Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Latihan Menari Chen Su


__ADS_3

Terik matahari menembus jendela kamar Chen Su. Cahayanya menyentuh sebuah buku di atas meja yang sedang dia amati dengan sangat serius dan bersungguh-sungguh.


"Melihatnya sangat mudah, tapi melakukannya amatlah sulit. Tahu begitu, aku tidak akan mengambil tema menari untuk tahap terakhir ini," gerutunya.


Namun ia tak memiliki pilihan lain selain melakukannya. Mengganti tema saat ini sangatlah tidak mungkin. Bisa-bisa, dia didiskualifikasi saat itu juga.


Tetiba dia menggebrak meja. Dengan raut wajah serius berkata, "Chen Su, kau pasti bisa! Kau harus menjadi selir kesayangan pangeran kedua dan membuat saudarimu yang lainnya merasa iri!" Ia menyemangati dirinya.


"Baiklah, ayo kita mulai lagi." Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menutur langkahnya mundur sedikit. Dia mengintip ke buku lalu memperagakan tarian berdasarkan gambar panduan.


Ia membalikkan lembar kertas dan kembali memperagakan dan menghafal tarian tersebut. Hal itu terus berlanjut sampai lembar kertas yang terakhir.


"Oke, aku sudah menghafal semua gerakannya. Sekarang, aku akan menari secara keseluruhan!" ujarnya penuh semangat.


Chen Su mulai melakukan gerakan tarian. Dari awal hingga akhir seperti yang dia hafal dari buku tersebut. Setiap gerakannya memiliki kesulitan tersendiri, terlebih dia memiliki tubuh yang tidak luwes layaknya seorang penari.


Pada suatu gerakan, Chen Su melangkahkan kaki kanan ke depan sedangkan kaki kiri ke belakang. Namun, hal itu membuat ia tersandung sampai akhirnya jatuh cukup keras ke lantai.


"Aah! Sssh!" Dia meringis kesakitan.


"Ahahahaha!" Tiba-tiba, dari arah pintu masuk terdengar suara tertawa orang yang sangat keras. Chen Su menoleh dan mendapati Shenshen sedang menertawakannya di sana. Dia pun berdiri.


"Apanya yang lucu?" tanyanya sambil cemberut.


"Ahahahaha! Apa kau sedang menari, tadi? Kau harus tahu bahwa itu bukan sebuah tarian. Tapi lebih mirip seperti seekor monyet sedang memetik buah. Hahaha!" Ia mencaci sambil tak henti-hentinya tertawa.


Chen Su mengerutkan dahinya dengan tatapan tajam. Giginya menggertak sementara tangan mengepal erat. Ia tidak terima dengan apa yang Shenshen katakan padanya dan membandingkannya dengan seekor monyet.


Namun, dia sadar bahwa dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membungkamnya meski ingin sekali membalasnya dengan sebuah pukulan.


Dia lebih memilih memalingkan tubuhnya lalu menutup buku di atas meja. Tak lama dia tersenyum, seperti baru saja memikirkan sesuatu.


"Nona Shenshen, apa luka di wajahmu sudah sembuh?" Ia menghina dibalik sebuah pertanyaan dan itu membuat Shenshen geram.


Ia mendengus kesal lalu berkata, "Nona Chen Su, mengenai tawaranmu waktu itu ... aku menyetujuinya. Tapi kau harus menepati janjimu untuk membantuku membalas Shen Yun Ja."

__ADS_1


"Mengenai hal itu, kau tidak perlu khawatir." Chen Su membalikkan tubuhnya. "Setelah aku menjadi selir Pangeran kedua, aku akan memberinya banyak pelajaran sampai dia merasa hidup segan mati tak mau," lanjutnya.


Shenshen sempat mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Chen Su tersebut. Tak lama, dia membalikkan tubuhnya lalu berkata, "tarianmu jelek sekali, kau tidak akan bisa menang jika seperti itu!"


Shenshen menoleh. "Aku sudah menyiapkan semuanya, ikutlah denganku," ajaknya lalu melangkahkan kaki. Chen Su sempat ragu dengan ucapan Shenshen. Namun akhirnya, dia mengikutinya.


Beberapa saat berlalu, perjalanan mereka berakhir di sebuah taman di dekat kamar Shenshen. Di sana, duduk seorang wanita yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Menyadari kehadiran Shenshen dan Chen Su, wanita itu berdiri dan lantas memberi salam. "Jiu Ling memberi salam," ucapnya pada mereka berdua.


Ia menegakkan tubuhnya lalu Chen Su bertanya, "siapa dia?"


Alih-alih langsung menjawab, Shenshen malah duduk dan meneguk secangkir teh sambil menyilangkan kaki. "Penari dari rumah bordil, Jiu Ling." Barulah ia menjawab.


"Kau ingin dia mengajariku menari?" tanya Chen Su to the point.


"Benar," jawab Shenshen.


"Aku menolak! Apa yang akan orang lain pikirkan jika mereka tahu seorang wanita bordil mengajariku menari? Apa kau ingin mempermalukanku?"


"Nona Chen Su, asal kau tahu. Kakakku itu tidak mudah dirayu oleh jenis wanita seperti apapun. Ia yang dingin dan kejam, mana mungkin bisa luluh dengan tarian membosankanmu itu," sambungnya.


Shenshen kemudian berdiri dan mendekati Chen Su. "Sekarang kau yang tentukan pilihan. Tanpamu aku bisa membalas Shen Yun Ja, tapi tanpaku kau tidak akan bisa menjadi selir kakakku. Bagaimanapun, permintaan mana yang aku inginkan namun pernah kakakku tolak? Tidak ada!"


Chen Su terdiam membisu. Saat dia mempertimbangkan hal itu, Shenshen yang merasa tidak sabar malah mengajak Jiu Ling pergi.


"Pelayanku akan memberikan bayaran setelah kau keluar dari istana," ucapnya pada Jiu Ling.


"Tunggu!" Chen Su menghentikan mereka. "Baik, aku setuju," ucapnya. Shenshen tersenyum mendengar hal itu.


Di tempat lain.


Saat itu, Yunza sedang berjalan-jalan. Di belakangnya, Mi Anra memasang wajah gelisah lalu bergumam, "sejak tadi nona tidak mengatakan apapun, apa dia masih marah padaku karena kejadian itu?"


"Aku dengar dari para pelayan, kontes tema terakhir akan diadakan malam nanti sembari menyambut kedatangan Yu Qin. Itu berarti, wanita bernama Chen Su itu akan menjadi selir kesayangan Lin Jian tak lama lagi," gumam Yunza dalam hati.

__ADS_1


Yunza menaruh tangannya di dagu sambil terus melangkahkan kaki. "Kaisar sangat menantikannya menjadi bagian keluarga kerajaan untuk mempertahankan posisi Lin Jian dan mendapatkan dukungan dari ayahnya yang seorang menteri."


"Nona?" Mi Anra menyeru.


"Itu berarti, bagaimanapun aku berusaha menggagalkannya dalam kontes ini, dia akan tetap dipilih menjadi selir Lin Jian," sambung Yunza dalam lamunannya, sampai tak menyadari seruan Mi Anra.


Tiba-tiba, Mi Anra menghadang dan langsung berlutut di hadapan Yunza. Dia berkata, "Nona, tolong hukum saja aku. Aku salah karena menghianati Nona, tapi jangan mendiamkanku seperti ini!"


Yunza terkejut karenanya. Ia malah baru menyadari kalau sedari tadi Mi Anra berada di belakangnya. Namun, tak bisa dipungkiri. Ia memang masih merasa kesal padanya karena kejadian itu.


Ia menghela napas kasar lalu berkata, "bangunlah, Mi Anra."


"Tidak! Tidak sebelum Nona menghukumku!" kekehnya.


Yunza kembali menghela napas. Ia memejamkan matanya kemudian tangan kanan menyentuh kepalanya. "Sudahlah, aku tidak marah, kok."


Mendengar hal itu Mi Anra langsung menengadah. "Benarkah?" tanyanya.


Yunza membalas dengan anggukkan kepala. Kemudian Mi Anra memeluk kedua kakinya dengan raut wajah senang. "Aku berjanji tidak akan menghianati Nona lagi," katanya.


Tak lama, Yunza menoleh ke suatu arah dengan wajah serius. Membuat Mi Anra yang melihatnya terheran kemudian bertanya, "ada apa, Nona?" Lalu melepaskan pelukan dan berdiri di samping Yunza.


Tak jauh dari tempat mereka berdiri, samar-samar terdengar suara seseorang dari sebuah taman. Yunza menaruh tangannya di ujung bibir lalu berjalan mendekati sebuah pintu masuk berbentuk bulat yang terbuat dari beton.


Mi Anra mengikuti. Kemudian mereka mengintip ke dalam dari balik pintu tersebut. "Bukankah itu Nona Shenshen? Siapa dia orang lainnya?" tanya Mi Anra sambil berbisik.


Yunza mengamati. "Wanita berambut sedikit pirang itu bernama Chen Su, salah satu kontestan pemilihan selir. Kemungkinan ia memilih tema menari karena aku belum melihatnya lagi di tahap terakhir ini," jawab Yunza.


"Sedangkan wanita dengan pakaian berwarna ungu itu. Jika dilihat dari model pakaian dan riasan di wajahnya, kemungkinan ia seorang wanita bordil---"


"Wanita bordil?" Mi Anra terkejut dan hampir keceplosan.


"Sssttt! Pelankan suaramu!" perintah Yunza.


Mi Anra menganggukkan kepalanya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya kemudian. Yunza tak menjawab, ia hanya tersenyum licik seperti suatu rencana jahat baru saja melintas di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2