Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Kencan Pertama?


__ADS_3

"Tumben rapi, mau ke mana?" tanya Rozi pada Gibran yang sedang jongkok memakai sepatu.


Gibran mendongak sembari tersenyum kecil. "Kencan sama Melisa!"


"Gue ikut, ya?!"


"Nggak-nggak, ini kencan pertama! Lu jangan jadi pengganggu!"


"Pelit!" Rozi menaikan kakinya, berbaring di sofa. Tadinya dia sudah mau siap-siap dan ikut menempel pada Gibran.


"Lagian kayak orang nggak punya kerjaan aja! Itu, urus Baby Margaretha Lu!"


"Huh!"


Gibran mengambil dompet dan kunci mobil dia atas meja, menoleh ke cermin, untuk memastikan tidak ada yang buruk pada penampilannya.


"Awas, jangan macem-macem selama gue pergi!"


"Iya, bawel!"


Mobil Gibran melaju di tengah jalan raya yang cukup ramai, sebelum berangkat, Gibran sudah mengirim lokasi tempat mereka akan bertemu pada Melisa.


"Huh, aku nggak bisa berhenti deg-degan dari tadi!"


...****************...


Ayam Square, salah satu restoran yang ingin Gibran kunjungi bersama Melisa. Dan untuk kencan pertama ini, Gibran benar-benar memilih tempat itu, sangat cocok dengan Melisa yang pecinta pedas. Ditambah lagi, semua makanan kesukaan Melisa ada pada daftar menu restoran.


Melisa berjalan memasuki restoran, ini sebenarnya bukan kali pertama Melisa ke sini, sebelumnya ia pernah datang bersama Via dan Rere.


"Meja dua empat?" Melisa melangkah ke sebelah timur. Ah, dari tempatnya berdiri sekarang dia sudah bisa melihat tubuh Gibran yang duduk membelakangi. Entah kenapa, Melisa yakin itu adalah Gibran.


"Huh, tenang Melisa, jangan panik!" gumam gadis itu.


"Emm, permisi?"


"Ya?" Gibran menoleh, pria itu tersenyum saat melihat Melisa sudah berdiri di belakangnya. Dengan sigap Gibran pun berdiri menarik kursi untuk Melisa. "Silahkan duduk!"


"Terimakasih!"


Perasaan gugup, gerogi dan malu menghampiri Melisa secara bersamaan. Secara ini kan pertemuan pertama yang direncanakan!


"Senang bisa bertemu lagi denganmu!" ucap Gibran.


"Ya, senang juga bertemu lagi denganmu!" Benar-benar begitu kaku!


"Sejak kapan?"


"Apanya?" Melisa balik bertanya.


"Kamu cantik dan manis seperti ini?"


Khemmm. Tolong selamatkan Melisa dari gombalan pria ini!


"Gimana, suka tempatnya?" tanya Gibran.


"Suka."


Gibran berpikir sejenak, mencoba mencari topik yang cocok dengan Melisa.


"Melisa?"


"Ya?"


"Mau denger cerita horor lagi?"


"Emm, boleh."


Gibran mendorong kursi lebih maju, agar Melisa bisa mendengar suaranya dengan jelas.


"Aku nggak tau ya, ini bisa disebut horor atau nggak!" ucap Gibran sebelum memulai cerita.


"Cerita ini dialami sama sahabatku, Rozi. Beberapa tahun lalu saat kami masih kuliah, kalo nggak salah masih semester 2 lah. Aku dan Rozi pergi ngerjain tugas ke kostan Irwan, temen kelas kami."

__ADS_1


Tanpa sadar, Melisa melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Gibran yang sedang bercerita.


"Kebetulan kostan Irwan ini di lantai tiga. Nah, di lantai tiga ini ada 5 kamar, dan kamar Irwan ada di paling ujung!"


Gibran berhenti sejenak, ia tersenyum lalu kembali melanjutkan cerita.


"Sebenarnya kita bertiga udah selesai ngerjain tugas sebelum jam sebelas malam, tapi karena malam itu ujan turun cukup deres, jadi aku sama Rozi mutusin buat nginep. Waktu itu aku sama Irwan tidur di kamar, sedangkan Rozi di ruang tengah. Soalnya dia lagi telponan sama pacarnya!"


"Nah jadi gini ceritanya, malam itu Rozi masih telponan sampe jam 12 malem, terus katanya dia sempat tidur sebentar, tapi kebangun gara-gara denger suara bising dari dapur! Awalnya Rozi mikir itu pasti aku atau nggak Irwan yang lagi minum. Tapi pas dia manggil, kok nggak ada yang nyaut!"


"Terus dia ngecek ke dapur?" tanya Melisa karena Gibran malah sibuk menatapnya dan tidak kunjung melanjutkan cerita!


"Ya, Rozi pergi ngecek ke dapur, kebetulan lampu dapur dimatiin sama Irwan sebelum tidur, dan pas Rozi ke dapur, lampu dapur waktu Itu masih mati, dan anehnya pas Rozi nyalain lampu katanya di dapur nggak ada siapa-siapa! Tapi Rozi masih mikir positif waktu itu, dia mikir mungkin lagi di kamar mandi, karena kebetulan kamar mandi ada di samping dapur!"


"Ya udahkan, karena Rozi mikir mungkin lagi di kamar mandi, jadi Rozi mutusin buat balik lagi ke ruang tengah, tapi pas Rozi udah balik badan, tiba-tiba Rozi denger suara orang nangis!"


"Rozi antara takut dan penasaran katanya, tapi rasa penasarannya lebih dominan, akhirnya dia balik badan dan dia langsung disuguhi dengan pemandangan kaki kecil yang berlumuran darah di atas kulkas, dan Rozi menciumi aroma gosong di sekitarnya, pas Rozi ngangkat kepalanya buat ngeliatin siapa yang duduk di atas kulkas itu--"


Gibran memperhatikan wajah serius Melisa, dengan bola mata yang terus menatapnya.


"Siapa?"


"Seorang anak kecil dengan wajah yang gosong, terus tangan kanannya megangin potongan tangan kirinya. Bocah itu seolah tersenyum saat Rozi menatapnya, terus kamu tau, dia bilang gini : Kak, temenin Riri main masak-masak yuk?! Rozi yang ngeliat dan denger itu langsung keringet dingin! Terus dia teriak manggil aku sama Irwan, aku langsung bangun waktu denger teriakan dia, karena benar-benar keras! Pas aku samperin ke dapur, dia masih matung ngadep kulkas, tapi di atas kulkas itu aku nggak liat siapa-siapa, malahan yang aku liat ada genangan air di bawah kaki Rozi!"


"Itu air apa?" tanya Melisa polos.


Gibran tersenyum, ia memajukan wajahnya, lalu berbisik, "Air kencing Rozi!"


"Asem!" Melisa memalingkan wajah, berusaha menahan tawa.


"Melisa?"


"Iya?"


"Kalo kamu mau denger cerita horor lagi, aku punya banyak koleksi cerita horor, dan aku bisa ceritain ke kamu, kapan aja!"


"Terimakasih."


Melisa diam sejenak, bukankah dia belum memilih menu makanan dari tadi? Tapi kenapa sekarang sudah ada menu yang ingin dia pesan di atas meja?


"Ini?"


"Aku yang pesan sebelum kamu datang tadi!"


"Tau darimana aku bakalan pesan ini?!" Melisa memicing matanya. Serem nih cowok, udah kayak tukang ramal aja!


"Hahaha, apasih tentang Melisa yang nggak aku tau?!"


Melisa mendengus, ini pasti ulah Via atau nggak Rere, kan? Tebaknya.


"Emmm, maaf--" Gibran menyelipkan beberapa helai rambut Melisa ke belakang telinga. "Mereka menghalangi wajah manismu!"


"Aish!"


Jujur saja, rasanya sangat berbeda ketika digombali secara langsung dan dari chat saja. Lebih kena yang secara langsung, menurut Melisa!


"Kamu nggak makan?"


"Aku lebih tertarik sama kamu daripada sama makanan!"


"Hmmm. Nanti sampai rumah pasti langsung makan kan?"


"Hahaha, mau langsung tidur, biar bisa mimpiin Melisa!"


"Mimpiin Kuntilanak, baru tau rasa!"


"Nggak apa-apa, kalo kuntilanaknya semanis Melisa!"


Melisa menggeleng pelan, ia bingung harus menanggapi apa lagi sekarang?!


"Kenapa suka horor?" tanya Rozi disela-sela makan. Akhirnya dia makan juga, karena tergoda oleh Melisa.


"Nggak tau, cuman tertarik aja!"

__ADS_1


"Punya pengalaman horor nggak?"


"Aku? Nggak punya. Belum pernah ngerasain! Kalo kamu?" ucap Melisa.


"Sama, cuman aku sering dengar cerita dari temen-temen! Mau nonton film horor nggak?" Gibran menatap Melisa penuh harap.


"Mau nonton kapan?"


"Minggu ini, bisa?"


"Nanti aku liat, bisa atau nggak!"


"Oke, kalo bisa, kabarin aku ya?!"


"Oke!" Melisa memasukkan potong ayam ke dalam mulutnya. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak menampakan senyum berlebihan di hadapan Gibran.


"Melisa?"


"Iya?"


"Nggak mau fotbar lagi sama aku?!"


Melisa memalingkan wajah, huh, kenapa harus mengingatkan kejadian di bukit cinta lagi?! Kan Melisa jadi malu!


"Hahaha, kali ini aku yang minta, please. Mau ya?"


Melisa mengangguk pelan. Gibran pun meminta tolong pada pelayan yang kebetulan baru selesai mengantar pesan dari meja sebelah.


"Yang ikhlas senyumnya!" bisik Gibran. Tangan kanan Gibran bertengger manis di bahu Melisa.


"Adik kakak, ya?" tanya pelayan restoran setelah mengambil beberapa foto dan menyerahkan Handphone pada Gibran.


Gibran menatap Melisa. "Bukan, kita pasangan!"


"Oh, maaf saya kirain adik kakak tadi!" Pelayan restoran itu tersenyum kikuk lalu pamit untuk kembali bekerja.


"Nggak apa-apa kan?" tanya Gibran.


Melisa ikut tersenyum kikuk seperti pelayan restoran tadi. "Iya, nggak apa-apa!"


Gibran kembali tersenyum, jika boleh ia ingin mencubit pipi gadis ini, saking gemasnya melihat ekspresi Melisa tadi!


"Aku anter pulang ya?" ucap Gibran setelah membayar tagihan pada kasir.


"Aku bisa pulang sendiri!"


"Nggak! Aku yang anter!" Gibran menggenggam tangan Melisa, membawa Melisa menuju parkiran. Melisa tidak memberikan penolakan, karena ia masih sedikit kaget saat tangan kekar Gibran menggenggam tangannya. Terasa begitu kuat dan hangat.


"Maaf," ucap Gibran lalu melepas tangan Melisa, pria itu langsung membukakan pintu mobil, tidak mau menerima penolakan!


"Perasaan apa ini?" Melisa melirik Gibran yang sedang fokus mengemudi. Tatapan mata yang tajam, gerakan tangan yang pelan namun terlihat begitu kuat saat mencengkam kemudi membuat Melisa mengalihkan pandangannya.


"Benar-benar terlihat seperti pria dewasa!" lirih Melisa.


"Melisa ngomong apa?" Gibran melirik sekilas.


"Bukan apa-apa!"


"Oh ya?"


"Hmm."


Malam itu, Gibran mengantarkan Melisa sampai depan gerbang, yang sebenarnya gerbang samping rumah utama. Bukan Gerbang depan!


"Terimakasih ya, Om Gibran!" ucap Melisa sembari tertawa kecil.


"Hahaha, sama-sama gadis kecil! Jangan kapok ya!"


Gibran menatap tubuh mungil Melisa yang mulai hilang di balik gerbang putih itu, mobil Gibran diam cukup lama di sana.


"Dulu Papa pernah cerita kalo sebelum aku lahir, Papa dan Mama tinggal di perumahan ini kan?" gumam Gibran. Pria itu berandai-andai, jika saja keluarganya masih tinggal di sini, mungkin jaraknya dan Melisa akan lebih dekat lagi!


"Tapi nggak apa-apa sih, toh sekarang kami udah sedekat ini!"

__ADS_1


__ADS_2