
"Kak Gibran mana, Ma?" tanya Livi yang baru pulang, bahkan barang belanjaan yang ia beli sampai ketinggalan di dalam mobil saking antusiasnya ingin bertemu Gibran!
"Ada di kamarnya, kenapa sih tumben banget langsung nyariin Kakaknya?!"
"Ada kabar gembira!!"
Gadis itu langsung berlari menuju kamar Gibran.
Tok... tok... tok..
Livi mengetuk pintu tidak sabaran.
"Kak Gibraaaan! Buka!"
"Iya, sabar, Kak Gibran pakai baju dulu!" sahut Gibran yang baru keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk di dalam sana, sibuk mencari setelan bajunya di dalam koper!
"Cepet, ih!"
"Astaga, sabar, Livi!!"
Gibran menaikan resleting celananya, lalu membuka pintu kamar, handuk basahnya masih bertengger di bahu yang ter-ekspor, Gibran belum menggunakan baju kaosnya! Masih ia pegang!
"Pakai bajunya dulu, Kak!" Livi memutar badannya membelakangi Gibran, bagiamana pun ia malu jika melihat Gibran seperti itu!
"Udah, nih!"
"Livi masuk ya?"
"Hmmm." Gibran berjalan menuju jendela kamar, menjemur handuk basahnya di sana, ini jangan ditiru, ya!
"Kak Gibran mau denger cerita Livi nggak?" ucap Livi masih antusias.
"Cerita apa? Cerita aja, Kak Gibran dengerin!" jawab Gibran, namun masih sibuk dengan Handphone-nya, membaca beberapa email penting.
"Mau denger nggak nih!"
"Iya-iya, mau!" Pria itu akhirnya meletakkan Handphone-nya dia atas meja, duduk di samping Livi, siap mendengar cerita gadis itu!
"Khemmm, coba tebak Livi abis ketemu siapa tadi?!"
"Emang siapa?"
"Tebak dulu!"
"Euni?"
"Ih, nggak-nggak, yakali ketemu sama dia bakal seseneng ini!" ucap Livi jijik sendiri.
"Hush, nggak boleh gitu! Terus ketemu siapa? Nggak mungkin Melisa, kan?"
"Yaps bener, ketemu Kak Melisa!"
"Serius? Di mana? Kok bisa? Dia sama si---"
"Sussst, udah, dengerin Livi cerita dulu makanya!"
"Ya udah, cepet cerita!"
"Jadi, tadi tuh pas Livi pergi nyari oleh-oleh, nggak sengaja ketemu Kak Melisa di sana, dia sama adiknya Arkan, terus sama temennya juga Kak Jefri! Nah kebetulan kan Livi mau makan, Kak Melisa juga mau makan, jadi kita makan samaan deh tadi, berempat!"
Livi memamerkan foto selfi-nya dengan Melisa pada Gibran!
"Jefri? Temennya?" lirih Gibran.
__ADS_1
"Kayaknya beneran cuman temen deh, Kak! Soalnya Livi perhatian mereka biasa-biasa aja! Jadi Kak Gibran nggak usah khawatir!"
"Gitu ya?" Gibran merebut Handphone Livi, ingin melihat wajah Melisa lebih jelas lagi.
"Makin cantik aja!"
"Udah cantik, baik lagi! Nggak kayak yang itu!" ucap Livi, menyindir soal Euni.
Gibran larut dalam tatapannya pada foto Melisa dan Livi, dua gadis yang sama-sama Gibran sayangi, yang satunya paket komplit, disayang dan dicintai!
Cukup dengan melihat foto Melisa saja membuat jantung Gibran berdebar tak karuan! Gibran tak pernah merasakan perasaan segila ini sebelumnya!
"Udah, udah, sini balikin Handphone Livi!"
Livi berusaha merebut kembali Handphone-nya dari tangan Gibran.
"Bentar, mau kirim foto dulu!"
"Eits, nggak boleh!! Harus bayar! Itu foto berharga!" ucap Livi sembari menarik lengan Gibran, masih berusaha untuk mengambil Handphone-nya.
"Wah, ngelunjak nih anak! Masak foto Melisa dijadiin bisnis sama dia!" gerutu Gibran tak terima!
"Ada kualitas, ada harga! Hehehehe, dijual khusus buat Kak Gibran, limited edition, nih! Mau nggak?!"
"Huh." Gibran mengambil dompetnya di dalam laci meja, lalu melirik ke arah Livi yang senyum kegirangan di atas kasurnya!
"Berapa?"
"Karena yang beli Kak Gibran, dan Livi sayang banget sama Kak Gibran, jadi nggak apa-apa deh cuma sejuta aja!"
"Sejuta?" Gibran melotot tak percaya!
"Itu dapet semuanya, bonus foto Arkan sama Kak Jefri juga! Gimana?"
Gibran menepuk jidatnya, "Ya udah nih, Kak Gibran bayar lebih dah, mumpung Kak Gibran sayang juga sama yang jual!"
"Hehehehe, cukup banget, maaciiih, Kak Gibran ganteng, emuachhh! Tambah sayang deh sama Kak Gibran!"
Livi mengirimkan semua fotonya dengan Melisa, ditambah dengan bonus foto yang ada Arkan dan Jefri juga, sesuai kesepakatan perdagangan!
"Oh ya, Livi juga punya bonus buat Kak Gibran!"
"Apa lagi?"
Livi sedikit mendekat, "Ada titipan salam dari Kak Melisa!"
"Bohong!"
"Sumpah, Livi nggak bo'ong!" Gadis itu mengangkat dua carinya membentuk huruf V.
"Ini serius?"
"Iya!"
Seketika itu juga tubuh Gibran jatuh di kasur, senyum-senyum sendiri sambil memeluk bantal!
"Aish, kumat dah! Dasar, bucinnya Kak Melisa!"
Gibran tak menggubris ucapan Livi. Lemes rasanya dapat salam dari Melisa!
"Ya udah segitu dulu dari Livi!" Livi menepuk punggung Gibran. "Inget, nanti malam temenin Livi keluar!"
Livi meninggalkan Gibran sendiri di kamarnya, masih berbaring di atas kasur, memeluk guling yang mungkin ia hayalkan sebagai Melisa?!
__ADS_1
* * * * *
Alasan kenapa Tuan Felix meminta Melisa untuk cepat pulang adalah : karena Tuan Felix ingin membicarakan beberapa hal yang sudah seharusnya Melisa ketahui sekarang! Tentang Tante Felia, tentang ketakutan Tuan Felix, dan tentang alasan kenapa Tuan Felix meminta Melisa menjauhi Gibran!
Tuan Felix rasa, ini sudah waktunya Melisa mengetahui semuanya!
"Ayah? Ayah memanggil Melisa?" tanya Melisa pada Ayahnya yang sudah duduk di sofa ruang tengah Villa Aela.
"Duduk sini! Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Melisa!" Tuan Felix menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Ada apa ini, Mama, Arkan dan Erlan pada ke mana? Batin Melisa, takut kalau Ayah akan memarahinya.
"Melisa?"
"I-iya, Yah?"
"Melisa tau kenapa Tante Felia meninggalkan di usia muda?"
"Karena sakit?"
Tuan Felix menggeleng, "Mau tau kenapa?"
"Emmm, iya, kalo Ayah tidak keberatan, Melisa mau tau alasannya.'
Tuan Felix menarik nafas panjang mulai bercerita tentang kehidupan adiknya Felia yang disayangi oleh semua orang disekitarnya, diperlakukan bak seorang putri mahkota di rumah utama oleh kedua orang tua dan kedua kakak laki-lakinya, sampai pada malam hilangnya gadis itu dan ditemukan dalam keadaan luka tembak di dada hingga merenggut nyawanya.
"Dan saat dilakukan otopsi, dokter menyatakan kalau sebelumnya Felia sudah mengalami pelecahan seksual, banyak jejak juga yang ditinggalkan di tubuhnya!"
Tangan Tuan Felix terkepal kuat saat terpaksa kembali mengingat kejadian itu.
"Ayah..." Melisa benar-benar kaget setelah mendengar penuturan sang Ayah, ia tidak pernah menyangka kalau hal seperti itu menimpa salah satu anggota keluarganya!
"Maaf, Melisa, Ayah terlalu takut dan trauma dengan kejadian Felia, sampai Ayah sendiri takut ketika Mamamu melahirkan seorang bayi perempuan, Ayah takut kalau anak Ayah akan mengalami hal yang sama!"
Tuan Felix tertunduk, tak berani menatap Melisa.
"Ayah berusaha melindungimu dengan cara Ayah sendiri, menjauhkan kehidupanmu dari dunia bisnis keluarga, menjagamu dari kemungkinan yang akan terjadi di rumah utama, Ayah tidak ingin orang-orang yang tidak menyukai Ayah akan mengincar dan menyakitimu, Ayah tidak ingin itu terjadi pada Putri Ayah!"
"Awalnya Ayah pikir, rencana Ayah berjalan lancar, tapi di saat kamu mengenal sosok Gibran, anak dari saingan bisnis Ayah, Ayah kembali dihantui oleh ketakutan yang selama ini berusaha Ayah kendalikan! Dan akhirnya Ayah kalah, Melisa, Ayah tidak rela membiarkan kamu dalam bahaya!"
"Ayah."
Tanpa banyak bicara Melisa langsung mendekap tubuh Ayahnya, memeluknya erat. "Terimakasih, Ayah, udah menjaga dan melindungi Melisa selama ini...."
Tangis Melisa pecah, ia tak kuasa menahan perasaan bahagia, terharu dan sedih menjadi satu!
"Apakah Melisa membenci Ayah?"
"Sama sekali tidak, karena Melisa yakin, apapun keputusan Ayah, pasti itu adalah hal yang terbaik untuk Melisa!"
Tuan Felix kembali memeluk Melisa, mencium kening, dan kedua pipi gadis itu, sebagai bentuk kasih sayangnya.
Sekarang semua pertanyaan Melisa sudah terjawab, rasa penasaran tentang kematian sosok Tante Felia terbayar tuntas, begitu pula dengan alasan kenapa Ayahnya memperlakukannya seperti itu dan alasan kenapa Ayah memintanya menjauhi Gibran!
"Apakah Melisa mencintainya?" tanya Tuan Felix, manik hitamnya menatap lekat wajah Melisa.
Melisa tak menjawab apapun, namun dari sorot matanya, Tuan Felix bisa tahu apa jawaban gadis itu!
"Untuk kedepannya, kalo terjadi apa-apa, Melisa cerita ke Ayah atau Mama ya, cerita apapun itu, kami siap menjadi pendengarnya!"
"Terimakasih, Yah."
Melisa rasa ia akan memulai tahun baru ini dengan kehidupan baru juga, membuang semua kenangan pahit dari tahun-tahun sebelumnya, dan mengganti dengan kenangan yang lebih baik dan bahagia lagi untuk kedepannya!
__ADS_1
Entah, aku tidak tahu takdir seperti apa yang Tuhan rencanakan untuk kita, Gibran! Tapi apapun itu, aku harap kamu selalu bahagia dan bisa menerima takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk kita! Bersama ataupun tidak, aku akan tetap merasa bahagia, karena Tuhan pernah mempertemukan kita!
Batin Melisa.