Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Firasat


__ADS_3

Tiga hari lebih tidak pernah bertemu Melisa membuat Gibran begitu merindukan gadis itu, sejak kepergian Liana, Gibran lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Rozi, terlebih lagi Rozi memang membutuhkan sosok Gibran saat ini. Bahkan ia sudah tiga hari juga tidak pernah pulang ke rumah, jika tidak pulang ke apartemen maka ia akan menginap di rumah Rozi.


Tapi sore ini, perasaan rindu yang begitu menggebu membawa langkah Gibran untuk datang ke rumah Melisa, sekalian untuk mengecek langsung gimana keadaan gadis itu, tadi pagi Melisa mengabarkan padanya kalau Melisa sudah kembali aktif masuk sekolah, setelah empat hari izin sakit.


Seulas senyum muncul di kedua sudut bibir Gibran ketika melihat Melisa sendiri yang membukakan pintu untuknya.


"Ayo, masuk!" ajak Melisa karena Gibran malah mematung di depan pintu dan tak kunjung mengalihkan pandanganya dari Melisa. Jemari pria itu juga menyentuh ujung jemari Melisa.


"Aku nggak bisa lama-lama." lirih Gibran. Pria itu hanya ingin melihat wajah Melisa dari dekat, kalau menghabiskan waktu bersama, saat ini belum bisa, masih banyak tanggungjawab dan urusan yang belum ia selesaikan.


Saat Gibran ingin mengatakan sesuatu, Melisa tiba-tiba saja menyuruhnya untuk diam, kini gantian gadis itu yang menatap Gibran lekat-lekat, Melisa bisa melihat raut wajah lelah di wajah tampannya.


Keduanya saling menatap, seolah semua apa yang ingin mereka katakan tersampaikan lewat tatapan mata.


"Aku juga kangen banget sama kamu." ucap Melisa.


"Maaf ya, akhir-akhir ini jarang ada waktu buat ka---"


Melisa kembali meminta Gibran untuk menghentikan ucapannya, dengan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Gibran.


"Dengan kamu yang tetap kasih kabar, itu udah lebih cukup buat aku. Aku ngerti kok dengan kondisi sekarang ini, jadi please, jangan ngerasa bersalah atau apapun itu lagi."


Gibran mengangguk mengerti, inilah salah satu alasannya kenapa Gibran menjatuhkan hatinya pada sosok Melisa, Melisa beda dari gadis gadis yang pernah ia kenal sebelumnya, Melisa yang selalu mengerti keadaan dan tidak pernah menuntut lebih membuat Gibran merasa kalau gadis itu benar-benar tulus padanya.

__ADS_1


Tapi hal itu tidak membuat Gibran berprilaku seenaknya juga pada Melisa, sebisa mungkin Gibran tetap mengirim pesan pada Melisa, walau hanya sekedar menanyakan makan, yang penting jangan sampai hilang kabar. Itu kuncinya.


Setelah pertemuan singkat itu, Gibran kembali bergelut dengan semua pekerjaan yang sudah menumpuk dan seolah-olah menjentikkan jarinya memanggil Gibran agar segera menyelesaikan mereka, tak kalah jauh dengan Melisa yang kembali disibukkan dengan urusan sekolahnya.


Sejak kejadian di camping, Tuan Felix sekarang mulai kembali membatasi Melisa, ia tidak membolehkan Melisa untuk mengikuti kegiatan seperti itu lagi untuk kedepannya, bahkan sekarang Tuan Felix berpesan pada Pak Tio untuk lebih mengawasi Melisa ketika sedang di luar sana.


Setelah pulang sekolah, Rere dan Via mengajak Melisa untuk mampir di salah satu restoran untuk makan siang, kebetulan juga ada yang ingin Rere sampaikan pada Melisa.


"Oh ya, Re, katanya mau ngomong sesuatu? Emang mau ngomong apa?" tanya Melisa setelah mereka selesai memesan makanan dan minuman.


"Mel." Rere sedikit memajukan kursinya, diikuti oleh Via.


"Semalam kan aku pergi nemenin Mama buat ketemuan sama temennya di kafe sebelum halte itu, tau kan?"


"Iya, terus?"


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya aku jawablah sejujurnya, kalau kamu sama Gibran punya hubungan spesial, nah terus, Kak Chandra tiba-tiba bilang gini, gadis sebaik Melisa, nggak seharusnya dapet cowok seperti dia, abis ngomong itu, Kak Chandra langsung pergi deh, tapi aku sempat liat dia keluar kafe sama cewek, aku nggak tau sih itu siapanya!"


"Maksud dia ngomong gitu, apa ya?" tanya Via pada Melisa.


"Entah, aku juga nggak tau!"

__ADS_1


Melisa sendiri bingung apa maksud dari ucapan Chandra, terkesan seperti Chandra mengetahui sesuatu tentang Gibran, tapi entah pria itu bisa tau dari mana, dan apa yang ia tau sampai mengatakan kalau Melisa tak pantas mendapatkan cowok seperti Gibran?


Tapi kembali lagi pada prinsip Melisa, ia tidak mau mengambil pusing dengan hal-hal seperti itu, biarkan saja, orang lain bebas menilai seperti apa Gibran, itu adalah hak mereka, dan Melisa juga punya hak untuk menilai seperti apa pria yang ia cintai itu.


Biarlah mereka dengan penilaian sendiri, orang asing seperti Chandra tak patut dijadikan pihak lain dalam hubungannya dan Gibran!


Sementara itu, di luar kafe, seorang wanita masih setia menunggu di dalam mobilnya, mencari celah untuk mendekati gadis yang akhir-akhir ini menjadi incarannya. Setelah berhasil memanipulasi cerita kepada sepupunya, wanita itu belum puas juga sebelum ia memberikan pelajaran pada bocah ingusan yang sudah lancang mengambil posisi yang seharusnya menjadi miliknya!


Semalam, saat sedang bertemu dengan sepupu dari pihak ayahnya, Euni mengeluarkan jurus air mata buaya, ia bercerita kalau seseorang yang mengaku begitu mencintainya telah meninggalkan bahkan membuangnya begitu bertemu dengan gadis lain. Bahkan setelah Euni memberikan kehormatannya, pria itu tetap saja meninggalkan Euni. Pria yang Euni maksud di sini adalah Gibran, dan gadis itu adalah Melisa.


Dengan pipi yang dibasahi air mata, Euni terus mengarang cerita di hadapan Chandra, sepupunya. Bahkan sampai Chandra terhasut dan tersulut emosi mendengar cerita Euni.


Chandra masih tidak menyangka kalau Melisa bisa menjalin hubungan dengan pria seperti Gibran, bahkan ia juga sempat kaget ketika Euni menunjukkan foto pria dan gadis yang ia maksud dalam ceritanya. Tapi sayang sekali, Chandra malah kemakan cerita yang Euni sampaikan! Terlebih lagi, ia begitu percaya pada Euni selama ini.


Euni yang masih tidak terima dengan perlakuan dan penolakan Gibran terhadap dirinya malah ikut menyimpan dendam pada Melisa, menganggap bahwa kehadiran Melisa lah yang merusak semua rencananya! Padahal dia sudah berhasil memenangkan hati orangtua Gibran! Seharusnya rencananya akan berjalan dengan lancar bukan malah berantakan dan hancur tanpa ada harapan!


"Kamu harus mendapatkan balasannya gadis ingusan!" geram Euni. Wanita itu sudah menyusun rencana jahat untuk mencelakai Melisa.


* * * * *


Pak Tio mengamati mobil yang terparkir sekitar dua meter dari tempatnya berdiri sekarang, entah kenapa Pak Tio merasa ada yang aneh pada mobil itu, entah hanya sekedar firasatnya atau tidak, tapi perasaannya benar-benar tidak enak sekarang, terlebih lagi pada keselamatan anak dari majikannya, Melisa.


Sebagai orang yang sudah mendapatkan kepercayaan dari Tuan Felix, tentu saja Pak Tio akan melakukan yang terbaik dan tidak akan pernah membuat Tuan Felix kecewa padanya, pria itu menuruti firasatnya, demi keselamatan Melisa ia mulai dalam posisi siaga.

__ADS_1


"Siapapun yang berani mencelakai Anda, maka dia tidak akan pernah melihat keindahan dunia ini lagi, Nona!"


Benda yang tidak pernah Pak Tio tunjukan di hadapan Melisa kini kembali ia keluarkan, disimpannya di balik jaket hitam yang ia gunakan.


__ADS_2