Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Camping (4)


__ADS_3

"Melisaaaa...." Willy berteriak sambil sedikit berlari ke arah Melisa, Via dan Rere. Membuat ketiga gadis itu saling menatap kebingungan. Bukannya tadi Willy berjalan di belakang mereka? Kenapa sekarang udah sampai di tenda saja?


"Loh, Wil?" Fais menoleh ke belakang, pria itu seketika diam seribu bahasa karena tidak ada siapapun di belakangnya, padahal tadi ia masih melihat temen-temen kelas dan beberapa alumni berjalan tepat di belakangnya dan Chandra.


Dengan napas tersengal-sengal, Willy sedikit membungkuk lalu menatap mereka berlima.


"Kalian ke mana aja?"


"Ke air terjun, kan, bukanya tadi kamu ke sana juga?" jawab Via sambil menatap aneh ke arah Willy yang kini malah ikut kebingungan.


"Air terjun apa?!"


"Loh." Chandra ikut bingung saat melihat Romi, Pak Bastian dan beberapa panitia lain malah berlari menghampiri mereka.


"Kok, kalian---" Chandra dan Fais menoleh secara bersamaan ke belakang, tapi tetap aja tidak ada siapapun di belakang mereka.


"Kalian nggak apa-apa?" tanya Pak Bastian panik.


Rere hanya mengangguk pelan, ia tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini pada mereka.


"Anter mereka ke tenda, nanti sebelum pulang kita gelar doa bersama!" tegas Pak Bastian. Rere, Via dan Melisa yang meresa sangat lelah memutuskan untuk nurut dan kembali ke tenda. Tanpa banyak bertanya.


"Lo dari mana aja, Chan?" tanya Romi pada Chandra yang kebingungan.


"Ini jam berapa?"


Chandra melirik ke arah jam tangannya, pukul setengah empat sore, yang benar saja?


"Kalian ke mana aja tadi?!" kini Willy yang bertanya pada Fais.


Fais menatap Chandra yang tak kalah bingungnya.


"Tadi, kita semua kan pergi ke air terjun, lo juga ada di sana kan, Rom?!"


"Air terjun apa? Gue nggak pernah ke mana-mana! Yang ada ya, dari jam 6 pagi, kita semua di sini sibuk nyariin kalian berlima!!"


"Ya, lagi pula nggak ada air terjun di sini!" tegas Willy.


"Ada, Will. Orang jelas-jelas tadi Lo juga mandi di sana!" ucap Fais tak mau kalah.


"Coba mana tunjukin jalannya ke gue!"


Fais dan Chandra berbalik menunjukkan jalan yang baru saja mereka lalui, tapi nihil, hanya terlihat jalan setapak yang marah mengarah ke arah dalam hutan.

__ADS_1


"Fix sih ini, ada yang nggak beres sama nih tempat!" gumam Willy.


"Terus itu Melisa kenapa?" tanya Romi.


"Kepeleset tadi sampai keseleo, untuk ada rombongan lain yang bantuin di sana!"


"Rombongan lain?" Willy saling melirik dengan Tomi.


"Chan, rombongan kita satu-satunya rombongan yang masih di dalam sini, yang lain udah lepas tenda dari jam 9 tadi!"


"Otak gue nggak bisa mikir lagi!" Fais menyerah, dengan langkah pelan ia kembali ke tenda dan memilih untuk berganti pakaian saja.


Sementara itu para siswi sedang berkumpul mengelilingi tenda Melisa, mereka terlihat begitu panik, khawatir, dan juga lega saat Melisa, Rere dan Via balik ke tenda.


Megan, salah satu temen kelas mereka datang membawakan tiga kelas teh hangat dan beberapa potong roti tawar.


"Minum dulu, biar tubuh kalian hangat."


Megan sendiri sempat bingung saat mendengar penjelasan Kak Tomi dan Willy tadi, sebenarnya mereka semua penasaran apa yang terjadi pada kelima orang ini, kemana saja mereka sejak tadi pagi?


Tapi melihat kondisi mereka yang kelelahan, Megan memutuskan untuk tidak menanyakan apapun sekarang!


"Abis ini, kita kumpul sebentar ya buat doa bersama, terus bongkar tenda dan pulang!"


Setelah doa bersama selesai, mereka pun membongkar tenda dan membersihkan area sekitar. Tepat pukul 5 sore, semua peserta camping sudah keluar dari area Hutan Pinus XXXX, para panitia melakukan absen terlebih dahulu sebelum masuk bus dan setelah di dalam bus, bahkan selama perjalanan pulang, Pak Bastian terus mengecek semua peserta dan memastikan semuanya lengkap, tidak kurang satu orang pun!


Saat di perjalanan pulang, Rere sempat menelpon Tante Tania, mengabarkan kalau mereka akan sampai sekitar jam tujuh malam, agar Tante Tania bisa menjemput Melisa ke sekolah. Tak lupa juga, Rere menelpon orangtuanya dan orangtua Via. Meminta agar mereka segera mengirim jemputan ke sekolah.


Via menatap Handphone Melisa yang terus berdering, ada panggilan masuk dari Gibran, Livi, Arkan, Mama dan Papa Melisa secara bergantian. Melisa yang tertidur pulas tak menyadari akan hal itu.


Sampai panggilan masuk kembali datang dari Gibran. Via menjawabnya.


"Hallo, Melisaaaa, sayang? Kamu baik-baik aja, kan?"


"Em, ini, Via. Melisa lagi tidur--"


"Via, Melisa kenapa? Dia baik-baik aja, kan?"


"Iya, sekarang lagi istirahat."


"Kalian di mana?"


"Masih di perjalanan, sekitar setengah jam lagi nyampe."

__ADS_1


"Melisa udah kabarin Pak Tio buat jemput?"


"Tadi udah ditelponin sama Rere, katanya Om Felix yang bakal jemput Melisa."


Terdengar Gibran menghembuskan napas lega.


"Ya udah, titip Melisa ya, sampai ketemu di sekolah!"


Gibran memutuskan sambungan telepon secara sepihak, membuat dahi Via berkerut, "Sampai ketemu di sekolah?"


Sementara itu, dia bagian kursi belakang, Fais memutuskan untuk tidur saja, menghindari pertanyaan yang sama yang membuat ia hampir muak menjawabnya.


"Kalian ke mana? Kalian ke mana?!"


Padahal Fais sendiri sudah menjawab, kalau mereka semua pergi ke air terjun, sesuai dengan apa yang benar-benar Fais alami, seolah tak puas dengan jawaban Fais, mereka kembali bertanya, dan terus bertanya ke mana Fais pergi?!


Sampai tiba-tiba, Sandi, siswa yang sekelas dengan Fais angkat suara. "Ini terserah kalian ya, mau percaya atau nggak, tapi apa yang Fais jawab itu emang bener, mereka berlima emang pergi ke air terjun!"


"Tapi kan nggak ada air terjun di sana, San!" bantah Willy.


"Oke, kalau emang nggak ada air terjun, kenapa pas mereka balik, baju mereka semua basah?"


Mereka seketika diam, benar apa yang Sandi katakan, kalau memang tidak ada air terjun, kenapa saat ke-lima orang itu balik, baju mereka dalam keadaan basah?


"Aku nggak maksa kalian buat percaya, terserah kalian, tapi menurut penglihatanku, mereka emang pergi ke air terjun itu. Tapi, air terjun itu bukanlah air terjun yang ada di dunia kita, melainkan di dunia lain," jelas Sandi.


"Maksudnya? Kayak dunia ghaib gitu?"


"Yaps, dunia yang nggak bisa diliat oleh semua orang. Itu kenapa, Kak Chandra sempat bingung masalah jam, menurut mereka, mereka di sana dari jam setengah tujuh pagi sampai sekitar jam sembilanan, tapi di dunia nyata, mereka hilang dari jam enam pagi sampai setengah empat sore, kan?"


"Terus, kenapa bisa mereka ngira gue juga ikut ke sana?" tanya Willy.


"Ya mungkin di penglihatan mereka, kita semua ikut ke sana. Tapi sebenarnya itu bukan kita, melainkan makhluk lain yang menyerupai kita!"


"Sumpah sih, kalo gue jadi mereka, gue bakal ikut kebingungan juga!" sahut yang lainnya.


"Tadi aku sempat nanya ke penjaga di sana, kejadian kayak gini emang sering terjadi, tapi udah hampir 3 tahun belakangan ini nggak pernah lagi, dan kejadian tadilah yang pertama kalinya setelah terjeda selama tiga tahun!"


"Terus, katanya mereka ini orang-orang sangat beruntung, karena korban-korban sebelum mereka menghilang selama berhari-hari, bahkan ada yang sampai seminggu lebih!" lanjut Sandi menjelaskan.


"Emang mereka habis ngapain? Ada pelanggaran kah?"


"Nggak ada!" tegas Sandi. "Mereka nggak ngelakuin pelanggaran apapun, lebih tepatnya mereka memang diundang atau diajak untuk berkunjung ke sana!"

__ADS_1


Willy mengangguk pelan, mungkin ada yang akan percaya dan tidak dengan penjelasan Sandi, tapi Willy pribadi percaya, kalau hal-hal seperti itu ada, hanya saja mereka tidak bisa melihatnya.


__ADS_2