
Melisa yang melihat Gibran yang baru saja turun dari lantai atas langsung berjalan cepat mendekati pria itu.
"Aman nggak?" tanya Melisa sembari menatap kedua netra Gibran. Dengan penuh senyuman, Gibran mengusap kepala Melisa yang sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Aman kok, Sayang. Tenang aja."
"Tadi kamu ngomongin apa aja sama Ayah?"
"Emm, ngomongin kamu, ngomongin sebesar apa sayang Tuan Felix ke Nona Melisa tercinta! Sekalian juga, aku minta izin buat ngajakin kamu ketemu sama Mama dan Papa aku!"
"Hah? Ketemu Mama dan Papa kamu? Kapan?" Sekarang malah Melisa yang terlihat panik sendiri. Lupa sudah dengan niat awalnya yang ingin menginterogasi Gibran.
"Besok, Kamu belum siap ya?"
Melisa menarik napas pelan, dengan penuh keyakinan ia menjawab. "Aku siap!"
*****
Sepulang dari rumah Melisa, Gibran tak langsung pulang ke rumahnya, ia mampir ke rumah Euni terlebih dahulu, tapi sayang sekali, ia tidak menemukan siapapun di sana, bahkan kata satpam yang berjaga, Euni hampir sebulan lebih tidak pernah pulang ke rumah itu lagi.
Tak mau putus asa, Gibran terus mencari cara untuk menghubungi Euni, bahkan nomer wanita itu sudah tidak bisa dihubungi lagi sekarang, Gibran mencoba menelpon lewat Instagram, tapi nihil, tidak ada jawaban apapun, Euni hilang seperti tertelan bumi! Karena lelah dan belum ada hasil juga, Gibran menghubungi seorang kenalannya untuk membantu mencari keberadaan Euni.
"Ma, Gibran pulang!" ucap Gibran yang baru pulang ke rumah setelah beberapa hari sibuk dengan segala urusannya di luar sana.
"Kak Gibran!" Livi menyambut kepulangan sang Kakak, rindu juga dengan pria itu, sejak Gibran mengambil alih tanggung jawab perusahaan, sejak itu juga Livi jarang ada waktu dengan Gibran. Terlebih lagi setelah kepergian Liana. Kakaknya malah lebih sering menghabiskan waktu dengan Kak Rozi.
"Mama mana?" tanya Gibran, karena tidak biasanya Mama tidak menyambut kepulangannya.
"Ada kok, lagi di kamar nemenin Papa!!"
__ADS_1
"Emmm, ya udah kalau gitu, Kak Gibran masuk ke kamar dulu, ya, mau istirahat, capek!"
"Kak Gibran udah makan?"
"Udah, kok."
"Ya udah, istirahat ya, Kak. Good night!"
"Good night too."
Gibran menyempatkan diri untuk berganti baju, cuci muka, dan sikat gigi sebelum tidur. Sambil bersandar pada dinding kamarnya dengan kaki yang diluruskan, Gibran meraih handphone-nya untuk mengabari Melisa kalau dia sudah sampai rumah.
Di samping itu, Gibran masih menunggu kabar dari orang suruhan untuk mencari tau di mana keberadaan Euni sekarang. Tapi sampai saat ini masih belum ada kabar terbaru. Sampai akhirnya Gibran malah ketiduran saking lelahnya.
Berbeda dengan Melisa, gadis itu kini masih sibuk berkutik dengan Handphonenya, perasaannya berdebar tak karuan jika mengingat besok pagi ia akan bertemu dengan orang tua Gibran. Melisa menyampaikan keresahannya pada Via dan Rere di grup WhatsApp. Keduanya pun memberikan dukungan, semangat dan mencoba menenangkan Melisa.
Bahkan Rere dan Via berpesan, bahwa Melisa harus menjadi dirinya sendiri, tampil menjadi diri dan pribadi Melisa selama ini, tak ada yang perlu Melisa ubah dari dirinya untuk mendapatkan persetujuan dari orangtua Gibran! Mungkin jika ada sikap Melisa yang kurang berkenan, barulah Melisa wajib memperbaikinya! Tapi secara penampilan, Rere menyarankan Melisa senyamannya dia, dan tetap jadi sosok Melisa.
Saking kepikirannya, Melisa sampai kebawa mimpi, dalam mimpinya Melisa melihat Gibran berdiri di tengah kedua orangtuanya tepat di depan pintu rumah, sedangkan Melisa melihat mereka dari halaman, Melisa mencoba untuk mendekat saat Gibran memangilnya, tapi seolah terhalang dinding kaca, Melisa tidak bisa masuk dan menghampiri keluarga Gibran. Dalam mimpinya, Melisa hanya bisa melihat Gibran dari kejauhan, melihat kebahagiaan keluarga Gibran tanpa Melisa bisa mendekati mereka!
Hal itu tentunya melukai hati dan perasaan Melisa, hingga tanpa sadar butiran air mata pun menetes dari matanya yang masih terpejam.
"Gibran!!" Melisa tersentak, napasnya terengah-engah dengan dada yang naik turun seperti orang yang kelelahan setelah dikejar anjing. Saat Melisa melihat ke arah jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
"Huh, untungnya cuman mimpi!" Melisa mengusap wajahnya, menarik napas dalam-dalam di balik kedua telapak tangannya. "Tuhan, lancarkan dan permudahlah semua urusanku hari ini, berikan juga ketenangan dalam hatiku."
Setelah merasa semua nyawanya sudah terkumpul, Melisa pun bergegas merapikan tempat tidurnya, lalu masuk ke kamar mandi.
*****
__ADS_1
Hesti terlihat begitu bahagia ketika Gibran mengabarkan kalau akan membawa Melisa ke hadapannya, tapi di lain sisi ia kesal juga karena Gibran memberitahu tepat di hari H, jadi Hesti tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan sambutan atas kedatangan Melisa.
Melihat Mamanya yang begitu antusias menyiapkan segala hal, Gibran dan Livi tak tinggal diam, mereka menawarkan diri untuk membantu.
Hesti meminta Livi untuk membantunya menyiapkan jamuan, berupa menu makan siang, dan aneka ragam cemilan. Sedangkan Gibran diminta untuk mengurus dirinya sendiri saja, mandi dan bersiap-siap menjemput Melisa!
"Hem, Mama paling seneng nih kalau kayak gini!" ucap Livi, karena sepanjang mengerjakan pekerjaannya Livi tak pernah melihat senyuman dari sang Mama memudar!
"Kak Gibranmu itu kan udah lama janji ke Mama buat ngenalin pacarnya, jadi sekarang, wajarlah Mama senang, kan?"
"Emmm, Livi jamin deh, setelah ketemu Kak Melisa, Mama bakal lebih tambah senang lagi!"
Hesti mengangguk pelan, semoga sesuai dengan harapan.
****
Setelah sarapan bersama di lantai bawah, Melisa kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, tak berselang lama, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Setelah Melisa membuka pintu, ternyata Mamanya.
Tania menyampaikan beberapa hal penting pada Melisa, saat Melisa berada di tengah-tengah keluarga Gibran nanti, sebagai seorang Ibu, Tania juga mengetahui hal-hal seperti apa yang seorang Ibu harapkan dari pasangan anak laki-lakinya, Tania menjelaskan secara garis besarnya.
"Semua orang berhak menilai kita seperti apa yang mereka mau, mereka juga berhak menyukai dan membenci kita. Tapi, kita tidak boleh merasa hancur hanya karena penilaian buruk satu orang, tidak juga dengan kebencian satu orang. Melisa harus tetap jadi pribadi yang semakin baik setiap harinya, pribadi yang semakin hari semakin berkualitas, sampai orang yang menilai buruk tentang Melisa, malu dengan penilaiannya!"
"Doain ya, Ma." Melisa menggenggam kedua tangan Mama Tania dengan netra yang menatap penuh harap.
"Doa dan restu Mama selalu menyertaimu, Sayang, dan semoga Tuhan mudahkan!"
Mama Tania menemani Melisa turun saat Gibran datang menjemput, Gibran tersenyum ke arah Melisa, setelah berpamitan, Gibran membukakan pintu mobil untuk gadis tercintanya.
Sepanjang perjalanan, Gibran terus mengajak Melisa berbicara mencoba untuk mengalihkan pikiran Melisa, Gibran faham betul, Melisa pasti sekarang merasakan perasaan deg-degan seperti yang ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan keluarga Melisa! Cepat atau lambat, saat seperti itu pasti akan mereka hadapi.
__ADS_1
Gibran meraih tangan Melisa, menggenggamnya, sesekali pria itu mengecup dan meletakkan tangan Melisa di pipinya.
"Ada aku, kita lewati sama-sama, ya!"