Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Erlan


__ADS_3

Sekitar jam tujuh malam, tepatnya sebelum makam malam di rumah utama di mulai, Pak Tio kembali setelah hampir tiga jam menghilang, pria itu datang dan langsung menemui Tuan Felix di ruang kerjanya yang berada di lantai atas.


"Ini dia Tuan." Sebuah berkas yang berisi data pribadi Euni, serta semua bukti pendukung Pak Tio letakkan di atas meja kerja Tuan Felix.


Tuan Felix yang sudah menahan amarah sejak mendengar laporan dari Pak Tio langsung mengambil berkas tersebut, membaca dengan teliti.


"Jadi ini semua ada hubungannya dengan kedekatan Gibran dan Melisa?!" ucap Tuan Felix ketika membaca sebuah kertas yang berisi data hasil dari peretasan Hp Euni, di mana ada kontak Gibran ditemukan di dalam handphonenya, ada bekas chat dengan Gibran, bahkan ada beberapa foto Gibran juga di sana.


"Jika saya simpulkan, wanita itu meresa sakit hati, Tuan, setelah Tuan Gibran menolak dijodohkan dengannya, dan dia juga sakit hati setelah mengetahui kalau Tuan Gibran lebih memilih bersama Nona Melisa."


"Saya akan membicarakan hal ini dengan Gibran!" tegas Tuan Felix. Mendengar hal itu, Pak Tio pun langsung tertunduk, ia benar-benar takut kalau keputusan Tuan Felix nantinya adalah menjauhkan Gibran dari Nona Melisa. Entah mengapa, Pak Tio takut kalau sampai hal itu terjadi.


Tapi sebelum Pak Tio meninggalkan ruangan, Tuan Felix sempat berpesan agar kejadian ini ditutupi saja dari Melisa, takut Melisa meresa tidak nyaman setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tuan Felix juga meminta agar Pak Tio terus mengawasi pergerakan Euni!


Benar saja, saat ditanyai oleh Melisa, Pak Tio menjawab kalau dia ada urusan dengan Tuan Felix, urusan pekerjaan mendadak yang membuatnya harus cepat datang dan terpaksa menyuruh orang lain untuk mengantar Melisa pulang.


Sebenarnya Melisa sedikit ragu dengan jawaban Pak Tio, tapi ya sudahlah, lagipula sudah sangat beruntung bagi Melisa karena Pak Tio mau menjawab semua pertanyaannya.


* * * *


Tepat pada Sabtu sore, Gibran mendapatkan ajakan untuk makan malam bersama di kediaman Melisa, Gibran yang pada dasarnya sudah tau seperti apa Tuan Felix pun hanya bisa menerka-nerka, kali ini hal apa yang ingin Tuan Felix bicarakan lagi dengannya? Apakah ada peraturan yang Gibran atau Melisa langgar?


Beda halnya dengan Melisa, ia sama sekali tidak terpikir ke arah sana, ia pikir ini adalah sebuah acara makan malam yang sengaja Ayahnya rencanakan untuk lebih mengenal lagi sosok Gibran, bahkan Melisa sendiri sangat senang saat mengetahui kalau Gibran akan datang! Melisa akhirnya bisa mengobati kerinduan pada sang kekasih tercinta.


Seperti pada umumnya, Tuan Felix basa-basi menanyakan kabar dan kerjaan Gibran, ia tak langsung bicara pada inti percakapan, selain karena ada Melisa, Arkan dan Erlan juga di meja makan.


Berbeda dengan Arkan yang menerima kehadiran Gibran, si bungsu Erlan malah menolak, bahkan sejak kedatangan Gibran, bocah itu sudah memasang tatapan tidak bersahabat.


Erlan tidak mau berbagi apapun lagi dengan orang lain, cukup berbagi dengan Arkan Kakaknya saja ia sudah mencoba seikhlas mungkin, apalagi ini notabene nya Gibran orang asing! Iya harus berbagi kasih sayang Melisa, bahkan perhatian Mama dan Ayah dengan pria asing itu! Erlan tidak mau dan tidak terima!!


Melihat Mamanya memperlakukan Gibran dengan baik saja rasanya ada percikan abi cemburu di hati kecil Erlan.


"Loh, Erlan, kenapa nggak di habisin makannya?" tanya Tania ketika Erlan tak mau lagi menghabiskan makan malamnya. Bocah yang ditanya itu malah diam dan hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Erlan kenapa, sakit?" tanya Arkan sembari memeriksa suhu tubuh Erlan, normal-normal saja ternyata.


"Ma, Erlan boleh makan salad buah?" tanya bocah itu setelah diam cukup lama.

__ADS_1


"Iya, boleh, Sayang. Mbak--"


Baru saja Tania ingin meminta tolong pada Mbak indah untuk mengambil salad buah Erlan yang disimpan di kulkas, Erlan malah terlebih dahulu turun dari kursi makannya, dan ngotot kalau dia mau ambil sendiri!


Melisa yang memang peka atas perubahan sikap Erlan pun mempercepat makannya untuk segera membujuk bocah itu.


"Gibran, setelah ini saya ingin bicara denganmu sebentar!" ucap Tuan Felix, spontan Melisa yang sedang minum pun melirik ke arah Ayahnya. Apalagi yang ingin Ayahnya bicarakan dengan Gibran?! Perasaan Melisa mulai tak karuan.


Setelah menyelesaikan acara makan malam, Tuan Felix mengajak Gibran untuk naik ke atas, ke ruang kerjanya, sedangkan Melisa yang tidak diizinkan untuk ikut memilih untuk membujuk Erlan ditemenani oleh Arkan.


Erlan yang tadinya duduk di depan TV sembari menikmati salad buahnya langsung menoleh begitu menyadari kehadiran Melisa dan Arkan.


"Kak Melisa sama Kak Arkan boleh ikut nonton nggak?" tanya Melisa dengan posisi setengah berjongkok.


"Boleh."


Melisa dan Arkan ikut duduk di depan Tv setelah mendapatkan persetujuan dari Erlan, tampak bocah itu fokus pada tontonannya, dan sesekali memasukkan potongan buah ke dalam mulut kecil yang tak berhenti mengunyah, walaupun pada akhirnya badannya segitu-gitu saja.


"Em, Erlan, Erlan nggak suka sama Kak Gibran ya?" tanya Melisa pelan.


"Kenapa, padahal Kak Gibran kan orang baik, dia ada bawain jajan sama buah-buahan kesukaan Erlan loh!"


Erlan menggeleng. "Erlan nggak mau itu semua, Erkan maunya Kak Melisa, Erlan nggak mau Kak Melisa pergi sama dia!"


"Pergi? Pergi ke mana, emang Kak Gibran mau bawa Kak Melisa pergi ke mana?"


"Pergi ke rumah dia, dan tinggal di sana. Orang orang yang pacaran kan kayak gitu!!" kesal Erlan.


Spontan Melisa dan Arkan langsung saling menatap. Ternyata adik kecil mereka sudah mulai faham urusan orang dewasa.


"Jadi Erlan nggak mau Kak Melisa tinggal di rumah Kak Gibran? Erlan maunya Kak Melisa tetap tinggal di sini sama Erlan?"


Erlan mengangguk. "Erlan nggak mau lagi tinggal pisah-pisah dan jauh dari Kak Melisa!"


Bocah itu meletakkan mangkuk salad buahnya, lalu bergeser pelan ke arah Melisa, memeluk gadis itu.


"Kak Melisa jangan pergi jauh-jauh, jangan buat Erlan khawatir lagi, Erlan nggak mau Kak Melisa kenapa-kenapa, Erlan nggak suka liat Kak Melisa dirawat di rumah sakit! Erlan nggak sukaaaa!!"

__ADS_1


Melisa mengusap kepala dan punggung Erlan yang masih memeluknya. Melisa tidak tau harus mengatakan apa lagi pada Erlan, mungkin dengan seiring berjalannya waktu Erlan bisa menerima kehadiran Gibran dan mengerti arti dari sebuah hubungan yang sedang Melisa dan Gibran jalankan.


"Kak, Arkan boleh iri nggak sih, soalnya Erlan hanya sayang pada Kak Melisa, tidak pada Arkan!" ucap Arkan dengan nada yang dibuat sesedih mungkin, hal itu berhasil membuat Erlan sedikit melonggarkan pelukannya pada Melisa dan menoleh pada Arkan.


"Kak Arkan kan cowok, lagian Kak Arkan juga udah besar, udah bukan waktunya buat disayang-sayang!!"


Jlebb. Jawaban Erlan ibarat sebuah pedang yang menghunus hati Arkan, namun dengan senyuman jahil Arkan balik membalas.


"Nggak apa-apa, yang penting Kak Melisa tetap lebih sayang ke Kak Arkan!' Godanya dengan wajah mengejek sebelum akhirnya remaja itu sedikit berlari meninggalkan ruangan.


"Udah-udah, jangan dengerin Kak Arkan, Kak Melisa sayang banget kok sama kalian berdua, terutama Erlan!" bujuk Melisa. Gadis itu berhasil membujuk Erlan agar bocah itu tidak memasang wajah cemberut lagi, tapi ia belum berhasil membujuk Erlan agar bisa menerima kehadiran Gibran.


****


Gibran menatap Tuan Felix seolah bertanya, apa ini? Saat Tuan Felix menyodorkan sebuah map coklat padanya.


"Buka dulu!"


Dengan perasaan sedikit cemas, tegang, dan bingung, Gibran pun membuka map yang berisi beberapa kertas, Gibran membacanya dengan seksama. Pria itu sempat menggeleng pelan, seolah tak percaya dengan apa yang ia baca.


"Saya tau kamu tidak ada hubungan apapun dengan kejadian yang hampir saja menimpa Melisa, dan mungkin kamu juga sama kagetnya dengan saya ketika mengetahui kabar ini," ucap Tuan Felix. Tuan Felix bisa melihat raut wajah Gibran seperti orang yang sedang menahan amarah, tanganya yang memegang kertas itu terkepal menahan geram.


"Saya pastikan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi!" tegas Gibran, pria itu tidak akan membiarkan Euni bertindak sesuka hatinya lagi untuk kedepannya!


"Em, Gibran, saya tidak sedikit pun meragukan cintamu pada Melisa. Tapi sebagai seorang Ayah, saya hanya khawatir dengan keselamatan anak saya, kamu mengerti kan maksud saya?"


"Iya, saya mengerti, saya juga tau, Melisa begitu berharga bagi Anda!"


"Selesaikan urusanmu dengan wanita itu, dan tolong, jangan pernah ceritakan hal ini pada Melisa, karena dia tidak tau apapun tentang ini! Saya percaya padamu!"


Gibran mengangguk, kali ini ia benar-benar akan memberikan pelajaran berharga untuk Euni!


"Berani-beraninya dia ingin mencelakai Melisaku!" Batin Gibran geram. Tapi sekuat mungkin Gibran mengontrol dirinya, ia juga tidak boleh gegabah dan lepas kendali, bisa-bisa saja nanti malah dirinya yang menjadi tersangka karena menghabisi Euni!


Setelah merasa mulai tenang, Gibran pun kembali membuka percakapan, ia menyampaikan niatnya untuk mengajak Melisa bertemu dengan kedua orangtuanya, terutama Mamanya yang terus minta dikenalkan dengan Melisa.


Tuan Felix tidak keberatan, sesuai dengan peraturan yang sudah disepakati sebelumnya, Gibran boleh membawa pergi ke manapun, asalkan Gibran siap melindungi Melisa selama gadis itu bersamanya! Dengan nyawa Gibran sendiri sebagai taruhannya!

__ADS_1


__ADS_2