Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Sayang


__ADS_3

Flashback 2 tahun yang lalu.


Jauh sebelum gemparnya gosip tentang hubungan Melisa dan Fais, Melisa bukanlah siswi yang terbuka dan dikenal banyak orang, dia hanya seorang siswi yang sibuk dengan sendirinya sendiri dan disibukkan dengan perasaannya pada seorang Kakak Kelas 12 yang menarik perhatiannya sejak awal ia menjadi siswi baru, hampir setahun ia memendam perasaan itu, hanya bisa mengganggumi dari kejauhan, bahkan Melisa sendiri tidak yakin kalau Kakak Kelas dengan nama Chandra itu mengenal dirinya.


Sampai pada suatu titik, di mana Chandra mulai mengikuti akun Instagram Melisa, sering menyukai postingan Melisa bahkan beberapa kali membalas story Melisa dan sampai akhirnya mereka cukup dekat. Yang mana membuat Melisa menaruh harapan lebih pada kedekatan mereka.


Bisa dibilang ini adalah kali pertamanya Melisa menjalin hubungan sedekat itu dengan seorang pria. Di beberapa kesempatan, Chandra juga sering mengajak Melisa pulang bareng menggunakan motor kesayangannya. Kalau kata orang, bukan sembarang orang yang bisa diboncengi dengan motor itu. Hanya orang tertentu, yang memiliki posisi istimewa dalam diri Chandra.


Hari demi hari terus berlalu dan Melisa masih dengan harapannya, berharap akan adanya peningkatan dalam hubungan mereka. Tapi semuanya tiba-tiba hancur di malam acara pelepasan kelulusan Chandra.


Malam itu, Chandra malah mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis yang ternyata sudah lama ia kagumi, dan gadis itu bukanlah Melisa. Selama ini, Chandra mendekati Melisa bukan karena Chandra juga menyukai Melisa. Hanya sebagai pelarian saja ketika ia merasa lelah dengan perasaannya sendiri.


Alasan kenapa Chandra memilih Melisa, karena sebenarnya Chandra tau adik kelasnya itu memiliki ketertarikan padanya sejak tahun awal. Tapi Chandra menghiraukannya.


Pengalaman itulah yang membuat Melisa sampai sekarang takut menaruh ekpektasi tinggi terhadap seseorang, bahkan jika ditanya, apakah Melisa bisa melupakan semuanya?


Tidak. Melisa belum bisa melupakan rasa sakitnya. Bahkan hanya dengan mendengar nama Chandra saja, semua kenangan bersama pria itu seorang terputar ulang dalam ingatannya, bahkan perasaan sakitnya malam itu terasa begitu jelas!


Sejak saat itu Melisa selalu berharap tidak akan pernah bertemu dan melihat wajah Chandra lagi!


******


Gibran :


Udah pulang, Mel?


Melisa?


Ada orangnya nggak?


______


Melisa melirik sekilas ke arah Handphone yang terus berbunyi menandakan ada notifikasi pesan baru. Tapi entah kenapa, Melisa sama sekali tidak tertarik untuk menyentuhnya. Namun begitu nama Gibran terlintas dipikiran ia langsung meraih benda pipih itu dan tersenyum saat dugaannya benar.


^^^Melisa :^^^


^^^Udah pulang kok.^^^


^^^Udah pulang? Atau masih di kantor?^^^


Gibran :


Nah, muncul juga.


Belum, kayaknya bakal pulang malem😴


^^^Melisa :^^^


^^^Sibuk banget ya?^^^


^^^Semangat, Om 🤣💪^^^


Gibran :


Kangen🙂


^^^Melisa :^^^


^^^Mau ketemu?^^^

__ADS_1


Gibran :


Nggak bisa kalo hari ini🙃


Huh


____


Melisa tersenyum tipis, ia menekan tombol video call dan langsung diterima oleh Gibran. Terlihat Gibran tersenyum bahagia di seberang sana.


"Gimana, bisa sedikit mengobati?" tanya Melisa sembari tersenyum.


"Malah tambah kangen."


Melisa menggeleng pelan ketika melihat perubahan ekspresi di wajah Gibran yang seketika itu terlihat begitu lesu.


"Semangat dong."


Gibran menggeleng. Semakin membuat dirinya terlihat lebih lesu lagi.


"Semangat, Sayang."


"Apa, Mel?"


"Nggak ada," ucap Melisa datar.


"Maaf, aku nggak denger kamu ngomong apa tadi. Ulang sekali lagi!"


"Nggak mau."


"Please...." bujuk Gibran dengan mata berbinar penuh harap. Membuat Melisa memutar bola mata malas, ujung-ujungnya dia yang mengalah.


"Semangat, Om Gibranku tersayang... Gimana, puas?!"


"Iya, ya udah sana lanjutin lagi kerjaannya!"


"Melisa nggak kangen, nih?"


"Kangen," ucap Melisa tanpa menatap ke arah kamera.


"Mel?"


"Iya."


"Liat sini!"


Melisa menatap layar handphone-nya yang menampilkan setengah tubuh Gibran, pria itu duduk di kursi kerjanya menggunakan kemeja putih lengkap dengan dasi hitam panjang.


"I love you." Gibran mengecup ibu jari dan telunjuknya yang membentuk mini heart yang melayang khusus untuk Melisa. Tanpa lupa juga dengan menampilkan wajah tersenyum yang meluluh lantakan hati siapapun yang melihatnya!


Melisa sendiri langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat ulah Gibran.


"Hahahaha, baper ya?"


"Nggak."


"Yakin, Dek?"


"Yakin."

__ADS_1


"Ya udah, cuman mau bilang. Aku sayang banget sama kamu, kamu harus tau itu!"


"Iya-iya, tau kok." Melisa berusaha untuk menahan senyumnya, yang malah membuat Gibran semakin bersemangat untuk menggodanya. Tapi sayang, waktu sedang tidak berpihak pada mereka.


"Aku kerja dulu, ya. Nanti lanjut lagi."


"Iya, semangat..."


"Bye, Sayang."


"Bye."


Melisa langsung membenamkan wajahnya dia atas bantal. Tak kuasa menyembunyikan perasaannya, bohong kalau dia tidak baper dengan perlakuan Gibran!


"Om-om lebih meresahkan emang!"


* * * * *


Hesti menatap ke arah kursi kosong di samping Livi. Malam ini mereka hanya makan malam berdua saja, Papa dan Gibran masih di kantor, ada beberapa pekerjaan yang memang harus diselesaikan.


"Livi?"


"Iya, Ma. Kenapa?"


"Tadi pas di minimarket Mama ketemu sama cewek yang kayaknya satu sekolah deh sama kamu."


"Emang dia kenapa, Ma?"


"Nggak apa-apa sih, Mama senang aja sama prilakunya, jaman sekarang ini sulit nemuin remaja yang baik attitude-nya."


"Iyakah? Jadi penasaran sama orangnya!" gumam Livi. Karena tak biasanya Mamanya menceritakan hal seperti ini.


"Oh ya, Ma. Calon Mantu kesayangan Mama ke mana? Tumben nggak pernah main ke sini?"


"Kak Euni?"


"Iya itu. Dia kenapa kok tiba-tiba ngilang sekarang?"


"Katanya sih lagi banyak kerjaan, jadi belum sempat main ke sini lagi!"


"Bukan karena dia udah ditolak sama Kak Gibran?"


"Entah, Mama juga kurang tau. Mama tuh heran sama Kakakmu, kenapa sih susah banget buat nerima Euni?!"


"Ma, asal mana tau ya. Cewek yang Kak Gibran suka itu, kalau dibandingin sama KAK Euni, nggak ada apa-apanya, jauh... banget. Bagaikan langit dan sumur. Udah cantik, baik, manis, penyayang lagi!"


"Emang Livi pernah ketemu?"


"Pernah dong. Kan Kakak kelas Li--" Livi langsung menghentikan ucapannya, memasukkan dua suap nasi dan pura-pura mengunyah dan tidak memperdulikan tatapan penasaran dari Mamanya.


"Livi?"


"Emmm, masakan Mama emang nggak ada tandingannya...." seru Livi sambil terus memasukkan suapan demi suapan.


Hesti menggeleng pelan, sadar akan Livi yang sedang menghindari pertanyaannya. "Kakak sama adik sama aja, seneng main rahasia-rahasia."


"Kakak kelas? Itu berarti cewek yang Gibran suka masih sekolah? Anak SMA? Yang benar saja?"


Batin Hesti menduga.

__ADS_1


"Maaf ya, Ma. Livi bukannya mau nutupin sesuatu dari Mama, tapi Livi rasa, Kak Gibran yang lebih pantas buat ngenalin dia ke Mama." ucap Livi sebelum pamit masuk ke kamarnya.


"Gibran, awas kamu ya! Kamu hutang banyak sama Mama!" geram Hesti yang sudah dihantui rasa penasaran dengan sosok gadis yang berhasil memikat hati anaknya, sampai membuat Gibran menolak Euni - gadis pilihannya!


__ADS_2