Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Tanpa Ayah?


__ADS_3

Saat sedang makan malam bersama, Melisa dibuat tak mampu berkata-kata lagi ketika Ayahnya meyampaikan bahwa jam 7 pagi besok, Ayahnya akan berangkat ke luar kota karena ada urusan bisnis, dan akan pulang tanggal 13 mendatang. Padahal Melisa berharap ia bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama sang Ayah.


"Kak Melisa kenapa?" tanya Arkan yang menyadari akan perubahan ekspresi Melisa.


Melisa menoleh dan mencoba untuk tersenyum pada sang adik. "Nggak apa-apa."


"Melisa nggak enak badan?" tanya Tuan Felix sembari menatap ke arah Melisa yang duduk bersampingan dengan Arkan.


"Nggak, Yah. Melisa nggak apa-apa, cuman kepikiran sama tugas sekolah aja."


"Emmm, ya udah kalo gitu cepet habisin makannya, terus selesain tugasnya sebelum larut malam!"


"Iya, Yah." Melisa kembali fokus pada makannya, sementara Mama Tania hanya tersenyum simpul saja. Arkan yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menatap bingung kedua orangtuanya.


* * * * *


"Kenapa sih, Mel? Muka cantiknya diteguk mulu dari kemarin? Ada masalah ya?" tanya Rere pada Melisa yang masih pagi sudah melamun di mejanya.


Melisa menggeleng. "Nggak apa-apa. Kamu udah ngerjain tugas Fisika?"


"Udah."


"Pinjem."


Rere menatap Melisa sembari mengerutkan keningnya, namun tangan kanannya membuka pelan resleting tas, mengeluarkan buku tugas Fisika dan menyerahkan pada Melisa.


"Tumben." ucap Rere dan tidak mendapat respon apapun gadis di sampingnya.


"Aku udah ngerjain sebagain kok, sisanya aku males mikir!" ucap Melisa karena menyadari tatapan aneh dari Rere yang terus menatapnya.


"Aku nggak masalahin itu, Mel. Yang aku masalahin sekarang ini kamu, kamu kenapa?"


"Aku nggak apa-apa, santai aja. Jangan mikirin aku."


"Justru dengan kamu ngomong gini, aku makin yakin kalau kamu lagi kenapa-kenapa!"


Melisa menghembuskan nafas pelan, ia menghentikan kegiatan menulisnya dan menoleh ke arah Rere.


"Menurut kamu, aku egois nggak kalo aku pengen Ayah mengenyampingkan pekerjaannya demi aku?"


"Emmm, mengenyampingkan perkerjaaan ya? Menurut aku sih wajar-wajar aja ya. Toh aku juga sering kayak gitu, tapi kadang aku mikir, kalau perkejaannya penting banget dan memang nggak bisa ditinggalin, ya udah, biarin Papa selesain dulu, nanti kalau udah selesai baru deh aku minta Papa buat nemenin aku. Gitu."


Melisa mengangguk pelan mendengar ucapan Rere.


"Oh ya gimana sama izin camping? Udah diomongin?"


"Nah itu, aku lupa! Hehehehe."


"Yah, Melisa mah... Ya udah nanti pulang aku ingetin, biar nggak lupa lagi. Kalo perlu aku spam di chat!"


"Kayaknya harus nunggu sampai Ayah pulang dulu deh, baru bisa izin!" gumam Melisa.


"Emang Ayah kamu ke mana?"

__ADS_1


"Lagi ada urusan di luar kota."


"Terus kapan pulangnya?"


"Paling cepet sih tanggal 13!"


"Tanggal 13?" Rere diam sejenak, sekarang ia mengerti apa permasalahan Melisa.


"Hmmm, iya." Melisa kembali melanjutkan kegiatan menyalin tugasnya. Menghiraukan Rere yang mulai sibuk dengan Handphone-nya.


"Eh, Via nggak masuk hari ini!"


"Loh, kenapa?"


"Diare, abis makan bakso mercon kemarin!"


"Ih, si Via nggak ngajak-ngajak!" kesal Melisa.


"Dia pergi sama Hito, terus nama kita berdua yang dijual ke Mamanya! Makanya tadi kaget pas Tante nanyain kabar, dikiranya aku bakal Diare juga kayak Via!"


"Emang dah ya tuh bocah satu! Kebiasaan suka jual nama!"


"Seperti dirimu tidak saja, Nona!" Sindir Rere.


"Hahahaha, aku kan anak murid hasil didikan Via!"


"Nah, itu dah kalian. Akhirnya sadar juga!"


"Hehehe." Melisa hanya cengir kuda.


* * * * *


Melisa mengecek Handphone saat jam keluar main, tidak biasa Gibran belum membalas pesannya sampai jam segini, bahkan pesannya yang tadi malam saja belum dibaca padahal sudah cek list dua.


"Apa dia lagi sibuk banget ya?" gumam Melisa.


"Eh, Mel. Dicariin tuh sama calon adik ipar!" ucap Rere sambil menatap ke arah Livi yang berjalan ke arah mereka.


"Hai, Kak Melisa, Kak Rere."


"Hai, Livi, ada apa?"


"Nih, seperti biasa..." Livi menyerah paper bag yang ia pegang pada Melisa.


"Dari Kak Gibran?"


"He'em. Tapi yang ini, Livi sendiri yang beliin. Soalnya Kak Gibran ada meeting pagi, jadi nggak sempet buat belinya. Nggak apa-apa kan, Kak?"


"Iya, nggak apa-apa, makasih banyak ya, Livi. Jadi ngerepotin kamu."


"Nggak ngerepotin kok, Kak. Malah Livi seneng banget, sumpah!"


"Ish, kamu ya, bisa aja!" Tanpa sadar Melisa mencubit pipi Livi, yang membuat Livi sedikit kaget. Namun tersipu malu juga.

__ADS_1


"Eh, maaf-maaf, refleks, kamu sih, gemesin banget..."


"Duh Livi melayang nih, abis dipuji sama Kak Melisa..." Livi mengibaskan kedua tangannya di depan wajah yang memerah.


"Hahahaha, turun-turun, jangan ketinggian melayangkannya, entar susah buat digapai!"


"Livi Yuandara nih, Boss. Senggol dong!"


Rere menyenggol Livi, membuat Livi hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh Melisa.


"Eh, tadi kan minta disenggol?!" ucap Rere tanpa dosa.


"Nggak gitu konsepnya, Kak!" Livi merapatkan tubuhnya pada Melisa, seolah sedang mengadu dan minta pembelaan dari sang calon Kakak Ipar?


"Re?" panggil Melisa sambil menatap Rere tajam.


"Ih, becanda loh, Livi. Sumpah becanda, nggak ada maksud buat nyenggol beneran!" Kini Rere yang panik sendiri.


"Hahaha, iya-iya tau kok Kak, Livi juga becanda, ya udah kalo gitu Livi balik ke kelas dulu ya?"


"Iya, sekali lagi terimakasih ya Livi.


"Iya, Kak Melisa, sama-sama."


"Hati-hati di tangga lantai dua banyak buaya!"


"Hahaha, udah biasa, Kak!" ucap Livi sembari melambaikan tangannya menjauhi Rere dan Melisa.


"Khemmm, yang makin dekat sama calon adik iparnya!" goda Rere.


"Hahahaha, apaan sih, orang biasa aja!"


"Huh, minimal bagilah isi paper bagnya!"


"Kamu mau? Nanti aku beliin, dua kali lipat lebih banyak dari ini!"


"Nggak, maunya yang ini!"


"No, ini semua... aku punya!" Melisa memeluk paper bag nya tak mengizinkan Rere untuk sekedar menyentuh apalagi sampai mengambil isinya!


"Nggak yang cowok, nggak yang cewek, sama aja, sama-sama bucinnya!"


"Biarin, yang penting nggak bucin sendiri!"


"Iya deh, iya tau, nggak pakek acara nyindir balik juga!!"


"Hahahaha, becanda loh, Re. Becanda!"


"Apalah daya, ayangku hanya sebatas fiksi semata! Hiks... hiks... hiks... Ada yang nyata, tapi susah banget buat digapainya. Hua...."


"Udah, Re, udah..." Melisa mengusap punggung Rere yang masih asik dengan aktingnya.


"Hiks, kapan ya aku dibucinin balik sama Oppa!"

__ADS_1


Melisa hanya menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya yang tergila-gila pada visual Oppa Korea.


__ADS_2