Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Suprise (1)


__ADS_3

Pukul : 14. 42


Melisa, Rere dan Via sudah sampai di Mall tempat mereka akan menonton film, sesuai dengan keinginan Via.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, ketiganya langsung memasuki bioskop, duduk di kursi mereka masing-masing.


"Vi, ini cuman kita bertiga doang yang nonton?" tanya Melisa, karena tidak ada orang lain lagi selain mereka bertiga!


"Iya, kebetulan cuman kita bertiga."


Lampu bioskop yang tadinya menyala mati seketika, dan layar besar di depan mereka pun mulai menyala. Melisa memperbaiki posisi duduknya, agar bisa menyimak dengan baik film yang akan diputar.


"Loh----" Melisa menatap Rere dan Via begitu mendengar irama musik mellow dan foto masa kecilnya mulai terlihat di layar.


10 Januari....


Gadis pemilik senyum manis dan wajah cantik ini dilahirkan. Dia tumbuh menjadi gadis yang kuat, pantang menyerah dan putus asa. Selalu bersabar dan menerima semua takdir hidupnya.


*Dia memiliki hati seluas samudra...


Memaafkan kesalahan orang-orang di sekitarnya*.


Dia memang bukanlah gadis yang sempurna. Tapi dia teman, sahabat, dan sosok kakak yang tebaik yang pernah ada.


Untuk gadis cantik dan tangguh ini....


Selamat ulang tahun. Semoga dengan bertambahnya usia ini menjadikan dia : gadis yang jauh lebih baik, lebih kuat, lebih sabar dan lebih cuantikk lagi, tentunya😚🖤


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini....


Terimakasih sudah menemani dan membersamai sampai saat ini...


Sekali lagi, Happy Birthday, Melisaaaaa, kesayangan kita semuaaaa<3


Melisa menyeka air matanya, tak kuat menahan perasaan haru yang bergejolak di dada. Ia langsung mendekap tubuh Rere dan Via, menangis sejadi-jadinya.


"Happy Birthday, Mel... Tetap jadi Melisa yang aku kenal, ya. Melisa yang kuat, Melisa yang baik hati, Melisa yang selalu ada kapan pun aku butuh pelukannya, terimakasih untuk semuanya, Mel... Terimakasih karena selalu menjadi pendengar yang baik selama ini...." Via tak kuasa untuk menahan tangisnya, akhirnya ia ikut larut juga.


"Hiks, happy birthday, Melisaaaa... aku---, aku bingung mau ngomong apa... Hua....." Rere tak kalah dramatis.


"Terimakasih juga buat kalian berdua.... Terimakasih banyak untuk semua waktu yang udah kita habiskan bersama!" Melisa menyeka air matanya, jika tidak dihentikan, bisa-bisanya mereka akan terus menangis sampai berjam-jam!


Via dan Rere ikut menyeka air mata mereka. "Hiks, belum habis, masih ada lagi!!"


"Ada lagi??" gumam Melisa.


Entah, Melisa tidak tau sejak kapan Gibran dan Livi berdiri di belakang mereka, dengan posisi Gibran membawa sebuah kue berwarna hitam dengan cream putih bertuliskan "Happy Birthday, Melisaa."


"Happy Birthday To You.... Happy Birthday To You.. Happy Birthday... Happy Birthday... Happy Birthday To You...."


"Happy Birthday, Sayang..." ucap Gibran penuh senyuman.


"Happy Birthday, Kak Melisa..." sahut Livi tak kalah dengan senyuman Gibran.


Melisa membalik tubuhnya, mengusap air mata yang kembali berjatuhan.


"Mell... Kenapa?" panggil Gibran lembut.


"Nangis dia!" Ejek Via, membuat Melisa langsung mencubit lengannya.


"Mana, coba liat---" Gibran menyentuh lengan Melisa pelan. Sampai gadis itu berhadapan dan menatapnya.


"Jangan ketawa!!" kesal Melisa melihat Gibran yang malah menahan tawa.


"Siapa yang ketawa, Sayang! Aku nggak ketawa! Orang cantik kayak gini, masak mau diketawain!" ucap Gibran sembari merapikan rambut Melisa menggunakan tangan kanannya. Kue yang tadinya Gibran pegang beralih ke tangan Rere.


Melisa mencubit perut Gibran pelan. Saking kesalnya.


"Happy Birthday ya, cantikku..." Gibran mengecup kening Melisa, lalu memeluk gadis itu.


"Khemmm, khemmmm, kita masih di sini loh, Kak!" sindir Livi dengan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


Gibran tersenyum tanpa dosa, melepas pelukannya lalu memberikan jalan untuk Livi.


"Happy Birthday Kak Melisaaaa." Tak jauh berbeda dengan sang Kakak, Livi langsung memeluk Melisa, bahkan lebih lama lagi dari Gibran.


"Kalian kok bisa ada di sini juga?" tanya Melisa.


Gibran menggeleng lalu mengangkat bahunya. Begitu pula dengan Rere, Via dan Livi. Seolah mereka tidak mau mengaku kalau mereka semua sudah berkerja sama sebelumnya!


"Ermmm... Gimana kalo kita lanjut ke agenda berikutnya?" ucap Via, dibalas anggukan kepala oleh Rere, Livi dan Gibran.


"Agenda apa?" tanya Melisa kebingungan.


"Emmm... rahasia!" Livi menggandeng lengan Melisa, mengajak Melisa meninggalkan bioskop.


"Kuenya?"


"Udah, biar aku aja yang bawa!" tegas Rere.


"Terimakasih ya, Re."


"Udah nggak apa-apa, sante aja."


"Emm, permisi dulu... Boleh kita tutup matanya, Nona?" tanya Via.


Gibran menutup mata Melisa menggunakan kain hitam setelah gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Kita mau ke mana?"


"Susttt... ikut aja, ya, Kak."


Langkah Melisa dan Livi terhenti tepat di depan pintu ruangan pribadi di sebuah restoran yang masih berada di lantai tiga.


"Livi?" Melisa meraba sekitar ketika Livi tiba-tiba melepaskan tangannya.


"Liv? Kamu di mana? Via? Rere? Kalian ke mana?"


Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam jemari Melisa. Dan Melisa tau jelas itu tangan siapa!


"Gibran? Kita mau ke mana?"


"Aku buka ya ikatannya? Satu, dua, tiga----"


"Taraaaa.... Suprise....."


Melisa terpaku di tempat, menatap sekelilingnya yang sudah di dekor dengan tema hitam putih, sesuai dengan warna kesukaannya. Bahkan banyak balon hitam dan putih yang bergeletakan di lantai, sofa dan di atas meja makan. Ada kue dua tingkat, sebuah buket cokelat, buket uang pecahan lima puluhan dan tumpukan kado juga di atas meja.


"Ya Tuhan...." lirih Melisa sambil menatap lekat-lekat Rere, Via dan Livi yang tersenyum ke arahnya.


"Suka?" tanya Rere.


"Suka bangettttttt... Makasih ya...."


"Eitss, jangan nangis lagi!" Via menggeleng sembari menyeka butiran bening yang sudah menetes di pipi kanan Melisa.


"Harus senyum... nggak boleh nangis lagi, Kak!"


Melisa mengangguk, berusaha untuk menahan air mata.


"Cantik banget, aku nggak tega buat motongnya!" ucap Melisa ketika melihat kedua kue di hadapannya.


"Ya udah, nggak usah dipotong, Mel. Nggak apa-apa, di simpen aja!" ucap Via.


"Ish, nggak gitu juga, Vi!"


"Kamu suka? Besok kita beli lagi yak?" ucap Gibran sembari mengusap pelan rambut Melisa.


Dengan berat hati Melisa memotong kue yang Gibran bawa, dan sekarang gadis itu malah kebingungan pada siapakah ia akan memberikan potongan pertamanya?!


"Khemmm... Kalo mau kasih ke Om Gibran duluan juga nggak apa-apa kok, Mel!" Rere memberi kode. Disusul anggukan kepala Via.


Melisa memberikan potongan pertamanya itu pada Gibran yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Suapin!" ucap Gibran tidak menerima penolakan.


Melisa tersenyum kikuk, ia mengambil sendok kue, menyuapi Gibran dan tidak berani melirik ke arah Via atau pun Rere. Sedangkan Gibran full senyum karena Melisa menuruti keinginannya.


"Aku mau disuapin juga dong, Mell!" Rengek Via saat Melisa memberikan potongan keduanya.


"Aku juga mau disuapin!" sahut Rere.


"Hehehehe, Livi juga mau!!!"


Agar adil, Melisa menyuapi ketiganya secara bergantian. Mereka mengambil beberapa foto untuk mengabdikan momen berharga tersebut, sebenarnya sudah banyak foto dan video dari sebelum Melisa masuk ke dalam ruangan.


Mereka melanjutkan agenda dengan makanan-makanan bersama, dengan menu spesial kesukaan mereka masing-masing, bebas pesan, semua Gibran yang bayar!


* * * * * *


Gibran sebenarnya sangat ingin menghantar Melisa pulang, namun Melisa menolak dan meminta Gibran untuk langsung pulang bersama Livi saja. Lagi pula Pak Tio sudah menjemput Melisa!


"Sekali lagi, terimakasih banyak ya buat kejutannya." ucap Melisa pada Livi dan Gibran. Rere dan Via sudah pamit duluan.


"Iya, sama-sama, Sayang...."


Livi menyenggol Gibran. Mengingatkan kalau mereka sedang di parkiran.


"Ya udah, kalo gitu aku masuk ya. Kamu hati-hati bawa mobilnya!"


"Iya, Sayangku!" ucap Gibran yang tidak peduli situasi dan kondisi.


"Livi, terimakasih buat kadonya!"


"Sama-sama, Kak Melisa." Livi memeluk Melisa terlebih dahulu, baru membiarkan Melisa masuk ke dalam mobilnya.


"Dah, Kak. Hati-hati di jalan!"


Gibran menatap sang adik yang malah ikut bucin dengan kekasihnya.


"Apa?" ucap Livi yang sadar akan tatapan sang Kakak.


"Livi, kamu gitu ya sekarang?! Mau jadi saingannya Kak Gibran?!"


"Apaan sih, Kak! Kak Melisa juga kan Kakak kelasnya Livi! Bukan pacarnya Kak Gibran aja!!"


Livi memutar bola mata malas, dia tidak akan menang jika berdebat tentang Melisa dengan Gibran yang tidak mau kalah!


Tapi diam-diam Livi tersenyum saat melihat postingan terbaru Gibran, kakak tersayangnya itu memposting beberapa foto bersama Melisa, foto di slide terakhir adalah foto pertama mereka saat di bukit cinta dengan caption : Happy Birthday, Manis🥳❤️


"Duh, alamat bakal diserang sama Mama lagi nih!"


Batin Livi saat melihat Mamanya ternyata juga menyukai postingan Gibran, dan bahkan sekarang membalas story Instragram Livi yang berisikan foto Livi dan Melisa dengan keterangan "Pibesde Kak Melll🥳💜"


@Hestiyuandra77 :


Pacarnya Kak Gibran ulang tahun?


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Euni melempar Handphone-nya setelah melihat postingan terbaru Gibran. Dengan penuh kekesalan ia terus mengatai-ngatai Gibran, yang menurutnya sok tampan dan sok jual mahal!


"Aku bersumpah, aku nggak akan mati dengan tenang, sebelum aku liat kamu dan gadis yang kamu sukai itu menderita!"


__ADS_2