
Pak Tio yang sudah dalam posisi siaga tak tinggal diam saja, ia langsung menghubungi dua orang kepercayaannya juga untuk mengawasi mobil yang sampai kini masih terparkir di depan restoran tempat Nona Melisa dan kedua sahabatnya sedang makan siang. Seolah tak ingin memberikan kesempatan apapun, Pak Tio pun memutuskan untuk masuk ke dalam restoran, agar ia bisa langsung mengawasi Melisa dari dekat.
Melisa yang menyadari akan hal itu pun sempat diam sejenak, menatap ke arah Pak Tio yang duduk tak jauh dari meja mereka, ternyata bukan hanya Melisa, melainkan Via dan Rere juga.
"Mel, kayaknya ada yang aneh deh sama Pak Tio!" bisik Via.
"Em, sebenarnya setelah kejadian di camping kemarin, Ayah udah minta Pak Tio untuk lebih berhati-hati, jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi!" jelas Melisa, jadi ia pikir wajar saja sekarang jika Pak Tio mengawasi mereka sedekat ini, Pak Tio tidak salah, karena ia hanya menjalankan tugas dan perintah dari Ayahnya.
Setelah selesai dengan acara makan siang dan membicarakan beberapa hal, ketiga gadis itu pun memutuskan untuk pulang. Via dan Rere ikut dengan Melisa, karena memang keduanya sudah meminta sopir mereka untuk pulang terlebih dahulu.
Selama perjalanan, Melisa meresa ada yang aneh dengan tingkah Pak Tio, pria yang memiliki usia lebih muda dari Ayahnya itu tidak seperti biasanya, raut wajahnya terlihat begitu serius, dengan tatapan tajam dan fokus tanpa pernah mengeluarkan sepatah apapun. Karena tanpa Melisa sadari, sebuah mobil putih terus mengikuti mobil mereka sejak tadi.
****
Euni terus mengikuti mobil yang dimasuki oleh Melisa dan kedua temennya, sampai mobil itu masuk ke sebuah perumahan, untuk menghindari kecurigaan, Euni memutuskan menunggu di luar, tepat di pinggir jalan sebelum gapura perumahan dan tak berselang lama, mobil itu keluar dan melaju lagi ke arah timur, dari jarak yang cukup aman, Euni masih mengikuti seperti orang yang tidak punya kerjaan.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah yang berada di penghujung jalan, suasana di sekitarnya tampak sepi juga.
"Apa ini rumahnya?" gumam Euni sambil terus menatap mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan di depannya, Euni yakin betul kalau mobil itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang dimasuki Melisa, bahkan Euni semakin yakin setelah memperhatikan plat mobil!
"Ya, ini pasti rumahnya!" Euni membuka sabuk pengamannya, ia turun dari mobil, berpura-pura seperti orang yang sedang mencari alamat, semakin lama, ia semakin mendekat ke arah rumah yang ia duga sebagai rumah Melisa, sampai tiba-tiba---
"Emmmm, le---" Orang suruhan Pak Tio menutup mulut Euni menggunakan sebuah sapu tangan yang sebelumnya sudah ia berikan obat bius, sampai Euni pingsan di tangannya.
"Bawa dia masuk!"
Tanpa basa-basi lagi, dua pria yang sudah Pak Tio hubungi sebelumnya langsung membawa Euni masuk ke dalam rumah, menidurkan wanita itu di sofa panjang, lalu tas dan semua barang Euni diserahkan pada Pak Tio.
Di dalam tas yang Euni bawa, Pak Tio menemukan dua buah Handphone, yang keduanya langsung diretas untuk mendapatkan informasi penting tentang siapa sebenarnya wanita ini, di dalam tas itu juga ada 3 lipstik, satu bedak, sebuah handset, tidak ada barang mencurigakan apapun di dalam tasnya. Tapi seolah tidak puas, Pak Tio memutuskan untuk mengecek di dalam mobil Euni, di bagasi mobil Pak Tio menemukan dua botol air keras berjenis asam sulfat, lalu di bagian laci depan, ada tiga pisau dengan ukuran kecil yang begitu tajam, dibungkus dengan sebuah kain berwarna merah.
"Entah, apa yang wanita ini ingin lakukan!" Pak Tio kembali masuk ke dalam rumah, mengecek hasil dari peretasan kedua Handphone Euni sembari menunggu wanita itu tersadar.
__ADS_1
****
Flashback
Mobil Melisa memasuki area perumahan yang ditempati Rere dan Via yang sekarang memang tinggal di satu komplek perumahan. Karena untuk sementara keluarga Rere memutuskan untuk pindah selama rumah lama mereka sedang dalam tahap renovasi.
Setelah mengantar Rere dan Via ke rumah mereka masing-masing, Pak Tio tiba-tiba saja meminta Melisa untuk pindah ke mobil yang biasa digunakan untuk mengantar Arkan, bahkan sudah ada sopir pribadi Mamanya juga. Entah dari mana dan kapan mobil itu datang, setahu Melisa mobil itu sudah tiba-tiba ada di sana.
Tanpa banyak bertanya, Melisa pun masuk ke dalam mobil, tapi mobil itu malah diam sekitar tujuh menit, bahkan setelah mobil yang Pak Tio bawa hilang dari pandangan Melisa, barulah mobil itu berjalan dengan kecepatan normal, membawa Melisa sampai rumah dengan aman dan selamat.
"Ini sebenarnya ada apa?" gumam Melisa. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, kenapa Pak Tio tiba-tiba saja memintanya pulang dengan orang lain dan menggunakan mobil lain? Kenapa tidak dengan Pak Tio saja seperti biasa? Kenapa juga raut wajah Pak Tio terlihat begitu berbeda sejak dari restoran tadi? Dan ke mana sebenarnya Pak Tio akan pergi, sampai dia meminta orang lain untuk mengantar Melisa pulang??
Sampai sekarang, Melisa masih menunggu kedatangan Pak Tio, tapi hampir dua jam, Melisa tak kunjung melihat Pak Tio, bahkan mobil yang Pak Tio gunakan pun belum terparkir di halaman utama!
*****
Euni mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat, begitu pun dengan kepalanya. Saat matanya sudah terbuka sempurna, wanita itu langsung mengecek kondisi tubuhnya, pakaiannya masih terpasang seperti semula tidak ada satupun yang berubah, hanya saja ia melihat semua isi tasnya sudah tergelak di atas meja.
"Udah bangun?" suara seorang pria yang tiba-tiba saja muncul dari sebuah ruangan mengagetkan Euni, refleks wanita itu melangkah mundur.
"Si-siapa ka-kamu? A-pa yang kamu mau?" tanya Euni dengan suara yang bergetar ketakutan ketika menyadari di tangan kiri orang tersebut ada sebuah pistol.
"Hem, harusnya pertanyaaan itu saya ajukan kepadamu! Siapa kamu? Apa yang kamu mau?"
Pak Tio menatap Euni lekat.
"A-apa maksudmu? A-aku bisa saja melaporkanmu ke polisi!!"
Bukanya takut, Pak Tio malah tersenyum tipis mendengar ucapan Euni.
"Euni, saya pikir kamu cukup pintar, tapi nyatanya, kamu sendiri bahkan tidak tau sekarang, kamu sedang berhadapan dengan siapa, kan?"
__ADS_1
Pak Tio maju dua langkah, semakin dekat dengan Euni yang sudah kembali duduk lemas di atas sofa.
"Ingin mencoba mencelakai Nona Melisa?"
Pertanyaan Pak Tio seketika itu juga membuat Euni diam seribu bahasa. Bahkan sekarang, ia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tapi saya akui, kamu adalah wanita yang cukup berani, maksud saya, kamu berani menghancurkan hidupmu sendiri!"
Pak Tio semakin maju, dengan ujung pistol, ia menyentuh dagu Euni, sampai tatapannya dan tatapan wanita itu bertemu.
"Tidak akan ada setetes pun dari air keras itu yang akan mengenai wajah Nona Melisa, tidak ada!" tegas Pak Tio, membuat Euni langsung menutup matanya. Pikirannya sudah ke mana-mana, berpikir Pak Tio akan menembakkan pistol itu pada wajahnya.
"Saya bisa saja menghabisimu saat ini, bisa saja. Saya bahkan bisa memanipulasi kehilangan atau kematianmu, tapi saya, saya tidak seburuk dan sebusuk kamu. Saya akan melepaskanmu, tapi jangan pernah harap kamu bebas dari pengawasan saya! Mencelakai Nona Melisa sama artinya dengan menghancurkan hidupmu, bahkan bukan hanya hidupmu, hidup kedua orang tuamu, hidup adikmu, dan orang-orang di sekitarmu! Ingat itu!"
"Oh ya satu lagi, jika kamu masih bertekad untuk mengganggu Nona Melisa, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menyebar luaskan semua video dan fotomu yang ada di sini!" Pak Tio mengeluarkan kedua handphone Euni dari saku jaketnya, lalu melemparkannya ke arah wanita itu.
Keringat dingin sudah bercucuran di sekujur tubuh Euni, bahkan tubuhnya sampai bergetar ketakutan.
"Saya harap kamu bisa memahami maksud ucapan saya, dan saya harap, saya tidak harus menodai tangan saya kedepannya!"
Euni benar-benar dibuat diam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata, ia tidak pernah membayangkan akan ada di posisi ini sebelumnya. Euni juga tidak pernah tau siapa sebenarnya sosok Melisa, yang membuat ia nekad untuk mencelakai gadis itu, Euni pikir ia hanyalah gadis biasa, tidak memiliki power apapun. Ternyata dugaannya, salah, salah sekali! Yang ada malah dirinyalah yang dalam bahaya sekarang! Definisi nyata dari senjata makan tuan.
Dari hasil peretasan kedua Handphone Euni, Pak Tio menemukan sebuah bukti pembelian asam sulfat yang Euni beli dari salah satu temennya, bahkan dari percakapan mereka, dengan terang-terangan Euni mengatakan kalau dirinya ingin menggunakan air keras itu untuk menyiram wajah Melisa hingga membuat wajah gadis itu rusak sampai tidak ada seorang pun yang sudi melihatnya, termasuk Gibran!!!
Tujuan utamanya adalah membuat Gibran dan Melisa tidak bersama dan tidak pernah bahagia!! Tapi di titik ini Euni sadar, bahwa orang yang ada di hadapannya ini bukanlah orang biasa! Itulah letak kebodohan Euni, tidak mencari tau terlebih dahulu dengan siapa dia akan berhadapan!
Tidak ada yang bisa Euni lakukan lagi sekarang, selain menyesali semua tindakannya, seharusnya ia tidak gegabah, seharusnya ia tidak pernah mengikuti mobil Melisa dari awal, seharusnya dia tidak turun dari mobilnya untuk mengecek kondisi sekitar, bahkan seharusnya dia tidak pernah memiliki niat buruk pada Melisa!
"Bodoh-bodoh!!!!" Euni mengutuki kebodohannya, karena kebodohannya hidupnya sekarang dalam bahaya, salah bertindak saja bisa-bisa hancur semua hidup dan karirnya. Terlebih lagi, pria yang menjadi supir Melisa itu mempunyai banyak senjata untuk menyerang balik Euni, salah satunya dengan beberapa foto dan video pribadi yang Euni simpan di dalam handphonenya, berupa sebuah video dewasa, di mana dirinyalah yang sebagai pemeran utama!
Sebelum benar-benar melepaskan Euni, Pak Tio menekankan pada wanita itu untuk mengingat baik-baik semua yang sudah Pak Tio ucapkan tadi, bahkan Pak Tio menyuruhnya untuk tutup mulut atas kejadian ini jika Euni ingin selamat.
__ADS_1
"Jujur, saya tidak sanggup melaporkan ini pada Tuan Felix, Nona, saya takut keputusan Tuan Felix akan kembali menyakiti perasaan Anda!" gumam Pak Tio yang sudah mengumpulkan semua data lengkap Euni, hasil dari peretasan.