Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Kesalahan Rozi


__ADS_3

Tepat pukul 18.44 Gibran sampai di apartemennya. Sehabis mengantar Melisa, ia sempat mampir ke minimarket untuk membeli kebutuhan hidup untuk beberapa minggu ke depan. Seperti stok mie kuah dan mie goreng, telur, minuman kaleng, camilan dan beberapa barang lain seperti sabun mandi, sampo, dan pasta gigi.


Saat Gibran masuk ke dalam apartemen, lampu apartemen masih belum menyala, begitu pula dengan lampu di dapur.


Gibran meletakkan keresek belanjaannya di atas meja makan. Lalu melangkah menuju kamar Rozi. Kosong, tidak ada siapapun di sana!


Lalu Gibran mengeluarkan Handphone-nya. Menghubungi Rozi. Tapi anehnya, nada dering Rozi malah terdengar dari atas kasur, pria itu meninggalkan Handphone-nya di sana!


Tak selang berapa lama setelah Gibran merapikan belanjaan ke tempat masing-masing, pintu apartemen pun terbuka, Rozi masuk sambil membawa keresek belanjaan dari minimarket juga!


"Kirain lu belum pulang!" Rozi menarik kursi makan, mendudukkan tubuhnya di sana.


"Baru aja nyampe!"


"Owh..."


"Gimana perasaan lu sekarang? Udah mendingan? Udah bisa kan ceritain ke gue ada masalah apa?" Gibran ikut duduk bersebelahan dengan Rozi. Gibran membukakan sekaleng minuman soda untuk pria yang masih berpenampilan seperti orang yang telah ditelantarkan itu!


"Ini kesalahan terbesar gue! Gue udah kelewatan kali ini!" gumam Rozi. Gibran mengerutkan keningnya, bingung, sebenernya apa yang terjadi? Apa yang dia lewatkan selama ini?


"Berantem lagi sama nyokap bokap?"


Rozi menggeleng.


"Fatal banget sih!"

__ADS_1


"Iya fatalnya di mana?"


Rozi memijat pangkal hidupnya. Lalu menatap Gibran dengan penuh rasa penyesalan.


"Liana hamil anak gue!"


"Hamil?" Gibran menggeleng pasrah, dia sudah memperingati Rozi tentang hal ini setiap tahun ke tahun, tapi lihatlah, kejadian juga kan?! Bahkan sekarang dengan gadis yang baru Rozi pacari dua bulan yang lalu!


"Gue juga nggak nyangka kalo bakal gini! Liana baru ngasih kabar kemarin sore, gue juga udah liat sendiri hasil tesnya! Sekarang gue bingung harus apa? Liana juga nggak mau gugurin kandungannya!"


"G0blok lu, Zi! Lu pikir Liana bakal hidup tenang setelah ngelakuin hal itu? Jalan satu-satunya lu harus tanggung jawab! Bukannya malah mau lepas tanggung jawab kayak gini!"


"Masalahnya, gue nggak bisa nikahin Liana!"


"Gue harus bilang apa nanti ke Margaretha? Gue juga nggak mungkin ninggalin dia begitu aja, gue sama udah 5 tahun!"


"Asal lu tau, gue selama ini udah sering kasih peringatan, tapi lu nggak pernah gubris kan? Jadi sekarang gue mohon, denger saran gue, nikahin Liana, dan jelasin baik-baik semuanya ke Margaretha!"


Rozi mengacak rambutnya. Yaps, ini full kesalahannya, Rozi yang menerima cinta tulus yang Liana bawa, tapi bukan karena Rozi mencintai Liana juga!


Rozi hanya butuh pengganti Margaretha di sisinya, setelah hampir satu tahun LDR dengan kekasihnya yang berprofesi sebagai model majalah itu! Rozi butuh seseorang yang bisa memenuhi hasratnya seperti yang selalu Margaretha lakukan selama ini!


"Gue belum siap jadi ayah!" lirih Rozi. Jangakan jadi Ayah, jadi seorang suami pun ia belum siap!


"Terus lu mau gimana sekarang? Mau nunggu sampai perut Liana besar? Hmm? Lagipula, orangtua lu juga nggak pernah setuju kan lu sama Margaretha?!"

__ADS_1


"Terus menurut lu, mereka bakal setuju gue sama Liana?!"


Gibran mengangkat bahunya. Menurutnya Liana adalah gadis yang baik, hanya saja si bhajingan Rozi ini yang sudah merusaknya!!


"Pikirin lagi saran gue, kalo setuju, nanti gue bantu ngurus berkas nikahnya!"


Gibran meninggalkan meja makan, mendengar kabar yang baru saja Rozi sampaikan membuat kepalanya langsung pusing tujuh keliling!


"Itu bukan cinta, itu hanya nafshu semata!" gumam Gibran dengan mata yang terpejam. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, seharian menghabiskan waktu dengan Melisa membuatnya sedikit lelah, ditambah lagi setelah mendengar pernyataan dari Rozi! Lelah dan pusing menjadi satu!


Sementara itu, Rozi masih duduk di meja makan, seharian ini Rozi tidak fokus melakukan apapun! Bahkan panggilan dan chat dari Margaretha saja tak pernah ia gubris, pikiran Rozi bercampur aduk jadi satu!


Padahal baru beberapa minggu yang lalu Rozi dan Margaretha bertemu dan melepas rindu, tapi liat sekarang apa yang Rozi lakukan? Seolah Rozi sendiri yang menbuat penghalang baru lagi di antara mereka, selain restu orangtua Rozi!


"Maaf, seharusnya kamu nggak punya seorang Ayah sepertiku!" lirih pria itu.


Ya, bagaimana pun anak itu adalah darah dagingnya, Rozi bertanggungjawab atas kehidupan janin tak berdosa itu. Rozi juga bertanggungjawab atas apa yang telah ia lakukan pada Liana. Tapi kenapa sulit sekali untuk mengatakan dan menjelaskan hal ini pada Margaretha? Rozi harus mengatakan apa wanita itu?


Pria itu mengatur pernapasannya, rasa sesak yang entah datang darimana mana memenuhi dada! Sekarang ini dia benar-benar dihadapankan dengan dua pilihan : Liana dan janinnya atau Margaretha dengan semua pengorbanannya selama 5 tahun ini?


"Jika boleh, aku mau dua-duanya! Aku mau anakku dan aku juga mau Margaretha tetap ada di sisiku!"


Keinginan yang sangat egois bukan?


Pria itu menyanggah kepalanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam erat kaleng soda di atas meja. "Maafin aku, Liana. Maafin aku, Margaretha!"

__ADS_1


__ADS_2