Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Liburan (2)


__ADS_3

Yang Melisa tunggu-tunggu akhirnya terkabul juga. Tadi malam setelah makan malam Ayah menyuruh Melisa untuk siap-siap karena mereka akan pergi berlibur, menghabiskan akhir tahun di pulau XX.


"Terimakasih, Yah!" satu kecupan jatuh di pipi Tuan Felix. Si pelakunya sudah berlari menaiki tangga.


Apapun, asalkan kamu bahagia!


Felix akan menuruti semua keinginan Melisa, asalkan Melisa bahagia! Ingin menebus semua kebahagiaan yang seharusnya sudah ia berikan sejak dulu pada anak perempuannya!


Maaf Ayah sangat telat menyadari kalau kamu adalah obat dari segala ketakutan Ayah.


*******


Livi menyeret kopernya menuju teras depan, lalu disusul oleh Gibran yang menyeret koper milik Mamanya. Rencananya mereka sekeluarga akan liburan akhir tahun!


"Livi nggak sabar mau cepet-cepet sampai sana!" seru Livi penuh semangat, pasalnya ini adalah keinginan Livi untuk pergi ke pulau XX. Katanya banyak wisata dan kuliner yang tidak akan pernah membuat pengunjung kecewa!


"Sabar ya." Gibran menepuk-nepuk pucuk kepala Livi. "Udah nggak ada yang ketinggalan kan, Livi, Mama?"


"Nggak ada." Sahut keduanya.


"Ya udah berangkat!"


Tuan Yohan, Papa Gibran pun ikut serta masuk ke dalam mobil.


Coba Rozi belum nikah, pasti dia bakal ikut sekarang.


Batin Gibran.


Sejak Rozi menikah, pria itu jadi jarang keluar rumah, pulang dari kantor langsung balik ke rumah, kalo ada libur pun pasti akan tetap diam di rumah, terlebih lagi Liana sedang ngidam sekarang.


Rozi junior. Kamu sehat-sehat ya di dalam sana. Jangan buat Papa sama Mama kamu khawatir.


Batin Gibran.


*******


Pulau XX.


Setelah menempuh perjalanan udara, darat dan laut, akhirnya rombongan keluarga Melisa sampai juga di tujuan dengan aman dan selamat. Kecuali Arkan yang mabuk perjalanan! Maklum anak rumahan, jarang keluar jalan-jalan!


"Sini, biar Ayah yang bawa!" Tuan Felix mengambil alih koper Melisa. Padahal sudah ada dua ART yang akan siap sedia membawa barang-barang mereka!


"Kak, pusing!" Arkan bergelayut manja menggandeng tangan Melisa selama berjalan menuju Villa.


"Sabar-sabar sebentar lagi sampe!"


Villa Aela.


"Erlan tidur sama Kak Arkan ya?!" ucap Tania. Mereka mengambil sebuah Villa tingkat dua, dengan empat kamar, dua kamar di bawah dan atas.


"Mau sama Kak Melisa." Erlan menatap Ayahnya, dengan raut wajah memohon.


"Nggak bisa dong, Sayang. Kak Melisa kan cewek, dia butuh privasi loh..." Jelas Tania.


"Erlan sama Kakak ya?" bujuk Arkan.


"Nanti Kak Arkan beliin deh semua yang Erlan mau!" imbuh Arkan sedikit berbisik.


"Ya udah, Erlan sama Kak Arkan aja!"


"Pinter." Tania mengusap rambut Erlan.


"Melisa?"


"Iya, Yah?"


"Mau kamar atas atau bawah?"


"Bawah aja, Yah, supaya bisa nemenin Arkan sama Erlan!"


"Ya udah, Ayah sama Mama ke atas dulu, mau rapiin barang-barang, sekalian istirahat sebentar!"


"Iya, Yah. Emmm, Ayah?"


"Kenapa?" Tuan Felix menghentikan langkahnya menaiki tangga.


"Melisa boleh keluar jalan-jalan?"


"Boleh-boleh, ajak Mbak Tuti biar ada yang nemenin!"


"Iya, Yah, terimakasih!"


Melisa memanggil Mbak Tuti, mengajaknya untuk jalan-jalan di sekitar Villa.


"Non Melisa mau kemana?" tanya salah seorang pria, yang entah Melisa tidak tau siapa dia, terlihat sangat asing!


"Saya mau jalan-jalan di sekitar sini."


"Perlu saya temanin, Non?"


"Emmm, udah ada mbak Tuti kok."


"Ya udah, saya liatin aja dari sini, ya?"


"Ha? iya-iya!"


Melisa menyeret tangan Mbak Tuti menjauhi pria tadi.


"Jangan takut Non, dia suruhan Ayah Non Melisa, buat jagain Non Melisa selama di sini!" jelas Mbak Tuti.

__ADS_1


"Harus ya dia ikutin Melisa?"


"Udah tugasnya, Non."


"Huh." Melisa menghela nafas panjang, sebenarnya agak risih sih, ya tapi mau bagaimana lagi!


"Temenin ke pantai yuk!"


Mbak Tuti hanya pasrah saat Melisa menarik tangannya, mengikuti kemanapun Melisa.


*******


Hembusan angin pantai menerpa wajah Livi, gadis itu merentangkan tangannya, memejamkan mata, berusaha menikmati suasana.


Sampai tiba-tiba---


Brukkk


Seseorang tak sengaja menabrak tubuh Livi hingga mereka berdua terjatuh di atas pasir.


"Emmm, maaf, maaf." Arkan bangkit, menepuk telapak tangannya yang kotor lalu tangan itu terulur ke arah Livi yang masih mematung menatap Arkan.


"Hei? Kamu nggak apa-apa?"


"Eng-enggak." Livi menyambut uluran tangan Arkan yang membantunya untuk berdiri.


"Nggak ada yang sakit kan?" tanya Arkan.


Livi menggeleng, gadis itu membersihkan pasir-pasir yang menempel di lengan dan tangannya.


"Kak Arkan! Sini!" teriak seorang bocah yang sedang memegang bola pantai.


"Ya, tunggu Kakak ke sana!"


Arkan menatap Livi. "Sekali lagi maaf."


"Iya."


Dilihatnya punggung Arkan yang berlalu menghampiri bocah tadi, keduanya terlihat begitu asik bermain lempar bola di pinggir pantai, bahkan tak terusik saat hempasan ombak membasahi celana hitamnya.


"Woy!" Gibran menepuk pundak Livi sampai Livi terperanjat kaget.


"Kak Gibraaaan!" Livi meninju Gibran saking keselnya. "Bikin orang kaget aja!"


"Lagian kamu kenapa ngelamun di sini! Mama capek tuh nungguin dari tadi!"


"Hehehehe maaf, maaf, keasikan liat cogan!"


"Cogan?" Gibran mengedarkan pandangannya mencari sosok cogan yang Livi maksud.


"Cogan siapa? Temen kamu?" tanya Gibran sembari menyusul langkah kecil Livi.


"Astaga, cogan itu singkatan dari Cowok Ganteng!"


"Ih, pede nya nggak ketulungan!"


"Hahaha biarin, emang fakta kok! Kalo nggak Gibran tampan rupawan!"


Gibran memperbaiki kerah kemeja putihnya. Membiarkan tiga kancing atas terbuka begitu saja.


"Astaga..."


Livi hanya menggeleng melihat tingkah Kakaknya. Ini dah efek kelamaan jomlo, jadi kayak gini!


Sejenak, Livi menoleh mencari keberadaan orang yang menabraknya tadi, tapi sayang, dia sudah tidak bermain bola lagi di sana.


Hihihi, see you next time, ganteng.


* * * *


"Melisa, dari mana aja?" tanya Tania pada Melisa yang baru pulang bersama dengan Mbak Tuti yang membawa dua kresek hitam.


"Tadi jalan-jalan di sekitar pantai, Ma."


"Terus ini?" Tania menunjuk keresek hitam di tangan Mbak Tuti.


"Hehehehe itu isinya karang Ma."


"Astaga, terus mau kamu apain, Mel?"


"Nggak ada, mau Melisa taruh di aquariumnya Emon."


Tania menggeleng pelan. Ada saja tingkah anaknya satu ini!


"Oh ya, nanti malam ada acara makan malam sama temen-temen Ayah, kamu mau ikut?"


"Arkan sama Erlan ikut nggak, Ma?"


"Mereka ikut."


"Emm, emang Ayah bilang apa? Melisa harus ikut ya?"


"Nggak, Sayang, kalo kamu nggak mau ikut juga nggak apa-apa."


"Kalo gitu Melisa nggak ikut ya, Ma?"


"Iya, Sayang. Tapi nanti kalo kamu keluar Villa harus sama Mbak Tuti ya, atau nggak sama Jefri!"


"Jefri?"

__ADS_1


"Iya, tuh orangnya...." Tania menunjuk pria asing yang menyapa Melisa tadi.


"Owh... Iya, Ma."


"Ya udah Mama mau cari Arkan sama Erlan dulu, mereka kalo udah main suka lupa waktu!"


"Mau Melisa temenin, Ma?"


"Kamu istirahat aja, kan baru pulang juga."


"Nggak apa-apa, Melisa nggak capek kok, Ma. Ayo, Melisa temenin!"


Tania menggandeng tangan Melisa saat berjalan menuju pantai. Jefri berjalan mengawasi di belakang mereka.


* * * *


"Ayo, Sayang. Tadi katanya terserah Melisa mau ikut atau nggak!" ucap Tania pada Felix yang masih berat untuk meninggalkan Villa.


"Nggak apa-apa, Melisa aman, ada Mbak Tuti, ada Jefri juga!" imbuh Tania yang faham akan kekhawatiran Felix.


Setelah merasa yakin, Felix pun meninggalkan Villa menuju salah satu restoran di pinggir pantai. Arkan dan Erlan memang diharuskan untuk ikut. Agar keduanya terbiasa bertemu dengan rekan bisnis atau teman-teman Ayahnya.


Sementara di Villa, Melisa menghampiri Mbak Tuti yang sedang membereskan baju kotor Arkan dan Erlan.


"Mbak, temenin Melisa yuk. Pengen makan sate, nih!" rengek Melisa. Padahal tanpa merengek pun Mbak Tuti pasti akan menemaninya!


"Ayo, Non Mbak temenin."


Melisa tersenyum lantas merangkul Mbak Tuti yang lebih tinggi darinya.


Jefri menunduk saat Melisa lewat di depannya, lalu tanpa di minta pria itu mengikuti langkah Melisa dan Mbak Tuti!


Malam itu suasana di pinggir pantai sangat lah ramai, sampai Melisa pasrah dan meminta Mbak Tuti saja yang memesankan satenya! Melisa minta dipesankan tiga porsi, satu untuknya, satu untuk Mbak Tuti dan satu lagi untuk Jefri, walau Jefri dan Mbak Tuti sempat menolak! Tapi tetap saja, Melisa tidak menerima penolakan!


"Emm, aku manggil apa nih, Mas, Bang, Kak, atau apa?" tanya Melisa pada Jefri yang berdiri di sampingnya. Pria itu menggunakan kemeja hitam lengan pendek yang dipadukan dengan celana hitam panjang, persis seperti orang yang akan pergi melayat! Kurang kacamata dan payung hitam saja!


"Jefri saja, Nona."


"Huh, ya udah Jefri, kamu duduk aja, sini, jangan berdiri kayak patung di sana! Emang nggak capek aja? Nggak pegel tuh kaki?!"


"Nggak, Nona Melisa aja yang duduk."


"Astaga." Melisa menarik tangan Jefri, membuat pria itu duduk di kursi sebelahnya.


"Kamu nggak ada kerjaan lain apa, sampai harus ngikutin aku?"


"Saya dibayar buat jagain Nona Melisa selama di sini."


"Emm, emang aku kenapa ya sampai harus dijagain?" gumam Melisa.


"Nona kan cantik, pasti banyak yang mau nyulik."


"Hush, lain-lain aja!"


Jefri hanya tersenyum tipis.


"Ini daging sapi atau kambing?" tanya Jefri saat Mbak Tuti meletakkan sepiring sate dan 5 biji lontong untuk Jefri.


"Bentar, aku cicipin." Melisa melahap satu tusuk sate. Kunyah, kunyah, kunyah.


"Ini kambing kan, Mbak?" tanya Melisa memastikan pada Mbak Tuti.


"Iya, Non."


"Saya alergi daging kambing," ucap Jefri.


"Hedeh, pakek acara alergi segala! Ada yang daging sapi nggak, Mbak?"


"Udah habis, Non. Yang ada sate usus ayam sama daging kambing aja!"


"Alergi usus ayam juga?" tanya Melisa. Jefri menggeleng.


"Kalo gitu aku pesenin ya!"


"Jangan, Nona!" Jefri menahan tangan Melisa, meminta Melisa untuk kembali duduk.


"Biar saya yang pesen sendiri!"


Malam itu mereka menghabiskan waktu di pinggir pantai dengan menyantap sate lontong, sate kambing milik Jefri tadi di habiskan oleh Melisa!


Awalnya Jefri pikir orang seperti Melisa tidak akan menyukai makan seperti ini, ternyata dia salah menilai gadis itu!


"Nona, ayo pulang, Tuan Felix sudah menunggu Anda di Villa!"


"Yah... Ya udah ayo pulang!"


Dengan sangat terpaksa Melisa akhirnya pulang ke Villa. Dia membawakan permen kapas untuk Arkan dan Erlan.


* * * *


"Kak Gibran? Nyariin siapa?!" tanya Livi pada Gibran yang celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang!


"Apa aku salah liat ya tadi?" gumam Gibran yang seperti melihat Melisa di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.


"Liat apa Kak?" Livi mengeratkan pegangannya pada lengan Gibran. Takut kakaknya melihat hal yang tidak-tidak!


"Nggak ada, lupain aja!"


Gibran melangkah menjauhi kerumunan, ia memperhatikan setiap orang yang berpapasan dengannya, berharap bisa menemukan sosok yang mirip Melisa tadi!

__ADS_1


Apa aku salah liat ya? Mungkin ini efek terlalu kangen deh sama Melisa!


Batin Gibran.


__ADS_2