
"Apa kau lihat apa yang ada di atas pohon itu?" Yunza menunjuk sebuah pohon tak jauh dari posisi Shenshen dan yang lainnya berada.
Mi Anra mengamati arah yang ditunjuk Yunza, dan dibuat terkejut saat melihat sebuah sarang lebah dengan ukuran sebesar bola sepak. "Apa yang akan Nona lakukan?" tanyanya.
Yunza mengisyaratkan Mi Anra untuk mendekat, lalu membisikkan sesuatu padanya. Mi Anra mendengarkan dengan serius sambil mengangguk-angguk kepalanya.
"Mi Anra, pergilah ke tempat peternakan dan lakukan apa yang sudah aku katakan!" perintah Yunza padanya. Mi Anra menganggukkan kepala sebagai persetujuan, kemudian bergegas pergi.
Sekitar 10 menit lamanya setelah kepergian Mi Anra, Yunza masih setia mengamati Shenshen dan yang lainnya berlatih menari.
Tak lama dia menundukkan kepala dan mencari sesuatu di tanah, kemudian mengumpulkan beberapa batu kerikil berukuran sedang di tangannya.
Sementara itu.
Angin pertanda akan dimulainya musim panas datang menyapa. Shenshen terduduk di kursi di bawah pohon rindang sambil menikmati teh hangat.
Di depannya, Jiu Ling sangat serius mengajarkan Chen Su beberapa gerakan tarian. Mereka berlenggak-lenggok dengan tubuh yang sangat luwes dan menciptakan sebuah tarian yang sangat indah.
Shenshen tersenyum sinis, dalam hati ia bergumam, "saat menemuiku waktu itu, dia bersikap seperti orang yang bisa melakukan segala hal. Sekarang lihat, bahkan menari saja tidak bisa!"
"Tidak, tidak, Nona Chen Su. Kau harus memutar tanganmu ke kanan sesuai dengan arahanku." Jiu Ling memberikan instruksi.
"Bisakah kau merubahnya menjadi ke kiri?" tanya Chen Su dengan tegas.
"Ternyata dia kidal," batin Shenshen.
Jiu Ling menoleh ke arah Shenshen dengan tatapan bertanya, kemudian Shenshen mengisyaratkan dengan anggukkan kepala sebagai persetujuan. Gerakkan pun diubah berdasarkan apa yang Chen Su mau.
Latihan pun berlanjut. Chen Su bisa dikatakan cukup cerdas, dia mampu menghafal sebuah gerakan tari hanya dengan mencobanya dua sampai tiga kali saja. Hal itu menjadi nilai tambah yang dimiliki dirinya.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti sejenak dan menghampiri Shenshen untuk berteduh dan menghilangkan dahaga. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja batu berbentuk lingkaran.
"Kau bisa menghafal gerakan tari dengan sangat mudah, dan itu membuatku sedikit merasa kagum padamu," ucap Shenshen.
"Terima kasih atas pujiannya. Selain dari pada itu, masih banyak hal yang bisa aku lakukan lagi," balas Chen Su. "Tapi ... mengapa harus tarian 'Teratai Bulan Purnama'?" tanyanya kemudian.
Shenshen meneguk teh lalu meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan di meja. Kemudian dia menjawab, "simple-nya, lagu itu merupakan lagu kesukaan selir Ning Ning. Keputusan dari kontes ini berada di tangan ayah Kaisarku, dan cara yang lebih mudah adalah mendapatkan hati selir Ning Ning, sebab---"
"Sebab dia satu-satunya selir kesayangan Kaisar?" tanya Chen Su menyerobot.
"Benar. Kelak, mungkin kau akan jadi seperti dirinya. Menjadi selir satu-satunya kesayangan kakak keduaku. Namun posisimu tak akan lebih tinggi dariku, ingat itu!" ucap Shenshen dengan sombong.
Chen Su tak mengatakan apapun lagi. Dia melihat cangkir teh miliknya lalu menggapai telinga cangkirnya. Dia mulai mengangkat, namun belum sempat menyeruputnya ia mendengar suara aneh di sekitar.
"Apa kalian mendengarnya?" tanya Chen Su.
__ADS_1
Shenshen dan Jiu Ling terdiam, mendengarkan dengan seksama. Semakin lama suara tersebut semakin keras. Seperti suara gemuruh sesuatu dari atas mereka.
Jiu Ling yang menyadari hal itu lantas menengadahkan kepalanya ke atas. Seketika dia membelakkan matanya hingga lebar sempurna. Dia diam membisu tanpa bisa bersuara.
"Jiu Ling, ada a ... pa ...." Shenshen bertanya sambil ikut menengadah, ia ikut terkejut. Lalu disusul oleh Chen Su yang melakukan hal yang sama.
Ketiganya diam membisu. "I-itu ... itu lebah!"
Setelah itu mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sayangnya, kawanan lebah tersebut malah mengejar mereka.
"Aaaahhh! Tolong!" teriak Jiu Ling.
"Pergi kau! Jangan dekati aku!" teriak Chen Su.
"Penjaga! Pelayan! Usir mereka! Jangan biarkan mereka menyentuhku! Aaarrghhhh!" teriak Shenshen.
Mereka bertiga lari terbirit-birit di sekitar taman. Sebisa mungkin berlari dengan cepat untuk menghindari kejaran kawanan lebah tersebut. Sementara Yunza yang menyaksikan hal menyenangkan itu amat puas menertawakan mereka.
"Ahaha! Aku tidak kuat tertawa lagi," ucapnya sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.
Yunza menenangkan dirinya dan menghentikan tawa. Kemudian dari saku pakaiannya ia mengeluarkan sebuah kapur barus. Yunza mengambil sebuah batu dan menumbuk kapur barus kemudian mengoleskannya ke sekujur tubuhnya.
"Yosh, sudah selesai," gumamnya.
Ia membersihkan bekas kapur barus untuk menghilangkan bukti. Beberapa batu kerikil yang tersisa pun ditaruh kembali ke tempatnya. Setelah itu, dia melangkah masuk ke taman.
"Danau itu sangat dalam. Kita mungkin bisa selamat dari kejaran lebah tapi tidak dengan kematian karena tenggelam!" ujar Shenshen.
"Sial! Kenapa tiba-tiba bisa ada lebah di sini!" teriak Chen Su.
Ketiganya masih sibuk melarikan diri dari kejaran kawanan lebah. Sampai akhirnya Yunza tiba tak jauh dari mereka, dan bertanya, "apa yang terjadi?" Sambil memasang wajah tidak berdosa.
Semua mata langsung menatap ke arahnya. Namun dari ketiganya, tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Yunza tersebut.
"Aku ada ide," ucap Chen Su pada mereka dengan suara pelan. "Dengarkan aku baik-baik. Kita akan berlari ke arahnya dan membuat kawanan lebah ini beralih mengejarnya. Apa kalian mengerti?" tanyanya. Semua menjawab dengan anggukan kepala.
Mereka pun mengubah jalur pelarian mereka dan menghampiri Yunza. Setelah berhasil melewati Yunza, mereka pikir rencana mereka telah berhasil. Namun itu salah.
"Lebahnya masih mengejar kita!" teriak Jiu Ling.
Shenshen dan Chen Su yang sempat merasa lega dibuat terkejut karenanya. Mereka sontak menoleh, dan apa yang dikatakan Jiu Ling benar adanya.
"Kenapa kawanan lebah itu tidak menyerang Yunza?" tanya Shenshen. Yunza tersenyum mendengarnya.
"Apa kau yang melakukannya? Lebah ini tidak mengejarmu, pasti kau yang membuat lebah-lebah ini mengejar kami, kan?" tuduh Shenshen.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Lebah-lebah tidak mengejarku karena aku selalu memakai kapur barus saat hendak pergi ke taman," jawab Yunza.
"Kapur barus?"
"Benar. Lebah tidak menyukai bau kapur barus, barulah aku bisa terlepas dari kejaran mereka," jawab Yunza lagi.
"Berikan padaku! Kapur barus itu, berikan padaku!" pinta Shenshen sambil terus berlari diikuti Chen Su dan Jiu Ling.
"Tidak ada! Aku sudah memakainya untukku," balas Yunza.
"Kau jangan berbohong! Berikan sekarang atau aku akan melaporkanmu karena masalah ini!" ancam Shenshen.
"Nona Shen---oh tidak, maksudku, adik ipar. Kau tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti seperti itu. Itu namanya fitnah, dan fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan," ujar Yunza.
"Aaaahhh! Aku rasa mereka semakin banyak!" teriak Jiu Ling.
Kepanikan dirasakan oleh ketiganya, terlebih saat sepasang kaki mereka sudah tak mampu berlari cepat lagi.
"Aku masih ada sesuatu yang mungkin bisa membantu kalian terlepas dari kejaran kawanan lebah itu. Tapi aku yakin, kalian akan menolaknya," ucap Yunza menarik perhatian mereka.
"Apa? Cepat berikan!"
"Tapi, bagaimana, ya. Aku membeli benda itu dengan harga yang tidak sedikit. Jika aku berikan pada kalian ...." Yunza menghentikan ucapannya.
Ditengah pelariannya, Shenshen melepaskan salah satu gelangnya dan melemparnya ke hadapan Yunza. Hal itu tak membuat Yunza puas. Lalu Chen Su membantu dengan melemparkan tusuk rambut peraknya.
"Tunggu apa lagi? Apa sebanyak itu tidak cukup?" berang Shenshen.
"Cukup. Hanya saja, aku juga perlu membayar seseorang yang membawanya kemari," ujar Yunza.
Mereka menjadi geram karenanya. Namun karena tak memiliki pilihan lain selain menerima bantuannya, mereka pun melepaskan beberapa perhiasan mereka dan memberikannya pada Yunza.
Melihat tumpukkan perhiasan bak melihat setumpuk uang pada masanya. Tak lama ia menoleh dan memanggil Mi Anra. Datanglah dia dengan dua ember di tangannya. Masing-masing ember berisi kotoran hewan yang sangat banyak.
"Silakan," ucap Yunza saat Mi Anra meletakkan dua ember tersebut.
"Ko-kotoran? Apa kau becanda, hah?" hardik Shenshen.
"Adik ipar, lebah tidak menyukai bau yang sangat menyengat. Contohnya kotoran ini. Aku tidak memaksa kalian untuk melakukannya dan bahkan bisa mengembalikan perhiasan kalian."
"Tapi pikirkan bagaimana jika kalian disengat oleh ratusan lebah itu. Akan seperti apa bentuk tubuh dan wajah kalian nanti," lanjutnya.
Mengingat rasa sakit yang tidak bisa dibayangkan, serta membayangkan bentuk tubuh dan wajah, membuat mereka tak bisa memilih pilihan lain lagi.
Ketiganya kembali berlari ke arah Yunza sementara Yunza dan Mi Anra mundur setelah meraup beberapa perhiasan itu.
__ADS_1
Setibanya, mereka langsung menyambar dua ember kotoran dan membalurkannya ke tubuh mereka sambil termual-mual menahan baunya.
Setelah itu Yunza dan Mi Anra pergi meninggalkan mereka dengan kemenangan telak. "Mi Anra, ayo pergi ke toko perhiasan dan lihat seberapa banyak uang yang kita dapat dari perhiasan milik mereka ini."