Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Suprise (02)


__ADS_3

Pukul 17. 57


Melisa mengembuskan napas pelan saat turun dari mobil, ia baru ingat kalau Mama dan Ayahnya sekarang masih di luar kota, bahkan Arkan mungkin akan pulang malam, karena ada latihan tambahan, katanya.


"Pak Tio udah jemput Erlan, kan?" tanya Melisa sebelum masuk ke rumah utama.


"Udah, Non."


"Astaga, berarti dari tadi siang Erlan sendirian di rumah?!"


Melisa yang merasa bersalah langsung bergegas masuk ke dalam rumah utama, namun saat Melisa membuka pintu ----


Dor


Potongan kertas krep aneka warna jatuh tepat dari atas kepala Melisa. Dan betapa terkejutnya Melisa saat Melihat Ayah, Mama, Arkan, Erlan, Om Noah, Istri dan dua sepupu laki-lakinya berdiri di hadapannya.


"Kejutan!!!"


Teriak mereka.


Melisa masih mematung di tempat, matanya berkaca-kaca saat memandang semua orang yang ada di hadapannya.


Bahkan di saat Arkan mulai menyanyikan lagu happy birthday untuknya, Melisa sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, ia terharu. Sangat terharu.


Melisa sama sekali tidak pernah membayangkan hal akan seperti ini terjadi sebelumnya, Ayah yang katanya ada urusan penting di luar kota ternyata sekarang ada di hadapannya, memegang sebuah kue ulang tahun untuknya.


"Happy Birthday, Sayang--" satu kecupan hangat itu mendarat di kening Melisa, membuat gadis itu terpejam sejenak. Melisa akan mengingat momen berharga ini, ya momen berharga, di mana semua orang berkumpul untuk merayakan hari ulang tahunnya.


Tuan Felix memeluk Melisa erat, rindu setelah beberapa hari jauh dari gadis itu, suasana haru semain tercipta ketika Om Noah berdiri berhadapan dengan Melisa, ia menatap lekat gadis di hadapannya.


Sosok Melisa selalu mengingatkannya pada mendiang adiknya, Felia. Dipeluknya tubuh Melisa cukup lama, seolah menjadi obat kerinduan atas sosok adik yang sudah lama pergi dari pandangannya.

__ADS_1


Ada sedikit perasaan canggung pada diri Melisa, karena tidak pernah ia dapati perlakuan seperti ini sebelumnya dari Om Noah. Namun lepas dari itu, Melisa benar-benar bahagia karena kehadiran Om Noah di hari ulang tahunnya.


"Happy Birthday, Sayang--" Mama tidak mau ketinggalan, dipeluk dan dikecupnya kedua pipi dan kening Melisa. Tak pernah Melisa dapati dirinya di posisi seperti malam ini, di mana ia merasa semua orang sangat amat menyayangi dirinya.


Di meja makan sudah tersedia beraneka macam hidangan kesukaan Melisa, meja di ruang keluarga pun sudah dipenuhi oleh kado-kado yang entah dari siapa kado sebanyak itu.


Melisa benar-benar larut, menikmati setiap momen bersama ini, bahkan untuk beranjak dan balik ke kamarnya untuk beristirahat saja tak sudi rasanya. Melisa ingin terus berada di tengah-tengah orang-orang yang terlihat begitu menyayanginya. Melisa hanya ingin menuntaskan dahaganya akan sebuah kasih sayang yang selama ini tak dia dapatkan. Melisa berharap, agar malam ini lebih panjang dari malam biasa.


...****************...


Pagi harinya saat hendak berangkat sekolah, Melisa dikejutkan oleh penampakan mobil baru di halaman utama, dan yang lebih mengejutkan lagi, mobil berwarna putih itu ternyata hadiah ulang tahun dari Ayah untuknya. Benar-benar sebuah kejutan yang membuat Melisa tak henti-hentinya merasa bahagia.


Sedangkan Om Noah memberikan Melisa sebuah laptop berwarna hitam, sebenarnya laptop itu adalah laptop yang ingin Melisa beli bulan lalu, namun karena Melisa masih ragu karena harganya, akhirnya Melisa menunda untuk membeli laptop itu sampai ia masuk universitas nantinya.


Melisa rasa ini adalah awal dari hari yang bahagia.


Di lain sisi. Gibran yang baru saja mendapatkan email baru dari seseorang langsung menyandarkan punggung. Sekali lagi ia membaca nama pengirim dengan lebih hati-hati dan teliti.


Tanpa pikir panjang lagi, Gibran tentunya langsung mengiyakan undangan itu. Gibran yakin betul, ini bukan hanya sekedar acara makan malam seperti yang ia bayangkan, pasti ada alasan kuat di balik acara makan malam ini, pasti ada sesuatu hal yang ingin Tuan Felix bicarakan dengannya?


"Apa aku tanya Melisa aja ya?" Gibran sempat berpikir untuk menanyakan perihal hal makan malam itu pada Melisa, namun pada akhirnya, Gibran mengurungkan niatnya karena Tuan Felix baru saja mengirim email baru, agar Gibran tidak mengatakan hal apapun pada Melisa perihal acara makan malam tersebut.


Sejenak Gibran memejamkan matanya, memantapkan hati, bahwa apapun yang akan terjadi nanti, ia akan tetap memperjuangkan perasaannya pada Melisa. Apapun resikonya!


...****************...


Melisa menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya, ternyata Livi. Gadis itu berjalan cepat mendekati Melisa dengan sebuah bingkisan di tangan kanannya.


"Happy Birthday Kak Melisa..." Livi menyerahkan bingkisan yang ia pegang tadi pada Melisa, tentunya saja diterima dengan senyuman manis oleh Melisa.


"Emmm, terimakasih banyak Livi--"

__ADS_1


"Eh tapi yang ini bukan dari Livi, Kak!" ucap Livi memotong perkataan Melisa.


"Em, terus kalo bukan dari Livi, dari siapa?"


"Itu dari Mama, Mama yang nitipin buat Kak Melisa!"


Melisa yang mendengar jawaban Livi pun langsung diam seketika, antara senang, gugup, dan panik, bercampur jadi satu.


Livi meraih tangan kiri Melisa, menatap Melisa lekat. "Kak Mell, nanti kalo Kak Melisa ada waktu luang, main-main ya ke rumah, Mama pengen banget ketemu sama Kak Melisa."


Melisa tersenyum kaku.


"I-iya, kapan-kapan Kak Melisa main ke sana. Ti-titip salam ya buat--"


"Mama," celetuk Livi.


"Em, iya, titip salam buat Mama, terimakasih banyak buat kadonya."


"Iya, Kak, nanti Livi sampein." Livi memeluk Melisa beberapa detik, sebelum akhirnya gadis itu meninggalkan Melisa yang masih mematung di tempat.


"Kok Gibran nggak ada ngomong tentang ini ya ke aku?" gumam Melisa, karena seingat Melisa, Gibran belum pernah mengatakan kalau keluarganya sudah tau tentang hubungan mereka, kecuali Livi.


Berbeda dengan keluarga Melisa yang sudah mengetahui kedekatannya dengan sosok Gibran Yuandara.


...****************...


Yang sebenarnya terjadi adalah, selang satu jam setelah Livi pulang dari mall, setelah merayakan ulang tahun Melisa. Mama langsung masuk ke kamar Livi, mengunci pintu kamar dan langsung menyerang Livi dengan pertanyaan seputar kekasih Gibran. Livi yang sudah masuk perangkap dan tidak ada celah untuk menghindar pun terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan Mamanya, tapi beberapa pertanyaan ada yang Livi tidak jawab, karena Livi merasa itu bukanlah haknya, seharusnya Kak Gibranlah yang mengatakan hal itu pada Mama.


Bahkan Gibran sendiri belum tau kalo sang adik sudah membocorkan tentang hubungannya dengan Melisa pada Mama.


Satu hal yang masih membuat Gibran ragu mengenalkan Melisa pada sang Mama, takut Hesti tidak bisa menerima kehadiran Melisa dalam hidup Gibran, secara Gibran dan Melisa terpaut usia yang cukup jauh dan posisi Melisa masih seorang gadis SMA.

__ADS_1


__ADS_2