Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Melisa (2)


__ADS_3

Melisa menatap kalender kecil di atas meja belajarnya, seminggu lagi adalah peringatan kematian Tante Felia, seperti setiap tahun sebelumnya Ayah akan pergi mengunjungi makam adiknya, momen di mana semua keluarga besar akan berkumpul lagi, dan setiap tahun juga Melisa ikut datang mengunjungi makam Tante Felia yang terbilang khusus dan istimewa!


Letak makam Tante Felia berada di tengah-tengah makam Kakek dan Nenek. Jika dilihat dari tahun kelahirannya dan tahun wafatnya, Tante Felia wafat di usia muda, jika Melisa hitung, di usia 15 tahun!


Sampai saat ini, Melisa tidak tau pasti apa sebab kepergian Tante Felia, Mama selalu menghindar jika ditanya tentang itu! Jangan harap Ayahnya juga mau memberitahu!


Melisa menyandarkan punggungnya pada kursi belajar, banyak hal tentang keluarganya sendiri yang tidak ia tau, hal itu membuat Melisa kadang merasa seperti orang asing jika berada di tengah-tengah mereka!


"Sampai kapan akan terus seperti ini?" gumam gadis itu. Meskipun akhir-akhir ini Melisa merasa hidupnya jauh lebih baik, tapi tetap saja ada sebuah ruang kosong di dalam dirinya yang tak mampu diisi oleh orang lain, selain keluarga! Mungkin terutama Ayahnya!


Setiap hari Melisa selalu berharap, suatu saat ia bisa memiliki hubungan yang baik dengan Ayah, seperti anak perempuan lain di luar sana! Yang dijaga dan disayangi oleh Ayah mereka!


Harapan itu tetap sama, meski sudah berganti hari, bulan dan tahun belum terwujud juga! Bahkan sampai detik ini! Semua masih sama! Ayah masih bersikap seperti itu padanya! Acuh, tidak peduli dan seolah tidak mau tau apapun tentang Melisa!


"Aku yakin, Ayah punya alasan kenapa Ayah bersikap seperti ini? Tidak mungkin Ayah melakukannya tanpa alasan, kan?" Melisa berusaha menepis semua prasangka buruk tentang Ayahnya. Bagaimana pun darah pria itu ikut mengalir dalam tubuh Melisa!


Melisa meraih Hpnya begitu ada notifikasi pesan masuk. Ia bangkit dari kursi belajar lalu berpindah rebahan di atas kasur!


Ternyata pesan dari Via!


Viaacu :


Mel, jalan-jalan yuk! Pengen makan sama kamu, sama Rere juga! Udah lama kita nggak keluar makan bareng, kan?


^^^Melisa :^^^


^^^Iya sih, terakhir keluar bareng pas liburan kemarin! Kangen juga spend time bareng kalian!^^^


^^^Mau pergi kapan?^^^


Viaacu :


Setengah jam lagi aku jemput!


^^^Melisa :^^^


^^^Gila ya kamu, Vi! Aku belum mandi, belum siap-siap!^^^


Viaacu :


Masih ada waktu setengah jam lagi🤣 Cus mandi!


Ini aku otw jemput Rere!


^^^Melisa :^^^


^^^Minus akhlak emang!^^^


Viaacu :


🤪😚


Melisa yang tadinya ingin bermalas-malasan di atas kasur sambil nonton YouTube langsung bergegas menuju kamar mandi! Ia tidak punya banyak waktu lagi! Jika Via mengatakan setengah jam maka setengah jam kemudian gadis itu pasti akan muncul di kamar Melisa!


Benar saja! Setengah jam kemudian, tepatnya setelah Melisa menyisir rambutnya, pintu rumahnya sudah diketuk ketuk dengan tidak sabaran! Terdengar suara Via dan Rere yang berteriak-teriak memanggil namanya di luar sana!


"Emang ya kalian nggak lulus dalam pelajaran sopan santun!" gerutu Melisa sambil menatap kedua gadis yang hanya cengir tanpa wajah berdosa itu!


"Udah siap kan? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Rere, kedua tanganya memegang bahu Melisa, lalu memutar tubuh Melisa untuk memastikan tidak ada yang kurang!


"Yok, jalan!" Via merangkul Melisa begitu gadis itu selesai menutup pintu rumah, ketiganya berjalan menuju halaman depan, mobil Via terparkir cantik di sana!


"Pantes ngajakin keluar! Ternyata ada yang mau dipamerin!" ucap Melisa sambil menepuk-nepuk mobil hitam yang terlihat sangat kinclong! Mobil baru rupanya!


"Hahaha, jangan banyak omong! Mau cobain mobil baru nggak?" Via melempar kunci mobil pada Melisa. Gadis itu menangkapnya menggunakan tangan kanan.


"Cobain, Re!" Melisa mengoper kunci mobil pada Rere, namun gadis itu malah mengoper balik pada Melisa!


"Udah sih, tadi aku yang bawa ke sini! Sekarang giliran kamu!"

__ADS_1


"Oh gitu ya?" Melisa membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi kemudi, Via duduk di kursi sebelahnya, sedangkan Rere menguasai kursi belakang!


Melisa yang memang dasarnya bisa mengemudi dengan mudah membawa laju mobil keluar dari halaman depan rumah, saat mobil yang Melisa kemudikan keluar gerbang, saat itu juga mobil Ayahnya muncul, keduanya berpapasan!


"Ayahmu, Mel?"


"He'em."


"Dia nggak marah kan kalo kamu nyetir mobil sendiri?"


"Kamu pernah dengar cerita Ayahku marah karena hal yang ada sangkut pautnya sama aku?" ucap Melisa, tatapannya masih fokus pada jalanan di depan.


"Emm, nggak sih. Ya udah lupain aja! Lebih baik kita dengerin lagu, kan?" Via memutar lagu yang sedang trend belakangan ini dengan judul Kala Cinta Menggoda - Chrisye.


Sejak jumpa kita pertama, kulangsung jatuh cinta


Walau kutahu kau ada pemiliknya~


"Tapi 'ku tak dapat membohongi hati nurani! Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini!" Suara Rere mengalahkan volume lagu yang Via putar!


"Maka izinkanlah aku, mencintaimu! Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu!" Teriak Via dan Rere.


Maka izinkanlah aku, mencintaimu. Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu.


Jemari Melisa mengetuk pelan kemudi, menikmati lantunan lagu yang sedikit rusak gara-gara bercampur dengan suara Cempreng Via dan Rere!


Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta. Apalagi aku juga ada pemiliknya.


"Tapi 'ku tak mampu membohongi hati nurani! Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini!" Teriak Via sekuat tenaga!


Maka maafkan jika aku, mencintaimu! Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku.


Maka maafkan jika aku mencintaimu! Atau biarkan 'ku mengharap kau sayang padaku.


(Lorone loro Ora koyo wong kang nandang wuyung. Mangan ra doyan. Ra jenak dolan, nang ngomah bingung)


Sejak jumpa kita pertama, kulangsung jatuh cinta


Walau kutahu kau ada pemiliknya~


Maka izinkanlah aku, mencintaimu! Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu.


Maka izinkanlah aku, mencintaimu! Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu.


Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta! Apalagi aku juga ada pemiliknya.


Tapi 'ku tak mampu membohongi hati nurani! Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini.


Maka maafkan jika aku mencintaimu! Atau biarkan 'ku mengharap kau sayang padaku.


Maka maafkan jika aku mencintaimu! Atau biarkan 'ku mengharap kau sayang padaku.


Melisa hanya menggeleng pelan, sekarang gendang telinganya dibully oleh suara Rere dan Via!


"Kemana nih?" tanya Melisa disela konser dadakan kedua sahabatnya!


"Makan dulu!"


"Ya mau makan di mana?"


"Ayam Square!"


Melisa tersenyum saat mengingat kalau tempat itu menjadi tempat pertemuan pertama (yang direncanakan) dengan Gibran!


Ngomong-ngomong tentang Gibran, bagaimana kabar pria itu, ya?


Padahal baru 4 hari nggak ketemu, baru setengah hari nggak dikabarin. Dasar Melisa!


"Eh, Mel. Bukannya waktu itu kamu sama Om Gibran makan di sini juga kan?" tanya Rere.

__ADS_1


"Iya, di sini!" Melisa mencabut kunci mobil, membuka sabuk pengaman lalu menoleh ke kursi belakang. "Kenapa?"


"Kenapa nggak ajak dia gabung sekarang?" tanya Rere.


"Nggak, aku mau sama kalian hari ini, nggak ada orang lain, selain kita!"


"Oh, cocuittt!" ucap Via sambil mencubit pipi Melisa cukup keras!


"Sakit, ih!"


"Hehehehe, maaf, maaf!"


"Ya udah, ayok turun! Mau sampai kapan diem di mobil terus?!"


"Yakin nggak mau diajak, Mel?!"


"Yakin, seratus persen!"


"Hahaha ya udah!" Ketiga gadis itu masuk dan duduk di meja pojok kanan, mereka menghabiskan waktu bersama, mendengar cerita via dengan brondong barunya!


"Eh tunggu dulu, aku masih punya pertanyaan lagi!" ucap Rere disela-sela makan!


"Pertanyaan apa?" sahut Via!


"Pertanyaan buat Melisa!" Rere menatap Melisa yang juga menatapnya.


"Buat aku?"


"Yaps! Jadi, gimana perasaanmu sekarang ke Om Gibran?"


"Perasaan yang seperti apa?" Melisa balik bertanya dengan wajah polosnya.


"Ya kalo lagi di dekat dia tuh gimana rasanya!"


"Nyaman." Singkat padat dan jelas!


"Nggak deg-degan?" tanya Via.


"Deg-degan lah! Apalagi kalo diliatin terus!"


"Khemm, terus gimana kalo suatu saat nanti Om Gibran ngilang tanpa kabar?"


Melisa berhenti mengunyah makanannya sesaat. Menatap Rere dan Via berganti. "Nggak tau, sih!"


"Nggak sedih?"


"Nggak tau, nggak pernah ngebayangin hal itu!" jawab Melisa.


"Itu artinya kamu berharap dong, kalo dia selalu ada di sisimu?" Rere membuat kesimpulan sendiri.


"Nggak tau gimana ke depannya, tapi untuk saat ini bisa dibilang gitu!"


Via dan Rere saling menatap. Memang ya ngomong sama orang yang awam dalam bab cinta butuh kesabaran penuh!


"Kalian beneran cuman mau temenan aja?" tanya Via, masih ingin mengulik lebih dalam lagi perasaan Melisa!


"Nggak tau, jalanin aja, nggak mau berharap lebih! Nggak mau kecewa sama harapan sendiri lagi!"


"Kalo seandainya Om Gibran nyatain perasaan, gimana? Bakal ditolak, atau?"


"Menurutmu?" ucap Melisa.


"Fix sih, kamu udah jatuh sama dia! Cuman kamu gengsi aja, kan?!" Kini Via mengambil keputusan!


"Bukan gengsi, cuman nggak mau naruh harapan aja! Supaya nggak ada kata kecewa!"


"Aku setuju sih!" sahut Rere.


"Kalo bisa mencegah, kenapa harus mencari sumber kecewa sendiri?!"

__ADS_1


"Yaps, karena sering kali yang membuat kita kecewa adalah harapan kita sendiri! Dan ekspektasi yang terlalu tinggi pada seseorang!"


Rere dan Via mengangguk paham. Jadi kesimpulannya, Melisa suka, cuman nggak mau berharap lebih aja?! Gitu nggak sih?!


__ADS_2