
Mobil Gibran berhenti tepat di depan rumah Euni, sesuai dengan rencana Gibran akan membawa Euni pergi makan malam bersama! Sesuai juga dengan keinginan Mamanya!
^^^Gibran :^^^
^^^Gue udah di depan.^^^
^^^* * * *^^^
Kurang dari lima menit, Euni muncul dari balik gerbang dengan menggunakan dress hitam di atas lutut yang membentuk sempurna lekuk tubuhnya, memperlihatkan kaki putih jenjang yang mulus dan dengan belahan dada yang tampak menggoda! Rambut panjangnya ia gerai. Membantu menopang penampilannya.
Gadis itu masuk ke dalam mobil Gibran tanpa diminta, langsung mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi.
"Udah?" tanya Gibran tanpa menoleh ke arah Euni.
"Udah." Jawab Euni dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Lantas mobil Gibran melaju menuju lokasi janjian. Rozi dan Richard juga sedang dalam perjalanan menuju ke sana!
Euni menoleh ke samping, menatap Gibran yang fokus mengemudi, pria itu menggunakan kemeja putih lengan panjang yang sedikit dilipat, dipadukan dengan celana jeans hitam. Serasi dengan penampilan Euni.
Euni menghela napas pelan, pria di sampingnya ini sama sekali tidak tertarik untuk melihat ke arahnya, kah?
"Makasih udah ngeluangin waktu buat makan malam bareng!" ucap Euni. Gibran hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
15 menit kemudian.
Mereka sampai di sebuah restoran, Gibran keluar dari mobil langsung berjalan menuju pintu masuk, tanpa membukakan pintu mobil untuk Euni, meruntuhkan harapan gadis itu!
"Gibran? Tunggu!"
Euni berusaha mengejar langkah jenjang Gibran, tanpa permisi gadis itu melingkarkan tangannya menggandeng lengan Gibran. Gibran tak menepis.
"Kita duduk di mana?" tanya Euni full senyum.
"Itu--" Gibran menghampiri meja yang sudah ada Rozi dan Richard yang duduk membelakangi mereka!
"Eh-- Kamu nggak bilang ada temenmu juga!" lirih Euni, Gibran tak menggubris tetap melanjutkan langkahnya dan dengan terpaksa Euni ikut juga, masih dengan tangan yang menggandeng lengan Gibran!
"Bro?"
Rozi dan Richard langsung menoleh setelah mendengar sapaan Gibran.
"Loh---" Detik berikutnya, Euni dan Richard saling menatap, refleks Euni langsung melepaskan gandengannya pada lengan Gibran dan memberi jarak.
"Loh, Zi. Bukannya lu bilang Gibran bakal dateng sama cewek pilihan Mamanya?" tanya Richard dengan tatapan yang tertuju pada Euni.
"Ya ini ceweknya!" Rozi menunjuk ke arah Euni.
Euni menggeleng pelan. "Aku bisa jelasin, By--"
"Loh kalian?" Gini Gibran yang menatap Richard dan Euni bergantian, pura-pura tidak tau apa-apa.
"Maaf, Bro. Dia cewek gue!"
"Cewek lu?" Gibran menoleh ke arah Euni lagi. "Bener apa yang Richard bilang?"
"Eemm, kita udah putus sekarang! Aku--" Euni berusaha meraih lengan Gibran lagi, namun Gibran mengelak dan pindah berdiri di dekat Richard.
"Maaf, Bro gue nggak tau kalo dia cewek lu. Dari awal gue juga nggak setuju sama rencana perjodohan ini! Jadi gue pikir, Euni lebih pantas buat lu!"
"Gibran?!" Euni menatap Gibran dengan wajah merah menahan malu dan amarah!
"Udah, kita akhiri aja sampai di sini, jadi kamu juga nggak perlu bertindak seperti ini di hadapanku ataupun Mama lagi!"
"Gibran, kamu!! By, ayo kita pergi dari sini!" Euni menarik tangan Richard, namun pria itu tak bergerak sedikitpun.
"Bukannya kita udah nggak ada hubungan apapun lagi?"
"Richard?" Euni menatap Richard dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan restoran!
__ADS_1
"Nggak lu susulin?" tanya Rozi pada Richard yang malah sibuk dengan minumannya.
"Biarin aja, gue juga udah capek ngadepin dia! Kejadian ini juga bukan untuk yang pertama kalinya!"
Menurut cerita Richard, sebelum kejadian ini, Euni juga pernah menjalin hubungan dekat dengan salah seorang rekan bisnisnya, tentunya tanpa sepengetahuan Richard, tapi begitu ketahuan, Euni langsung minta maaf dan dengan bodohnya Richard memaafkan.
"Nyokap gue dari awal emang nggak suka sama hubungan gue dan Euni. Tapi gue tetep milih buat pertahanin dia! Tapi dia?"
Gibran menepuk pundak Richard. "Lu pasti bakal nemuin orang yang jauh lebih cantik, baik dari wajah ataupun attitude-nya!"
Richard tersenyum, ia sama sekali tidak marah atau membenci Gibran, toh Gibran juga sebagai calon korban di sini! Sebelum Gibran datang tadi, Rozi sempat bercerita tentang Gibran yang dipaksa menerima wanita pilihan Mamanya! Tapi Rozi tidak menyebutkan siapa wanita itu dari awal!
"Udah jangan galau-galau lagi, abis ini kita party!" ucap Rozi.
"Gibran, lu ikut, kan?"
Gibran menggeleng. "Kalian aja!"
"Ayoklah, sekali saja!"
"Kalian aja, abis ini gue langsung pulang!"
Rozi tersenyum ke arah Richard, seolah memberi isyarat kalau mereka tidak perlu memaksa Gibran untuk ikut, cukup mereka berdua saja!
"Beruntung banget sih cewek yang dapetin lu, Bro!" sanjung Richard. Walaupun tidak memiliki hubungan yang begitu akrab dengan Gibran, tapi Richard sering mendengar cerita tentang Gibran dari Rozi! Pria itu memang memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Rozi, jika Rozi si sering minum alkohol dan berhubungan bebas dengan pasangan atau wanita-wanita bayaran di luar sana, maka Gibran sebaliknya. Tidak minum alkohol dan tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun, sekali pun dengan mantan-mantan pacarnya!
Selesai makan malam bersama, Rozi dan Richard lanjut ke salah satu bar terdekat, sedangkan Gibran balik ke rumah. Setelah menyerahkan kunci apartemennya pada Rozi.
"Jangan sampai kelepasan lagi!" pesan Gibran sebelum berpisah dengan Rozi, Gibran menitip Rozi juga pada Richard, mengingat kalau Rozi bukan seorang bujang lagi!
* * * * *
Gibran berjalan santai memasuki rumah, dan malah bertemu dengan Mamanya yang baru keluar dari dapur.
"Gimana? Lancar?" tanya Hesti menyinggung tentang makan malam bersama Euni.
"Loh kenapa?"
"Gibran nggak suka sama dia, Ma. Gibran juga nggak bisa dan nggak mau dipaksa buat suka sama dia!"
"Oke, kalau kamu nggak suka, Mama nggak bakal paksa kamu lagi, tapi dengan syarat --- bawa cewek yang kamu suka ketemu sama Mama! Gimana?"
"Ma--"
"Nah, kalo belum bisa lagi, terpaksa Mama bakal lanjutin perjodohan ini!"
"Mama, Gibran serius kali ini!"
"Mama juga serius, Gibran!"
"Oke, Gibran bakal bawa dia ketemu sama Mama, tapi nggak bisa secepatnya..."
"Paling lambat bulan depan!" tegas Hesti.
"Bulan depan." Gibran mengangguk sambil bergumam pelan.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Hesti sebelum meninggalkan Gibran.
"Nggak, Ma. Mama istirahat aja."
"Ya udah, Mama balik ke kamar dulu, kamu juga istirahat, good night, Sayang."
"Good night too, Ma."
Gibran mengambil segelas minuman soda di kulkas kemudian melangkahkan masuk ke dalam kamar, mendudukkan dirinya di pinggiran kasur sembari membuka Handphone.
@melisadwp101 mulai mengikuti Anda (1 jam yang lalu).
__ADS_1
Satu notifikasi dari Instagram yang membuat Gibran yang membuka aplikasi itu.
@melisadwp101 :
Gibran?
Kamu nggak apa-apa, kan?
Ada hal penting yang mau aku omongin, mau chat lewat WhatsApp, nomer kamu udah dihapus dan diblokir Ayah. Lewat IG lama juga nggak bisa. Jadi aku bikin IG baru aja buat chat kamu.
Ayah minta kamu datang ke rumah dan ketemu langsung sama Ayah. Kalau bisa lebih cepat lebih baik lagi, bisa nggak?🙂
Aku harap kamu bisa dan mau dateng🙂
^^^@Gyuandr_ :^^^
^^^Akhirnya bisa chatingan lagi🥺^^^
^^^Aku baik-baik aja, Melisa. Tapi makasih udah khawatirin aku. Gini aja udah seneng banget.^^^
^^^Kamu tenang aja, aku bakalan datang dan penuhin semua kemauan Ayah kamu, secepatnya, Mel. Pasti. ^^^
^^^Kamu takut aku nggak mau datang ya? Kamu lupa? Kita udah sepakat buat jalanin semuanya sama-sama, kan? Jadi aku nggak mungkin nolak permintaan Ayah kamu, apapun yang Ayah kamu minta sebagai persyaratannya, aku bakal usahain buat penuhin semuanya.^^^
^^^Melisa?^^^
^^^Kamu udah tidur ya?^^^
^^^Maaf, ya tadi aku lagi di luar dan baru online sekarang.^^^
^^^Ya udah kalo gitu bobok yang nyenyak ya gadis kecil, semoga mimpi indah, mimpiin aku contohnya.😚❤️^^^
^^^Aku offline ya. Mau istirahat juga.^^^
^^^Good night Melisaa😚❤️^^^
Gibran menaruh Handphone-nya di atas meja, memikirkan kapan hari yang tepat untuk bertemu dengan Ayah Melisa? Sepertinya Gibran juga perlu melihat jadwal berkerjanya atau di hari libur kerja saja?
"Aku juga harus mulai pikirin kapan waktu yang tepat buat bawa Melisa ketemu Mama!" gumam Gibran dengan mata yang terpejam dan tangan kanan yang memijat pelipisnya.
* * * * *
Richard meneguk segelas alkohol lagi, sedangkan Rozi sudah menjauhkan gelasnya setelah meneguk dua gelas penuh.
"Padahal, gue selama ini berusaha buat tanggungjawab sama Euni, tapi dia sendiri yang bertingkah seperti ini!" gumam Richard yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
Rozi tak bertanya, karena tanpa ditanya pun, pria di hadapannya ini pasti akan mengeluarkan semua beban pikirannya dalam keadaan seperti sekarang ini!
"Kalau ditanya cinta, gue sebenernya udah nggak punya perasaan itu lagi, cuman gue nggak mau ninggalin Euni setelah apa yang gue dapet dari dia selama ini! Tapi kalau dia yang mau pergi, silahkan pergi, gue udah berusaha buat bertahan, tapi dia sendiri yang seperti ini!"
"Gua nggak salah kan, Zi?" tanya Richard pada Rozi yang kini menatapnya.
"Nggak, bahkan mungkin lu lebih baik dari gue!"
"Gue tau apa yang gue lakuin sama Euni salah, tapi setidaknya gue berusaha buat tanggungjawab jawab, kan? Gue nggak pergi dan ninggalin dia setelah semua itu!"
"Iya-iya, gue tau, lu orang yang baik kok!" Rozi menjauhkan botol alkohol itu dari jangkauan tangan Richard.
"Tuangin segelas lagi!" ucap Richard sembari mengangkat kelasnya tinggi-tinggi ke arah Rozi.
"Udah, cukup buat malem ini! Ayo ikut gue pulang ke apartemen Gibran!"
"Segelas lagi!"
Rozi menghiraukan ucapan Richard dan langsung memapah tubuh pria itu keluar dari bar. Beruntung Richard menurut.
"Jadi ini judulnya siapa yang ngawasin siapa?" gumam Rozi sambil melirik Richard yang tepar di kursi belakang! Bukankah tadi Gibran yang menitip Rozi pada Richard? Tapi kenapa sekarang malah sebaliknya?
__ADS_1