
"Melisa?"
Melisa yang mendengar seseorang memanggilnya dengan suara yang begitu familiar itu malah diam, tidak membalikkan badannya, sampai panggilan itu terdengar lagi.
"Melisa?"
Walaupun ragu, Melisa tetap berbalik untuk memastikan siapa yang memanggilnya.
Deg.
Matanya dan mata pria itu kembali saling menatap, dugaan Melisa benar, pria yang berdiri di depan Melisa itu malah tersenyum ceria, tanpa rasa canggung seperti apa yang Melisa rasakan.
"Aku kira bukan kamu, soalnya aku panggil kamu nggak noleh."
"Em, maaf, aku lagi denger musik." Melisa menunjukkan headset-nya, walaupun musiknya sudah ia matikan sejak turun dari bus tadi.
"Owhh, masih seneng denger musik ya?"
"Iya."
"Kebetulan banget ya kita ketemu di sini."
"Mel, Via ma--" Rere menghentikan ucapannya saat melihat siapa yang sedang bersama Melisa.
"Kak Chandra?" ucap Rere sedikit bergumam.
Chandra diam sejenak, "Emm, bentar, Via atau Rere?"
"Rere, Kak, Rere!!"
"Owalah, Rere, yang satu mana, Via?"
Rere melirik ke arah Melisa, dia juga tadi mau menanyakan keberadaan Via.
"Lagi nemenin Fais, dia muntah-muntah tadi."
"Ooo, ya udah yuk masuk, biar cepat masang tendanya!" ajak Rere, saat Rere hendak mengambil barang-barangnya, tiba-tiba saja Chandra yang membawanya sambil berkata, "Ayo aku bawain, tempat kalian di mana?"
Bukannya menjawab, Rere dan Melisa malah saling tatap.
"Em, lewat sini Kak!"
Rere berjalan terlebih dahulu, menunjukan tempat mereka, yang lain sudah sibuk mendirikan tenda dan mengangkut barang-barang yang memang harus dibawa.
Melisa yang berjalan di belakang Chandra hanya menatap punggung pria itu, kenapa apa yang Melisa takutkan malah terjadi? Kenapa orang yang Melisa hindari malah ada di sini?
Chandra dan beberapa alumni yang lain membantu mereka mendirikan tenda, bahkan akan ikut bergabung dengan rombongan mereka.
Saat semua tenda sudah didirikan, para panitia pun meminta semua peserta camping untuk berkumpul, panitia akan membacakan ulang susunan acara dan beberapa hal yang harus mereka lakukan selama acara terlaksana.
Chandra sendiri langsung ditunjuk oleh kepala sekolah sebagai pengawas pendamping selama acara ini, tidak heran, karena dia dikenal sebagai siswa kesayangan pada masanya.
Banyak teman-teman angkatan Melisa yang kembali mengagumi sosok Chandra, dari segi fisik, pria itu memang memiliki tampang yang sangat menawan, badannya tinggi, tubuhnya tegap, tatapan matanya seolah memiliki sihir yang mampu membuat siapapun yang melihat akan menyukai sosok Chandra.
Dari segi pendidikan, ia dikenal sebagai siswa jebolan terbaik di angkatannya, bahkan sampai mendapatkan biaya siswa untuk kuliah di luar negeri. Chandra juga terkenal ramah, murah senyum dan tidak angkuh seperti kebanyakan alumni lainnya. Bahkan Via sampai histeris sendiri begitu melihat Chandra.
"Udah, Vi udah!" Rere menyenggol Via yang masih menatap ke arah Chandra yang duduk di seberang sana.
"Sumpah, tambah ganteng, Re!"
"Biasa aja," sahut Melisa.
"Dih, udah jelas lah, Mel, orang yang paling ganteng di mata kamu pasti Om Gibran, kan?"
"Hmm, emang iya." Melisa kembali fokus mendengar arahan dari panitia.
"Dia udah putus belom ya dari pacarnya?" gumam Via masih dengan tatapan mata ke arah Chandra.
"Husshhh udah udah, dengerin tuh!" Rere menutup mata Via menggunakan tangan kanan, lalu melarang keras Via untuk membahas Chandra lagi!
...****************...
Melisa dan Via duduk melingkar seperti yang lainnya, menyimak lagu yang sedang dibawakan oleh Willy, salah satu teman mereka yang diiringi oleh petikan gitar, dengan api unggun yang masih menyala di tengah-tengah mereka.
*Cahaya bulan menusukku.... dengan ribuan pertanyaan
__ADS_1
Yang takkan pernah kutahu di mana jawaban itu....
Bagai letusan berapi bangunkanku.....
dari mimpi
Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati*
Terangi dengan cinta di gelapku
Ketakutan melumpuhkanku
Terangi dengan cinta di sesatku
Di mana jawaban itu?
Saat sedang asik menikmati suasana, tiba-tiba saja Via kebelet pipis dan minta ditemani oleh Melisa.
"Mell, temenin ke toilet yokk! Udah kebelet banget nih!"
Walaupun malas, Melisa tetap berdiri, sehingga beberapa orang melihat ke arahnya, termasuk Chandra.
"Kalian mau ke mana?" tanya guru pengawas.
"Mau ke toilet bentar, Pak."
"Chandra, temenin mereka!"
"Saya? Baik, Pak." Chandra berjalan mendekati Melisa dan Via. "Ayo."
Karena sudah kebelet, Via pun langsung melangkah tak memikirkan apapun lagi, yang penting dia cepat sampai di toilet.
Melisa masih sempat menoleh ke belakang lagi, mencari keberadaan Rere, tapi gadis itu sepertinya sibuk dengan tugasnya sebagai bagian keamanan yang sedang menggeledah barang bawaan.
"Em, Mel? Kamu apa kabar?"
"Baik, Kak Chandra sendiri?"
"Baik. Banyak yang beda ya dari kamu sekarang?"
"Maksudnya?"
"Ya banyak, dulu rambut kamu panjang, terus tinggi kamu segini--" Chandra mengukur sedadanya.
"Sekarang lebih tinggi, lebih berisi, dan lebih cantik."
Melisa tak merespon apapun, hanya mengangguk pelan.
"Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, bisa liat kamu senyum lagi, Mell."
Chandra mencoba untuk lebih dekat dengan Melisa. Namun, Melisa semakin memberi jarak. "Jangan deket-deket, Kak. Nggak enak diliat orang."
"Maaf." lirih Chandra.
"Maaf, Mell. aku udah nyakitin hati kamu tanpa aku sadari," lanjutnya.
"Udah, Kak. Semuanya udah berlalu, jangan dibahas lagi."
"Maaf, aku baru tau setelah aku di Amrik....,"
Melisa menoleh, menatap Chandra lekat. "Nggak ada yang perlu dibahas lagi, semuanya udah berlalu, semuanya udah selesai, aku udah lupain dan maafin Kak Chandra."
"Tapi, Mell--"
Chandra menghentikan ucapannya saat melihat Via keluar dari toilet.
"Udah, Vi?" tanya Melisa.
"Udah, kalian lagi ngomongin apa? Serius banget?"
"Nggak ada, bukan apa-apa!"
Melisa melangkah mendahului Chandra, dengan sedikit menarik lengan Via. Chandra hanya menghembuskan napas pelan, berjalan pelan di belakang mereka.
"Serius, Mell, kalian tadi ngomongin apa?" tanya Via saat mereka sudah kembali duduk dengan yang lain.
__ADS_1
"Nggak ada, cuman basa-basi nanyain kabar!"
"Emmm---" Via menatap ke arah Chandra yang berdiri di dekat tenda, pria itu kini sedang menatap ke arah mereka juga.
"Aneh, tadi full senyum sekarang kok kayak murung gitu ya?" gumam Via. Tapi Via tidak mau ambil pusing tentang itu, lebih baik ia menikmati momen langka ini!
"Mau teh anget?" Rere datang dengan membawa dua cangkir teh hangat yang ia berikan pada Via dan Melisa. "Maaf ya aku malah sibuk sendiri dari tadi."
Rere ikut duduk di samping keduanya.
"Nggak apa-apa, Re. Kita ngerti kok, kamu punya tanggung jawab yang besar sekarang."
"Iya, Re, kita bisa ngerti kok."
"Emm, tambah sayang deh sama kalian!" Rere memeluk Via dan Melisa secara bergantian.
"Oh ya, tadi, aku udah pesenin pop mie, sosis bakar sama bakso bakar, hehehe, nggak apa-apa kan? Kalau aku tanya kalian, kelamaan soalnya!"
"Iya nggak apa-apa, Re. Yang ada kita makasih banget loh sama kamu!"
Saat sedang asik ngobrol, salah seorang alumni tiba-tiba menghampiri mereka bertiga.
"Hallo, Ladies, dari kalian bertiga, ada yang bawa selimut lebih nggak?"
"Ada, Kak," jawab Melisa yang memang sengaja membawa selimut double.
"Boleh saya pinjem?"
Melisa tersenyum, ia kembali ke tenda untuk mengambil selimut.
"Ini, Kak."
"Terimakasih ya, nama kamu siapa?"
"Melisa."
"Oke, saya Romi. Sekali lagi terimakasih ya Melisa, besok saya balikin selimutnya."
"Iya, Kak sama-sama."
Setelah menikmati makan malam secara bersama dan ngumpul-ngumpul sebentar, mereka pun diharuskan masuk tenda untuk istirahat, karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Ada yang mau ke toilet nggak?" tanya Melisa pada Rere dan Via.
"Nggak, Mell, kamu mau ke toilet?" tanya Rere.
"Nggak sih, cuman mastiin aja, takutnya nanti tengah malam ada yang kebelet!"
"Nanti kalau aku yang kebelet, temenin ya...." rengek Via.
"Iya-iya, nanti ditemenin sama Rere!"
"Lah kok aku?"
"Takut aku kalo temenin dia tengah malam, kamu aja yang lebih berani, hehehe." Melisa merogoh handphone-nya di saku jaket, ingin rasanya ia menghubungi Gibran sekarang, tapi sampai sekarang tidak ada sinyal.
"Udah, tidur..... Besok aja chatingannya," gumam Via, gadis itu melingkarkan tangannya memeluk Melisa.
"Mulai deh, mulai!!"
"Nggak ada bantal guling, Mell!"
"Aaaa.... peluk Rere aja sana!!"
"Rere nggak bisa dipelukkkk, kamu aja yang lebih bisa!'
"Hmmmm."
Melisa pasrah sekarang, walaupun sedikit gerah ia tetap membiarkan Via memeluknya sampai gadis itu tertidur pulas.
Melisa sendiri kesulitan untuk tidur, padahal ia sudah memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa, bahkan sampai suara dengkuran dari Rere terdengar, Melisa belum tidur juga.
Sampai samar-samar Melisa mendengar beberapa orang berbicara di dekat tendannya, sepertinya panitia keamanan yang sedang berjaga. Sampai lima menit berlalu, Melisa masih mendengar suara mereka, karena penasaran, Melisa mengintip dari dalam tenda.
Ternyata tiga orang sedang duduk sekitar 3 meter dari tenda mereka, tapi anehnya satu hal yang membuat Melisa memutuskan untuk tidak mengintip lagi, ketika Melisa menyadari salah seorang dari mereka adalah Chandra yang duduk menghadap tepat ke arah tenda dengan tubuh yang diselimuti oleh selimut milik Melisa.
__ADS_1
"Kok bisa di dia?" Batin Melisa. Tak mau memikirkan banyak hal lagi, Melisa pun memutuskan untuk memasang kembali headset-nya dan memutar musik yang mengantarnya menuju alam mimpi yang tak seindah dunia nyata.