Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Mengulang Kenangan


__ADS_3

Tanggal 1 Januari, pukul 9 pagi, Melisa dan keluarganya sudah meninggal pulau. Sebelumnya Ayah mengajak Melisa untuk berkunjung ke kediaman keluarga Jefri untuk berpamitan.


Jefri memberi Melisa sebuah kalung hitam dengan mata kalung yang berbentuk sebuah peluru, sebagai kenang-kenangan. Melisa menerima dan langsung memakainya.


"Jangan kapok ya liburan ke sini, Nona!" Jefri menepuk pucuk kepala Melisa lembut sembari tersenyum hangat.


"Iya, Terimakasih ya udah nemenin aku selama di sini!"


"Sama-sama, Nona! Kapan-kapan balik lagi, ya!"


"Hahaha, kalo dikasih kesempatan ke sini lagi, aku bakal ke sini!"


Melisa tersenyum saat langkah kakinya semakin menjauhi pulau, banyak kenangan indah dengan keluarganya di pulau ini, terutama dengan sang Ayah!


"Sekarang aku mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini, tapi aku juga harus kehilangan seseorang di saat yang bersamaan!"


* * * *


Via tak kunjung melepaskan pelukannya, sampai membuat Melisa kesusahan bernapas, begitu pun dengan Rere, yang terus menempel pada Melisa!


"Kangen sih kangen, tapi jangan sampai kayak gini juga dong!" ucap Melisa mendorong tubuh Via dan Rere yang terus menghimpitnya!


"Hiks, selama di Jepang, aku tuh terus kepikiran kalian berdua tau!" gumam Via.


"Sama, aku capek nyari sinyal buat hubungin kamu sama Melisa! Huaaaa, akhirnya sekarang bisa ketemu juga!!" Rere merentangkan tangannya siap-siap untuk memeluk Melisa yang duduk di tengah-tengahnya dan Via.


"Huh, aku sampai nggak tenang juga ikut mikirin kalian berdua!" Melisa menyentil jidat Rere. "Apalagi kamu, Re. Aku takut banget kamu kenapa-kenapa! Ngilang berhari-hari!"


"Huhuhu, di sana hujan terus, terus mati lampu, nggak ada sinyal, Mel!!" lirih Rere.


"Maaf karena udah buat kamu khawatir!"


"Ya udah lupain aja, sekarang aku udah lega, udah ketemu kalian berdua, dan kalian dalam keadaan baik-baik aja!" ucap Melisa. Via dan Rere tersenyum ria.


Hari ini mereka berdua akan pergi menemani Melisa, sebagai ganti liburan akhir tahun bersama. Bulan Januari adalah bulan kelahiran Melisa, jadi untuk sekarang ini biarkan Melisa yang menentukan mereka akan pergi ke mana!


"Emmm, Mel?" panggil Via, sambil menatap kalung hitam yang Melisa pakai, tapi untuk saat ini Via lebih tertarik untuk membahas baju kaos yang Melisa gunakan!


"Kenapa, ada yang salah, ya?"


"Bukannya ini baju yang dari Gibran itu, kan?"


Melisa menunduk, menatap bajunya. "Yaps. Ini dari Gibran!"


"Are you oke, Mel?"


"Iya." Melisa tersenyum, sama sekali tidak terlihat kesedihan di wajah gadis itu!


"Nona Melisa, bener nggak ini jalannya?" tanya Pak Tomi. Memastikan dia tidak salah jalan.


"Iya, pak, lurus dikit lagi!"


Via dan Rere saling tatap. Bukannya ini jalan ke toko es krim yang pernah Gibran dan Melisa kunjungi saat itu?


Dugaan Via dan Rere benar dan tepat sasaran! Mobil mereka berhenti di parkiran Bora Ice Cream, dan Melisa menyerat mereka untuk cepat masuk ke dalam sana!


"Semuanya masih jelas banget di ingetanku, Gibran!"


Batin Melisa, maniknya menatap ke arah meja yang ia duduki dengan Gibran saat itu, meja itu sudah di tempati oleh dua orang muda-mudi, sepertinya mereka sepasang kekasih!


Melisa memesan es krim yang sama dengan es krim yang Gibran pesan, chocolate chip dan tiga botol minuman soda!


Via dan Rere diam, tak banyak bertanya, mengikuti alur cerita yang ingin Melisa buat!


Melisa mengambil beberapa potret sudut toko, tak lupa mengambil foto bersama dengan Via dan Rere juga.


Setelah itu, Melisa mengajak mereka berdua untuk nonton bioskop dengan pilihan film horor. Tapi sebelum masuk studio, Melisa memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat barang. Sampai langkahnya terhenti di depan toko sepatu, melihat sepatu yang waktu itu Gibran sempat tunjukan padanya, sepatu itu masih terpajang rapi di tempat yang sama!

__ADS_1


"Beli sepatu yuk!" ajak Melisa.


"Mel?" Rere saling melirik dengan Via, sekarang mereka paham apa yang sedang Melisa pikirkan! Semua ini ada sangkut pautnya dengan Gibran!


Karena tergoda, Via dan Rere pun ikut membeli sepatu, walaupun koleksi sepatu mereka sudah cukup banyak di rumah!


Selesai dengan urusan sepatu, mereka pun masuk ke dalam studio, film akan dimulai sebentar lagi! Via membeli popcorn untuk dirinya sendiri dan Rere, tak lupa juga air minum untuk Melisa!


Sepajang film diputar, terlihat Melisa begitu menikmatinya, bahkan sampai film selesai Melisa tak mengeluarkan sepatah kata pun!


"Aku ke kamar mandi dulu, ya?" ucap Melisa, Via dan Rere mengangguk bersamaan, memutuskan untuk menunggu Melisa.


Di dalam kamar mandi, Melisa menatap pantulan wajahnya, tersenyum melihat wajah malang yang lelah menahan gejolak kerinduan itu. Hanya dengan cara ini Melisa bisa mengobatinya! Mengulang kembali setiap kenangan yang pernah mereka ciptakan bersama.


"Selanjutnya kita ke mana?" tanya Via begitu Melisa keluar dari kamar mandi.


"Cosplay jadi orang Jepang!"


"Baiklah, ke manapun Anda membawa kami Nona Melisa, kami ikut saja!"


Via dan Rere masih setia mengikuti langkah Melisa memasuki restoran Shabu-shabu. Mengambil meja paling ujung pojok kiri.


"Vi, aku kalah, aku nggak kuat lagi!" lirih Melisa.


Via menggenggam tangan Melisa, begitu pun dengan Rere.


"Aku pikir dengan berjalannya waktu aku bakal bisa lupain Gibran! Tapi aku salah, semakin hari semakin aku susah buat lupain dia! Semua hal tentang Gibran seolah terus berputar di ingatanku!"


"Terus sekarang gimana, Melisa? Apa perlu aku bawa Gibran ke sini sekarang juga?!"


"Ih, Via! Nggak gitu juga!" Melisa memukul bahu Via yang tersenyum menggodanya.


"Terus gimana, Melisa?"


"Hiks, aku juga nggak tau gimana!"


"Kamu mau apa, Vi?"


"Udah diem aja!"


Rere ikut mengintip apa yang akan Via lakukan dengan Handphone Melisa. Pertama-tama, Via mengambil beberapa foto sudut rumah makan. Setelah itu beralih membuka aplikasi Instagram.


Memilih beberapa foto, yang pertama foto saat di Bora Ice Cream : foto sudut ruangan dan ice cream.


Yang kedua foto saat sedang berada di toko sepatu, kebetulan Melisa mengambil potret sepatu yang akan ia beli.


Yang ketiga, foto saat di dalam studio : memperlihatkan kursi-kursi bioskop yang sudah diduduki beberapa orang.


Yang ke empat, foto sudut ruangan di restoran tempat mereka singgah sekarang. Dan yang terakhir foto Melisa yang sedang berjalan sambil menenteng tas belanjaan dari toko sepatu, foto itu diambil oleh Rere, atas permintaan Melisa.


Setelah mengecek ulang semua foto, Via pun mengetikan caption : Precious memories💫💜


Tanpa menunggu persetujuan Melisa, Via langsung memosting foto-foto itu, tidak butuh waktu lama, banyak notifikasi masuk yang menyukai postingan Melisa, bahkan ada komentar dari akun Fais.


@wargamarsxf_11 GAMON sama siapa, Mel? Sama gue ya? Hahaha🤣


Tangan Via gatal, tak tahan untuk tidak membalas komentar Fais.


@Callmeviy_ Terlalu pede bisa mengurangi umur Anda, Tuan!


@wargamarsxf_11 Diem, lu! Nggak ada yang ngajakin lu ngomong!


@Callmeviy_ Lah kok ngamuk🤣😭


"Vi, apa coba maksudnya?!" tanya Melisa.


"Yang ngerti kode ini cuman Gibran!"

__ADS_1


"Hah?" Melisa berpikir keras setelah mendengar jawaban Via!


"Via..." Melisa berusaha merebut Handphone-nya.


"Husstt, udah, kamu diam aja, Mel! Kita liat aja hasilnya!" Handphone Melisa masih di tangan Via.


Rere merangkul Melisa. "Tenang, Mel. Nggak akan terjadi apa-apa kok, percaya deh. Lagian nggak semua orang paham sama postingan kamu!"


Melisa tak menjawab apapun. Ia sebenarnya tidak keberatan, terserah lah Via mau melakukan apa dengan akun Instagram! Tapi rasanya agak gimana gitu, memosting hal seperti itu! Karena Melisa bukan tipe orang yang suka membagikan tentang diri dan perasaannya!


"Tepat sasaran!" Via melepas Handphone Melisa, lalu beralih memegang sumpit setelah mendapat notifikasi berbunyi : @Lviyndr32 menyukai postingan Anda.


"Kenapa?" tanya Melisa, Rere hanya mengangkat bahunya. Entah, dia juga kurang mengerti dengan apa yang sedang Via rencanakan!


* * * * *


Livi melepas selang air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman di halaman depan begitu melihat mobil Gibran memasuki halaman. Gadis itu berlari kecil menghampiri Gibran!


"Kak Gibran!"


"Kenapa, Livi? Kak Gibran lagi capek, jangan ganggu dulu!"


"Ih, siapa juga yang mau gangguin Kak Gibran!" ketus Livi sembari mengikuti langkah Gibran memasuki rumah. Mereka juga sudah pulang dari pulau XX sejak kemarin.


"Iya terus, Livi mau apa sekarang?"


"Emmm, tunggu bentar, Livi mau nunjukin---" Livi mengambil Handphone nya yang ia letakkan di saku celana, lalu membuka aplikasi Instagram.


"Udah liat ini belum?" Livi memperhatikan layar handphone pada Gibran, yang menunjukkan postingan terbaru Melisa.


"Belum, ini akun Melisa?" Gibran mengambil alih Handphone Livi, memperhatikan dengan seksama sambil berjalan menuju sofa, duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya di sana.


"Kak Gibran faham kan?"


Tidak ada jawaban dari Gibran yang masih sibuk dengan benda pipih di tangannya itu!


"Bora Ice Cream, Chocolate Chip, sepatu ini, studio, restoran shabu-shabu, dan baju ini? Baju yang aku kasih, kan?" gumam Gibran saat mengambil kesimpulan dari setiap foto dalam postingan.


"Momen berharga?" Gibran bergumam lagi saat membaca caption yang tertulis di postingan Melisa. Lalu Gibran menoleh pada Livi.


"Kita sepikiran nggak, Kak?"


"Livi?"


"Iya? Kak Gibran kenapa?"


"Kak Gibran nggak lagi mimpi, kan?"


"Hah? Nggak mimpi kok!"


Plak!


Livi memukul paha Gibran cukup keras. "Sakit, kan?"


Dengan wajah lugu, Gibran mengangguk mengiyakan. "Sakit."


"Itu artinya Kak Melisa masih belum bisa lupain Kak Gibran! Iya nggak sih, Kak?!"


Gibran kembali menatap layar handphone Livi, memperhatikan ulang postingan Instagram Melisa!


"Aku peka kok, Melisa, tenang aja!" Gibran tersenyum, Gibran rasa sekarang dia sudah menemukan jawaban untuk keputusannya terhadap hubungannya dengan Melisa!


Gibran tak henti-henti tersenyum sambil memandang foto Melisa yang sedang menggunakan baju kaos pemberiannya!


"Uh, seneng kan sekarang?!" goda Livi karena Gibran tak kunjung mengalihkan pandangannya dari foto itu!


"Dia masih inget semuanya--" gumam Gibran tak percaya, ia pikir hanya dirinya yang selama ini masih mengingat Melisa! Tapi ternyata Melisa juga masih mengingat kenangan bersamanya?

__ADS_1


Melihat Gibran yang tersenyum bahagia, membuat Livi otomatis tersenyum juga! Sepertinya akan ada kebahagiaan besar selanjutnya! Semoga saja!


__ADS_2