Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Beban


__ADS_3

Melisa langsung mengeluarkan handphonenya begitu guru meninggalkan kelas, bel pulang sudah terdengar sejak 5 menit yang lalu.


"Kenapa, Mel?" tanya Rere melihat wajah Melisa yang terlihat begitu gelisah.


Melisa diam tak menjawab apapun, hanya fokus pada layar Handphonenya sembari mengetik pesan untuk Gibran. Entah kenapa, Melisa tak bisa berhenti memikirkan Livi, perasaan tak karuan setiap wajah Livi terlintas di pikirannya sepanjang jam pelajaran tadi.


"Please, online, Gibran...." Lirih Melisa, karena tak biasanya Gibran lama membalas pesan darinya.


"Kenapa, Mel?" Via ikut bertanya.


"Nggak apa-apa." Melisa kembali memasukkan Handphonenya ke dalam saku seragam, lalu mengajak Rere dan Via untuk segera ke luar dari kelas.


"Mell, kalau ada apa-apa, tetap cerita ke kita ya!" Rere memeluk Melisa sebelum masuk ke dalam mobilnya, begitu pun dengan Via.


"Iya, kalian tenang aja, semuanya baik-baik saja, kok!"


Sementara itu, rentetan pesan terus masuk ke WhatsApp Gibran, di mana Handphone pribadi Gibran tertinggal di dalam laci meja kerjanya karena Gibran terburu-buru saat hendak menuju rumah sakit sampai lupa kalau ia meninggalkan Handphone-nya di sana.


Perasaan Melisa makin tak karuan karena Gibran yang tak kunjung membalas pesannya, tapi di lain sisi Melisa mencoba berpikir positif, mungkin Gibran masih banyak pekerjaan atau masih dalam ruang rapat?


Namun belum semenit Melisa merasa sedikit tenang, story WhatsApp Livi langsung membuatnya terdiam. Di mana Livi memasukkan foto punggung tangan seorang pria yang terpasang selang infus. Dengan caption, "Get well soon, Pa🤲🏻🥺"


^^^Melisa :^^^


^^^Get Well soon to your father 🤲🏻^^^


Livi :


Kak Mel🥺


^^^Melisa :^^^


^^^Livi yang sabar ya. Doa yang banyak buat Papa Livi, Kak Melisa yakin, Papa Livi orang yang kuat🙌🏻^^^


Livi :


Terimakasih Kak🙌🏻🥺🤍


Kak Melisaaa, Hp Kak Gibran ketinggalan di kantor.


^^^Melisa :^^^


^^^Kembali kasih Livi ☺️^^^


^^^Iya, terimakasih juga buat informasinya.^^^


^^^Sekarang Kak Gibrannya mana?^^^


Livi :


Lagi keluar, Kak. Beli makan siang buat Mama.


^^^Melisa :^^^


^^^Emang Livi udah makan?^^^


Livi :

__ADS_1


Belum hehehe


Buat Livi juga sekalian, gitu maksudnya.


Kalo Kak Melisa?


^^^Melisa :^^^


^^^Kirain bukan buat Livi juga.^^^


^^^Ini, bentar lagi mau makan.^^^


^^^Emm, Livi?^^^


Livi :


Iya, Kak kenapa?


^^^Melisa :^^^


^^^Nggak apa-apa Liv^^^


^^^Ya udah Kak Melisa mau makan dulu, ya. Kamu jangan lupa makan. Titip salam buat Kak Gibran.^^^


...****************...


Melisa langsung meletakkan handphonenya setelah pesan itu terkirim, tadinya Melisa berniat bertanya pada Livi, bolehkah dia datang menjenguk Papa Livi?


Tapi Melisa mengurungkan niatnya, lebih baik ia bicarakan hal itu dengan Gibran saja, pikirnya.


"Gibran?" gumam Melisa saat membaca nama pemanggil, gadis itu berdiri dari duduknya, berjalan keluar dari gedung.


"Hallo?"


"Iya?"


"Lagi di mana?"


"Lagi nemenin Arkan latihan. Emmm, gimana keadaan Papamu?"


Gibran diam sejenak.


"Kondisi Papa sekarang udah lebih baik. Tapi---"


"Tapi?"


"Papa udah nyerahin semua tanggungjawab perusahaan ke aku, karena Papa nggak mungkin bisa ngurusin perusahaan lagi dengan kondisi seperti sekarang ini."


"Beban berat ya bagimu?"


"Sangat. Maksudku, dengan keadaan seperti sekarang ini, aku nggak punya banyak waktu untuk kamu, Sayang."


"Aku nggak apa-apa. Jangan khawatirin aku, aku bisa ngerti kok."


"I miss you." lirih Gibran.


"I miss you too."

__ADS_1


"Nanti aku telpon lagi ya?"


"Iya."


"I love you, bye, Sayang."


"Bye."


Melisa menghembuskan napas pelan. Tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Gibran, tapi sayangnya waktu tidak berpihak pada mereka, mungkin sekarang Gibran masih sibuk dengan segala pekerjaan dan urusannya, belum lagi harus mengurus perusahaan yang dibebankan kepadanya.


Sebagai seorang pasangan, Melisa mencoba mengerti dengan kondisi dan keadaan Gibran sekarang.


"Hufsss, semoga dia kuat."


...****************...


Hari terus berlanjut, Gibran dan Melisa sama-sama sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Kadang untuk saling bertukar kabar saja, sedikit sulit, tidak seperti biasanya. Saat Gibran mempunyai waktu luang, Melisanya masih di sekolah. Begitu pun sebaliknya, saat Melisa ada waktu luang, Gibran yang malah sedang berkecamuk dengan segala pekerjaannya.


Keduanya banyak menghabiskan waktu bersama di malam hari, melalui sambungan telepon. Tak jarang juga Melisa ditinggal tidur karena Gibran yang kelelahan. Walaupun begitu, itu sudah cukup sebagai pengobatan rindu di antara mereka.


"Woi, Mell, ngelamunin apa sih?!" Via yang tiba-tiba datang langsung merangkul Melisa yang sedang melamun di depan pintu kelas.


"Nggak apa-apa. Ayo, katanya mau beli perlengkapan camping tadi?"


"Iya, ayo. Rere udah nungguin dari tadi!"


Keduanya pun berjalan menuju parkiran sekolah, sesuai rencana mereka akan membeli beberapa barang yang akan dibawa pada acara camping nanti.


Selama perjalanan, Melisa lebih banyak diam dan menyimak percakapan di antara Via dan Rere, hingga membuat kedua temannya itu diam dan kini malah menatap curiga padanya.


"Mell... Are you oke?" tanya Rere.


"I'm oke."


"Yakin?"


"Iya."


Bukanya percaya, Via dan Rere malah semakin curiga kalau ada sesuatu yang membebani pikiran Melisa.


Sementara itu, sejak dua hari yang lalu, Tuan Yohan sudah dibolehkan untuk pulang dari rumah sakit, sehingga membuat Gibran dan Livi merasa sedikit lega, begitu pun dengan Mama yang bisa lebih leluasa menemani suaminya.


"Kak Gibran belum pulang?" tanya Hesti pada Livi yang membawakan secangkir air putih untuknya.


"Belum, Ma. Livi perhatiin Kak Gibran selalu kecapekan sekarang, kasian."


Hesti hanya bisa menghembuskan napas pelan mendengar ucapan Livi, bukan ia tidak sadar akan kondisi Gibran, tapi mau bagaimana lagi, Gibran lah satu-satunya harapan yang ada. Tapi di satu sisi, Hesti merasa kasian pada Gibran, karena Hesti tau persis seberat apa beban yang Gibran tanggung sekarang.


"Ya udah, nanti kalo Kak Gibran pulang, kasih tau Mama ya?"


"Iya, Ma."


"Oh ya, Livi?!"


Livi yang sudah berbalik badan pun kembali memutar badannya menghadap sang Mama. "Iya, Ma, kenapa?"


"Mama boleh minta nomer pacar Kak Gibran, nggak?"

__ADS_1


__ADS_2