Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Arkan dan Erlan


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Melisa langsung meletakkan keresek belanjaan yang Gibran berikan di atas meja makan. Mengeluarkan satu persatu isinya.


"Dari mana dia tau kalo aku suka semua ini?" gumam Melisa. Tangannya menyentuh 2 susu Ultra Milk kotak dengan rasa coklat dan 2 kotak lagi rasa stroberi.


"Apa mungkin Via yang berdiri di belakangnya selama ini?" gumam Melisa sekali lagi.


Gadis itu beralih pada snack dan coklat batang di hadapannya. Mungkin jika Fais yang memberikan ini, Melisa akan memberikan lagi pada Via dan Rere. Tapi jika Gibran, entah kenapa untuk memakannya saja Melisa tidak tega. "Sayang!"


Cukup lama Melisa duduk dan hanya menatap semua barang di atas meja, sembari tersenyum. Entah karena menyukai barang pemberiannya atau orang yang memberikannya?


...****************...


Bisa dibilang, tak ada hari tanpa pesan dari Gibran. Pagi, siang, sore, malam, pesan dari pria itu selalu menjadi notifikasi yang memenuhi ponsel Melisa. Entah hanya sekedar pesan : Selamat pagi, siang, sore, dan malam. Atau : Jangan lupa sarapan, makan siang, makan malam, ya Melisa! Jangan begadang, istirahat yang cukup, besok sekolah!


Tapi ada satu pesan yang paling Melisa suka. "Gimana hari ini, semuanya lancar, 'kan?"


Mungkin bagi orang lain itu hanyalah sebuah pesan basa-basi, tapi tidak bagi Melisa. Seseorang yang menanyakan tentang harimu itu terkesan begitu peduli, dan seolah sedang menawarkan diri sebagai pendengar dari setiap cerita yang kamu jalani hari itu.


Pesan seperti itu berharga bagi Melisa. Dia seolah menemukan seseorang yang memenuhi rasa haus kasih sayangnya, ya walaupun selama ini Melisa sudah mendapatkan hal itu dari adik dan sahabatnya.


Tapi kesannya tetap berbeda jika dengan seseorang yang mungkin bisa dibilang sedikit lebih spesial, kan?


Gibran :


Sayang


Eh maksudnya Melisa 🤣


Gimana? Jadi pergi ke Bioskop? Atau mau ke pelaminan aja?


Becanda, Mel. Tapi kalo mau serius juga ayok, kapan siapnya?🤣


Melisa yang membaca notifikasi dari Gibran hanya senyum tanpa memberitakan balasan, pasalnya Melisa sedang bersama Erlan dan Arkan sekarang, menghabiskan malam minggu bersama di tempat Melisa.


Erlan yang baru berusia 10 tahun dengan manjanya meletakkan kepalanya pada paha Melisa. Lalu meminta Melisa untuk mengelus rambutnya. Membuat Arkan terbakar api cemburu!


Tak mau kalah dengan sang adik, Arkan juga ikut mencari perhatian, minta dibukakan Snack. Padahal remaja itu sangat mampu untuk membuka sendiri!


"Makasih, Kak!" ucap Arkan setelah Melisa menuruti kemauannya. Erlan melirik sekilas, lalu kembali menatap layar Televisi yang sedang menayangkan film favoritnya, Spongebob Squarepants.


"Sini, Kak!" Bocah itu kembali meraih tangan Melisa, meletakkan di kepalanya. "Elus lagi!"


Melisa tersenyum, ia kembali mengelus kepala sang adik yang memang selalu bertingkah manja jika bertemu dengan Melisa! Maklum, Erlan adalah anak bungsu yang akan terus mencari perhatian dari kedua kakak dan orang tuanya!


"Kak Melisa?"


"Iya?"


Melisa menunduk, menatap wajah Erlan yang juga mendongak untuk menatapnya. "Nanti kalo Erlan udah besar, Erlan bakal buat rumah yang bagussss buat Kak Melisa!! Nanti Erlan sama Kak Arkan juga tinggal di sana, nemenin Kak Melisa, ya?!"


"Iya, Erlan boleh datang, kapan aja Erlan mau, oke!"


"He'em." Bocah itu kembali mengalihkan pandangannya. Seolah ia mengerti kalo sang Kakak tidak ingin melanjutkan topik itu lagi.


"Kak Melisa?!" Arkan mendekat, ia bersandar pada sofa di samping Melisa, lalu menepuk bahunya agar Melisa bersandar di sana. "Silahkan, gratis buat Kakak!"


Kakak perempuan dengan dua adik laki-lakinya itu menyandarkan kepalanya, tapi tangan kanannya masih mengelus kepala sang adik bungsu yang sudah mulai terbuai, beberapa menit kedepan sepertinya akan terserat ke alam mimpi!


"Besok Ayah ngajakin kita buat pergi ke rumah Om Noah, seharusnya tadi sore, rencananya malam ini nginep di sana. Tapi karena Ayah ada urusan lain, jadi ditunda."


"Terus, Ayah sama Mama ke mana sekarang? Sampai kalian berdua bisa diizinin ke sini?" tanya Melisa.


"Itu dah, nyelesain urusan Ayah, Mama ikut sama Ayah. Kita di suruh diam di rumah, tapi tadi aku sama Erlan udah bilang kalo bakal ke tempat Kakak, kok! Tenang aja!"

__ADS_1


Tangan kiri Arkan mengelus pipi kiri Melisa. "Aku pengen Kakak juga ikut pergi, tapi---" Arkan menghela napas panjang.


"Udah, jangan pikirin Kak Melisa, kalian pergi aja, Kakak juga ada janji besok sama temen-temen Kakak!"


"Temen? Kak Via sama Kak Rere kah?" selidik Arkan.


"Emm, iya. Sama mereka!"


"Bukan sama cowok yang waktu itu nganter Kak Melisa pulang?"


Melisa menatap Arkan. "Kamu liat?"


"Hmmm. Tapi sayang, Kak Melisa malah nggak mau jujur sama aku!" ucap Arkan dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.


"Eh, bukan gitu Arkan!"


"Terus kalo nggak gitu, gimana?"


"Ya maaf, Kakak cuman nggak mau kamu khawatir sama Kakak!"


"Kalo nggak mau bikin Arkan khawatir, seharusnya Kak Melisa jujur dari awal, kan?!"


"Dia temen Kakak, namanya Gibran!" ucap Melisa, sejenak ia menatap wajah manis Erlan yang sudah terlelap.


"Temen sekolah?"


"Bukan, luar sekolah!"


"Emmmm. Dia pasti baik, kan? Sampe Kak Melisa sepercaya itu buat dianterin pulang sama dia?"


"Iya, dia orangnya baik!"


Arkan dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah Melisa saat mengatakan hal itu, tersenyum, seolah bangga dengan apa yang dia katakan. Dan lihat lah mata yang berbinar itu! Terlihat bahagia bukan saat membahas pria bernama Gibran?!


"Kalo misalnya suatu saat, Kak Gibran itu bilang dia suka sama Kak Melisa, Kakak bakal ngelakuin apa?"


"Emmm--"


...Tok... tok... tok......


Baru saja Melisa akan menjawab, pintu rumahnya tiba-tiba di ketuk dan ada suara Ayah dari luar sana. "Arkan! Erlan! Pulang!"


"Biar Arkan yang buka!"


Arkan beranjak dari sofa. Ia membuka pintu depan. Ada Ayah yang berdiri tegap di sana. "Mana Erlan?!"


"Dia ketiduran, Yah. Tolong Ayah yang bawa pulang, Arkan udah nggak kuat, Erlan udah besar sekarang!" ucap Arkan sembari bergeser, memberi jalan lewat untuk Ayah.


Pria 45 tahun itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tepat di ruang tengah ia melihat Erlan tertidur di sofa dalam pangkuan Melisa. Tatapan matanya yang berbeda saat menatap ke arah Melisa membuat gadis itu tak berani menegakkan kepalanya untuk sekedar beradu tatap dengan sang Ayah.


"Kemari, anak Ayah ketiduran rupanya!" gumam Ayah saat membawa tubuh Erlan dalam gendongannya. Melisa masih bisa mendengar jelas setiap kata yang Ayah ucapkan.


Tanpa berkata sepatah katapun lagi, pria dewasa itu meninggalkan ruang tengah, membawa anak bungsunya kembali ke rumah utama. Melisa hanya menghela napas, tak mampu memprotes apa-apa.


"Kak? Arkan balik juga ya, terimakasih banyak untuk malem ini!" Arkan mendekat lalu mencium pipi Melisa, sebagai bentuk terimakasihnya. "Selamat malam, Kak!"


Melisa mematung, jejak hangat yang akan tinggalkan di pipinya membuat Melisa sempat bingung untuk bersikap seperti apa.


"Sama-sama, selamat malam, Arkan!" gumamnya setelah Arkan menghilang dari hadapannya satu menit yang lalu!


Setelah kepergian Arkan dan Erlan. Melisa pun mematikan Televisi, membersihkan sofa dan beberapa barang yang berserakan di atas meja. Bahkan snack pemberian Gibran ikut hadir menemani mereka. Hanya tinggal tersisa bungkusnya!


Ngomong-ngomong tentang Gibran, Melisa belum membalas pesan pria itu dari tadi!

__ADS_1


^^^Melisa :^^^


^^^Iya, besok bisa. Mau berangkat jam berapa?^^^


Gibran :


Hups, kirain kamu udah tidur, makanya nggak bales-bales dari tadi:)


^^^Melisa :^^^


^^^Belum, tadi aku lagi sama adek-adek aku. Maaf.^^^


Gibran :


Nggak apa-apa, sante aja, Manis.


Aku jemput jam 10 pagi ya? Nggak apa-apa, kan?


^^^Melisa :^^^


^^^Oke, jam sepuluh ya!^^^


Gibran :


Iya, Sayang🤣


^^^Melisa :^^^


^^^Nyenyenye^^^


Gibran :


Tidur, tidur! Udah malem!


^^^Melisa :^^^


^^^Iya, kamu juga tidur.^^^


Gibran :


Iya, Good night, Melisa😚🤣


...----------------...


Gibran tak bisa menahan senyumnya, senang saja jika sudah mendapat balasan dari Melisa. Apalagi setelah menjahili gadis itu dengan panggilan Sayang!


"Udah jam setengah sebelas, nih anak ke mana lagi, nggak ada kabar dari tadi!" gumam Gibran yang tiba-tiba langsung kepikiran pada Rozi yang sudah menghilang dari apartemen sejak pagi!


"Huh, ngurus anak satu nih berasa lagi ngurus bocah SMA!" Gibran menelpon Rozi, tapi tetap saja, pria itu tak kunjung menjawab panggilannya! "Awas ya kalo kamu nelpon balik pas aku udah tidur!"


Benar saja, jam 2 dini hari Gibran terbangun karena mendapat telepon dari Rozi yang minta dijemput di lobby apartemen! Dengan langkah malas, Gibran pun melangkah menemui Rozi.


Pria itu tak kuat untuk menahan amarahnya saat menemukan Rozi dalam keadaan mabuk dengan penampilan amburadul di sana!


"Kamu, ya!" Walaupun marah Gibran tetap memapah tubuh Rozi menuju lift dan langsung membawanya menuju kamar mandi. Karena Gibran paling anti dengan bau alkohol!


"Ada masalah apa lagi? Hmmm?!" tanya Gibran saat mengguyur tubuh Rozi, Gibran kenal betul, Rozi tak akan mungkin mabuk separah ini jika tidak ada hal yang menggangu pikirannya.


Bukannya menjawab pertanyaan Gibran, Rozi malah sibuk membuka kaosnya, dan saat hendak membuka resleting celana - "Makasih, ya Bro!"


Gibran mengangguk pelan, ia keluar lalu menutup pintu kamar mandi, membiarkan Rozi membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Huh, masalah apa lagi yang dibuat anak ini!" Gibran memijat pelipisnya, kepalanya terasa sedikit pusing sekarang!

__ADS_1


Baru saja akan Gibran akan mengintrogasi Rozi, tapi pria itu malah terkapar di atas kasur dengan handuk yang melilit di bagian pinggang!


"Huh, sabar, Gibran. Sabar!"


__ADS_2