
Pukul setengah 8 pagi, Gibran baru selesai mandi dan merapikan apartemennya. Rencananya sebelum menjemput Melisa, ia akan mampir ke rumah Mama dan Papa dulu untuk melepas rindu sekalian numpang sarapan yang lebih bergizi!
"Zi, gue ke rumah Mama dulu, mungkin bakal sampe malam!" ucap Gibran pada Rozi yang masih tengkurap di atas kasur.
"Iya, hati-hati!"
"Inget, lu masih punya utang sama gue!" Gibran memukul betis Rozi cukup keras, sampai Rozi merintih kesakitan.
"Jahat, Lu!"
Gibran tak menggubris, ia meninggalkan Rozi sendiri, mungkin untuk saat ini Rozi butuh istirahat dulu, nanti setelah dia normal Gibran akan menyerangnya dengan seribu pertanyaan!
...****************...
Mobil Gibran memasuki halaman depan rumah yang ditinggali oleh adik dan orang tuanya. Dari dalam mobil, Gibran bisa melihat Livi yang sedang bermain dengan selang, menyiram bunga yang tumbuh di taman depan.
Sekilas Gibran tersenyum saat memperhatikan sang adik, gadis kecil yang selalu tersenyum ceria itu tak pernah berubah ternyata!
"Oh liatlah, kita kedatangan tamu spesial! Selamat datang, Tuan!" Livi mengarahkan selang yang ia pegang pada Gibran.
"Livi! Jangan!" Gibran menghindar dengan berlari memasuki rumah, bersembunyi di balik pintu.
"Huh, pengecut!" Teriak Livi dari luar.
"Masak iya, mau ketemu Melisa dalam keadaan basah dan keringatan?!" gumam Gibran sembari menepis beberapa tetes air yang mengenai rambutnya. Jika saja Gibran meladeni Livi, pasti dia akan lupa kalo ada janji dengan Melisa hari ini!
"Selamat Pagi, Mama!" sapa Gibran pada seorang wanita yang sedang berkutik dengan peralatan dapur. Gibran merentangkan tangannya setelah meletakkan barang bawaannya di atas meja dapur.
"Emmm, anak Mama wangi dan ganteng banget hari ini, mau pergi ke mana?" ucap Hesti setelah melepaskan Gibran dari pelukannya.
"Hahaha, nggak kemana-mana, cuman mau keluar sama temen aja!" Jawab Gibran. "Gibran ada bawain pesenan Mama, tuh--" Menunjukkan ke arah meja dapur.
"Oh ya, makasih ya, Nak. Kamu udah sarapan?"
"Belum!" Gibran tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya.
"Rozi mana? Tumben nggak ikut?"
"Ada, masih tidur di apartemen!"
Hesti hanya menggeleng pelan mendengar jawaban Gibran. "Ya udah kamu samperin Papa dulu sana, Papa lagi kasih makan ikan di belakang!"
"Udah sering ketemu Papa di kantor, Ma. Besok juga ketemu lagi!" ucap Gibran, pria itu berjalan menuju meja makan setelah mengambil segelas air putih.
"Setidaknya sekarang ketemu sebagai seorang anak, Gibran!"
"Hehehehe, iya Ma, iya!" Gibran berbelok, berjalan menuju kolam belakang, tempat sang Papa.
"Kak Gibran mana, Ma?" tanya Livi yang baru selesai dengan kegiatan siram menyiramnya.
"Lagi nyamperin Papa di belakang!"
"Dia pasti belum sarapan kan?"
"Biasalah, kayak nggak kenal kakakmu aja!"
"Keras kepala sih, disuruh tinggal di rumah nggak mau, malah milih tinggal di apartemen!" gerutu Livi. Hesti tak menjawab, ia juga tidak ingin mempermasalahkan hal itu lagi sekarang! Toh Gibran selalu ada setiap Hesti membutuhkan bantuannya!
Suasana di rumah Gibran yang terkesan hangat dan penuh kasih sayang berbanding terbalik dengan rumah Melisa.
__ADS_1
Pukul setengah enam tadi Ayah, Mama dan kedua adiknya sudah meninggalkan rumah. Pergi mengunjungi Om Noah, saudara Papa, sesuai dengan apa yang Arkan ceritakan semalam.
Jangan bertanya kenapa Melisa tidak diajak? Karena pertanyaan itu akan sangat menyakiti hati kecilnya!
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, Melisa sudah rapi dan tinggal menunggu Gibran menjemputnya, sebenarnya Melisa sudah menolak untuk dijemput, tapi Gibran tetap kekeuh dan tidak mau menerima penolakan, dengan alasan apapun itu.
Sepuluh menit kemudian.
Gibran :
Melisa, aku udah sampai nih!
Melisa bergegas keluar dari rumah, ia mengunci pintu lalu berlari kecil menuju gerbang samping. Benar saja mobil Gibran sudah terparkir di sana.
"Hai?!" sapa Gibran dengan full senyum.
"Hai juga!" balas Melisa sedikit canggung. Bukannya sebelum ini mereka pernah bertemu, tapi kenapa masih terasa sedikit gugup dan canggung sih?
"Filmnya tayang jam 2, tapi nggak apa-apa kan kalo kita jalan-jalan dulu sebelum filmnya di mulai?"
"Oke, nggak masalah. Mau jalan-jalan ke mana?"
"Kamu udah sarapan?" Gibran balik bertanya.
"Udah tadi."
"Mau makan es krim?"
"Boleh!"
"Ya udah gas!" Gibran membukakan pintu mobil untuk gadis kecilnya.
Mobil hitam itu melaju keluar dari area perumahan, melesat ke arah timur, dengar-dengar ada kedai es krim yang baru buka di sana!
Bora Ice Cream.
Bora Ice Cream adalah salah satu kedai yang baru buka sekitar satu bulan yang lalu, walaupun termasuk baru tapi kedai es krim ini banyak mencuri minat pengunjung, mulai dari tempatnya yang cukup luas dengan dekorasi yang terlihat sederhana namun tetap cantik.
Terlebih lagi, kedai ini memiliki pelayanan yang baik, menyediakan jasa foto dan wifi gratis. Cocok untuk tempat nongkrong bagi kaum muda yang kekurangan dana!
"Ayo masuk!" Gibran melangkah mendahului Melisa, pengujung saat ini cukup ramai, banyak gadis cantik yang datang dengan BESTIEH, ada yang dengan Ayang dan ada yang seorang diri membawa pacar bayangan!
Gibran sengaja memilih meja yang berada di pojokan, bukan bermaksud mau mojok dengan Melisa. Hanya saja Gibran ingin memberikan kenyamanan pada gadis kecilnya! Tidak ingin ada mata gatal yang melihat ke arah mereka!
Begitu Melisa dan Gibran duduk, seorang pelayan pun menghampiri mereka. Memberikan daftar menu.
"Silahkan!" Gibran memberikan kesempatan memilih pada Melisa terlebih dahulu.
"Baskin Robbbins, rasa Oreo Cheesecake, ya!" ucap Melisa.
"Sama tapi saya yang rasa Chocolate Chip!" ucap Gibran.
"Sama minum bersodanya-" Gibran melirik ke arah Melisa. "Dua!"
"Baik, tunggu sebentar ya!" Pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan Gibran dan Melisa.
"Jangan menatapku seperti itu!" gumam Melisa, ia menutup wajahnya menggunakan punggung tangan, menghindari tatapan maut Gibran.
"Hahaha, senyummu lebih manis sih dari es krim apapun!"
__ADS_1
Gibran menurunkan tangan Melisa yang masih menutup wajah manis gadis itu, "Tuh kan, bisa-bisa aku terkena diabetes abis ini!"
"Apaan sih!" Melisa memalingkan wajahnya. Benar-benar salah tingkah karena ucapan Gibran.
"Papamu pasti bangga punya anak semanis ini, kan?" ucap Gibran, membuat Melisa menatap ke arahnya. Gadis itu tersenyum simpul, tak memberikan jawaban apapun.
"Hei, kenapa? Aku salah ya?" Gibran bisa menangkap raut wajah sedih dari gadis di hadapannya sekarang. "Maaf, ya."
"Iya, nggak apa-apa."
Gibran menyanggah dagunya dengan tangan, menatap wajah Melisa. "Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau! Aku bangga bisa sedeket ini sama kamu, mungkin bakal jauh lebih bangga dan bahagia kamu jadi pacar aku, hahahaha!"
Melisa kembali tersenyum. Ia juga tidak ingin menampakkan kesedihannya di hadapan Gibran! Cukup Gibran melihat bagian yang bahagia saja!
Tak selang lama, pesanan mereka pun datang, dua es krim Baskin Robbbins dengan varian yang berbeda dan dua botol minuman soda.
"Terimakasih," ucap Melisa. Dibalas anggukan penuh senyum dari pelayan.
"Selamat menikmati...."
"Nggak mau difoto dulu?" tanya Gibran, kan biasanya kaum ciwi-ciwi suka foto makanan dan minuman sebelum disantap?
"Hahaha, boleh-boleh!" Melisa mengarahkan kamera Handphone pada dua es krim di meja, tapi setelah itu, Gibran malah memegang tangan Melisa, sampai kamera handphone Melisa mengarah pada Gibran. "Nggak foto aku sekalian?"
Melisa tersenyum ia mengambil beberapa foto Gibran.
"Sekarang giliran!" ujar Gibran.
"Hah?"
"Di Hp ku belum ada foto kamu loh, sedangkan kamu udah punya foto aku! Itu namanya nggak adil!"
Gibran menyalakan Handphone-nya, membidik ke arah Melisa. Dengan tangan kanan memegang cup es krim yang disejajar dengan pipinya, Melisa pun tersenyum, membiarkan Gibran mengambil foto sebanyak yang ia suka!
"Emmmmm, manis sekali!" Gibran gemas sendiri, jika boleh ia ingin melahap Melisa, menjadikan Melisa sebagai es krim yang akan tak pernah bosan untuk Gibran nikmati!
Melisa hanya geleng-geleng melihat ekspresi berlebihan Gibran. Pria itu terlihat begitu bahagia, padahal hanya sekedar fotonya saja!
"Mau cicip nggak?" Gibran mengarahkan sendok es krimnya pada Melisa. Gadis itu sempat mematung seperkian detik, sebelum menerima suapan es krim dari Gibran.
"Enak!" gumam Melisa. Gibran hanya tersenyum, ia memasukkan sesendok es krim miliknya, karena tanpa Melisa sadari itu hanya akal bulus Gibran. Agar bisa makan es krim dengan sendok yang sudah bersentuhan dengan bibir Melisa! Dasar licik memang!
"Mau lagi?" Gibran menawarkan, eh lebih tepatnya sedang mencari kesempatan!
Melisa menggeleng pelan, membuat pupus harapan Gibran.
"Mau cobain punyaku?" Gadis itu berinisiatif menawarkan miliknya juga. Karena merasa tidak enak setelah menolak Gibran.
"Mau, tapi kamu yang suapin!"
Hiks, ekspresi apa itu! Kenapa terlihat sangat menggemaskan!!!
Melisa mengarahkan sendoknya pada Gibran, jujur saja tangan Melisa sedikit gemetar dan lemas sekarang!
"Terlalu manis, karena disuapin sama kamu!"
Melisa berdehem, lalu mengambil botol minuman soda, jika seperti ini terus, yang ada Melisa yang akan diabetes karena mendengar ucapan manis Gibran!
"Abis ini temenin aku beli barang ya?!" ucap Gibran, masih ada sisa waktu 3 jam lagi sebelum film di mulai!
__ADS_1
"Oke, boleh."