
Setelah pulang sekolah, Melisa sebenarnya akan menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya. Namun, setelah mendapatkan telepon dari Mama yang memintanya untuk segera pulang, Melisa pun membatalkan janji mereka dan berjanji untuk jalan-jalan bersama di lain waktu saja. Lagi pula Rere dan Via mengerti kalau Melisa memang perlu menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya, untuk membangun hubungan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Di tengah perjalanan pulang, Melisa menyempatkan dirinya untuk mengirim pesan pada Gibran, mengingatkan pria itu untuk makan siang. Tak menunggu waktu lama, Gibran membalas dengan mengirim sebuah foto yang menunjukan dirinya sedang makan siang dengan salah satu rekan kerjanya. Melisa senyum-senyum sendiri setelah melihat pap dari Gibran.
Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Melisa menemani Mama untuk membeli beberapa barang sampai jam menunjukkan pukul 5 sore, barulah keduanya memutuskan untuk langsung meluncur menuju salah satu restoran di pusat kota.
Melisa yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti perkataan Mamanya saja, awalnya ia pikir ini hanyalah makan malam biasa, tapi semuanya tiba-tiba berubah setelah Melisa sampai di meja makan yang sudah Ayah pesan, ada Ayah dan Gibran yang sudah duduk di sana, menunggu kedatangan mereka.
Melisa yang melihat itu tentunya bertanya pada Gibran lewat tatapan mata. Tapi Gibran hanya memberikan seulas senyum di tengah wajahnya yang terlihat berusaha sesantai mungkin.
"Duduk, Mel." ucap Tuan Felix karena melihat Melisa yang terus mematung.
Dengan perasaan yang tak menentu, Melisa pun duduk di samping Gibran yang berhadapan dengan Mama dan Ayahnya. Di bawah meja, tangan Melisa menarik ujung baju Gibran, Gibran melirik sekilas, lalu pria itu menggenggam tangan Melisa, tanpa diketahui oleh kedua orang di hadapan mereka.
Ingin rasanya Melisa bertanya, kenapa Gibran bisa ada di sini bersama Ayahnya? Tapi entah mengapa, rasanya sangat sulit untuk mengeluarkan suara. Terasa begitu berat.
"Khemm, sebelumnya, terimakasih karena sudah memenuhi undangan kami, Nak Gibran," ucap Mama.
"Sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya."
"Melisa memanggil saya Mama, saya akan senang jika kamu memanggil saya dengan panggilan yang sama."
Ada kelegaan di hati Melisa ketika mendengar ucapan Mamanya. Begitu pun dengan Gibran.
Tak banyak basa basi di antara mereka, sampai semua menu makan malam sudah terhidang dan siap untuk disantap. Tuan Felix mempersilakan Gibran untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan.
Melisa yang melihat perlakuan Ayahnnya pada Gibran pun sempat sedikit heran, seperti sudah terjadi sesuatu di antara keduanya, yang membuat mereka terlihat sedikit akrab?
Keempat orang itu makan malam dengan begitu tenang, tanpa ada pembicaraan di tengah-tengah makan. Sampai tiba-tiba Melisa teringat dengan kedua adiknya, Arkan dan Erlan. Di mana mereka?
"Ma? Arkan sama Erlan nggak ikut makan malam sama kita?"
"Enggak, sayang. Karena bisa dibilang ini makan malam spesial."
"Sebenarnya apa yang sedang Mama dan Ayah rencanakan?"
Batin Melisa.
"Melisa?" panggil Tuan Felix setelah membersihkan kedua sudut bibirnya dengan tissue.
"Iya, Ayah?"
"Ayah ingin mengatakan hal yang sama, seperti apa yang sudah Ayah katakan pada Gibran!"
"I-iya, Yah. Silahkan."
"Apa kamu serius dengan Gibran?"
Melisa melirik Gibran yang ternyata sedang meliriknya juga.
"Iya, Melisa serius."
"Apa kamu sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan kamu dapatkan nantinya?"
"Iya, Melisa siap."
"Apa kamu bersedia menjalankan beberapa aturan yang akan Ayah dan Mama berikan?"
"Aturan?"
"Iya, aturan selama kamu dengan Gibran, ada beberapa aturan yang harus kalian berdua jalankan!"
Sekali lagi, Melisa melirik ke arah Gibran.
"Iya, Melisa bersedia!"
"Apa kamu yakin? Jika tidak, kamu bisa mengatakannya."
"Melisa yakin."
"Baiklah. Ma, berikan buku aturannya."
Melisa tertegun ketika mendengar buku aturan? Ini seriusan, aturannya sampai satu buku?
"Silahkan dibaca dengan seksama terlebih dahulu, jika ada aturan yang tidak kamu setujui, kamu boleh katakan sekarang juga!"
__ADS_1
Walaupun ragu, Melisa tetap mengambil buku aturan yang Mamanya berikan, semua aturan yang tertulis di dalam sana memang demi kebaikan mereka berdua.
"Gimana? Ada yang membuat Melisa keberatan?"
Melisa menggeleng pelan. "Tidak ada, Yah. Melisa akan berusaha semaksimal mungkin untuk mematuhi semua peraturan yang ada."
"Baguslah kalau begitu."
Samar, Gibran tersenyum lega mendengar keputusan Melisa.
...****************...
Satu jam yang lalu....
Dengan perasaan gugup dan jantung yang berdebar kencang, Gibran memasuki restoran yang menjadi tempat pertemuan keduanya dengan Tuan Felix. Tepat di sebuah ruangan private, Tuan Felix sudah duduk menunggu kedatangannya.
Perasaan gugup, canggung, gelisah, bercampur jadi satu saat Gibran berada di satu ruangan dan duduk berhadapan dengan Tuan Felix. Terlebih lagi, raut wajah Tuan Felix yang sama sekali tidak tergambar kata persahabatan di sana.
"Gibran Yuandara?!"
"Iya, saya," jawab Gibran sigap.
"Kamu tau apa tujuan saya mengundang kamu malam ini?"
Gibran tak menjawab apapun, ia malah memberanikan diri untuk menatap wajah Tuan Felix dan berusaha setenang mungkin dalam menjawab setiap pertanyaan.
"Cukup, saya tidak ingin bermain-main lagi denganmu, apalagi ini tentang putri saya, Melisa!!"
"Maaf, Tuan, tapi saya tidak pernah bermain-main dengan putri Anda."
"Apakah saya dapat mempercayai ucapanmu?!"
"Saya tidak memaksa, Tuan boleh percaya, boleh juga tidak."
Tuan Felix tersenyum tipis. "Permainan kata yang bagus."
"Kamu ingin sejauh mana?" lanjut Tuan Felix.
"Sampai di titik Melisa menjadi bagian dari keluarga dan kehidupan saya."
"Adik saya tau."
"Orangtuamu?"
"Saya akan memberitahu mereka."
"Bagaimana jika mereka tidak menerima?"
"Saya akan berusaha, seperti usaha saya sekarang untuk mendapatkan persetujuan dari Anda."
"Apakah kamu bisa saya percaya untuk menjaga Melisa?"
"Seperti jawaban sebelumnya, itu adalah hak Anda. Percaya atau tidak percaya."
Tuan Felix kembali menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagaimana kalau malam ini, saya meminta kamu untuk melupakan dan menjauhi Melisa?"
"Saya berhak untuk bertanya, apa alasan Anda?"
Tuan Felix mengangguk pelan.
"Kamu boleh bersama Melisa, tapi ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi. Ada aturan, ada Melisa. Tidak ada aturan, tidak ada Melisa. Bagaimana?"
"Baiklah, saya setuju dengan semua peraturan yang akan Anda berikan!"
Tuan Felix menyebutkan beberapa aturan, selebihnya ia membiarkan Gibran membaca sendiri dari buku aturan yang sudah Tuan Felix persiapan.
"Bagaimana?"
"Ada aturan, ada Melisa!" tegas Gibran, menunjukkan bahwa ia siap menjalankan semua aturannya.
Tuan Felix hanya memberikan segaris senyum untuk jawaban Gibran.
...****************...
Melisa merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah mandi dan berganti pakaian, ia meraih handphone-nya dan langsung membuka beberapa pesan masuk dari Gibran.
__ADS_1
Gibran :
Udah nyampe rumah?
Kalo udah, cuci tangan, cuci kaki dan langsung tidur ya.
^^^Melisa :^^^
^^^Permisi, ada orang nggak?^^^
^^^Boleh ngomong sebentar?^^^
***
Gibran langsung membaca pesan yang Melisa kirim, dan langsung menghubungi Melisa.
"Selamat malam, Nona Manis... Mau ngomong apa? Waktu dan tempat dipersilakan untuk Anda."
"Em, soal makan malam? Kok bisa?"
Gibran menjawab sejujurnya, mulai dari ia yang mendapatkan email dari Ayah Melisa sampai menceritakan beberapa percakapan mereka sebelum Melisa datang.
"Sayang?" panggil Gibran karena tak mendapatkan respon apapun dari Melisa setelah mendengar penjelasannya.
"Tadi pagi Livi nitip kado dari Mama."
"Mama?" lirih Gibran.
"Maksudnya Tante, Mama kamu."
Gibran diam sejenak. Pria itu sudah bisa menebak alur ceritanya tanpa dijelaskan lagi kenapa hal itu bisa terjadi.
"Gimana, kamu suka sama kadonya?"
"Suka, tapi aku ngerasa kurang enak aja, secara kita belum pernah ketemu sebelumnya, terus tiba-tiba aja ada titipan kado dari--"
"Mama," sahut Gibran.
"Aku canggung."
"Kenapa?"
"Panggilan yang terlalu akrab untuk seseorang yang belum pernah kita temui."
"Jadi kapan mau ketemu Mama?"
"Hah?"
"Iya, mau ketemu Mama, kan? Kapan?"
"Aku belum siap kalo sekarang." lirih Melisa.
"Ya udah, kalo udah siap, bilang ya, Manis."
"I-iya."
"Ada lagi, Sayang?"
"Emm, itu aja."
"Tidur ya, inget. nggak boleh begadang!"
"Kamu juga, istirahat."
"Iyaaa, cantikku."
"Good night."
"Good night too, I love you, hehehe."
"Love you too."
"Bye, Sayang. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah."
Melisa mematikan lampu kamarnya setelah meletakkan kembali handphonenya di atas meja. Sempat Melisa berpikir, apakah ini terlalu cepat gadis seperti Melisa untuk berada pada sebuah hubungan yang seserius ini? Sampai melibatkan keluarga? Tapi satu sisi juga Melisa bahagia karena mendapatkan kejelasan atas hubungan mereka, tapi lagi-lagi sisi lain membuat Melisa takut kecewa, takut kedepannya terjadi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan dan rencanakan sebelumnya!
__ADS_1
"Gak, gak, kamu nggak boleh overthinking, Mell. Percaya pada Tuhan, Dia pasti akan memberikan takdir yang terbaik untukmu!"