Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Kita


__ADS_3

"Aku belum bisa jawab sekarang! Maaf, Gibran!"


Gibran melepas genggamannya pada tangan Melisa. "Udah ada orang lain ya, yang gantiin aku? Kalo gitu, aku yang minta maaf, kalau kehadiranku menggangu--"


"Bukan gitu, Gibran!" Kini Melisa yang menatap Gibran lekat, entah dari mana ia memiliki keberanian untuk itu! Seolah tidak terima jika Gibran menyangka kalau ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya!


"Aku nggak mau gegabah, aku nggak mau jadiin kamu sebagai taruhan, aku juga nggak tau gimana reaksi Ayahku kalo dia tau kita ketemu hari ini!"


"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Gibran..." lirih Melisa.


"Kamu telat, Melisa. Aku sudah lebih dulu jadiin nyawaku sebagai jaminan di hadapan Ayahmu!"


"Gibran?"


"Untuk bicara sama kamu hari ini saja, aku udah nyiapin keberanian selama berhari-hari, karena aku nggak pernah tau, apakah setelah ini aku masih bisa ketemu lagi sama kamu?!"


Melisa terpejam, ia tidak tau sejauh apa Gibran bicara dengan Ayahnya?! Tapi yang Melisa tau, hatinya terasa begitu sakit setelah mendengar penuturan Gibran! Sebesar itukah pengorbanan Gibran untuknya dan dia hampir saja mengecewakan Gibran dengan jawabannya?!


"Maaf, Melisa. Aku terbawa emosi tadi..." Gibran mengusap pelan pipi Melisa. Telapak tangan Gibran yang besar dan hangat menempel di pipi kiri gadis itu.


"Nggak seharusnya aku maksa kamu buat jawab sekarang, ambil waktu sebanyak yang kamu mau, maaf, aku terlalu---"


Melisa menyentuh punggung tangan Zidan yang masih menyentuh pipinya. "Aku mau, aku mau jalanin semuanya sama-sama, asal itu sama kamu!"


Gibran yang terbawa suasana hampir saja berdiri dan memeluk Melisa, jika Melisa tidak mengingatkan kalau banyak orang disekitar mereka!


"Kamu nangis?" tanya Melisa pada Gibran yang menunduk dengan tangan Melisa dalam genggaman kedua tangannya, digenggamnya dengan erat tangan mungil itu.


"Aku hampir gila karena perasaanku sendiri, Melisa! Selama ini aku selalu menahan diri untuk mendekatimu, walaupun kamu udah ada di depan mataku!!!" gumam Gibran.


Melisa tersenyum geli melihat Gibran yang seperti itu, ada perasaan lega dan bahagia juga dalam hatinya. Menepis perasaan gelisah tentang tanggapan Ayah sejenak.


"Khemmm! Kayaknya kita perlu pindah ke planet mars deh, Re! Soalnya bumi ini cuman milik mereka berdua!" ucap Via yang kini berdiri di belakang Gibran.


Gibran menoleh, lantas tersenyum pada Via dan Rere.


"Bisa ditunda lebih lama lagi nggak datengnya?!" ucap Gibran.


"Hiks, si Om mah, kita laper nih Om, belum makan siang, mana bisa kenyang kalau cuman makan cinta!"


"Melisa?" panggil Gibran, mengabaikan kedua nyamuk di belakang.

__ADS_1


"Iya?"


"Kamu makan di sini aja ya? Temenin aku, aku juga belum makan siang!"


"Aish, Melisa kan datang sama kita!" ucap Via tak terima, sementara Rere tak berani mengatakan apa-apa, masih bingung dengan situasi sekarang, kenapa bisa Gibran dan Melisa bisa bertemu dan mengobrol sedekat ini lagi?


"Ngalah aja, Via. Kamu sama Rere duduk di sana aja!" ucap Gibran sambil menunjuk meja kosong di sebelahnya.


"Tuh, meja kita di ujung sana, yang ini udah dipesan orang!"


"Sekali aja, please, kalian berdua kan baik!"


"Hmmmm. Melisa juga kayaknya maunya kayak gitu, jadi kita bisa apa, Re. Yuk lah, kita liatin dari sana aja!" Via menarik tangan Rere, menjauhi Melisa dan Gibran.


"Vi? Ada cerita yang aku lewatin?" tanya Rere.


"Nanti aku ceritain!" Via menatap ke arah Melisa dan Gibran yang masih terlihat canggung untuk bicara satu dengan yang lainnya!


"Udah, jangan diliatin terus! Aku malu...." ucap Melisa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Lebih dari 3 bulan loh aku nahen rindu. Masa sekarang udah di depan mata gini mau sia-siain kesempatan lagi!"


"Hahaha, iya-iya, ini nggak diliatin lagi!"


Gibran tersenyum saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Langgeng terus ya..." ucap pelayan itu sambil tersenyum, pelayan yang sama, yang sempat diminta tolongi oleh Gibran untuk mengambil fotonya dengan Melisa saat pertemuan pertama mereka di tempat ini!


"Terimakasih...."


Melisa tersenyum malu, ia menunduk fokus pada makanannya.


"Pelan-pelan aja makannya, Mel, biar kita bisa lebih lama lagi berduaan seperti ini!"


Melisa tak menjawab apapun, karena dia juga sudah merencanakan hal itu dalam pikirannya!


* * * *


"Saya tidak menyangka kalau Anda juga begitu mencintainya, Nona!" ucap Pak Tio yang melihat Gibran dan Melisa makan siang bersama. Pria itu sekilas tersenyum, lalu memasang wajah datar lagi seperti biasa.


Ia menaruh kembali pistol-nya pada tempat semula, benda yang tidak pernah ia perlihatkan di hadapan Melisa selama ini!

__ADS_1


* * * * *


Tatapan Gibran dan Pak Tio bertemu saat Gibran ikut keluar bersama Via, Melisa dan Rere. Pak Tio tidak menunjukkan ekspresi apapun, ia langsung membukakan pintu mobil untuk Melisa.


Gibran melambaikan tangannya sembari tersenyum hangat. Untuk saat ini, Melisa meminta Gibran untuk menahan diri dulu, sampai Melisa membicarakan hal ini dengan Ayahnya!


Walaupun begitu, Gibran sudah sangat bahagia, ternyata harapan yang ia bawa terpenuhi juga.


* * * * *


"Mel." Via memegang lengan Melisa sebelum turun dari mobil, menatap Melisa lekat. Via takut kalau sampai Melisa akan dimarahi oleh Ayahnya, terlebih lagi Pak Tio tadi melihat langsung Gibran dan Melisa!


"Nggak apa-apa, Vi. Aku bakal tanggung akibatnya," ucap Melisa tersenyum menyakinkan, kalau semuanya bakal baik-baik saja.


"Kalo ada apa-apa langsung kabarin aku ya!"


"Iya, titip salam buat Tante!"


"Nanti aku sampain, hati-hati ya, Mel. Terimakasih Pak Tio udah nganterin Via sampai rumah!"


"Sama-sama, Nona."


Pintu mobil kembali tertutup, tersisa Pak Tio dan Melisa di dalam sana. Rere sudah diantar sampai rumah juga, sebelum Via.


"Nona Melisa?"


"I-iya?"


"Mau langsung pulang? Atau Nona masih ada keperluan lagi?"


"Pulang aja, nanti berhenti sebentar di minimarket, ya, Pak."


"Baik, Nona."


Mobil hitam itu kembali melaju ke arah utara, menuju ke kediaman keluarga Melisa. Sebelumnya, Melisa mampir di minimarket untuk membeli minuman dan beberapa camilan.


Melisa menghembuskan napas pelan saat kembali masuk ke dalam mobil, sebentar lagi ia akan sampai di rumah. Dan sangat tidak mungkin jika Ayah tidak akan menanyakan tentang Gibran padanya!


Jelas-jelas Pak Tio melihat mereka bersama tadi!


"Huh, berani berbuat, berani bertanggung jawab!"

__ADS_1


__ADS_2