
Melisa mematung di depan pintu utama, melihat mobil Ayahnya sudah terparkir di halaman depan saja sudah membuat Melisa keringat dingin sekarang, apalagi sampai bertemu dan melihat Ayahnya nanti!
Pak Tio menepuk pundak Melisa pelan, sembari berkata. "Nona harus berani bertanggung jawab dengan keputusan Nona!"
Melisa tersenyum tipis, lantas membuka pintu rumah. Langkah kakinya langsung terhenti begitu mendengar panggilan dari sang Ayah.
"Melisa?"
"I-iya, Yah?" Melisa memutar tubuhnya, namun belum berani menatap wajah Ayahnya.
"Ganti baju, Ayah tunggu di ruang keluarga!"
"Baik, Yah."
Melisa menghembuskan napas lega, ia bergegas menaiki tangga menuju kamarnya, untuk mengganti baju sesuai perintah sang Ayah. Sebelum turun ke ruang keluarga, Melisa mencari Arkan, tapi ternyata remaja itu belum pulang, masih ada les privat! Mamanya juga masih menemani Erlan latihan bela diri! Hanya ada dia dan Ayah di rumah sekarang!
"Ayah?" panggil Melisa setelah duduk di sofa. Tuan Felix yang tadinya sedang mengamati foto keluarga yang terpajang cantik di ruangan mengalihkan pandangannya ke arah Melisa. Menghampiri gadis itu, duduk berhadapan dengannya.
"Melisa tau kan kenapa Ayah meminta Melisa ke sini?"
Melisa mengangguk pelan.
"Karena apa?"
"Melisa melanggar perintah Ayah. Maafkan, Melisa." jawab Melisa tertunduk.
"Jika dia benar-benar mencintai Melisa, suruh dia datang ke sini, bertemu dengan Ayah! Secepatnya!"
"Ayah, maaf kalau Melisa membuat Ayah marah dan khawatir sama Melisa."
"Bagaimana bisa Ayah marah dengan kebahagiaan putri Ayah?" ucap Tuan Felix lembut. Berbanding terbalik dengan ekspektasi Melisa!
Melisa mengangkat pandangannya, menatap wajah tersenyum Tuan Felix.
"Jaga dirimu, jangan sampai Ayah melihatmu menangis dan disakiti oleh siapa pun itu." Tuan Felix membelai rambut dan wajah Melisa, memberikan kecupan hangat di kening gadis itu.
"Ayah tunggu kedatangannya ke sini!"
Tuan Felix meninggalkan Melisa sendiri di dalam ruang keluarga. Membuat gadis itu menatap punggung Ayahnya tanpa bisa mengucapkan sepatah kata!
__ADS_1
"Ayah?" lirih Melisa tak percaya dengan tanggapan Ayahnya! Dia pikir Ayahnya akan marah dan melarangnya untuk bertemu Gibran lagi, tapi ini? Malah meminta Melisa untuk menyuruh Gibran datang ke rumah mereka!
* * * *
Sebelum pulang, Rozi menyempatkan dirinya ke ruangan Gibran, melanjutkan niatnya yang tertunda tadi siang!
"Zi..." sapa Gibran saat melihat Rozi masuk dan langsung duduk di sofa dalam ruangan. Gibran yang tadinya mau memakai jasnya mengurungkan niat, memilih untuk duduk di samping Rozi.
"Ada cerita apa lagi kali ini?" tanya Gibran.
"Bukan, ini bukan tentang Liana!"
"Terus?"
"Euni!" Rozi mengeluarkan handphone pribadinya. Menunjukan beberapa hasil pengamatannya.
"Ini siapa?" tanya Gibran saat Rozi menunjukkan foto Euni dengan seorang pria di sebuah bar.
"Ini Richard, lu ingat kan, gue pernah kenalin kalian waktu di Corsh!"
"Emmm, yang pernah nginep di Apartemen, bukan?"
"Lah? Terus kenapa tuh cewek mau mau aja dijodohin sama gue? Padahal masih pacaran sama cowok lain!"
Rozi tersenyum tipis. "Jadi gini, keluarganya Richard lagi jatuh-jatuhnya banget sekarang, dua bulan yang lalu usaha Ayahnya bangkrut, terus sekarang mereka bangun usaha baru lagi, sampai harus jual rumah dan mobil! Dan lu faham lah, Euni nggak bisa nerima kondisi Richard yang sekarang, bahkan kata Richard dia udah berkali-kali minta putus, tapi Richard nggak mau!"
"Sialan! Jadi dia ngincer gue sekarang! Bisa aja setelah dia dapetin gue, dia bakalan ninggalin Richard, kan?"
"Nah gue juga mikir gitu!" tegas Rozi.
"Gue nggak paham lagi dah, kenapa Mama suka banget sama tuh cewek! Dan parahnya lagi, Mama terus maksa gue buat keluar bareng! Bahkan nih ya. Nanti malam gue harus makan malam sama dia!"
"Nah gini aja. Nanti lu share lokasi - nya, terus gue gabung sama Richard! Nanti gue yang ajakin Richard!"
"Oke, ide bagus! Tapi kalian usahain ada di lokasi sebelum gue dateng ya!"
"Gampang!"
Gibran tersenyum, lantas menepuk bahu Rozi dua kali. "Makasih ya, Zi. Udah bantuin gue!"
__ADS_1
"Oke, sama-sama. Terus gimana sama si Melisa?"
"Ada perkembangan, tadi siang gue ketemu sama dia!"
"Ketahuan nggak?"
"Hahahaha, ketahuan lah, orang pas gue keluar udah diliatin sama sopirnya!"
"Sebenarnya lu punya berapa nyawa, hah? Lu nggak takut mati di tangan Tuan Felix?"
"Huh, kalau dipikirin sih gue takut juga! Tapi kalau udah inget senyum Melisa itu, semuanya rasa takut gue hilang, entah kemana!"
"Bucin! Dasar bucin!"
"Hahahaha, jadi nanti malam lu mau ngajak Liana atau nggak?"
"Kayaknya nggak, soalnya gue bakal minum segelas dua!"
"Lu ya, nggak pernah berubah!"
"Oh jangan salah, gue udah nggak ngerokok lagi loh di rumah! Terus gue juga nggak pernah minum sebulan terakhir ini!"
"Hmmm, mau jadi suami yang baik ceritanya?"
"Demi anak gue!"
"Yakin? Bukan demi Ibunya?"
Rozi diam, tidak mampu menjawab apa-apa.
"Hahahaha, udahlah, kalau cinta, bilang cinta aja!" goda Gibran. Ia berdiri, lalu memakai jasnya dengan rapi.
"Lu mau diam di sini sampai besok?"
"Nggak lah!"
Keduanya meninggalkan ruangan, berjalan bersamaan menuju lift dan berpisah saat mobil mereka melaju ke arah yang berada.
* * * * *
__ADS_1