Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Menjalani Takdir


__ADS_3

Rere menarik tangan Melisa mengajak Melisa memasuki sebuah toko baju agar bisa membantu Rere memilih baju untuk Fais!


"Bantuin ya, Mel. Aku nggak tau selera Fais kayak gimana!"


Melisa menatap sekitarnya, toko baju yang sama seperti yang dia datangi dengan Gibran! Gadis itu menutup matanya, semuanya masih terekam jelas dalam ingatan Melisa! Semuanya!


"Emm, Re, gimana kalo kita lihat-lihat di sana aja?" Via menginjak kaki Rere, memberikan isyarat bahwa toko ini pasti akan mengingatkan Melisa pada Gibran!


"Emm, ya, kita ke Carissa aja ya, Mel?"


Melisa menatap kedua sahabatnya itu. "Di sini kualitasnya bagus-bagus!"


"Di sana juga bagus, kok! Ayo!" Sekarang Via yang menarik tangan Melisa, membawa Melisa keluar dari toko, Rere berjalan di belakang sambil mengutuk kebodohannya!


Seharusnya mereka tidak ke sini dari awal!


"Jangan ngajakin buat mampir makan Shabu-shabu, inget!" bisik Via pada Rere, Rere mengangguk paham.


Melisa sudah mendapatkan jam tangan yang akan ia berikan sebagai kado ulang tahun Fais, begitu pula dengan Via dan Rere. Sekarang waktunya untuk pulang!


"Nggak mau makan dulu?" tanya Melisa pada Rere dan Via.


"Emm, nanti aja di luar! Aku lagi pengen makan di KFC!" ucap Rere!


"Di lantai satu ada KFC, kan? Ayo makan di sana!"


"Emm, di luar aja! Lagian kita belum terlalu lapar!"


Melisa memicing matanya, menatap Rere dan Via secara bergantian. "Kalian kenapa sih dari tadi?!"


"Nggak apa-apa, ayok cepat keluar!"


Melisa hanya pasrah saat Via dan Rere menarik tangannya agar cepat keluar dari Mall!


*******


Livi berdiri di belakang Gibran yang sedang duduk di sofa, sambil menonton cuplikan film horor yang akan tayang beberapa hari ke depan di bioskop!


"Sejak kapan Kak Gibran suka nonton horor?" ucap Livi, membuat Gibran kaget! Gibran benar-benar tidak menyadari kalau Livi berdiri di belakangnya!


"Baru-baru ini sih!" jawab Gibran.


"Emmm, terus itu, siapa yang naruh susu ultra milk sebanyak itu di kulkas?"


"Kak Gibran. Kenapa?"


"Sejak kapan Kak Gibran suka minum susu ultra milk rasa stroberi? Sampai berkotak kotak gitu? Hmm?"


"Suka dari dulu, kok!"


"Em, penipu!" Livi menyentil telinga Gibran. Setahunya Gibran tidak suka dengan apapun yang berhubungan dengan stoberi!


"Sesuka itu ya sama Kak Melisa?" Livi duduk di samping Gibran, menatap Kakaknya dengan raut wajah penasaran dan sangat butuh jawaban!


"Kenapa jadi bahas Melisa?"


Gibran meletakkan Handphonenya di atas meja, lalu mengambil toples kue kering dan memasukkan beberapa potong kue ke dalam mulutnya!


"Ya siapa lagi yang suka susu ultra milk rasa stroberi dan coklat kecuali Kak Melisa? Livi?" Gadis itu menunjuk dirinya. "Livi nggak suka susu coklat, nggak terlalu suka juga rasa stroberi!"


Gibran diam, tak mampu menghindari tebakan Livi! Memang benar apa yang barusan Livi katakan!


"Emm, Kak Gibran masuk ke kamar dulu ya!" Gibran bangkit, namun Livi menahannya.


"Kak Gibran nggak lagi berantem kan sama Kak Melisa?"


"Nggak. Emang kenapa?"


"Nggak ada sih! Cuman Livi sering liat Kak Gibran ngelamun, nggak kayak biasanya!"


"Gitu ya? Kak Gibran lagi mikirin masalah di kantor, sama sekali nggak ada hubungannya sama Melisa!"

__ADS_1


"Oooo." Livi hanya menganggukkan kepalanya. Gibran lantas meninggalkan ruang tengah, masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan kepala yang sudah sangat lelah!


"Masih mau bohong ya, Kak? Kak Gibran pikir Livi nggak tau kalo hubungan kalian lagi nggak baik-baik aja?"


Saat di kamar mandi sekolah, Livi sempat mendengar percakapan antara Rere dan Via, yang sedang membicarakan Gibran dan Melisa. Dari percakapan itu, Livi mendengar Via mengingatkan pada Rere agar tidak menyinggung tentang Gibran lagi di hadapan Melisa, intinya biarkan semuanya menghilang bersamaan dengan berjalannya waktu!


"Apa Kak Gibran akan kehilangan orang yang dicintai lagi? Aku harap itu nggak terjadi lagi dan lagi! Tuhan, jangan hadirkan siapapun itu jika hanya untuk meninggalkan luka!"


*******


[Yang Terakhir Kalinya]


Melisa membawa langkahnya menuju lapangan basket, ada beberapa siswa yang sedang duduk, istirahat setelah latihan di tengah lapangan. Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok Fais yang meminta Melisa untuk menemuinya di tempat ini!


Melisa :


Aku udah di lapangan nih. Kamu di mana?


Pesan terkirim dan langsung terbaca oleh Fais, ditandai dengan centang dua biru di Room Chat WhatsApp.


Selang beberapa saat kemudian. Fais muncul dari arah gudang penyimpanan alat olahraga. Sebuah bola basket menggelinding ke arah Melisa, tepat mengenai sepatu hitam gadis itu.


Melisa menatap Fais kebingungan, remaja itu melangkah mendekati Melisa. Dia menunduk untuk mengambil bola di dekat kaki Melisa. Manik hitamnya menatap wajah kebingungan Melisa.


"Mel, aku janji ini yang terakhir, setelah ini aku nggak akan ganggu kamu lagi!"


Fais menyerahkan bola basket tadi pada Melisa. "Kamu mau nggak nerima perasaanku? Kalo kamu mau, pegang bola ini, tapi kalo nggak, kamu boleh lempar sekeras mungkin!"


Melisa menatap Fais, dia bisa melihat betapa lembut dan dalam tatapan Fais. Tapi walaupun begitu, Melisa tidak bisa menerima perasaan yang Fais miliki untuknya, selain alasan Melisa tidak memiliki perasaan yang sama, Melisa juga takut Ayahnya akan memintanya menjauhi Fais! Sama seperti Gibran!


Bola basket itu menggelinding setelah ditendang pelan oleh Melisa. "Maaf, aku nggak bisa, Fais..."


Fais menatap bola yang kini berada di tengah-tengah lapangan basket itu.


"Makasih untuk jawabannya, Mel. Makasih juga buat kadonya, padahal aku berharap malam itu kamu datang."


"Maaf, aku benar-benar minta maaf."


Melisa mengangguk sambil tersenyum.


Tangan Fais menyentuh pucuk kepala Melisa lembut. "Janji ya setelah ini kamu harus tetap senyum, nggak boleh sedih! Awas kalo aku liat kamu sedih, aku bakal ganggu kamu lagi!"


Fais mengacak rambut Melisa, pria itu tersenyum lebar tanpa beban. " Ya udah sekarang kamu boleh balik, atau mau aku anter ke kelas?"


"Aku bisa sendiri." Melisa menepuk bahu Fais dua kali. "Makasih untuk semua yang kamu kasih selama ini!"


"Iya, sama-sama, Mel."


Setelah hari itu, Fais tak pernah menganggu Melisa lagi, tidak ada spam chat, tidak ada sapaan dan godaan lagi seperti biasanya!


******


[Menikmati Perasaan]


Di sebuah kamar yang cukup luas untuk ukuran satu orang, seorang gadis tengah sibuk memasukkan beberapa lipatan bajunya ke dalam lemari. Sudah terbiasa hidup mandiri, gadis itu lebih suka mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya ia lakukan tanpa di bantu oleh Asisten Rumah Tangga.


Tak sekadar mencuci dan melipat bajunya sendiri, Melisa juga kadang sering membantu di dapur, entah itu mencuci piring atau sekedar memotong bahan makanan yang akan dimasak.


Pernah suatu ketika Ayahnya mendapati Melisa sedang berada di dapur dan sedang asik berbincang dengan salah satu ART. Awalnya Melisa tak diizinkan ke dapur lagi, takut menganggu pekerjaan ART, namun saat melihat Melisa begitu bahagia ketika berbicara dengan Bik Tuti membuat hati Ayah Melisa luluh, membiarkan Melisa melakukan apapun yang membuat ia merasa nyaman saat berada di rumah utama.


Melisa mengelus baju kaos abu yang berada pada susunan lipatan paling atas. Sesaat gadis itu terlihat sedih karena teringat pada Gibran. Namun detik berikutnya, Melisa mencoba tersenyum lagi.


"Aku nggak akan pernah maksain diri buat ngelupain kamu, karena semakin aku berusaha buat lupa, semakin aku rindu dan mengingat semuanya!"


Melisa mencoba untuk menikmati semua perasaan ini, tidak ingin terburu-buru untuk melupakan, biarkan semuanya berjalan sesuai Takdir Tuhan.


"Kak Melisa?" Arkan mengetuk pintu kamar Melisa. Membuat Melisa segera menutup lemari dan beranjak membukakan pintu untuk adiknya.


"Kak, Erlan minta di temenin nonton!"


Melisa tersenyum, lantas merangkul bahu Arkan. "Ayo nonton samaan!"

__ADS_1


Mama Tania ikut bergabung saat melihat ketiga Kakak beradik itu duduk di depan TV beralas karpet merah dengan motif bunga-bunga berwarna putih.


"Nggak apa-apa kan kalo Mama ikut nonton juga?" ucap Tania sembari mengelus rambut Erlan, bocah itu merebahkan kepalanya di atas paha Melisa.


Sejak kehadiran Melisa di rumah utama suasana rumah itu langsung berubah drastis 360 derajat. Bahkan para pekerja pun mengakui hal itu! Tuan Felix yang biasa jarang bicara dan tersenyum sekarang malah sebaliknya! Bahkan tak jarang mereka mendengar tawa dari ruang TV, Tuan dan Nyonya mereka bahkan bergabung juga di sana!


******


Dua bulan kemudian...


Mobil Gibran berhenti tepat di depan sekolah Livi. Ini adalah kali pertama Gibran ke sini lagi, untuk menjemput Livi yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler! Jam sekarang menunjukkan pukul 5 sore.


Biasanya jika Mama meminta tolong padanya untuk menjemput Livi, Gibran selalu mencari alasan dan malah menyuruh Gala - sepupu sekaligus bawahannya untuk menjemput Livi!


Gibran menatap ke arah tiga gadis yang baru saja keluar dari gerbang sekolah, ketiganya terlihat begitu asik dengan candaan mereka, lalu tertawa dengan begitu lepas!


Seulas senyum muncul di wajah Gibran, pandangannya tak teralih sampai ketiga gadis itu masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang melaju menjauhi lingkungan sekolah!


Tidak terasa dua bulan sudah berlalu begitu saja, selama dua bulan ini Gibran fokus pada pekerjaannya, tapi kadang sebelum tidur ia masih sempat teringat pada Melisa. Terlebih Gibran mulai faham sekarang, kenapa Ayah Melisa tidak menyukai kedekatannya dengan gadis pemilik senyum manis itu!


Melalui akun Instagram Livi, Gibran melihat postingan Instragram Melisa, akun gadis itu di private dan setiap kali Gibran membuat Instagram baru untuk mengikuti Melisa, tidak pernah dikonfirmasi, akun Instagram lama Gibran sepertinya sudah diblokir, sehingga tidak bisa mencari akun Instagram Melisa lagi!


Di postingan itu, Melisa mengunggah 4 foto, slide pertama dengan seorang pria yang Gibran perkiraan masih berusia di bawah 50 tahunan, postur tubuh pria itu terlihat begitu tegap dengan raut wajah tegas penuh wibawa. Gibran merasa sangat tidak asing sampai Gibran memperbesar foto itu!


"Tuan Felix?" gumam Gibran sambil menggeser slide berikutnya, foto Melisa dengan seorang wanita yang menggunakan gaun yang sedana dengan Melisa! Hanya saja rambut wanita itu diikat rapi sedang rambut Melisa dibiarkan terurai begitu saja.


Lalu slide ketiga ada foto Melisa dengan dua orang laki-laki, yang satunya lebih tinggi dari Melisa. Dia berdiri di sebelah kanan, sedangkan satunya lagi masih berumur kisaran 10 tahunan berdiri di depan Melisa, tangan Melisa memegang bahu bocah laki-laki itu.


Dan foto terakhir adalah foto Melisa dengan ke-empat orang tadi, Melisa berdiri di tengah-tengah bersama dengan wanita yang Gibran perkiraan itu adalah Ibu Melisa! Sedangkan dua orang laki-laki tadi adalah saudaranya! Lalu Tuan Felix?


"Ayahnya?" tebak Gibran. Pria itu sampai merubah posisinya dari rebahan hingga bersandar pada sandaran kasur!


Caption di postingan itu hanya dua buah emoji, emoji bunga matahari dan hati berwarna merah [🌻❤️]


Gibran beralih ke kolom komentar. Membaca komentar teratas.


@Callmeviy_ Bahagia selalu kesayanganku😚❤️ Btw Arkan buat aku ya, Mel? Please guanteng bangettt


@Reana.re2 Ikut bahagia liatnya 🥺🤍 Bahagia selalu BESTIEH Ter🤍


Dan masih banyak komentar lain lagi yang memuji kecantikan Melisa!


"Jadi Melisa anak Tuan Felix? Pantas saja dia tidak suka jika aku mendekati anaknya!"


Gibran yang sudah hampir 3 tahun bergabung di perusahaan Ayanya tentu saja mengetahui kalau Tuan Felix adalah saingan terberat mereka! Sebenarnya tidak pernah ada kata bersaing, namun seolah kedua perusahaan itu ingin mengungguli satu dengan yang lainya!


"Satu meter tanah yang ada di wilayahnya saja begitu berharga! Apalagi anak perempuan satu-satunya!" ujar Gibran.


Tapi Gibran masih punya satu pertanyaan yang mengganjal di benaknya!


"Apa alasan Tuan Felix sempat mengacuhkan Melisa? Sampai-sampai memperlakukan Melisa seperti bukan anak kandungnya?" gumam Gibran yang teringat dengan cerita Via saat bertemu di TALK.


*


"Kak Gibran? Kak Gibran?" Livi menepuk tangan Gibran dua kali, membuat Gibran tersandar dari lamunannya!


"Iya?"


"Lagi ngelamunin apa sih?"


"Nggak ada. Udah selesai kegiatannya?"


"Udah!" Livi memicing matanya menatap Gibran. Namun Gibran malah menghindari tatapan Livi.


"Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Gibran hanya di balas gelengan kepala oleh Livi, lalu mobil Gibran pun melaju pelan menjauhi lingkungan sekolah.


"Pasti tadi Kak Gibran ngeliat Kak Melisa lagi, kan?"


Jujur saja, jika Livi ditanya apakah dia kecewa dengan Melisa? Ya, awalnya Livi sangat kecewa! Namun setelah mengetahui alasan kenapa Gibran dan Melisa tidak dekat lagi, Livi pun hanya bisa diam, bahkan sekarang Livi tetap menghormati Melisa sebagai kakak kelasnya.


Tak jarang Melisa dan Livi saling bertukar sapa!

__ADS_1


__ADS_2