Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Donat!


__ADS_3

Melisa yang baru saja selesai mandi sehabis pulang jalan-jalan dengan kedua sahabatnya pun duduk di atas kasur, meraih Hp-nya karena dia sempat mendengar ada panggilan masuk saat dia masih di kamar mandi tadi!


1 panggilan tak terjawab dari Gibran.


^^^Melisa :^^^


^^^Kenapa, Gibran?^^^


^^^Maaf tadi aku lagi di kamar mandi!^^^


Gibran :


Udah nyampe rumah?


^^^Melisa :^^^


^^^Udah^^^


Gibran :


Kenapa nggak ngabarin aku? Tadi kan aku bilang kabarin kalo udah nyampe rumah?!


^^^Melisa :^^^


^^^Hehehehe^^^


^^^Aku lupa, maaf.^^^


Gibran :


Aku capek tau mikirin kamu, takutnya kenapa-kenapa di jalan:)


^^^Melisa :^^^


^^^Eh, maaf, maaf. Aku benar-benar lupa loh!^^^


Gibran :


Ya udah gpp, yang penting sekarang kamu udah nyampe rumah.


Kamu bisa keluar nggak sebentar?


^^^Melisa :^^^


^^^Keluar? Ke mana?^^^


Gibran :


[Foto]

__ADS_1



^^^Melisa :^^^


^^^Samping rumahku?^^^


Gibran :


Keluar sebentar, please, Melisa!


 


Melisa membuka lilitan handuk di kepalanya, lalu mengambil sisir, menyisir rambutnya asal. Tak lupa menyemprotkan parfum pada tubuhnya!


Saat baru saja melangkah keluar kamar, Melisa baru teringat ia hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos yang kebesaran!


Gadis itu kembali lagi ke kamar, mengganti celananya dengan celana yang sampai menutup lulut! Bukan sepaha lagi!


"Sejak kapan dia di sana! Benar-benar nggak bisa ditebak ni orang! Sebentar muncul di sini, sebentar muncul di sana! Tau-tau udah di depan sekolah! Tau-tau udah di samping rumah!" gumam Melisa yang berlari kecil melewati taman samping.


Melisa membuka gerbang samping dengan pelan. Benar saja, mobil Gibran terparkir tepat di depan sana!


Gibran full tersenyum karena bisa melihat Melisa dari dekat! Sederhana namun benar-benar membuat Gibran bahagia!


"Donat untuk Melisa!" ucap Gibran, ia menyerahkan paper bag yang berisi sekotak donat aneka rasa.


"Masih dalam misi yang sama, misi mendapatkan hati Melisa!" Gibran tertawa kecil dengan tubuh yang bersandar di mobil, menghadap dan menatap lekat gadis di depannya!


"Jangan bilang ke sini cuman buat ketemu aku dan ngasih ini lagi?!"


"Hehehehe, iya. Cuman buat ngeliatin kamu dari jarak sedekat ini--" Gibran maju dua langkah, hanya tersisa jarak 30 cm antara dia dan Melisa sekarang!


Gibran menyentuh rambut Melisa yang masih basah, menggulungnya menggunakan jari telunjuk, menghirup aroma sampo gadis itu. "Baru selesai mandi?"


"I-iya!"


Melisa mundur selangkah, jujur saja ia gugup jika bicara sedekat ini dengan pria! Bukan hanya dengan Gibran! Dengan Arkan pun sama!


Gibran ikut salah tingkah ketika menyadari ulahnya! Pria itu lantas memasukan tanganya kananya ke dalam saku celana! Benar-benar ya, Melisa itu ibarat magnet yang terus menariknya untuk mendekat dan lebih dekat!


"Hari rabu, bisa temenin aku beli kado pernikahan nggak?"


"Buat sahabatku!" imbuh Gibran.


"Rabu?" Melisa menghitung samar dengan jemarinya! Hari Rabu ya? Hari itu adalah hari peringatan kematian Tante Felia! Melisa tidak bisa!


"Gimana kalo Selasa?" ucap Melisa.


"Selasa?" Sekarang giliran Gibran yang menghitung samar. "Aku ada kegiatan di luar kota! Kamu nggak bisa ya kalo hari Rabu?"

__ADS_1


"Ada acara keluarga!"


"Emm, ya udah Kamis aja, gimana?"


"Nanti aku usahain, ya!"


"Nggak bisa juga nggak apa-apa, Melisa! Jangan dipaksa!"


"Emmm, gimana nanti aja deh!"


"Oke, terimakasih, Melisa..." Gibran tersenyum. "Udah malam, kamu masuk istirahat aja."


"Kamu mau langsung pulang?"


"Iya? Atau kamu mau aku temenin tidur?"


Plakk.


Satu pukulan jatuh di bahu Gibran. "Aneh-aneh aja!"


"Hahaha, becanda, becanda! Ya udah aku pulang ya, salam buat Mama Papa Mertua!"


"Apa?"


"Nggak ada, nggak jadi!" Gibran tersenyum kikuk sambil mengelus tengkuknya. "Aku pulang dulu!'


"Iya, hati-hati dan terimakasih banyak buat donatnya!"


"Sama-sama!" Gibran maju selangkah, agak sedikit menunduk untuk membisikan sesuatu pada Melisa!


"Selamat malam, Cantik. Semoga mimpi indah!"


Melisa tertegun saat hembusan napas Gibran menerpa kulit lehernya, gadis itu hanya bisa tersenyum kaku memperhatikan mobil Gibran yang melaju makin jauh.


"Huh, perasaan apa ini?!" Gadis itu bersandar pada tembok gerbang, kakinya terasa lemas, serasa ingin pingsan! Jantung berdebar kencang, seperti dikejar penagih utang!


Tanpa Melisa sadari sebuah CCTV merekam semua aktivitas mereka sejak tadi!


Sepanjang malam, wajah Gibran terus terbayang, senyumannya, suaranya seolah-olah memenuhi pikiran Melisa!


Parah sih, bikin anak orang nggak bisa tidur tenang!


Sementara itu, seorang pria di sebuah ruang kerja yang ada di rumah utama, menyandarkan punggungnya, tatapan matanya yang tajam masih terfokus pada layar monitor, dengan tangan terkepal di atas paha.


"Dia lagi? Berani juga dia menginjakkan kakinya di sini!" geramnya saat memutar ulang rekaman CCTV dari gerbang samping!


"Baiklah, bukannya kamu sendiri yang ingin bermain denganku anak muda? Maka mari kita akhiri permainan ini secepatnya!"


...***************...

__ADS_1


__ADS_2