
[Senja Terakhir Bersamamu]
Melisa menatap langit barat yang dihiasi oleh indahnya pancaran sinar senja, keindahan yang memanjakan mata sampai membuat Melisa lupa akan segala kesedihan yang sering ia rasakan akhir-akhir ini!
Dalam tatapan yang fokus menatap langit, pikiran Melisa melayang membawanya untuk mengingat momen saat menatap langit senja yang sama dengan Gibran.
Flashback On
Tepatnya 2 hari sebelum acara peringatan kematian Tante Felia! Jam 5 sore, Gibran menjemput Melisa, rencananya ingin membawa Melisa mengunjungi sebuah tempat yang selalu Gibran kunjungi untuk menenangkan pikiran!
"Nggak sekalian beli kado pernikahan buat temenmu?" ucap Melisa mengingatkan.
Gibran menggeleng. "Besok aja, hari ini aku mau fokus nikmatin waktu sama kamu!" ucapnya sambil melirik Melisa yang tersipu malu.
"Kita udah sampe!"
Melisa menatap sekitarnya, mereka sekarang berdiri tepat di depan sebuah rumah makan tingkat tiga!
"Ayok!" Gibran memegang pergelangan tangan Melisa, mengajak Melisa masuk, tapi mereka tidak duduk di meja, malah melangkah menaiki tangga!
"Kita mau kemana?"
"Ke rooftop!"
Melisa mengangguk paham, ia mengikuti langkah Gibran menaiki tangga, sampai di depan pintu Gibran membukanya pelan. "Ayo!"
Melisa mematung melihat pemandangan di depannya, ada dua kursi dan satu meja bundar yang menghadap ke timur dan dipenuhi oleh makanan, dari jarak sekarang saja Melisa bisa melihat ada beberapa kotak susuk ultra milk di atas meja!
"Duduklah!"
Padatnya kota terlihat begitu jelas dari atas sini, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang di jalanan. Sinar matahari masih menghiasi ufuk barat, pancaran sinar senja seolah menghipnotis Melisa!
"Permisi." Gibran memasangkan headset di telinga kiri Melisa, sementara headset satunya lagi di pakai oleh Gibran. Pria itu memutar lagu 'Lucky' yang dinyanyiin oleh Jason Mraz dan Colbie Caillat diiringi dengan petikan gitar yang berpadu halus dengan suara keduanya.
Melisa menoleh ke arah Gibran! Lagu ini menceritakan tentang seorang yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri kan? Dan sedang menjalani hubungan jarak jauh?
"Emmm, langitnya cantik, kan?" ucap Gibran sembari mengalihkan pandangannya, tatapan mata Melisa membuat Gibran salah tingkah!
Melisa menyanggah dagunya dengan tangan kanan, menghadap ke arah Gibran! "Ingin menyampaikan sesuatu, Tuan?"
Gibran menelan ludahnya dengan susah payah! Untuk saat ini ia belum memiliki kepercayaan diri yang cukup, jadi Gibran menggeleng, tanda kalau dia tidak ingin menyampaikan apapun!
"Baiklah!" Melisa mengalihkan pandangannya, menikmati indahnya suasana senja, ini adalah senja pertama yang dia lihat bersama Gibran!
Gibran menggeleng saat otaknya meminta sebuah ciuman! Tangannya meraih gelas, meneguk isinya hingga setengah. "Tahan Gibran, tahan!"
"Spesial untuk Melisa." Gibran memberikan sekotak susu ultra milk rasa coklat pada Melisa!
"Benar-benar spesial kah?"
"Iya, sama seperti kamu, spesial dalam hatiku."
"Apa?" Melisa melepas headset-nya. "Aku nggak denger kamu bilang apa tadi?!"
"Nggak ada lupain aja!"
"Yakin?"
"Iya, Melisa... Mau denger satu lagu lagi?"
"Boleh."
" Ya udah, sekarang kamu yang pilih mau denger apa!" Gibran menyerahkan Handphone nya pada Melisa.
Melisa memutuskan untuk memutar lagu 'Unconditionally' yang dinyanyikan oleh Katy Perry.
Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now Let go and just be free
I will love you unconditionally
Gibran tersenyum samar, dalam hati dia berharap kalau dia bisa memiliki Melisa di senja berikutnya! Tak jauh berbeda dengan Melisa, yang berharap bahwa akan ada senja selanjutnya lagi setelah ini bersama Gibran. Namun siapa sangka, ini adalah senja pertama dan terakhir mereka!
Flashback Off
"Aku terlalu berharap, sampai harapanku menghancurkanku lagi untuk yang kedua kalinya!" Melisa meraih botol minum, meninggalkan balkon dan langit senja yang sedang indah-indahnya!
*******
Tepat pukul 19.22 Gibran sampai di tempat janjian dan ternyata Via sudah menunggunya di sana. Tanpa basa-basi Gibran langsung duduk berhadapan dengan Via!
"Mau ngomongin apa?" tanya Gibran tak sabaran!
Via menatap Gibran, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran! Apakah dia terus memikirkan Melisa sepanjang hari?
"Melisa blokir aku ya?" lirih Gibran.
"Eh, bukan gitu--" Via mencengkram tas selempang yang ada di pangkuannya. Tadi Via sudah meminta Rere untuk menemaninya, tapi kondisi Mama Rere sedang tidak baik, jadi gadis itu memutuskan untuk menemani Mamanya di rumah, sementara Papanya belum pulang dari luar kota!
'Kamu bisa kok, Vi!'
__ADS_1
"Aku ada salah? Atau ada perkataan dan perbuatanku yang menyinggung hatinya?" Sorot mata Gibran jelas menunjukkan kesedihan, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainnya! Bersiap untuk teriak dan menangis sekencang mungkin!
"Nggak, bukan gitu, Gibran!"
"Terus? Kenapa tiba-tiba Melisa ngilang kayak gini?"
Via menarik napas dalam, menatap Gibran sejenak, lalu kembali menatap kukunya sendiri.
"Aku, Rere dan Melisa udah temenan dari kecil! Kita satu sekolah dari SD, SMP sampai SMA!"
Gibran diam, ia menyimak dengan seksama.
"Bisa dibilang Melisa tumbuh di keluar yang kurang harmonis! Hubungan di antara dia dan Ayahnya tidak begitu baik! Entah aku sendiri tidak tau sebab pastinya, Ayah Melisa selama ini seperti acuh terhadap Melisa, memperlakukan Melisa seolah-olah Melisa bukan Putri kandungnya!"
"Pantes aja Melisa hanya diam ketika aku bilang Ayahnya pasti sangat bersyukur memiliki dia! Ternyata ini penyebabnya!" Batin Gibran!
"Tapi aku salut dengan Melisa, dia sama sekali tidak pernah membenci Ayah ataupun Mamanya! Seburuk apapun dia diperlakukan, aku nggak pernah denger dia bilang benci! Yang ada ditetap sayang dan berharap suatu saat nanti bisa memiliki hubungan yang lebih baik lagi dengan Ayahnya!"
"Sampai bertahun-tahun berlalu, akhirnya harapan itu terkabul---" Via menatap Gibran. "Tapi dibalik terkabulnya harapan Melisa, dia harus menjauhimu! Ayahnya tidak menyukai kedekatan kalian!"
"Apa Melisa bahagia sekarang?"
Via mengangguk pelan. "Dia sangat bahagia, ini adalah harapan dan impiannya setiap hari, tapi kamu juga perlu tau, kalau Melisa yang memintaku untuk menyampaikan ini, Melisa nggak mau ngejauhin kamu tanpa alasan, dia nggak mau kamu kecewa, dia sebenarnya memiliki perasaan yang sama denganmu!"
Gibran mencoba untuk tersenyum, walaupun hatinya terasa begitu sakit sekarang! "Nggak apa-apa, aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaan Melisa, biarin dia bahagia, sekali pun aku nggak bisa lagi berada di sisinya! Senyum bahagia Melisa jauh lebih berharga!"
"Gibran?" Via memegang lengan Gibran, apakah pria itu tadi menyeka air matanya?
"Titip salam ya buat Melisa, terimakasih udah hadir walaupun nggak sampai akhir! Tapi aku juga yakin, dua orang yang ditakdirkan bersama pasti akan dipertemukan lagi, sejauh apapun jarak di antara mereka!"
Gibran berdiri. "Aku balik duluan ya?! Via, terimakasih untuk penjelasan dan waktumu!"
"Sama-sama, hati-hati di jalan!"
"Berakhir tanpa pernah dimulai!" gumam Via, dia hanya bisa berharap suatu saat nanti takdir mempertemukan mereka lagi, sebagaimana takdir mempertemukan mereka di bukit cinta!
*******
Gibran memukul kemudi mobil, membawa laju mobilnya menuju apartemen! Untuk malam ini Gibran rasa dia tidak akan pulang ke rumah dulu! Dalam kondisi hati seperti ini!
"Sesingkat inikah?" Perasaan sesak memenuhi dada Gibran, padahal Gibran sudah berencana untuk mengungkapkan perasaan pada Melisa setelah pernikahan Rozi selesai! Tapi sayang sekali, semuanya harus berakhir sebelum ada permulaaan!
"Mungkin jauh lebih baik begini! Mungkin jika aku sudah menjalin hubungan dengan Melisa akan jauh lebih sakit dari ini rasanya!"
Gibran tak ingin menolak kenyataan yang terjadi, apa yang terjadi sekarang, biarlah terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan! Untuk ke depannya sudah dalam ketetapan Tuhan! Tidak ada yang perlu Gibran khawatirkan! Jika memang dia dan Melisa ditakdirkan untuk bersama, maka pasti akan ada 1001 cara untuk mempersatukan mereka!
"Berbahagialah, Melisa! Aku akan berusaha untuk ikut bahagia!"
"Terimakasih untuk kisah singkat ini, Tuhan. Walaupun begitu aku tetap bersyukur karena Engkau mengizinkanku bertemu dengan gadis seperti Melisa! Dan aku berharap, Engkau mempertemukanku lagi dengannya di pertemuan yang jauh lebih indah dan untuk selamanya!"
Sebuah harapan terakhir tentang Melisa yang terucap dari bibir Gibran!
Gibran sama sekali tidak keberatan dengan ketidaksukaan Ayah Melisa terhadapnya, sekalipun Gibran tidak tau apa penyebabnya. Gibran menggunakan sudut pandangnya sebagai seorang Kakak, mungkin juga suatu saat Gibran akan melakukan hal yang sama jika tidak menyukai seseorang yang sedang mendekati Livi! Hal seperti itu wajar-wajar saja bagi Gibran!
******
"Gimana, Vi udah ketemu sama Gibran?" tanya Melisa melalui sambungan telepon.
"Udah kok, Mel! Gibran harap kamu selalu bahagia, walaupun dia tidak bisa lagi di sisimu!"
"Hanya itu?"
"Kamu berharap dia mengatakan apa lagi, Melisa? Ungkapan cintanya?"
"Bukan gitu-"
"Terus?"
"Dia nggak akan sehancur aku, kan?"
"Mungkin akan lebih parah darimu."
"Via?"
"Gibran nggak bantah keinginan Ayahmu, dia rela meskipun terluka. Karena senyum bahagia Melisa jauh lebih berharga! Jadi berbahagialah, Mel! Itu yang Gibran harapkan sekarang!"
"Vi, aku rasa aku nggak akan semudah itu buat lupain semuanya!"
"Aku paham, Mel. Gibran pun dalam kondisi yang sama, kalian sama-sama terpaksa untuk saling menjauhi dan melupakan satu dengan yang lainnya! Aku tau ini sulit bagi kalian, tapi aku juga yakin kalo kalian berdua bisa melewatinya!"
"I-iya, aku harap aku bisa melewatinya..." Melisa memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal, air mata kembali menetes, terbawa oleh arus deras perasaaan sesak yang memenuhi dada.
"Gibran, aku harap kamu bisa lebih bahagia lagi setelah ini!"
******
Rere menyikut lengan Via, melirik ke arah Melisa yang sibuk dengan buku di tangannya! Gadis itu masih membuka halaman yang sama, tidak beralih ke halaman berikutnya! Entah dia benar-benar membaca atau sekadar membuka saja!
"Emm, Mel, kamu ikut kan ke acaranya Fais?"
Melisa menggeleng. "Kayaknya tahun ini nggak deh! Ayah nggak ngizinin!"
"Loh? Bukannya tahun-tahun sebelumnya boleh, kenapa sekarang nggak boleh?"
__ADS_1
"Entah. Aku nitip kado aja, ya?"
"Kamu udah beli?"
"Belum, nanti pulang sekolah!"
"Pergi samaan ya?" ucap Via.
"Boleh."
"Kamu mau beliin apa?"
Melisa tampak berpikir sejenak. "Belum tau, rencananya sih sepatu! Atau nggak jam tangan!"
"Nanti aku bagian baju!" sahut Rere.
"Kalo kamu ulang tahun, kamu mau kado apa, Mel?" tanya Via.
"Nggak mau apa-apa, cukup kalian ada di hari itu, ngabisin waktu sama-sama." Melisa menutup bukunya. "Atau nggak, aku pengen liburan sama Ayah, Mama, Arkan dan Erlan!"
"Tahun ini pasti bisa!"
Melisa tersenyum, "Semoga Tuhan berkehendak."
Serahkan saja semuanya pada Tuhan. Karena manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Melisa tak ingin menaruh harapan lebih lagi, takut jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya!
******
[Patah Hati Lagi?]
"Ngelamun terus! Lagi ada masalah?" tanya Rozi pada Gibran. H-1 acara pernikahan Rozi, Gibran datang untuk membantu mengecek persiapan di gedung yang akan digunakan nanti!
"Nggak ada." Gibran mencoba untuk tersenyum, menyembunyikan kesedihannya, dia tidak ingin menambah beban pikiran Rozi lagi, cukup pria itu pusing dengan masalah yang sedang dia hadapi sekarang! Jangan ditambah lagi dengan masalah percintaan Gibran yang selalu berakhir sad ending! Ini sudah ending ke-3!
Ditinggal nikah dua kali dan sekarang terhalang restu orangtua Melisa! Puncak komedi memang!
"Jadi gimana, mau bawa Melisa sebagai partner nanti?"
"Sama Livi lagi!"
"Loh? Kenapa? Masih belum jadian juga?"
"Hahaha, nggak semudah itu, Bro!"
"Mudah kok, lu tinggal bilang aja kalau lu sama dia! Easy! Gue yakin deh, si Melisa nggak bakal nolak!"
Gibran diam, tak memberikan jawaban.
"Kenapa? Melisa nolak lu?" tanya Rozi penasaran! Padahal niat hati, Gibran tak ingin berbagi cerita. Tapi makhluk satu ini terus bertanya padanya!
"Ayahnya yang nolak."
"Buset, patah hati lagi dong?" Rozi menepuk pundak Gibran dua kali lalu merangkul sahabatnya itu.
"Ya mau gimana lagi?!"
"Lu nggak mau perjuangin dia gitu? Berjuang untuk dapetin hati Ayahnya?"
"Gue bahkan nggak tau alasan kenapa dia nggak suka gue deketin anaknya!"
"Hmmm, agak rumit yah!"
"Tapi nggak apa-apa, selama dia bahagia gue juga ikut bahagia!"
"Siapa? Melisa?" tanya Rozi.
"Ya, gue bahagia kalo Melisa bahagia!"
"Terus aja kayak gitu! Dulu pas Luna ninggalin lu, lu bilang gitu juga, asal Luna bahagia lu bakal bahagia juga? Tapi mana bukti kebahagiaannya? Nggak ada! Dua tahun gagal move on baru ada!"
"Udahlah, jangan dibahas lagi! Eh gimana ceritanya Nyokap lu bisa seakrab itu sama Liana?" ucap Gibran mengalihkan pembicaraan.
"Hmm, mereka punya hobi yang sama, lagian Liana juga pinter ngambil hati Mama! Mama yang awalnya kurang suka jadi suka!"
"Syukur deh kalo gitu!"
"Emmm, lu tau kabar Margaretha nggak?"
Gibran menatap Rozi tajam. Bisa-bisanya dia masih memikirkan Margaretha sampai sekarang!
"Terakhir dia ada pemotretan di Bali, setelah itu katanya dia bakal balik ke Belanda, tinggal sama Papa Mamanya!"
"Padahal masih ada hal yang gue mau omongin sama dia!" Rozi tertunduk lesu.
"Lu jangan macam-macam ya! Jangan buat drama perselingkuhan lagi!"
"Gue cuman mau minta maaf aja."
"Udah, lupain Margaretha, sekarang fokus ke istri dan calon bayi lu!"
"Hmmm."
Gibran menghela napas pelan, semua sudah terjadi, tidak bisa diputar ulang dan diperbaiki lagi! Hanya saja, mereka masih bisa memperbaiki masa depan mereka! Setidaknya jauh lebih bahagia lagi dari tahun-tahun terakhir ini!
__ADS_1