Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Beri kesempatan?


__ADS_3

Kembali ke misi pertama : Beri perhatian, selalu kirim pesan, yang menunjukkan kamu ingin mengenalnya atau lebih dekat dengannya.


______________


TV di ruang tengah terus menyala, sementara anak manusia yang duduk di sofa malah fokus pada Hpnya. Mungkin jika TV itu adalah makhluk hidup, ia sudah berteriak dari tadi : Oy, kalo nggak nontonin aku, matiin dong! Percuma aku nyala dari tadi!


Kira-kira begitu.


Pesan dari Gibran sudah terkirim sejak 6 jam yang lalu. Namun sampai saat ini, belum ada jawaban apapun dari Melisa ataupun Via. Membuat semangat Gibran hampir menciut begitu saja.


"Huh, nggak apa-apa, mungkin dia lagi kehabisan data? Atau lagi sibuk sampai nggak sempet buat on di Instagram?" gumam Gibran. Pria itu berusaha berpikir positif.


Sedangkan Melisa sendiri sedang bersandar pada kursi taman. Ada Arkan yang sedang duduk menemaninya di sana.


"Kakak kenapa nggak bilang ke Arkan?" lirih remaja itu, ia mengetahui sang Kakak tidak masuk sekolah setelah mendengar pernyataan dari Via. Beruntung gadis itu memberitahu Arkan.


"Kakak nggak apa-apa, cuman sakit perut, besok juga udah enakan!"


"Nggak!" Arkan menggeleng. "Mulai hari ini, Kakak harus janji, Kakak harus berbagi cerita apapun dengan Arkan. Sakit, pahit, manis, asem, apapun itu, Arkan mau jadi pendengar yang baik juga buat Kakak!"


Remaja tampan itu mengulurkan jari kelingkingnya pada Melisa. "Janji?"


Melisa tersenyum, ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Arkan. "Janji."


"Ini baru Kak Melisa yang Arkan kenal!"


Melisa sangat bersyukur memiliki adik seperti sosok Arkan dalam hidupnya, setidaknya Arkan bisa mengobati rasa haus kasih sayang yang Melisa rasakan selama ini. Walaupun usia Arkan lebih muda 2 tahun dari Melisa, tapi Arkan mampu berpikir dan bertindak dengan dewasa. Tak lain dan tak bukan karena kerasnya didikan yang Ayah berikan.


"Udah malem, Kakak istirahat ya. Arkan juga harus balik ke kamar!"


"Iya."


"Inget, istirahat. Jangan nonton!"


"Iya, Arkan!"


"Hahaha, good night Kakak Cantikku tersayang!"


"Good night tooo!"


Arkan melangkah menjauhi taman, masuk ke dalam rumah utama.


"Arkan?" Tania menghampiri Arkan yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, Ma? Kenapa?"


"Kak Melisa kenapa?"


Arkan menghembuskan napas pelan. "Kakak lagi dapet tamu bulanan. Dia tadi nggak masuk sekolah, untung ada Kak Via sama Kak Rere yang nemenin!"


Tania hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia merasa gagal menjadi Mama untuk Melisa. Selama ini Melisa selalu jauh dari jangkauannya. Walaupun Melisa ada di depan mata.

__ADS_1


"Ya udah, kamu istirahat, ya. Mama mau buatin teh untuk Ayah."


"Iya, Ma. Good night!"


Arkan melanjutkan langkahnya memasuki kamar. Dia juga tak habis pikir, kenapa keluarganya seperti ini. Dulu ketika masih kecil, Arkan ingin bermain dengan Melisa. Tapi, Ayah selalu melarangnya. Dengan alasan anak cowok tidak boleh bermain dengan cewek.


Lalu ketika mereka beranjak remaja. Ayah malah memisah-misahkan mereka. Ayah menyuruh Kakaknya untuk tinggal di rumah yang berbeda, seolah-olah mereka bukanlah dari keluarga yang sama.


Saat Arkan bertanya, kenapa Ayah bersikap seperti itu kenapa Kakak perempuannya, Ayah malah marah pada Arkan. Dan malah balik bertanya : Bagaimana cara memperlakukan anak perempuan yang tepat? Tolong ajarkan, Ayah!!


Sejak itu, Arkan tak berani lagi menanyakan apapun yang bersangkutan dengan Melisa. Emosi Ayah seperti bensin yang tersambar api setiap membahas tentang Kakak perempuannya itu.


"Kak, Arkan ngerti apa yang Kakak rasain sekarang. Tapi untuk saat ini, Arkan cuman bisa doain supaya Kakak tetap kuat ngelewatin semua ini. Arkan yakin, suatu saat nanti, Tuhan bakal balas semua sakit yang Kakak rasain sekarang dengan kebahagiaan!"


Arkan memperbaiki bingkai foto yang menunjukkan dirinya dengan Melisa saat masih kecil. Bingkai itulah satu-satunya barang yang berhubungan dengan sang Kakak di kamar Arkan.


"Arkan sayang Kak Melisa. Erlan juga sayang Kak Melisa. Kita akan terus sayang Kak Melisa!"


...****************...


Ini adalah hari kedua Melisa tak kunjung membalas pesan Gibran. Membuat Gibran gelisah galau merana seharian.


Rozi yang melihat itu pun ikut pusing. Bagaimana tidak, seharian ini Rozi sudah menawarkan Gibran makanan ini dan itu, tapi pria itu tak kunjung menyentuh apapun yang Rozi tawarkan.


"Ayolah, bro. Jangan seperti ini, wajarlah gadis itu tidak membalas chatmu, kamu bukan siapa-siapa baginya. Di sini, cuman kamu yang berharap dan menyukainya!"


"Bisa diem?" Gibran menunjuk Rozi mengunakan polpen di tangannya. "Aku nggak pernah sesuka ini pada siapapun sebelumnya. Dan aku nggak pernah seyakin ini, kalo aku bakal bisa dapetin hati wanita!"


"Zi, aku belum kepikiran sampai situ. Kalo pun nanti aku nggak bisa dapetin dia. Aku nggak apa-apa, setidaknya aku pernah berjuang. Saat itu, aku akan merasa bangga, setidaknya aku tidak menjadi seorang pengecut di hadapannya!"


Bukannya menemukan solusi, yang ada Rozi malah tambah pusing bicara dengan orang yang sedang dimabuk cinta.


"Hmmm, oke. Aku udah kasih kamu pandangan. Sekarang terserah kamu, mau terus perjuangin perasaanmu itu, atau lupain dan cari cewek lain!" Rozi meletakan segelas air putih dan nasi yang ia bawa tadi di atas meja. "Makan dan minum, jangan sampai mati kelaparan karena urusan cinta!"


Gibran menghela napas. Dia sendiri sedang bingung sekarang, kenapa dia merasakan perasaan seperti ini pada Melisa. Padahal mereka hanya bertemu sekali saja. Pertemuan selanjutnya tak di sadari Melisa. Hanya Gibran yang menyadarinya.


Pria itu meraih Hpnya sekali lagi, mengecek Instagram Melisa sebelum kembali menyelesaikan beberapa jadwal kerjanya.


"Bikin story bisa. Masa balas chatku nggak bisa?"


@Gyuandr_ :


Sibuk banget ya, sampai nggak sempet bales chat?


Kasian loh, aku udah nungguin dari kemarin:)


Gibran mematikan Hpnya. Tak perlu Melisa membalas atau tidak. Intinya Gibran akan tetap menunggu sampai gadis itu membalas pesannya. Gibran serius ingin memperjuangkan perasaannya pada Melisa!


...****************...


Melisa menatap benda pipih yang ia pegang. Sudah tak terhitung berapa banyak pesan dan panggilan masuk dari Fais sejak kemarin. Sejak mengetahui Melisa sakit, sejak itulah Fais mulai meneror Melisa dengan pesan dan panggilan telpon yang tak pernah Melisa terima.

__ADS_1


Bukannya apa, tapi pesan yang Fais kirim membuat Melisa muak membacanya.


Faisss! :


Melisaku sayang udah minum obat?


Jangan lupa minum obat ya, Sayang. Supaya cepat sembuh.


Sayangku, Melisaku, aku rindu.


I love you, Melisa, Cantikku, Sayangku😻😚


Cepet sembuh ya, Melisaku🥺 Biar kita cepet ketemu.


"Iiii, merinding aku!" Rere ikut melempar Hp Melisa ketika membaca pesan dari Fais. Demi apa, Rere ikut merinding membacanya.


"Ini terlalu alay dan lebay sih menurutku!" lanjut Rere.


"Makanya, aku nggak kuat lagi deh sama anak satu ini!" lirih Melisa.


"Eh tapi, Mel. Kamu sendiri kan yang bilang, kalo kamu mau liat, sejauh mana Fais berjuang untuk dapatin kamu?! Berarti kamu harus kuat dong!" ucap Via dengan senyum mengejek.


"Aku bisa ilfil sama dia, kalo gini terus, Viii!"


"Hahaha, nikmatin aja, Mel."


"Nggak, Vi. Nggak bisa!" Melisa menggeleng pasrah.


"Udahlah ya, dari pada ngurusin si Fais yang nggak jelas itu, lebih baik kamu bales tuh chat Om Gibran. Kasian dia udah nungguin dari kemarin!"


"Apaan sih, Vi. Orang lagi bahas Fais juga!" sahut Melisa.


"Mel, dia juga serius loh sama kamu! Masak kamu nggak mau kasih dia kesempatan?" ucap Via.


"Tau dari mana dia serius?" Melisa balik bertanya. Rere menyelipkan tangannya di depan dada. Menyimak perdebatan dua kubu.


"Buktinya dia sampai nanyain kabar kamu ke aku! Dia mau serius loh sama kamu, Mel. Ayolah, coba kasih dia kesempatan! Sekali iniii aja!"


"Vi-" Rere menyentuh pundak Via. "Jangan gitu, jangan paksa Melisa, biarin dia yang nentuin mau kasih peluang atau nggak."


"Aku nggak niat buat maksa, Re. Cuman aku-" Via mengangkat kedua tangannya. Dia tidak mau melanjutkan lagi. "Terserah Melisa aja!" Via hanya malas berdebat hanya kerana perkara pria.


Melisa menghela napas. Melisa sendiri bingung, hatinya mengatakan : ayo beri respon pada pesan Gibran. Tapi logikanya malah mengatakan hal yang sebaliknya!


"Aku cuman takut kecewa, itu aja," lirih Melisa. Entah mengapa Melisa sangatlah sulit untuk percaya pada pria sekarang, terlebih-lebih orang yang baru ia kenal seperti Gibran! Melisa takut kecewa. Takut pria itu tidak bisa memahami dia dan perasaannya.


"Jangan dibawa pusing, Mel. Ikutin apa kata hatimu aja, jalani apa yang ada sekarang, dan untuk masa yang akan datang, serahkan pada Tuhan. Tuhan tau yang terbaik untukmu!" ucap Rere. Gadis itu tersenyum memberi semangat dan dukungan pada Melisa.


"Mel, aku cuman mau ngeliat kamu bahagia, dan aku tau, kamu sebenarnya bahagia kan setiap dapet notifikasi dari Om Gibran?" Batin Via.


Via sempat beberapa kali melihat Melisa tersenyum saat membaca notifikasi dari Gibran. Bahkan Via sempat melihat Melisa sedang diam-diam memperhatikan fotonya dan Gibran saat di bukit cinta.

__ADS_1


"Entah kenapa, kali ini aku benar-benar yakin, kalo kehadiran Om Gibran mampu merubah kehidupan Melisa!!"


__ADS_2