
Gibran :
Melisa? Kamu belum pulang kan? Aku di depan sekolah kamu nih!
Kalo belum, please keluar sebentar:)
...----------------...
Melisa memasukkan Hp-nya ke dalam saku setelah membaca chat dari Gibran. "Vi, aku ke depan sebentar ya?!"
"Eh, kamu mau pulang?"
"Belum, cuman mau ke depan sebentar!"
"Mau aku temenin?"
"Nggak, kamu tetep di sini aja!"
"Cepet ya, jangan lama-lama!" Teriak Via dan dibalas isyarat oke oleh Melisa.
Gibran tersenyum begitu melihat Melisa berjalan ke arahnya. Senyumnya semakin mengembang saat melihat Melisa berdiri di depannya.
"Ada apa? Sampai dicariin ke sekolah gini? Kangen ya?"
"Iya." Singkat padat dan jelas.
"Hahaha, pendusta!"
"Serius loh! Aku kangen banget sama kamu!" Gibran refleks mengajak rambut Melisa. "Eh, maaf!"
Melisa merapikan rambutnya, ia menatap Gibran yang hanya cengir kuda.
"Pasti mau jemput Livi ya?"
"Nggak, Livi lagi izin sakit!"
"Terus? Ke sini buat apa?"
"Ketemu Melisa! Hahaha!"
Melisa mengulum bibirnya, menahan senyum salting.
"Masih ada kegiatan?" tanya Gibran, karena jika dilihat dari luar sekolah sudah mulai sepi, hanya ada beberapa siswa yang masih menunggu jemputan.
"Nggak ada sih, udah pulang, cuman lagi nungguin Rere selesai rapat OSIS!"
"Mau pulang sama mereka?"
"Eh, iya. Kenapa?"
"Nggak apa-apa sih, tadinya mau nawarin jasa penjemputan!"
"Eh." Melisa menatap Gibran dengan raut wajah bersalah, jika dia tidak ada janji dengan kedua sahabatnya itu, mungkin bisa saja dia pulang dengan Gibran sekarang!
"Nggak apa-apa, ketemu kamu aja udah cukup kok!" Gibran tersenyum meyakinkan. "Tunggu sebentar, aku beli sesuatu buat kamu!"
Gibran membuka pintu mobilnya, mengambil kresek belanjaan dari minimarket!
"Kesukaan kamu! Susu ultra milk rasa coklat dan stoberi!"
Gibran menyerahkan kresek belanjaan yang ia pegang pada Melisa.
"Mohon maaf, ini dalam rangka apa, ya?" tanya Melisa dengan mata yang beradu tatapan dengan Gibran.
"Emm, bisa dibilang dalam rangka mendapatkan hati Melisa! Hahaha!"
"Dasar, tukang sogok!"
"Hahaha, nggak apa-apa, yang penting imbalannya dapat hati Melisa!"
__ADS_1
"Kalo nggak dapet?"
"Ya coba lagi, Sampe dapet!"
Melisa menggeleng pelan sambil tersenyum malu! "Btw terimakasih ya, buat ini dan yang sebelum-sebelumnya juga!"
"Iya, sama-sama. Ya udah kamu masuk lagi gih, aku mau balik ke kantor!"
"Jadi seriusan ke sini cuman buat ngasih ini?"
"Yaps! Tapi tujuan utamanya sih buat ketemu kamu! Hahaha, kalo bisa dua tujuan, kenapa harus satu?!"
"Benar-benar ya!" Melisa tidak habis pikir lagi dengan perlakuan Gibran padanya! Apakah yang seperti ini masih wajar disebut sekedar teman?
"Hati-hati di jalan!"
"Iya, see you next time, Melisa!"
Melisa menatap kepergian mobil Gibran, lalu beralih menatap kresek belanjaan di tanganya. "Apa ini artinya Gibran menginginkan hubungan yang lebih dari teman?"
Walaupun Melisa tidak ahli di bidang percintaan, tapi dia cukup peka dengan sikap Gibran.
Jika Gibran hanya menginginkan sebuah hubungan pertemanan, seharusnya dia tidak bersikap seperti ini kan?
Seolah-olah sedang memberikan perhatian lebih! Dan bukan kali pertama Gibran seperti ini! Jika tidak salah, ini adalah ketiga kalinya Gibran memberikan susu dan coklat untuk Melisa! Dua kali secara langsung, dan sekali lewat Livi!
"Atau mungkin aku yang salah ngartiin dan kepedean sekarang?" gumam Melisa saat menaiki tangga menuju kelasnya.
"Abis dari mana?" tanya Via begitu Melisa duduk di kursi dan meletakkan keresek belanjaan di atas meja.
"Tadi ada Gibran di depan!"
"Kamu abis ketemu dia?" Via memajukan wajahnya, melepas HP-nya di meja, dia lebih tertarik untuk mendengar cerita Melisa sekarang!
"Ya, dikasih ini tadi!"
"Susu ultra milk?"
"Terus, dia nggak ada ngomong apa kek gitu?!"
"Dia ngomong banyak sih!"
"Yang paling kamu inget, apa?"
Melisa mengembuskan napas pelan. "Dia ke sini cuman buat ketemu aku, kangen katanya. Adiknya Livi lagi izin sakit!"
"Seriusan?"
"Ya katanya gitu! Nggak tau serius atau nggak!"
"Terus respon kamu cuman gini? Nggak ada tuh tanda baper atau salting!" Via gereget sendiri.
"Vi, kayaknya sekarang aku takut deh sama harapanku sendiri!" gumam Melisa.
"Maksudnya?"
"Menurut kamu hal kayak gini wajar nggak sih dalam hubungan pertemanan?"
"Maksud kamu? Hal kayak gimana, Mel? Aku masih belum konek!"
"Yang kayak Gibran lakuin sekarang ini!"
"Emmm, wajar-wajar aja sih kalo kalian temenannya udah lama, tapi kalo baru temenan udah kayak gini, lebih pantes disebut PDKT nggak sih?"
Melisa diam sejenak. Awalnya dia yakin kalo ini hanyalah pertemanan biasa! Tapi entah kenapa setelah bertemu dengan Gibran tadi hatinya mulai goyah oleh sepercik harapan baru yang menginginkan hubungan lebih dari pertemanan!
"Aku yang salah nangkep kali ya? Siapa tau Gibran tadi kebetulan lewat sini aja, kan?"
"Eh tapi jelas-jelas dia bawain susu juga kan? Masak iya cuman kebetulan?"
__ADS_1
"Nggak tau, ah! Males mikir!"
"Loh?" Via mengerutkan dahinya saat melihat Melisa yang menidurkan kepalanya di atas meja, tanganya memainkan kresek belanjaan, sambil bergumam yang tidak dapat terdengar jelas oleh Via!
"Tau, ah aku juga lagi males mikir!" ucap Via! Ia kembali menyalakan HP-nya. Melanjutkan acara mensecroll tik tok yang sempat terjeda tadi!
"Lama banget rapatnya! Mereka lagi bahas apaan sih?!" Gerutu Melisa yang mulai merasa bosan!
"Iya, ini udah mau sejam lebih!" sahut Via, dia juga sudah bosan menonton video di aplikasi tadi!
"Ini, nih makanya aku males jadi OSIS kalo udah kelas tiga gini!"
Selang beberapa menit, Rere pun muncul dengan wajah lusuh, sepertinya dia juga lelah sekarang!
"Huh, capek banget!" Rere duduk di kursi yang berhadapan dengan Melisa.
"Kalian bahas apa dari tadi?!"
"Biasalah, anak baru banyak yang berulah, kemarin ada yang ditemuin ngerokok di belakang sekolah! Terus masih banyak yang ngelanggar aturan seragam! Pakek seragam semau-mau mereka! Belum lagi yang dandanannya udah kayak mau pergi kondangan! Arghhhh, pusing banget ngadepin angkatan baru sekarang!"
"Sabar, sabar, dari pada tambah pusing karena belum makan siang, mending kita makan siang dulu, cus cabut!"
"Nih punya siapa?" tanya Rere sambil menunjuk kresek belanjaan di atas meja!
"Tuh Melisa, dikasih sama Om Gibrannya lagi!"
Rere tersenyum jahil. "Kalo nggak mau dibawa pulang, biar aku yang bawa pulang, ya, Mel!"
"Enak aja!" Melisa merebut kembali miliknya, lalu berjalan keluar kelas lebih dulu!
"Dia udah mulai goyah sama perasaannya sendiri!" bisik Via!
"Udah kubilang kan! Cepet atau lambat dia pasti bakal tarik ulur sama perasaannya sendiri! Nah sekarang tugas kita harus mastiin lagi, Gibran maunya kayak gimana? Mau lanjut ke jenjang yang lebih serius atau tetap di zona pertemanan?!"
"Dari awal emang tujuannya buat PDKT sama Melisa! Cuman Melisa aja yang anggap Gibran sebatas temen!"
"Susah emang kalo sama cewek satu ini!" gumam Rere.
"Kita pikirin nanti aja! Sekarang aku butuh asupan gizi!"
"Rere! Via! Cepetan!" Teriak Melisa!
"Iya-iya!"
"Kan singa udah ngamuk!!"
Kedua gadis itu berlari keluar kelas, mengandalkan senyuman melas saat berhadapan dengan Melisa!
"Kebiasaannya ya kalian!"
"Hehehehe, maaf maaf!"
Ketiga gadis itu pergi mencari makan siang terlebih dahulu, lalu melanjutkan agenda di rumah Via, untuk mandi, ganti baju dan istirahat sebentar dan lanjut lagi buat pergi menikmati suasana senja di pinggir pantai!
"Mel, kamu nggak ada rencana pergi jalan-jalan lagi sama Om Gibran?" tanya Via.
"Belum ada."
"Kayaknya berdua di pinggir pantai sambil ngeliatin matahari terbenam seperti sekarang seru juga!"
Melisa menoleh menatap Via. "Seru kalo sama pasangan!"
"Lah kan kalian pasangan!" sahut Rere.
"Pasangan apa coba?!"
"Ya sepasang teman lah, bukannya kalian temenan?!" pancing Via!
"Yes, we just friend!"
__ADS_1
Rere dan Via dapat menangkap jelas raut wajah Melisa, bukanya kemarin-kemarin dia masih percaya diri ketika mengatakan kalau mereka sekedar teman?! Tapi kenapa sekarang wajahnya menyiratkan sebuah kekecewaan?!
"Fix sih, Gibran harus gerak cepat kalo udah kayak gini!" Batin Via. Mak Comblang siap beraksi!