
Satu bulan berlalu.
Suatu pagi, seperti biasa Mi Anra membereskan kamar Yunza sementara Yunza sibuk berhias di depan cermin. Ketenangan dapat dia rasakan dalam satu bulan terakhir ini, tanpa adanya gangguan Shenshen maupun Chen Su.
Di kotak perhiasannya, Yunza tak bisa menemukan tusuk rambut pemberiannya Lin Jian. Dia pun bertanya, "Mi Anra, apa kau melihat tusuk rambut yang biasa kupakai? Kenapa tidak ada di kotak ini?"
Namun, dari pertanyaannya itu dia tak mendapatkan jawaban. "Mi Anra?" Yunza menoleh untuk memastikan. Saat itu, dia melihat Mi Anra sedang melamun dengan tatapan kosong.
"Mi Anra!" Dia pun menyeru dengan suara sedikit tinggi dan akhirnya menyadarkannya dari lamunan.
"A-anda memanggilku? Ada apa, Nona?" tanyanya.
Yunza menghela napas panjang. "Ada apa, Mi Anra? Apa ada sesuatu mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?" tanya Yunza.
"T-tidak ada, tidak ada, kok. Aku hanya melamun sedikit tadi," alasannya. "A-apa Nona butuh sesuatu? Aku akan pergi ambilkan," lanjutnya.
"Tidak. Aku tanya apa kau melihat tusuk rambut yang biasa kupakai? Aku tidak bisa menemukannya di kotak perhiasan," ucap Yunza.
"Aku akan mencarinya," balas Mi Anra.
Namun, saat hendak menghampiri Yunza, pandangan Mi Anra menjadi buram. Pendengarannya jadi tidak jelas dan tubuhnya seketika melemah. Dia hampir terjatuh dan menabrak meja sampai apa yang ada di atasnya jatuh ke bawah.
Yunza lantas bangkit dan menghampiri Mi Anra. Dia membantunya bangun dan mendudukkannya di kursi. "Apa kau sedang sakit? Aku antar kau kembali ke kamar, ya," kata Yunza.
Mi Anra menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Nona. Aku hanya sedikit lelah saja, dan aku bisa kembali ke kamarmu sendiri," balas Mi Anra.
Mi Anra berusaha berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan. Yunza khawatir melihatnya dan kembali menawarkan diri untuk mengantarnya ke kamar, namun Mi Anra menolak lagi.
"Nona, kalau begitu, aku pergi dulu," kata Mi Anra.
Dia berjalan meninggalkan Yunza, sementara Yunza menatap kepergiannya dengan wajah cemas. Sampai akhirnya Mi Anra hilang dari pandangannya.
Beberapa saat kemudian, Yunza berjalan ke meja rias dan kembali mencari-cari tusuk rambutnya. "Kemana hilangnya tusuk rambut itu? Padahal aku ingat, semalam aku meletakkannya di sini," gerutunya.
__ADS_1
Tak berselang lama, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dia mengira kalau itu adalah Mi Anra, lantas menghampiri untuk membukakan pintu. "Ada apa? Kenapa balik lagi Mi ... Anra." Namun ternyata tebakannya salah, yang berdiri di depan pintu bukanlah Mi Anra.
Sosok pria itu membungkukkan badannya lalu berkata, "salam, Permaisuri Shen Yun Ja. Aku adalah pengawal pribadi tuan Yu Qin, beliau mengundang Anda untuk menemuinya dan membahas suatu hal penting."
Yunza mengernyitkan dahinya. Terakhir kali saat diminta menemuinya, Yu Qin malah mengajarkannya berpedang. Sekarang apa lagi? Begitu pikir Yunza.
Mengingat hubungannya dengan Lin Jian berangsur membaik, dia pun menolak ajakannya. Sambil membalikkan tubuh Yunza berkata, "Maaf, aku sedang sibuk!"
Namun, baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, pengawal itu berbicara. "Apa Anda yakin? Permasalahan yang ingin tuanku beritahukan sangat penting. Ini menyangkut ... pengawal Anda."
Yunza membelakkan matanya. "Gu Rong?" batinnya.
Ia kemudian menoleh ke belakang sambil bertanya, "hal apa yang ingin dibahas tuanmu mengenai pengawalku itu?"
"Hanya tuanku yang bisa menjawab. Sebaiknya Nona pergi menemuinya untuk mengetahui lebih jelasnya," balasnya.
"Hanya itu yang ingin kusampaikan. Kalau begitu, sampai jumpa." Secepat kilat dia menghilang di depan mata kepala Yunza.
Yunza terdiam sejenak. Dia pun memutuskan untuk pergi menemui Yu Qin setelah selesai bersiap diri.
"Hal apa yang ingin dibahasnya? Apa begitu penting sampai-sampai harus dibahas di luar Istana, secara diam-diam seperti ini?" batinnya menggerutu.
Tempat yang dimaksud Yu Qin adalah sebuah rumah bordil yang terletak di pusat ibukota kerajaan. Setelah mengelilingi ibukota, Yunza pun menemukan tempat tersebut dan langsung masuk ke dalam.
Kedatangannya disambut oleh beberapa pria berparas cantik. "Nona, apa Anda butuh teman?" tanya salah satu dari mereka dengan sangat menggoda.
"Gi-gigolo! Ternyata di dunia ini ada yang seperti ini!" Yunza terkejut setengah mati.
Ditengah kesulitannya menghadapi mereka, pengawal Yu Qin datang menjemput. Dibawalah Yunza ke lantas atas, ke salah satu ruangan dan bertemu Yu Qin.
"Lama tidak berjumpa, Yunza," sapa Yu Qin yang duduk di depan sebuah meja persegi panjang. Dia mempersilakan Yunza untuk duduk di hadapannya, tepatnya di seberang meja.
"Lama tidak berjumpa. Aku penasaran tentang apa yang ingin Tuan sampaikan padaku mengenai pengawalku itu," balas Yunza sambil tetap berdiri.
__ADS_1
"Duduk dulu, Yunza," suruh Yu Qin. Yunza menurutinya dan duduk di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu? Apa luka di lenganmu sudah sembuh?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja, Pangeran Yu Qin. Sekarang, aku sudah datang. Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Aku tidak punya banyak waktu," ucap Yunza.
Yu Qin menghela napas kasar berulang kali. Dia memperhatikan sekitar. Sekiranya tidak ada yang menguping, barulah dia mengatakan sesuatu.
"Apa kau tahu, sekitar satu bulan yang lalu, Kaisar kehilangan sebuah gulungan penting yang menyangkut urusan negara?" tanya Yu Qin.
Yunza mengerutkan dahinya. "Kehilangan gulungan penting? Aku baru mendengarnya sekarang dan tidak mengetahui apapun mengenai hal itu. Jadi, apa hubungannya denganku?"
Yu Qin mengambil cangkir teh di hadapannya kemudian menyeruputnya perlahan. "Bukan kau, tapi ini ada hubungannya dengan pengawalmu," lanjutnya.
"Ada hubungannya dengan Gu Rong?" Ia bertanya semakin penasaran.
"Benar. Kaisar mencurigai kalau dialah pencurinya," jawab Yu Qin sambil meletakkan cangkir ke tatakan.
Yunza terdiam dengan raut wajah terkejut. "Apa? Bagaimana itu mungkin!" Ia tak mempercayai ucapan Yu Qin.
Tiba-tiba, raut wajah Yu Qin menjadi serius. Dia berkata, "Yunza, dengarkan aku baik-baik. Bukan tidak mungkin kalau kau akan menjadi sasaran kecurigaan Kaisar suatu saat nanti. Jadi, aku tidak pernah berubah. Ikutlah pergi denganku."
Yunza tak menyukai apa yang dikatakan Yu Qin. Selalu itu yang dibicarakannya dan itu membuatnya muak. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Yunza beranjak dari tempat duduknya berniat pergi. Namun, Yu Qin mencekal tangannya kemudian.
"Jangan pergi, Yunza. Ada sesuatu yang masih ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya.
"Pangeran Yu Qin, jika kau mengatakan hal itu lagi, aku lebih baik tidak mendengarnya. Aku tidak tahu siapa kau dan kenapa selalu mengajakku pergi. Apa kau pikir, aku akan mempercayai seseorang sebegitu mudahnya?" tanya Yunza.
"Jika kau tidak ingin mendengarnya, tak apa. Tapi kali ini berbeda! Sekali lagi aku minta, dengarkan apa yang ingin aku sampaikan. Atau kau akan menyesal karena tidak pernah mengetahuinya," ucap Yu Qin.
Yunza terdiam. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa penasaran sudah melekat di hatinya. Dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
"Katakan!" katanya.
__ADS_1
Yu Qin terdiam. Raut wajah menunjukkan keraguan untuk mengutarakannya. "Kaisar ... sudah memerintahkan beberapa orang untuk membunuh pengawalmu. Hal itu sudah dilakukan mereka tepat saat kau menghilang di hutan saat perburuan musim panas."
"A-apa?"