Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Mama


__ADS_3

"Em, boleh, Ma. Mau tanya apa???"


"Kesibukan dia apa? Kerja? Kuliah atau apa?"


Gibran diam sejenak, ia mengambil gelas berisi air putih, meneguk seperempat isi gelas. Lalu pria itu menarik napas pelan, bagaimana pun ini adalah sebuah fakta yang memang harus Gibran katakan.


"Melisa sekarang masih kelas dua belas, Ma. Dia Kakak kelas Livi."


Hesti mengangguk pelan sembari bergumam setelah mendengar jawaban Gibran. "Bener ternyata dugaan, Mama."


"Kenapa, Ma? Mama nggak setuju kalau Gibran berhubungan sama gadis yang masih duduk di bangku SMA?"


"Nggak, nggak, bukan gitu, Nak. Mama oke-oke aja, Mama nggak masalahin dia masih sekolah, masih kuliah, ataupun udah kerja, nggak masalah. Tapi, di usia kamu sekarang, bukan waktunya lagi buat main-main dengan hubungan seperti ini."


"Ma, aku nggak main-main sama Melisa. Nggak ada niatan buat main-main, aku serius Ma sama dia!"


"Gibran, Mama cuman takut ka---"


Gibran mengelus lengan sang Mama dengan pelan. "Ma, Gibran tau, Mama pasti mau yang terbaik buat Gibran, kan? Mama pasti nggak mau lagi liat Gibran kecewa. Tapi, Ma, Gibran nggak pernah ngerasa sebahagia ini, keluarga Melisa juga keluarga baik-baik, dia dari keluarga yang terpandang dan berpendidikan, dia baik... Dia gadis yang sopan, lalu apalagi, Ma?"


"Apa dia juga mencintai kamu, seperti kamu mencintai dia? Apa keluarganya juga udah tau? Apa mereka bisa nerima kamu?"


"Ya, dia mencintai Gibran, Gibran bisa rasain itu, orangtuanya juga udah tau kok Ma!"


Hesti menghembuskan napas pelan. Ditatapnya Gibran lekat, tangan kanannya memegang pipi kanan Gibran.


"Banyak hal yang Mama takutin ketika membesarkan kamu dan Livi, Mama takut orang-orang luar menyakiti kalian, menyakiti perasaan kalian. Mama takut, orang-orang di sekitar kalian tidak menyayangi kalian setulus kasih sayang yang Mama dan Papa berikan! Sebesar apapun kalian, sebanyak apapun angka di umur kalian, kalian tetap pria dan gadis kecil Mama, Mama nggak mau kalian terluka, Sayang."


Gibran bangkit dari duduknya, lalu ia berlutut di depan kursi sang Mama, bersimpuh dan memeluk erat wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.


"I love you, Ma."


"I love you too, Sayang."


Tak bisa disembunyikan lagi, kalau Gibran tersentuh ketika mendengar ucapan Mamanya, kasih sayang yang Mama berikan padanya dan Livi memang begitu besar, tidak bisa ia jelaskan, selalu dipukul rata antara dia dan Livi, sampai Rozi sempat iri dengan kehidupan Gibran.


Dalam senyumnya Gibran menyimpan perasaan lega, ucapan Mama memang bukanlah keputusan final, bisa saja akan berubah setiap saat, tapi dengan mengetahui kalau Mama tidak mempermasalahkan tentang pendidikan Melisa, Gibran sudah cukup lega.


...****************...


...Rumah sakit kota....


Melisa membuka matanya begitu merasakan usapan lembut di bagian pipi kanannya, gadis itu tersenyum saat mendapati Arkan menatapnya dengan senyuman juga.


"Selamat pagi Kakak Cantik," sapa Arkan.


"Pagi. Kamu nggak sekolah?"


"Sekolah kok, lagian sekarang masih jam 6, siapa yang mau berangkat ke sekolah sepagi ini!"


"Emm, gitu ya. Mama dan Ayah mana?"


"Ayah sama Mama baru aja pulang, Ayah semalaman di sini nemenin Kak Melisa, Mama juga."


"Iyakah?"


"Iya, nanti jam tujuh Mama balik lagi setelah ngurusin Erlan."


Melisa hanya mengangguk pelan.


"Kata Mama, Kak Gibran juga nemenin Kak Melisa, mungkin kalau nggak disuruh Mama buat pulang istirahat, dia nggak bakal pulang dan ninggalin Kak Melisa."


"Gibran?"


"Iya, semalam Kak Gibran sama Ayah yang bawa Kak Melisa ke rumah sakit, Kak Melisa nggak inget?"


Melisa menggeleng pelan.


"Ya udah nggak apa-apa, Kak Melisa mau apa? Nanti Arkan minta Mama buat beliin!"


"Nggak, Kak Melisa nggak mau apa-apa. Em, Handphone Kak Melisa mana?"

__ADS_1


"Handphone? Kayaknya ada di Ayah deh, Kak. Mungkin dibawa pulang sekarang!"


"Hmmm, Handphone kamu mana?"


"Ini." Arkan menyerahkan benda pipih yang ia keluarkan dari saku seragam sekolahnya.


"Minta tolong telponin Rere atau Via, Kak Melisa khawatir sama mereka."


Arkan menuruti kemauan Melisa, ia nelpon Via terlebih dahulu, bocah itu memang sudah lama menyimpan kontak Rere dan Via, untuk menanyakan Melisa, jika Melisa tidak ada di rumah.


"Hallo."


"Iya, Arkan, kenapa?" jawab Via di seberang sana.


"Ini, Kak Melisa mau ngomong sama Kakak!"


Arkan menyerahkan handphonenya pada Melisa.


"Hallo, Viii.... Are you oke?"


"Mel, jangan khawatirin aku, aku baik-baik aja, gimana kamu? Sumpah, aku nggak bisa tidur tenang semalaman, mikirin kamu terus!"


"Aku baik-baik aja, kata dokter cuman kecapean."


"Syukurlah, aku takut kamu kenapa-kenapa. Nanti sekitar jam delapan atau jam sembilan aku ke sana ya?"


"Emm, iya. Gimana keadaan Rere?"


"Kita berdua nggak apa-apa, Mel, aman. Oh ya, Handphone kamu udah aku kasih ke Om Felix, soalnya mati dan nggak bisa nyala!"


"Oke, terimakasih ya Vi."


"Iya sama-sama, kamu sama siapa aja sekarang?"


"Ada Arkan, ada Mbak Indah juga di luar. Em, Vi. Gimana keadaan Fais dan Kak Chandra?"


"Semalam Fais juga dibawa ke rumah sakit sama keluarganya, kalau Kak Chandra aku kurang tau, tapi---"


"Nanti deh aku ceritain ya!"


"Oke, ditunggu."


"Ya udah, Mel, aku mandi dan siap-siap dulu ya, abis sarapan aku ke sana!"


"Iya, Vi, sekali lagi terimakasih."


"Iya, sama-sama, Melisa. Bye, see you."


Saat Melisa hendak menghubungi Rere, ia tiba-tiba saja mengurungkan niatnya saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.


"Gibran?" gumam Melisa, membuat Arkan menoleh ke arah pintu masuk. Walaupun tidak pernah bertemu secara langsung dengan sosok Gibran, Arkan tetap menyambut pria itu dengan baik, bahkan Arkan yang dikenal tidak mau berbagi kasih sayang Melisa dengan siapapun sekarang malah dengan mudah mempersilakan Gibran masuk ke dalam hidup Kakaknya. Entah, aura seperti apa yang dimiliki Gibran sehingga bisa meluluhkan hati Arkan.


"Selamat pagi, Cantikkk....." Gibran meletakkan bingkisan yang ia bawa di atas meja, tatapan pria itu tertuju pada Arkan yang duduk di sofa.


"Hi, Arkan, kan?" sapa Gibran. Arkan tersenyum membalas uluran tangan Gibran.


"Gibran."


"Arkan, adik kesayangan Kak Melisa!" canda Arkan.


"Hahaha, tau kok, Melisa sering ceritain kamu."


"Iyakah?"


"Iya, hampir setiap hari, sampai aku cemburu kalo Melisa udah mulai cerita tentang kamu!"


"Emm, aku juga cemburu, kalo ada orang lain yang Kak Melisa sayangi sekarang!"


Melisa hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan kedua orang itu. Tidak lama Mbak Indah memberi isyarat pada Arkan, kalau remaja itu harus segera berangkat ke sekolah!


"Em, titip Kak Melisa ya!" ucap Arkan pada Gibran, tentunya dibalas dengan senyum ramah dan tulus oleh sang Calon Kakak Ipar?

__ADS_1


"Aman, tenang aja!"


"Jangan diapa-apain!" ucap Arkan sembari memicingkan matanya pada Gibran. Setelah pamitan dan mengecup pipi Melisa cukup lama, Arkan pun meninggalkan ruang rawat tanpa memperdulikan tatapan dan tanggapan Gibran atas aksinya.


"Aku juga mau, Sayang!" Rengek Gibran membuat Melisa melotot tajam dan mencubit pelan lengannya.


"Hahahaha, canda-canda, sepertinya kamu udah jauh lebih baik sekarang, buktinya udah bisa nyubit orang!"


Tapi setelah mengatakan itu, Gibran malah kembali terlihat khawatir pada Melisa, pria itu menatap Melisa lekat.


"Aku nggak bisa tenang selama kamu pergi camping kemarin, apalagi setelah denger kabar kalian bertiga hilang di lokasi camping," lirih Gibran.


Melisa meraih tangan Gibran, menggenggamnya erat. "Udah, jangan dipikirin lagi, sekarang aku udah di sini kan? Aku nggak apa-apa---"


"Nggak bisa, aku semakin khawatir setelah tau kondisi kamu sekarang."


Gibran menghembuskan napas pelan. "Aku nggak mungkin nyalahin kamu, atau nyalahin siapapun atas kejadian ini, tapi boleh nggak aku minta ke kamu, lain kali jangan ikut acara seperti ini lagi. Aku khawatir, Sayang. Aku takut kamu kenapa-kenapa, dan aku nggak mau kejadian kayak gini terjadi lagi kedepannya."


Melisa mengangguk pelan. "Aku janji, aku nggak bakal bikin kamu khawatir lagi, kedepannya aku bakal lebih hati-hati, oke."


Gadis itu memeluk pinggang Gibran, yang membuatnya bisa mendengar jelas detak jantung pria itu. Gibran membalas dengan memeluk dan mengusap kepala Melisa.


"Sekarang sarapan dulu, ya. Mau sarapan pakek apa? Ada roti tawar sama selai coklat, ada roti bakar selai coklat juga, ada bubur ayam buatan Mama, Melisa mau yang mana?"


Melisa mengerutkan keningnya ketika mendengar bubur ayam buatan Mama, ini yang dimaksud Mamanya siapa? Mamanya Gibran atau Mamanya Melisa?


"Bubur ayam?"


"Iya, tadi sebelum aku berangkat ke sini, Mama buatin bubur ayam buatan kamu, mau cobain? Mumpung belum dingin."


Melisa mengangguk menandakan, iya, dia mau.


Gibran mengambil paper yang ia bawa tadi, mengeluarkan sebotol air mineral, satu kotak makan berisi roti bakar, lalu beberapa potong roti tawar lengkap dengan setoples kecil selai coklat, dan yang terakhir, semangkuk bubur ayam yang masih hangat.


"Aku suapin ya---"


"Kamu udah sarapan?" tanya Melisa sebelum menerima suapan dari Gibran.


"Udah kok tadi."


"Sarapan lagi, temenin aku."


"Baiklah, Nona Cantikku, pria tampan di hadapanmu ini akan menuruti semua keinginanmu."


"Hahaha, pede banget!"


"Tapi emang fakta, kan?!" goda Gibran sembari memainkan alisnya.


"Iya, dan pria tampan ini milikku!"


Sekarang malah Gibran yang salah tingkah dengan perlakuan Melisa, niat hati dia yang ingin menggoda, malah dia sendiri yang tergoda.


"Enak?" tanya Gibran setelah Melisa menerima tiga suapan darinya.


"Enak, kamu cobain deh."


Melisa mengambil alis sendok di tangan Gibran, lalu menyuapi pria itu sampai dua sendok bubur ayam tersebut.


"Seperti biasa, masakan Mama nggak pernah gagal!" puji Gibran.


"Emm, jadi Mama kamu tau kalau aku lagi---"


Gibran langsung mengangguk mengiyakan, bahkan sebelum Melisa menyelesaikan ucapannya.


"Aa lagi!"


Melisa menurut, membuka mulutnya dan kembali menerima suapan dari Gibran. "Gadis pintar."


Dengan telaten Gibran menyuapi Melisa, layaknya seorang Ayah yang sedang menyuapi putri kecilnya. Dari luar ruangan, ada yang diam-diam tersenyum ketika melihat dan memperhatikan mereka.


"Mama harap, kebahagiaan selalu menyertai kamu, Melisa." Batin Tania.

__ADS_1


__ADS_2