
Melisa mengecek Hp nya sekali lagi, tapi masih tetap sama seperti setengah jam yang lalu, tidak ada notifikasi apapun dari Gibran.
Hari ini adalah hari ke 3 Gibran tak pernah mengirim pesan seperti biasanya. Tidak ada pesan selamat pagi dan jangan lupa makan atau pesan yang penuh dengan kata-kata manis dan gombalan!
Gadis itu kembali memasukkan Hpnya ke dalam saku, jam pelajaran kedua kosong, karena Bu Naura sedang izin sakit. Via dan Rere juga sedang izin ke kamar mandi, tapi sampai setengah jam belum balik juga!
"Apa mungkin dia lagi sakit? Atau lagi banyak kerjaan?" gumam Melisa, memikirkan alasan kenapa Gibran tak seperti biasanya! Sepertinya sudah ada yang mulai kangen, ya?
Tak lama bel keluar main pun terdengar, lalu disusul dengan beberapa notifikasi masuk di Hp Melisa. Gadis itu bergegas menyalakan Hpnya, ternyata chat dari Via!
Via dan Rere ternyata sudah menunggu Melisa di kantin! Bahkan mereka mengirim foto makanan juga! Dasar siswi teladan, memang!
Dengan perasaan yang sedikit kesal karena tidak ajak dari awal, Melisa pun melangkah menuju kantin yang berada di lantai dasar, gadis itu sebenarnya malas, tapi dia juga merasa bosan jika sendiri terus di kelas!
"Jahat ya kalian berdua!" protes Melisa begitu sudah berhadapan dengan Via dan Rere yang sibuk dengan makanannya!
"Hehehehe maaf, maaf, udah jangan cemberut gitu! Sini, duduk dulu!" bujuk Via, gadis itu menarik tangan Melisa dan menyuruh Melisa untuk duduk di dekatnya!
"Beneran kamu marah karena kita tinggalin?" tanya Rere.
"Hmmm, aku ngambek sama kalian!"
"Yakin sama kita? Bukan sama Om Gibran?" goda Via!
"Apaan sih! Orang lagi marah sama kalian juga! Kenapa malah bawa-bawa Gibran?!"
"Hahaha, santai aja kali, Mel! Nggak usah ngegas gitu, iya kan, Re?"
"He'em, kalo kangen tinggal bilang aja!"
"Kangen? Siapa yang kangen ke siapa?" Melisa merebut botol minum Via, meminum dua tegukan untuk mengusir dahaga!
"Kamulah, kangen sama Om Gibran!"
"Hah?" Melisa menunjukkan dirinya sendiri. Yang benar saja Rere ini!
"Oh, Melisaaa... Kamu kan dari kemarin kerjaannya ngecek hp mulu, dikit-dikit ngeliatin Hp, kan? Kamu ngecek apa coba, hmmm?" tanya Via.
"Ya nggak ada, kan siapa tau ada notifikasi penting!" Bohong Melisa.
"Yaps, notifikasi pentingnya adalah notifikasi dari Om Gibran, kan? Kalo kayak gitu, tanda kamu lagi kangen sama dia!" sahut Rere.
Melisa diam sesaat, masa ini yang dinamakan kangen?
"Nggak, ih! Cuman agak aneh aja gitu kalo dia tiba-tiba jarang ngechat lagi!" tegas Melisa, masih menyangkal tentang perasaan rindu yang menyelinap untuk Gibran?
"Ih gemes deh sama kamu, Mel!!" ucap Via, tangannya sudah mau mencubit pipi Melisa tapi ditepis oleh gadis itu.
__ADS_1
"Sakit tau!"
"Ya lagian kamu! Masak nggak ngerti sama perasaan sendiri sih! Itu namanya KANGEN Melisa! KANGEN!" tegas Via. Rere hanya menggeleng pelan melihat ekspresi bingung Melisa.
"Kenapa kamu nggak coba tanya ke dia, siapa tau dia lagi sakit?" ucap Rere memberi saran.
"Emmm, nanti aja!"
"Kenapa nggak sekarang?!"
Melisa mengembuskan napas pelan. "Jam segini dia masih di kantor, nanti pas jam makan siang aja, takutnya ganggu!"
Via dan Rere mengangguk paham.
"Jadi sebenarnya hubungan kalian berdua ini apa?" tanya Via, mencari kepastian.
"Teman!"
"Iyakah?" Rere dan Via saling menatap. "Teman tapi mesra? Atau teman rasa pacar?"
"We just friend!"
"Ya kalo sekedar teman, seharusnya kamu nggak ambil pusing dong kalo Om Gibrannya tiba-tiba berubah gini? Iya, kan, Vi?"
"Iya, seharusnya sih gitu, kan cuman TEMAN!" tegas Via penuh penekanan pada kata Teman!
"Hmmm, terserah kalian, kalian mau ngomong apa, terserah! Intinya kita cuman teman!"
"Nggak!"
"Hahaha, cuman teman, tapi udah pernah spend time seharian, khemm. Ini teman apa teman ya?" gumam Rere, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Melisa.
Melisa memilih tidak membalas omongan dua orang menyebalkan itu lagi! Bukannya terhibur, Melisa malah semakin terbebani! Sampai tiba-tiba --
"Permisi?" ucap seorang gadis yang kini berdiri tepat di belakang Melisa.
Melisa menoleh. Setelah gadis itu menanyakan dirinya. "Kak Melisa, ya?"
"Iya?" Melisa tersenyum kaku, bingung harus berekspresi seperti apa setelah mengetahui gadis itu adalah Livi Yuandara. Adik dari Gibran Yuandara!
"Ada titipan untuk Kak Melisa!" Livi meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja kantin, lalu tersenyum pada Rere dan Via. "Kalo gitu, aku pergi ya, Kak!"
"Tunggu, Livi!" ucap Melisa setelah diam cukup lama.
"Iya, Kak? Kenapa?"
"Terimakasih ya!"
__ADS_1
"Ya, sama-sama, Kak!" Gadis dengan rambut panjang yang terikat rapi itu pun berlalu, kembali ke dalam kelas, karena tujuannya ke kantin hanya untuk memberikan barang yang Kakaknya titipan.
"Khemm!" Via dan Rere menatap paper bag itu secara bersamaan. "Masih yakin cuman temen?"
"Iya!" Melisa meraih paper bag dengan ukuran sedang itu untuk mengintip isinya.
Ada dua kotak susu Ultra Milk rasa coklat dan stoberi, sebatang coklat dan sebuah pulpen hitam dengan ukiran "Melisa" di bagian tengah pulpen. Lalu ada sebuah kertas note kecil yang ditempel di kotak susu.
"Dari Gibran untuk Melisa."
"So cute!" gumam Via yang baru saja merebut note kecil dari tangan Melisa. Lalu Via mengopernya ke Rere, membuat Rere ikut senyum-senyum sendiri seperti orang gila!
"Gimana perasaannya, Kak. Setelah mendapat titipin seperti ini dari seseorang yang berkedok teman?! Bahagia? Kaget? Sedih? Atau gimana?" tanya Via sembari mengarahkan botol minum pada Melisa, menjadikan botol itu sebagai mic wawancara!
Rere mengambil kotak tisu, mengangkat dan mengarahkannya juga pada Melisa, sebagai kamera, anggap saja begitu!
"Apaan sih, kalian! Malu tau diliatin orang-orang!" lirih Melisa!
"Jawab dulu pertanyaannya, Kak!" Via masih tetap kekeuh dengan perannya sebagai wartawan! Begitu pula dengan Rere.
"Seneng, udah gitu aja! Sekarang bubar!"
Via dan Rere saling menatap. "Seneng!" ucap keduanya, sambil menahan tawa.
"Nggak jelas, sumpah, nggak jelas!" Melisa berdiri ia meninggalkan kantin sembari membawa paper bag yang Gibran berikan.
"Ngambek, Re!"
"Ya udah tinggal dibujuk!" ucap Rere santai, gadis itu merapikan baju dan roknya, lalu beranjak dari Kantin untuk menyusul Melisa!!
Sementara itu, Livy sudah mengirim laporan penyelesaian misi pada Gibran, dan sekarang sedang meminta imbalan, tak tanggung-tanggung gadis itu langsung minta dibelikan jam tangan baru pada sang Kakak.
Kak Gibran Tampan Baik Hati dan Penyayang😻😚 :
Terimakasih ya, Livi adikku yang paling cantikkkk
Nanti kita beli jamnya, oke?!
Livi senang bukan main setelah mendapat balasan dari Gibran. Sebenarnya jika Livi minta tanpa embel-embel imbalan pun pasti akan langsung diteruti oleh Gibran! Tapi entah kenapa, Livi ikut senang jika bisa membantu Kakaknya!
"Tapi, tunggu, mereka ini sebatas temenan atau gimana sih sekarang?" gumam Livi yang baru sadar tentang hubungan Melisa dan Gibran!
"Kakakku orang yang baik, tampan, sopan, lembut dan penyayang, masak iya Kak Melisanya nggak tertarik, sih?! Masak cuman temenan?!" Gadis itu bergumam sendiri.
"Nggak-nggak! Nggak boleh kayak gini, seharusnya kalo Kak Gibran suka, Kak Melisa juga harus suka balik dong! Biar adil!" Livi terus sibuk dengan pikiran dan pertanyaan di otaknya, bertanya lalu dijawab oleh dirinya sendiri!
********
__ADS_1
Kontak Gibran di Hp Livi🤣