaknya wanita yang dicintai dengan kelembutan. Aku tidak tahan melihatnya tersakiti. Dan bisa saja aku melakukan sesuatu!"
Setelah mengatakan hal itu, Jenderal Thang pergi meninggalkan ruangan tersebut. Penuturannya membuat putera mahkota kesal, dia menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya dengan erat.
Esok harinya. Sebelum pergi, diam-diam Jenderal Thang menemui Mu Jiangyu. Dia memberitahunya tentang kembalinya dia ke kamp militer.
"Nona Mu, jika terjadi sesuatu padamu lekas temui Panglima Shinxi. Dia akan mengirim surat padaku dan aku akan segera datang membawamu pergi," ucap Jenderal Thang.
Mu Jiangyu tak mengatakan apapun, namun sorot matanya menunjukkan ketidakrelaan jika harus ditinggalkan Jenderal Thang pergi.
__ADS_1
Sampai akhirnya Jenderal Thang melepaskan tangannya, kemudian pergi.
"Tak berapa lama setelah kepergianku, sebuah kabar datang padaku dan mengatakan kalau Panglima Shinxi ditemukan tewas. Tidak diketahui penyebabnya. Dan semenjak itu, aku tidak pernah tahu tentang Mu Jiangyu lagi," ucap Jenderal Thang sambil menghela napas kasar.
Lin Jian menaruh tangannya di dagu dengan ekspresi wajah serius. Cerita yang diceritakan Jenderal Thang cukup masuk akal jika mengingat tentang ibundanya yang terlihat selalu bersedih.
"Jadi, karena itu kau berkhianat dan menyebabkan negara Hou kalah berperang dengan negara Long?" tanya Lin Jian.
Jenderal Thang tidak terkejut mendengar ucapannya. Dia justru malah tersenyum dan membenarkan tuduhan Lin Jian kepadanya.
"Pangeran kedua, apa kau pernah mencintai seorang wanita? Kau akan gila karenanya dan akan melakukan apapun demi dia, bukan?" tanya Jenderal Thang.
Namun saat itu, yang muncul di hatinya hanya nama Yunza seorang. "Mencintai? Ya, benar," aku Lin Jian.
"Cinta itu bukan seberapa besar kamu mencintainya, kemudian menginginkan dia menjadi milikmu dengan berbagai cara. Cinta itu tentang kebahagiaan. Membiarkannya bahagia menurut keinginannya meski tidak bisa memilikinya, itulah cinta."
Lin Jian terdiam mendengar perkataan Jenderal Thang. Dia merenung mengingat perlakuannya pada Yunza sebelumnya, yang mungkin telah menyakitinya.
"Jenderal Thang, aku tidak akan mempermasalahkan penghianat yang kau lakukan saat itu. Namun beritahu aku satu hal, dimana ibuku berada sekarang?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Bukankah aku sudah mengatakannya, kalau semenjak hari itu aku tidak tahu apapun lagi mengenai dirinya," jawab Jenderal Thang.
Lin Jian kecewa mendengarnya.
"Namun, aku tahu nama desa tempatnya tinggal." perkataan Jenderal Thang membangkitkan semangat Lin Jian.
"Dimana? Cepat beritahu aku!" pintanya.
Jenderal Thang terdiam sejenak. Dia merasa, sikap yang ditunjukkan Lin Jian sedikit aneh. "Apa hubungannya dengan Mu Jiangyu?" Pertanyaan itu pun muncul di kepalanya.
"Desa ... Jongwu"
__ADS_1
Lin Jian lantas berdiri. Kemudian berjalan tergesa menuju pintu. "Kau boleh kembali, Jenderal Thang," ucapnya.
"Tunggu!" Jenderal Thang menghentikannya. "Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Mu Jiangyu? Mengapa bertanya banyak hal tentangnya?" tanya Jenderal Thang.
Lin Jian menghentikan langkah kakinya. Dia pun menolehkan kepala dan berkata, "aku putranya. Anak kandung Mu Jiangyu!"
Pengakuan Lin Jian membuat Jenderal Thang terperajat kaget. Hal itu karena yang dia ketahui selama ini bahwa Lin Jian adalah putra Permaisuri yang sekarang, bukan putra Mu Jiangyu.
"Tidak mungkin!"
Lin Jian tak menghiraukannya dan pergi dari tempat itu. Malam itu juga, dia dan Wang Xi memutuskan untuk kembali ke Istana.
Di Istana, di malam yang sama.
Mei An terbaring sambil mengelus kepala pangeran kecil yang malam itu berkesempatan tidur di kamarnya. Dia melamun. "Sudah satu bulan berlalu, apa tuan akan segera kembali?" batinnya.
"Ibunda?" seru pangeran menyadarkan Mei An dari lamunan. "Ibunda, kapan ayahanda kembali? Aku rindu belajar dengannya," ucap pangeran kecil.
Mei An tersenyum padanya dan menjawab, "ayahanda akan segera kembali tidak lama lagi dan menemani Lin He belajar. Namun sebelum itu, Lin He harus belajar dengan paman Jun terlebih dahulu, ya."
Lin He menganggukkan kepalanya. "Ibunda, apa aku boleh mempelajari ilmu medis dan pengobatan? Aku ingin menyembuhkan kaki ayah agar bisa melatihku berpedang," ujarnya.
"Kau anak yang sangat baik, ayahanda pasti akan senang mendengarnya. Tapi untuk saat ini, lebih baik belajar apa yang perlu kau pelajari. Kelak jika sudah dewasa, ibu akan meminta paman Lin Jian untuk mengajarkan berpedang. Bagaimana?" tawarnya.
"Oh, ya, ibunda. Aku pernah melihat seorang wanita membantu ayahanda duduk ke kursi roda saat tidak sengaja terjatuh, siapa dia?" tanyanya.
Mei An mengernyitkan dahinya. "Wanita yang membantu ayahmu duduk di kursi roda? Siapa?" tanya balik Mei An.
"Dia wanita yang pernah menemui ibunda. Aha! Aku ingat! Kalau tidak salah, dia memiliki tahi lalat di bawah matanya," jawab Lin He.
"Wanita dengan tahi lalat di bawah mata?" Mei An berusaha mengingat-ingat. Tak berapa lama, dia membelakkan matanya, lalu berkata, "tidak mungkin ... Yunza?"
__ADS_1