
Esok harinya, Lin Jian mendapatkan kabar tentang kekacauan yang terjadi di kamp militer. Dia pun mengajak Yunza kembali ke Istana lebih awal. Mereka melakukan perjalanan seharian penuh dan tiba di Istana pada sore hari.
"Yunza, kembalilah ke kamar lebih dulu. Aku harus pergi mengurus sesuatu," ucap Lin Jian. Yunza membalas dengan anggukkan kepala kemudian Lin Jian pergi meninggalkannya.
Saat Yunza meratapi kepergian suaminya, Mi Anra datang. "Nona, syukurlah kau sudah pulang. Apa kau tahu, aku sangat kesepian selama Nona pergi," ucapnya.
Yunza menatapnya dengan perasaan lega. "Mi Anra terlihat lebih ceria dari pada saat aku tinggalkan terakhir kali. Syukurlah," gumamnya dalam hati.
Dia kemudian menggandeng tangan Mi Anra dan berkata, "benarkah? Ayo pergi ke kamar, aku belikan sesuatu untukmu lho."
"Waaaah, apa itu?"
Yunza menaruh jari telunjuknya di ujung bibir. "Sssttt, rahasia," katanya dengan raut wajah penuh arti.
Di ruangan pribadi Kaisar.
Lin Jian masuk dengan langkah tergesa sambil bertanya, "Ayahanda, aku dengar telah terjadi kekacauan di kamp militer, apa itu benar?"
Kaisar saat itu sedang duduk dengan tangan kanan memijat-mijat kepalanya. Menyadari kedatangan Lin Jian dia pun menoleh namun malah menimpali dengan pertanyaan lain, "aku dengar kau tidak ada di Istana beberapa hari ini, apa itu benar?"
Lin Jian tertegun mendengarnya. Dengan sikap tenang, dia pun menjawab, "aku pergi mengajak istriku melihat festival di suatu desa."
"Oh, sepertinya kau sudah mulai mencintai istrimu, benar begitu?" tanya Kaisar, Lin Jian hanya diam.
"Namun, di antara istri dan ibumu, mana yang akan kau pilih?"
Seketika Lin Jian membelakkan matanya mendengar pertanyaan yang dilontarkan ayahnya tersebut. Entah apa maksudnya, namun Lin Jian merasa Kaisar sedang mengujinya.
Kaisar kemudian menekuk kedua tangannya di atas meja dengan posisi telapak tangan menyanggah dagu. Bersamaan dengan itu, dia melempar tatapan tajam kepada putranya tersebut.
"Lin Jian, kau pikir aku tidak tahu kemana kau pergi beberapa hari terakhir?" tanyanya.
Lin Jian terdiam sejenak. Lalu berkata, "bagus, jika Ayahanda sudah mengetahuinya. Tapi sepertinya aku berada satu langkah di belakangmu. Jadi, apa kau bisa memberitahuku di mana kau menyembunyikan ibuku?"
Raut wajah tidak senang pun ditunjukkan oleh Kaisar. "Aku bisa saja memberitahumu di mana tempatnya. Namun, itu semua tergantung dirimu," kata Kaisar.
"Seperti yang aku katakan. Jika dihadapkan dengan dua pilihan, kau akan memilih ibumu atau malah memilih istri tercintamu itu?" tanyanya kemudian.
Lin Jian meruncingkan tatapannya. "Apa yang akan Ayahanda lakukan pada Yunza? Apa kau ingin membunuhnya tanpa alasan? Bagaimana reaksi Kaisar Long jika sampai mengetahuinya hal ini?" balasnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Lin Jian, Kaisar tertawa jahat. "Alasan untuk membunuhnya? Tentu saja ... aku punya," jawabnya.
Tak lama, Kaisar menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lin Jian, memangnya seberapa yakin kau bahwa istrimu bukan orang yang mencuri gulungan? Apa kau lupa kalau pria itu bekerja untuknya?"
"Pria itu merupakan mata-mata yang dikirim Han Xi untuk melindungi adiknya. Jadi, Yunza tidak mengetahui apalagi sampai terlibat dalam pencurian tersebut," jawab Lin Jian.
Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan berniat pergi tanpa seijin Kaisar. Namun sebelum itu, dia menoleh dan berkata, "aku ... akan menyelamatkan mereka berdua. Tidak peduli bagaimanapun resikonya!" Lalu meninggalkan ruangan Kaisar.
Seperginya Lin Jian, keadaan ruangan menjadi hening seketika. Namun, tiba-tiba saja Kaisar menggebrak meja dengan tangannya sampai menimbulkan keretakkan dan suara keras.
"Lin Jian! Kau akan menyesal karena sudah berani menentangku hanya karena gadis bodoh itu!" ujarnya dengan mata melotot serta gigi menggertak.
Di kamar Yunza.
Mi Anra membantunya membereskan barang bawaan Yunza. Beberapa buah tangan pun diberikan untuknya. "Nah, Mi Anra. Kita akan mulai menyulam dan membuat pakaian-pakaian bayi yang sangat cantik," ucapnya.
"N-nona bisa menyulam?" tanyanya.
"Tentu saja. Aku sudah membeli banyak peralatannya dan akan membuat banyak sekali pakaian untuk keponakanku. Tunggu dulu." Yunza menaruh tangan di dagu. "Kelak aku menjadi bibinya atau neneknya, ya?"
Mendengar hal itu, Mi Anra terkekeh lucu. "Bukan keduanya. Saat anakku lahir nanti, aku ingin Nona menjadi ibu baptisnya. Bagaimana?" tawarnya.
"Benar. Aku dengar, kemarin malam terjadi kebakaran di tempat militer dan menyebabkan kerugian besar. Satu hal lagi, Nona pasti tidak tahu mengenai masalah ini," ujarnya.
"Apa itu?" tanya Yunza.
"Selir, selir jahat yang cacat itu tiba-tiba saja mengaku pada Kaisar tentang kejadian berburu waktu itu. Dia mengatakan kalau adik pangeran kedua, Shenshen, lah yang melakukan semua ini," jawabnya.
Yunza mengerutkan dahinya. "Setelah sekian lama, mengapa dia baru memberitahu Kaisar mengenai hal ini?" tanyanya.
"Itu karena Permaisuri memindahkannya ke Istana dingin, karena kondisi cacatnya saat ini. Hal itu membuatnya tidak terima dan membuka mulut," jawab Mi Anra.
"Namun, tuduhannya tidak memiliki bukti dan nona Shenshen pun tidak dihukum. Aku pikir, mereka sudah mendapatkan balasan dari kejahatan mereka kepada Nona," lanjut Mi Anra.
"Tidak. Hanya satu orang yang mendapatkan balasan, satu lagi belum," celetuk Yunza.
Mi Anra terdiam lalu menatap Yunza. "Nona, apa kau berpikir untuk membalas nona Shenshen? Jika benar, tolong jangan melibatkan diri dalam bahaya lagi. Karena sekarang, tuan Gu Rong ... tidak ada di sisi kita lagi."
Yunza melihat kesedihan di raut wajah Mi Anra. "Ditinggalkan oleh orang terkasih memang menyakitkan, apalagi dia sedang mengandung. Sayang sekali, Gu Rong tidak bisa melihat anaknya lahir," gumam Yunza.
__ADS_1
Tak berapa lama, Yunza kemudian memeluk Mi Anra, lalu berkata, "iya, iya. Aku tidak akan melibatkan diri dalam bahaya lagi. Tapi, orang jahat harus mendapatkan balasannya agar mereka jera, bukan?"
Kemudian, dia melepaskan pelukannya. "Baiklah, simpan alat menyulamnya baik-baik. Jika ada waktu, aku akan mengajarimu menyulam juga," ucap Yunza.
"Oh iya, aku juga belikan boneka untuk pangeran Lin He. Mi Anra, bisa tolong berikan padanya?" pintanya sambil memberikan boneka tersebut.
Mi Anra menganggukkan kepalanya lalu menerima Bonek tersebut. Dia pun beranjak dan berniat pergi untuk memberikan hadiah tersebut kepada Lin He.
Yunza beranjak dari tempat duduknya. Saat melihat tempat tidur membuatnya ingin segera membaringkan tubuhnya di sana. Akan tetapi, baru saja dia berdiri, tubuhnya tiba-tiba lemas dan tidak seimbang. Yunza pun terjatuh menabrak meja.
Saat Mi Anra menoleh, dia terkejut melihat Yunza terjatuh kemudian menghampirinya. "Nona? Nona baik-baik saja?" Dia membantunya berdiri.
Sementara itu, Yunza memegangi kepalanya yang terasa pusing, disusul dengan rasa mual di perutnya yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Mi Anra, tubuhku terasa sangat lemas sekali. Bantu aku berjalan ke tempat tidur," pintu Yunza dengan suara lirih. Mi Anra pun menganggukkan kepalanya lalu memapahnya ke tempat tidur.
Beberapa saat kemudian, dia berhasil membaringkan Yunza di tempat tidur. "Nona tunggu sebentar, ya. Aku pergi panggil tabib dulu," ucapnya. Akan tetapi, Yunza melarang dengan cara mencekal tangannya.
"Tidak perlu, aku hanya kelelahan saja," ucap Yunza.
Namun, Mi Anra tidak berpikir demikian. Ia menyadari gejala yang dialami Yunza sama dengan dia waktu itu. Sekejap kemudian Mi Anra membelakkan matanya. "Apa mungkin Nona sedang ...."
Dia pun segera menarik tangan Yunza dan memeriksa denyut nadinya. Tak hanya itu, Mi Anra juga memeriksa beberapa tempat layaknya seorang tabib.
Setelah melakukan hal itu, Mi Anra terdiam sambil tertegun. "Nona ... Anda ... sedang hamil."
Yunza terkejut mendengar ucapan Mi Anra. "A-apa yang kau katakan, Mi Anra. Jangan so' tahu!"
"Nona, apa yang terjadi dengan Nona saat ini sama dengan saat aku waktu itu. Aku melihat tabib memeriksaku seperti yang aku lakukan pada nona tadi, kemudian menyimpulkan bahwa aku sedang hamil. Aku pun mempelajarinya, dan itu sama dengan apa yang dikatakan tabib. Nona, kau sedang hamil!" kekehnya.
"Bagaimana mungkin? Aku tidak mungkin hamil!" Yunza tak menerima kenyataan tersebut. Dia menepis tangan Mi Anra lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi Mi Anra.
Perilaku Yunza benar-benar membuat Mi Anra bingung. "Apa Nona tidak bahagia dengan kehamilannya? Tapi mengapa? Bukankah dia sudah saling mencintai dengan pengeram kedua?" batinnya sambil menatap sedih.
"Mi Anra," seru Yunza. "Jangan ... jangan beritahu siapapun mengenai hal ini. Termasuk ... pangeran kedua," pintanya kemudian.
"T-tapi kenapa?"
"Turuti saja perkataanku! Kau boleh pergi sekarang."
__ADS_1