
Chandra dan rombongan alumni yang lain langsung bergegas mendekati bus, begitu bus tersebut berhenti di area parkiran sekolah. Tanpa basa-basi, Chandra langsung naik saat pintu bus baru saja terbuka, untuk mengecek keadaan Melisa.
"Yang lain duduk dulu, kasih jalan! Chandra, sini!!" ucap Pak Bastian.
"Kenapa, Pak?"
"Bawa Melisa turun!"
"Melisa?" Chandra bergegas menghampiri kursi Melisa.
"Kak---" Via menutup minyak kayu putih yang ia gunakan untuk menyadarkan Melisa, tapi gadis itu tak kunjung sadarkan diri juga.
"Badannya panas banget," gumam Chandra. Lantas Chandra mengangkat tubuh Melisa, membawa Melisa turun dari bus terlebih dahulu.
Gibran dan Tuan Felix yang sudah menunggu sejak tadi langsung berdiri begitu melihat orang yang dia tunggu sedang dalam gendongan seorang pria.
"Melisa?" Tuan Felix dan Gibran secara bersamaan menghampiri Chandra yang baru turun dari bus.
"Mel---" Tatapan Gibran dan Chandra bertemu di saat itu juga, tapi seolah tak ingin berdebat, Chandra mengalihkan pandangannya dan membawa Melisa menuju kursi panjang yang ada di parkiran terlebih dahulu.
Namun, karena Melisa tak kunjung sadarkan diri, Tuan Felix memutuskan langsung membawa Melisa ke rumah sakit agar cepat mendapatkan pertolongan.
"Biar aku saja!" ucap Gibran saat Chandra hendak kembali menggendong Melisa. Chandra pun mengangguk pelan dan mundur dua langkah, memberikan jalan untuk Gibran.
"Om, Via ikut ya---"
"Jangan, biar Om sama Gibran yang bawa Melisa, kalian pulang dan istirahat saja."
"Gibran, kabarin kita ya nanti!!" pinta Rere sebelum akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Tuan Felix meninggalkan area parkiran sekolah, sementara semua barang Melisa dibawa oleh Pak Tio menggunakan mobil Gibran.
"Dia siapa?" Batin Chandra saat wajah Gibran terlintas di pikirannya, terlebih lagi, pria itu terlihat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Melisa dan Ayahnya.
...****************...
...Rumah sakit kota....
Gibran mondar-mandir di depan ruang rawat, ia terus menatap ke arah dalam ruangan, di mana bisa diliat dengan jelas, dokter sedang memeriksa keadaan Melisa di dalam sana.
Tak berbeda dengan Gibran, Tuan Felix pun nampak tidak tenang, kadang ia berdiri dan kembali duduk setelah melihat ke arah ruang rawat.
"Dok--" Gibran langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar ruangan.
"Gimana keadaannya?"
Dokter menjelaskan kalau Melisa kecapean dan butuh istirahat yang banyak, Dokter juga sudah memberikan obat penurun demam sebelumnya.
Tuan Felix dan Gibran sedikit lega setelah mendengar penjelasan itu, setidaknya tidak hal yang serius yang terjadi pada Melisa.
"Saya boleh ikut masuk?" tanya Gibran pada Tuan Felix. Tampak Tuan Felix diam beberapa saat, sebelum akhirnya memperbolehkan Gibran untuk masuk ke dalam ruang rawat Melisa.
Gibran menatap lekat wajah pucat Melisa, tangan kanannya menyentuh kening gadis itu, demamnya memang sudah sedikit turun. Kini tangan Gibran beralih menyentuh tangan Melisa yang terpasang infus di punggung tangannya, digenggamnya tangan itu dengan pelan.
__ADS_1
Gibran tak mengucapkan sepatah kata apapun, ia hanya memperhatikan Melisa yang masih terpejam, sampai Mama Tania datang setelah Tuan Felix mengabarkannya tentang keadaan Melisa.
"Gibran, kamu masih di sini?" ucap Tania saat mendapati Gibran masih duduk di samping ranjang rawat Melisa, bahkan tangan pria itu masih menggenggam tangan Melisa.
"Saya hanya ingin menemani Melisa," jawab Gibran pelan.
Tania menghembuskan napas pelan, sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Gibran pasti lelah dan butuh istirahat juga, kan?
"Kamu istirahat aja, biar saya yang temenin Melisa, besok kamu harus kerja juga, kan?"
Dengan berat hati, Gibran melepaskan genggaman tanganya. Ditatapnya lekat-lekat wajah Melisa, lalu Gibran menundukkan kepalanya, mengecup kening Melisa sembari berkata lirih. "Istirahat ya, Sayang, aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi, good night, Manis!"
Setelah itu, Gibran ikut pamit pada Ayah dan Mama Melisa, Tuan Felix memang masih terlihat sedikit kaku, berbeda dengan Tania yang membuka tangan lebar-lebar untuk menyambut kehadiran Gibran.
"Hati-hati ya," ucap Tuan Felix sambil menepuk pundak Gibran, dibalas senyuman dan anggukan pelan oleh Gibran.
...****************...
Hesti berdiri begitu melihat Gibran pulang, dengan raut khawatir wanita itu mendekati putranya yang terlihat begitu kelelahan.
"Dari mana aja? Kamu udah makan?"
Gibran menggeleng.
"Ya udah, ganti baju ya, Mama siapin makan malam buat kamu."
"Thanks, Ma." Gibran mengecup pipi Hesti sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Gibran---" panggil Hesti sembari membuka pintu kamar.
Sosok Gibran sudah terbaring di atas kasurnya masih dengan pakaian yang sama.
"Anak yang satu ini!"
Hesti mendekat, ia mencoba untuk membangunkan Gibran.
"Gibran, makan malam dulu, Nak. Mama udah siapin makan malam buat kamu! Gibran....."
"Iya, Ma. Bentar."
Hesti mengelus punggung Gibran, sedikit memberikan pijatan pelan pada kedua pundaknya. "Ayo bangun dulu, ganti baju, biar nyaman kamunya."
"Iya, Ma."
"Jangan iya iya terus, Gibran!"
"Hmmm."
Dengan mata mengantuk Gibran akhirnya bangun, ia mencoba tersenyum di atas wajah lelahnya.
"Ganti baju dulu, Mama tungguin di meja makan!"
__ADS_1
Karena memang merasa lapar dan harus makan, Gibran pun melangkah menuju kamar mandi untuk sedikit membilas tubuhnya, lalu berganti pakaian dan turun ke lantai dasar, menemui Mama di meja makan.
"Ayo duduk, makan!"
"Mama udah makan?"
"Udah tadi. Gimana kerjaannya? Lancar?"
"Lancar, Ma. Aman."
"Tumben telat pulang," tanya Hesti sambil menatap Gibran yang sedang mengunyah makanannya.
"Ke rumah sakit dulu tadi."
"Siapa yang sakit?"
"Melisa."
"Melisa?"
"Emm, itu, namanya Melisa."
"Melisa, namanya cantik, seperti wajahnya."
Gibran mengerutkan alisnya. Seolah bertanya, Mama pernah ketemu Melisa??
"Mama liat di postingan Instagram kamu, udah, jangan heran gitu!"
Gibran tersenyum tipis, ia sampai lupa kalau Mama selalu punya cara untuk memantaunya.
"Ma."
"Iya?"
"Kalo seandainya Mama nggak setuju dengan Melisa, Gibran nggak tau harus gimana, Gibran nggak mau kalo sampai gadis yang Gibran cintai nggak dapet dukungan dari Mama atau Papa!"
"Gimana Mama mau tentuin, Mama setuju atau nggak, kamu aja sampai sekarang belum kenalin dia ke Mama!"
Gibran menghela nafas pelan. "Belum nemu waktu yang tepat, Ma."
"Iya-iya, Mama ngerti kok. Tapi Mama minta secepatnya, ya."
"Iya, Ma. Nanti Gibran usahain."
"Mama boleh tanya sesuatu tentang Melisa?"
"Em, boleh, Ma. Mau tanya apa???"
"Kesibukan dia apa? Kerja? Kuliah atau apa?"
Gibran diam sejenak, ia mengambil gelas berisi air putih, meneguk seperempat isi gelas. Lalu pria itu menarik napas pelan, bagaimana pun ini adalah sebuah fakta yang memang harus Gibran katakan.
__ADS_1
"Melisa sekarang masih kelas dua belas, Ma. Dia Kakak kelas Livi."