Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Perhatian Shen Tian


__ADS_3

"Naiklah, Yunza!" Shen Tian Tian mengulurkan tangannya ke arah Yunza. Akan tetapi, Yunza malah melihat ke arah lain.


"Kuda! Aku bisa menjemput Mi Anra dengan kuda," gumam Yunza. Dia memalingkan pandangannya kembali ke arah Shen Tian kemudian berkata, "berikan aku kuda, kakak keempat!"


Shen Tian memiliki sifat dingin. Ia orang yang sangat perhatian namun berbeda dari Han Xi, tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.


"Berhenti omong kosong, cepat naik!" bentaknya.


Yunza kesal mendengar jawaban kakaknya tersebut. Dia akhirnya pergi menghampiri seorang prajurit dan berkata, "pinjamkan aku kuda kalian! Pinjamkan aku kuda! Apa kalian dengar!" Namun, tak satu pun mendengarkannya.


Tepat di hadapannya, seorang prajurit terjatuh karena serangan anak panah dari pihak panglima Ming. Melihat kuda yang tidak bertuan, Yunza pun bergegas menghampiri.


Akan tetapi, Shen Tian lebih cepat menariknya naik ke atas kudanya. "Turunkan aku! Aku harus pergi menjemputnya!" Yunza bersikeras dengan keinginannya.


"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Yunza! Apa kau sudah bosan hidup!" bentak Shen Tian.


Mata Yunza yang sempat mengering, kini mengalirkan air mata lagi. "Aku ingin menjemput seseorang! Aku tidak bisa meninggalkannya! Dia temanku! Dia saudariku!"


Mendengar ucapannya, Shen Tian tertegun. "Apa akhirnya ... dia memiliki teman? Aku tidak salah dengar, kan?" Ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Dia pasti teman yang sangat berharga untuknya," batin Shen Tian. Dia kemudian menoleh ke arah bawahannya lalu mengisyaratkan sesuatu padanya. Beberapa saat kemudian, beberapa bawahannya pergi.


Shen Tian pun mulai memacu kudanya pergi meninggalkan kekacauan tersebut.


"Kakak, aku---" Baru saja Yunza hendak berkata, namun Shen Tian malah menyerobot.


"Aku sudah menyuruh orang untuk membawanya! Apa kau sudah puas? Sekarang duduk dan diam saja!" ucapnya dengan galak. Namun Yunza merasa sedikit lega mendengarnya.


Saat dibawa pergi oleh Shen Tian, Yunza mengintip ke belakang. Para bawahan Shen Tian juga membawa Yu Qin bersama mereka. Yunza akhirnya bisa menghirup sedikit udara segar, sesak di dadanya berkurang sedikit.


Beberapa waktu berlalu, setelah melewati sebuah hutan, mereka pun tiba di perbatasan. Terdapat beberapa tenda berdiri tegak di sana. Yu Qin pun segera dibawa ke salah satu tenda dan langsung ditangani oleh tim medis.


Di luar tenda, Yunza mundar-mandir ke sana kemari dengan perasaan cemas. Satu sisi memikirkan keselamatan Yu Qin, di sisi lain memikirkan Mi Anra. Sampai akhirnya, Shen Tian datang menghampiri.


"Aku sudah menyiapkan tenda untukmu. Pergi dan beristirahatlah," ucapnya berusaha selembut mungkin.


"Tidak, kakak. Aku ingin menunggu sampai Yu Qin selesai ditangani." Yunza menolak.


Shen Tian naik pitam dengan perilaku Yunza yang kekanak-kanakan tersebut. Dia lantas mencekal lengan kanannya berniat membawanya pergi ke tenda untuk beristirahat.

__ADS_1


"Aargh!" Namun sesaat kemudian, Yunza meringis kesakitan. Shen Tian yang mendengarnya langsung melepaskan tangannya.


"Kau terluka?" tanyanya.


"Tidak," jawab Yunza sambil menunduk lemas.


Shen Tian menarik tangan satu lainnya dan membawanya duduk di atas kursi kayu. Saat itu, Shen Tian memanggil bawahannya dan memintanya mengambilkan kotak obat. Beberapa saat kemudian orang itu datang dengan barang bawaannya yang diminta Shen Tian.


Tanpa mengatakan apapun, Shen Tian menarik lengan kanan Yunza dengan sangat hati-hati. Dia meletakkannya di atas kakinya lalu meniupnya lembut sebelum akhirnya diobati.


Saat itu, Yunza melihat ke langit. "Aku ... pada akhirnya tidak bisa mengubah apapun. Lalu, untuk apa aku berada di dunia ini? Mengapa Tuhan melakukan ini padaku?" gumamnya dalam hati.


Sementara itu, di bukit.


Pasukan panglima Ming yang kalah jumlah mulai tumbang satu persatu. Dia pun dibuat kewalahan oleh dua orang bawahan kepercayaan Shen Tian.


Melihat hampir semua prajuritnya tumbang, panglima Ming mulai dihantui rasa takut. "Tidak bisa! Aku harus pergi dari sini dan melaporkan semuanya pada Kaisar!" gumamnya.


Baru saja hendak melarikan diri, bawahan Shen Tian segera menghadangnya dari kedua sisi.


"Sayang sekali, tuan kami berpesan, bahwa kami boleh bersenang-senang dan tidak boleh menyisakan satu orang pun dari kalian," ucap salah satu dari mereka.


Panglima Ming benar-benar telah disudutkan oleh mereka. Bahkan mereka tak membiarkannya memegang senjata apapun. Dalam keadaan genting tersebut, panglima Ming kemudian mengeluarkan belati yang telah diolesi dengan racun.


Orang yang berada di hadapannya mulai menyerang, lalu pertarungan kembali terjadi. Dua orang dari negara Long mendominasi pertarungan.


Mereka tak berbelas kasih. Yang satu menyerang kuda sampai panglima Ming jatuh tersungkur. Yang satunya lagi terus menyerang tanpa henti.


Sampai didapatkannya sebuah celah, satu orang diantara mereka mengibaskan pedang dan memutus tangan panglima Ming yang memegang belati sampai menjadi dua bagian.


Melihat panglima Ming yang sudah tidak berdaya, mereka pun turun dari kuda dan menghampirinya. "Apa hanya begini saja kekuatan panglima dari negara Hou?" tanya pria dengan rambut panjang berponi.


"Berhenti bicara, Bai Yin. Segera bunuh dia dan kembali ke perbatasan," ucap pria berambut pendek.


Bai Yin melangkahkan kaki menghampiri panglima Ming. "Membunuhnya? Tidak semudah itu!" kata Bai Yin dengan wajah datar.


Tiba di hadapannya sambil membawa pedang panglima Ming yang dipungutnya. Dia kemudian menginjak tangan kiri panglima Ming dan langsung menancapkan pedang itu ke telapak tangannya sampai tembus ke tanah.


"Aaarrghhhh!" teriak panglima Ming.

__ADS_1


Keduanya sangat puas mendengar teriakan tersebut. Kemudian tak berapa lama, sekelompok prajurit melintas di dekat mereka sambil membawa seseorang.


"Siapa yang dibawanya?" tanya Bai Yin.


"Tidak tahu. Sebaiknya kita juga kembali ke tenda!" Dia naik ke atas kuda dan langsung pergi. Bai Yin pun menyusul di belakangnya.


Pasukan yang dibawa Shen Tian pun kembali ke perbatasan setelah membantai habis pasukan panglima Ming. Diantara mereka, satu orang prajurit membawa jasad Mi Anra di atas kuda mereka seperti yang Shen Tian perintahkan.


Beberapa waktu berlalu, mereka pun tiba di perbatasan. Melihat kedatangan mereka, Yunza lantas berdiri dan menghampiri. Matanya melihat dengan jeli, mencari-cari sesuatu dalam kerumunan tersebut.


Bai Yin dan satu temannya turun dari kuda lalu menghampiri Shen Tian. "Pangeran keempat, semuanya sudah dibereskan," ucap Bai Yin.


Shen Tian tak menjawab apapun, matanya justru memerhatikan Yunza yang sedang gelisah.


Sampai akhirnya, seorang prajurit menggendong jasad Mi Anra dan diletakkannya di tanah. Yunza langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Mi Anra, bangun! Sekarang sudah baik-baik saja!" ucapnya seperti orang gila sambil menepuk-nepuk pipi Mi Anra yang sudah dingin dan membiru tersebut.


Shen Tian tak tahan melihat keadaan Yunza kemudian menghampirinya sambil berkata, "Yunza, dia sudah meninggal."


Yunza memeluknya erat, menangis tanpa air mata dan berteriak tak ada suara. Bagaimana harus mengekspresikan kesedihan mendalamnya, dia tidak tahu.


"Mi Anra! Mi Anra!" ucapnya dengan suara serak. Semakin sesak mengingat hari-hari ke depan akan dilalui tanpa adanya Mi Anra di sampingnya. Secara tidak sengaja, Yunza sudah membunuh dua nyawa dalam sekaligus.


Yunza memeluk Mi Anra cukup lama. Perlahan, suaranya tak terdengar lagi. Tubuhnya pun perlahan tumbang terbawa Mi Anra.


"Yunza!" Shen Tian menyadari hal itu dan mendapati Yunza yang tidak sadarkan diri.


Dia pun menggendongnya dan lekas membawanya ke tenda. "Panggil tim medis!" teriaknya dengan panik.


Bai Yin dan semua orang tertegun melihatnya. "Aku tidak pernah melihat pangeran se-cemas ini sebelumnya," kata salah seorang prajurit yang kemudian disetujui oleh yang lainnya.


Di dalam tenda, Yunza ditangani oleh seorang ahli medis. Beberapa luka di tubuhnya diobati. Kemudian beberapa saat berlalu, salah satu tim medis menghampiri Shen Tian.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Shen Tian.


"Terkecuali luka yang ada di tubuhnya, semuanya baik-baik saja. Termasuk ... bayi di dalam janinnya."


Mendengar hal itu, Shen Tian membelakkan matanya. "Apa kau bilang? Bayi?"

__ADS_1


"Benar, pangeran. Nona, dia ... sedang mengandung."


Shen Tian mengernyitkan dahinya. Setelah itu, dia pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


__ADS_2