Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Kenapa?


__ADS_3

Gibran melirik sekilas ke arah kalender kecil di atas meja kerjanya. Tanggal 7 Januari. Itu artinya ulang tahun Melisa tinggal 3 hari lagi. Sedangkan Gibran sendiri masih bingung mau memberikan kado apa untuk Melisa. Gibran ingin memberikan sesuatu yang hanya bisa Melisa dapatkan darinya, agar terkesan spesial dan berharga, tapi sesuatu seperti apa?


Tidak mungkin kan baju, sepatu atau tas? Melisa pasti akan mendapatkan itu semua dari teman-temannya!


"Tidak ada yang lebih berharga selain waktu." gumam Gibran, pria itu mengerjap. Yaps, dia tau harus melakukan apa sekarang!


@Gyuandr_ :


Via, boleh minta tolong lagi?


_______


Sekilas Gibran tersenyum ketika melihat Pap dari Melisa yang sedang memegang susu kotak pemberianya, yang Gibran titipkan lewat Livi tadi pagi.


"Huh, bisa-bisanya seorang gadis yang masih SMA membuatku tenggelam sedalam ini!"


Gibran kembali meletakkan Handphone-nya setelah mengirim sebuah foto selfi-nya pada Melisa. Itu atas inisiatifnya sendiri tanpa Melisa minta.


*****


Via menyenggol Melisa yang sedang tertunduk menatap Handphone di bawah meja kantin.


"Liatin apa sih dari tadi?!" tanya Via sembari berusaha merebut Handphone Kamera Boba tersebut.


"Bukan apa-apa!" Melisa meletakkan Handphone-nya di atas meja. Percuma jika Via ingin mengambil sekarang, karena Melisa sudah mengganti kata sandinya sejak semalam.


Via hanya bisa memicing matanya tak percaya.


"Oh ya, gimana sama rencana camping? Jadi mau ikut?" tanya Rere.


"Aku sih ngikut anak kelas aja, kalo kamu, Mel?"


"Emmm, aku pengen ikut juga, itupun kalo diizinin Ayah!"


"Masak nggak diizinin sih, tahun kemarin aja diizinin kan?" ucap Via.


"Nah itu, semoga tahun ini diizinin lagi."


"Kalo nggak, gimana?"

__ADS_1


"Ya terpaksa aku nggak ikut sama kalian!"


"Hiks, nggak mau tau, kamu harus dapat izin pokonya!" rengek Rere sembari bergelayut manja di lengan Melisa.


"Iya-iya, lagian masih lama juga kan acaranya?!"


"Iyalah, orang masih belum jelas siapa aja yang mau ikut! Eh, tapi dengar-dengar ada beberapa alumni juga yang bakalan ikutan!"


"Lah, kok bisa? Bukannya ini khusus buat kelas dua belas aja?"


"Nggak tau juga, tadi aku denger Megan lagi bahas itu di kelas!"


"Hmmm, semoga aja dia nggak ikut," gumam Melisa.


"Dia? Siapa?" tanya Via curiga.


"Eh, kayaknya nggak deh, Mel." Sahut Rere yang langsung mengerti siapa yang Melisa maksud. "Soalnya kemarin aku liat storynya, dia lagi Belanda!"


"Siapa sih? Kak Chandra ya?" tebak Via yang membuatnya Rere langsung melotot padanya!


"Emmm, aku ke toilet dulu, nanti kalian langsung balik aja ke kelas!"


Melisa beranjak meninggalkan meja kantin.


"Lah kok jadi aku yang disalahin?!"


"Ya kamu tau kan, kalo Melisa nggak mau denger nama itu lagi!"


"Tapi aku nggak bermaksud loh, Re!"


"Ya udah iya, inget jangan disebut lagi, dan jangan bahas kalo Melisa nggak ngebahas!'


"Iya-iya, inget!"


"Ya udah ayok balik ke kelas, bentar lagi bel!"


Keduanya pun ikut beranjak dari kantin. Via tersenyum saat berpapasan dengan Hito di tangga menuju lantai 2, Rere yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ngelus dada, kedua sahabatnya sedang bucin dengan Ayang mereka, sekarang dia? Masih tetap bucin dengan Oppa Korea yang hanya bisa dilihat dari layar Handphone saja!


********

__ADS_1


Melisa menelusuri rak minimarket, mencari beberapa cemilan sebagai stok cadangan jika nanti cemilan di kamarnya habis dirampas lagi oleh Arkan dan Erlan.


Ada beberapa hal yang sedang mengganggu pikiran Melisa membuat Melisa kurang fokus hingga tak sengaja menabrak seorang wanita di depannya. Hingga barang yang dipegang wanita itu jatuh.


"Maaf, maaf. Saya nggak sengaja..." ucap Melisa sembari berjongkok menggambil kunci mobil dan beberapa kertas lainnya.


"Emmm, Tante nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Melisa kepada wanita yang terlihat seumuran dengan Mamanya itu.


"Saya nggak apa-apa, makasih ya..." Hesti tersenyum saat mengambil kunci mobilnya dari tangan Melisa.


"Sama-sama, sekali lagi maaf, Tante." Melisa mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit membungkuk.


"Iya, nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya, Nak." Hesti menoleh sekali lagi untuk melihat gadis yang sepertinya seumuran dengan putrinya itu, jarang sekali Hesti menemukan ada gadis yang sesopan itu!


"Seragam sekolahnya sama seperti seragam Livi." gumam Hesti yang baru sadar setelah memperhatikan Melisa lebih detail lagi. Melisa sendiri masih sibuk dengan belanjaannya, bahkan dia tidak sadar kalau Hesti memperhatikannya sejak tadi.


"Nona Melisa mau ke mana lagi?" tanya Pak Tio begitu Melisa keluar dari minimarket.


"Langsung pulang aja, Pak."


Pak Tio diam sejenak, lalu menoleh ke arah minimarket. Setelah cukup lama ia pun kembali masuk ke dalam mobil, sepertinya mood Nonanya sedang tidak baik hari ini!


Pak Tio memperhatikan Melisa yang tampak melamun di kursi belakang. Lantas ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Nona Melisa kenapa?" tanya Pak Tio pelan, namun tak ada jawaban dari Melisa. Sepertinya Melisa tak mendengar pertanyaan!


"Nona? Nona Melisa?"


"I-iya? Kenapa, Pak?"


"Nona Melisa kenapa? Saya perhatiin dari tadi ngelamun terus."


"Nggak apa-apa, Pak. Melisa lagi mikirin tugas sekolah, banyak banget sampai bingung harus ngerjain yang mana dulu!"


"Emmm, gitu ya, Nona?" ucap Pak Tio seolah terselip keraguan dengan jawaban yang Melisa berikan.


"Iya."


Hening. Pak Tio kembali fokus mengemudi, begitupula dengan Melisa yang kembali tenggelam dengan pikirannya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang menganggu pikiran Anda, Nona? Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?" gumam Pak Tio sembari menatap punggung Melisa yang berjalan menuju rumah utama. Selama berkerja sebagai supir Melisa, Pak Tio sudah menganggap Melisa seperti putrinya sendiri, yang akan ia jaga dan perhatikan dengan sepenuh hatinya.


"Saya selalu berharap yang terbaik untuk Anda, Nona."


__ADS_2