
Melisa berjalan pada jalan setapak di taman yang akan membawanya menuju rumah samping dengan penerangan yang cukup redup dari lampu-lampu taman.
"Kak Melisa?"
Melisa menoleh setelah mendengar panggilan dari suara yang begitu familiar itu. "Arkan? Ada apa?"
Arkan berdiri tepat di depan Melisa. Tatapannya seolah sedang memperhatikan seluruh anggota tubuh sang Kakak, dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada. Persis seperti seorang Ayah yang akan mengintrogasi putrinya.
"Kak Melisa dari mana? Kenapa masuk lewat gerbang samping? Habis keluar sama siapa? Tolong jawab dengan jujur pertanyaanku, Kak!"
Melisa menelan ludah, tenggorokannya terasa begitu kering setelah mendengar pernyataan yang adiknya lontarkan. Bingung harus memberi jawaban seperti apa? Berbohong atau menjawab yang sebenarnya?
"Emmm, Kakak tadi keluar sama teman, Kak Fais. Masih ingat kan?" Bohong Melisa.
Arkan memicingkan matanya. Maju selangkah. "Bukannya Kak Melisa nggak pernah mau keluar sama dia? Kenapa sekarang mau? Kak Melisa udah suka sama dia?"
Melisa ikut mundur selangkah, rasanya ia tidak bisa bicara jika sedekat ini dengan Arkan.
"Kakak nggak keluar berdua sama dia kok, ada yang lain juga!"
"Iyakah?"
"Iya, ada Kak Via sama Kak Rere juga!"
"Ya udah kalo gitu."
Arkan mundur dua langkah, lalu bergeser ke sebelah kiri. "Kakak capek, 'kan? Silahkan, masuk dan istirahat."
Melisa menatap wajah Arkan. Terlihat adiknya itu belum sepenuhnya percaya dengan jawaban Melisa. "Ya udah, Kak Melisa masuk dulu, ya. Good night, Arkan!"
"Ya."
Remaja 15 tahun itu menatap kepergian Melisa, ia tersenyum tipis sembari menatap ke arah gerbang samping. "Dia pikir aku nggak liat dia tadi? Mau membohongiku, Kak? Dasar! Tampang seperti Kakak nggak bakal bisa ngelakuin itu!"
"Tapi, siapa pria tadi? Dia punya hubungan apa sama Kak Melisa?" gumam Arkan.
*********
"Mel! Kamu jahat ya!" Ucap Rere yang baru saja datang dan langsung melempar tasnya di atas meja. Gadis itu menarik kursi di samping Melisa. Matanya menatap Melisa tajam, seolah sudah menyimpan rasa kesal sejak semalaman.
"Apa, Re? Kamu kenapa? Aku salah apa?" tanya Melisa kebingungan.
"Kamu jual nama aku lagi ke Arkan?! Kamu keluar sama siapa tadi malem, hmmm?! Kamu tau adikmu itu udah kayak detektif! Nanyain tentang kamu terus ke aku! Mana aku juga nggak tau apa-apa!"
Huh. Melisa membuang napas pelan. Dia pikir tentang apa, ternyata tentang semalam ya?
"Hehehe, maaf, ya. Lagian aku nggak tau mau bawa nama siapa lagi kecuali nama kamu sama Via. Baru bocah itu percaya!"
"Ya kalo itu, aku sih nggak apa-apa, Mel! Tapi yang aku permasalahin sekarang ini, tadi malem kamu keluar sama siapa?! SAMA SIAPA?!"
Melisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa lagi pada Rere. Nggak mungkin kan dia bakal bilang dia keluar sama Fais lagi?
"Emmm, aku--" Gadis berambut sebahu itu mengeluarkan Handphone-nya. Menunjukan foto yang Gibran kirim semalam. "Pergi ke sini!"
Rere meraih handphone Melisa, menatap layar handphone begitu lekat. Bola matanya membulat sempurna, benar-benar tak percaya dengan apa yang dia lihat!
__ADS_1
"Kalian? Sejak kapan?!!!" Gadis itu tak terima. Bisa-bisanya Melisa menyembunyikan hal ini darinya!!!
"Emmm, maaf, Re. Aku nggak bermaksud buat nyembunyin ini dari kamu, cuman aku belum siap aja, aku malu buat cerita!" jelas Melisa jujur.
"Kamu ya!" Rere merangkul bahu Melisa kuat-kuat. "Kamu punya utang cerita ke aku! Inget itu!!"
"Iya, nanti aku ceritain!"
"Wih mau cerita apa nih?" sahut Via yang baru muncul batang hidungnya.
Rere memicingkan matanya, mustahil Via juga nggak tau apa-apa tentang kejadian semalam. Pasalnya gadis itu adalah mak comblang terdepan Gibran dan Melisa!
"Kamu tau ini?" Rere menunjukkan foto yang Melisa tujukan padanya tadi!
"Bueh, apa-apaan ini? Kok bisa seperti ini?" Via heboh sendiri.
"Emmm, nggak tau juga!" Bagiamana pun Melisa masih terbayang jelas tentang kejadian semalam, kadang membuat Melisa senyum-senyum sendiri jika mengingatnya. Ternyata begini ya rasanya setelah kencan pertama??
"Kan udah aku bilang, jangan terlalu nolak diawal, nanti malah ketagihan!" Goda Via sembari menoel hidung Melisa, membuat Melisa semakin salah tingkah.
"Udah-udah! Jangan bahas itu lagi!"
"Hahaha, salting ya, Mel?" Rere ikut menggoda. "Eh btw kalian ngomongin apa aja?"
"Nggak ngomongin apa-apa, cuman dia cerita, terus makan, dan langsung pulang!"
"Nggak ada adegan peluk? Pegangan tangan? Atau apa kek gitu?!" Selidik Via. Rere ikut menunggu jawaban dari Melisa.
"KEPO!" Melisa merebut Handphone-nya, memasukkan ke dalam saku. "Nanti kalo aku ceritain, yang ada kalian makin senang jahilin aku!"
"Yaps, tapi kalo kamu butuh temen cerita, jangan lupain kita loh!"
"Iya-iya, makasih ya!" Melisa memeluk kedua sahabatnya itu. Mereka adalah yang terbaik!
********
Fais bergegas begitu melihat Melisa keluar dari kelasnya. Pria itu berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Melisa. "Hello, Sayang!"
Melisa berhenti dan menoleh, Fais berdiri tepat di sampingnya dengan memasang senyum manis, semanis kopi tanpa gula?
"Ada apa, Fais?"
"Nggak apa-apa, sih. Cuman kangen aja sama kamu, Sayang?!" Tangan kiri Fais bertengger dengan begini santai di atas bahu Melisa. Tanpa canggung sedikit pun.
"Singkirin nggak?!"
"Sebentar aja, Sayang!" bisik Fais jail.
"Fais?!"
"Iya-iya!" Pria itu menurunkan tangannya, memasukan ke dalam saku celana. "Pulang bareng aku ya?!"
"Aku bisa pulang sendiri!"
"Tumben, Via sama Rere mana? Mumpung kamu nggak pulang sama mereka. Kamu pulang sama aku aja ya?!"
__ADS_1
Melisa menggeleng, tanda penolakan!
"Sekali aja, loh Melisaku!" ucap pria itu, masih berusaha mensejajarkan langkahnya!
"Melisa?!" panggil seorang pria yang berdiri di depan mobilnya, dengan tangan yang melambai ke arah Melisa.
"Dia ngapain di sini?" Melisa yang melihat Gibran berdiri tak jauh darinya pun lumayan kaget. Terlebih lagi pria itu memanggil dan melambai padanya!
"Dia siapa?" tanya Fais, ikut menatap ke arah Gibran!
"Bukan siapa-siapa!" Bibirnya berkata bukan siapa-siapa, tapi kakinya malah melangkah mendekati mobil Gibran! Entah apa yang membawa langkah Melisa ke arah pria itu.
"Melisaku?" Fais mundur saat melihat Melisa malah menghampiri pria asing itu! Tapi tatapan matanya tak pernah lepas dari Melisa. Memperhatikan sedekat apakah gadisnya dengan orang asing sialan itu!
"Kenapa manggil aku tadi?" ucap Melisa yang baru sadar diri, bahwa sekarang dia dan Gibran sudah saling berhadapan.
Bukannya menjawab pertanyaan Melisa. Gibran malah menatap ke arah Fais, yang masih memperhatikan mereka. "Pacarmu kah?"
"Siapa?" Melisa menoleh, menatap ke arah Fais yang berdiri menghadap mereka.
"Temen."
"Iyakah?" Gibran mengalihkan pandangannya, lebih memilih untuk menatap wajah manis Melisa saja! "Eh iya, karena kamu udah di sini, aku punya sesuatu buat kamu, sebentar!"
Gibran membuka pintu mobil, mengambil plastik belanjaan yang berisi coklat batang, beberapa Snack, dan susu Ultra Milk untuk Melisa. Sesuai dengan selera gadis itu.
"Tadinya mau aku titipin lewat temanmu, tapi malah duluan ketemu sama kamu! Ambil, Mel! Aku nggak nerima penolakan loh!"
"Emmm, makasih ya!" ucap Melisa kaku. Rasanya ingin sekali menolak, tapi melihat wajah Gibran membuat Melisa tidak tega?
"Iya sama-sama, Manis!" Gibran memasukkan tangannya ke saku celana, menahan agar tidak menyentuh Melisa. Ah, gadis ini seperti magnet yang selalu menariknya untuk terus mendekat!
"Emmm, kalo gitu aku, aku pulang dulu ya?" Melisa seolah menunjuk pada taksi yang ia pesan dengan ekor matanya.
"Emm, oke. Hati-hati ya di jalan!"
"Sekali lagi terimakasih, ya!" ucap Melisa, ia tersenyum saat Gibran kembali melambaikan tangan padanya.
"Huh, padahal dia cuman senyum aja, tapi kok bisa reaksi jantungku berlebihan begini?" gumam Gibran. Pria itu membalik tubuhnya, hendak masuk lagi ke dalam mobil, karena adiknya Livi, masih ada ada beberapa urusan di kelas, katanya. Jadi lebih baik Gibran menunggu di dalam mobil!
"Tunggu!"
Gerakan tangan Gibran yang hendak membuka pintu mobil pun terhenti saat mendengar seseorang yang seolah sedang berbicara dengannya? Gibran membalik tubuh, matanya mengamati dengan seksama pria berseragam sekolah yang cukup tampan dengan tubuh tinggi yang mendukung penampilannya.
"Kamu punya hubungan apa dengan MELISAKU?!" tanya Fais penuh penekanan saat menyebut nama Melisa. Langsung ke inti, tanpa basa-basi!
Gibran tersenyum tipis, ia menatap bocah SMA di hadapannya sekali lagi.
"Melisamu ya? Bagaimana kalo sekarang aku balik bertanya, apa hubunganmu dengan KEKASIHKU?!"
Cih. Fais balas tersenyum seorang sedang mengejek ucapan Gibran. "Tunjukin kalo emang kamu memiliki hubungan sedekat itu dengan MELISAKU!"
"Oke, baiklah, selamat menikmati pertunjukan spesial dariku. Dan jangan lupa, siapkan tissue!" Gibran menepuk pundak Fais dua kali, lalu masuk ke dalam mobil. Ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk meledani bocah itu!
"Dasar bocah ingusan! Berani-beraninya dia menantangku!" Gibran membersihkan telapak tangannya. Bukannya bersentuhan dengan tubuh Melisa, malah bersentuhan dengan bocah sialan!
__ADS_1
"MELISAKU? Sialan, kenapa dia bisa seenteng itu menyebut Melisa sebagai miliknya!"