
Mbak Tuti menghampiri Melisa yang duduk termenung di pinggir kolam Villa Aela.
"Non, ini susu hangatnya," ucap Mbak Tuti lembut sembari meletakkan nampan di atas meja di pinggir kolam.
"Makasih, Mbak."
"Non Melisa mau ditemenin?"
Melisa menggeleng sebagai jawaban : tidak.
"Ya udah kalo gitu, Mbak ke dalam dulu ya."
Dengan raut wajah yang sedikit khawatir Mbak Tuti pun meninggalkan Melisa. Mungkin Nona Mudanya itu butuh waktu untuk sendiri.
"Kak Melisa mana, Mbak?" tanya Arkan yang kebetulan baru pulang lari pagi dengan Ayah.
"Di kolam, Tuan."
"Oke, makasih ya."
Akan mengendap-endap mendekati Melisa yang masih duduk di pinggir kolam.
"Dorrr!"
Melisa terperanjat kaget dan hampir jatuh ke dalam kolam!
"Arkaaaaan!!" teriaknya memukul dada Arka pelan.
"Hehehehe, lagian ke Melisa ngapain coba duduk di sini, dicariin dari tadi!"
"Nggak apa-apa, cuman mau sendiri aja!"
"Kenapa, Kak? Ada masalah?" tanya Arkan khawatir.
"Nggak, cuman Kak Melisa lagi kepikiran sama Kak Rere aja, dari tiga hari yang lalu dia belum ada kabar!"
"Emm, mungkin nggak ada sinyal, Kak Melisa bilang Kak Rere lagi di desa neneknya, kan?"
"Mungkin, sih, Kak Melisa juga mikirnya gitu!"
"Udah, jangan terlalu dipikirin, Kak. Percaya deh, Kak Rere baik-baik aja!"
"Semoga."
Arkan melepas kaos hitamnya, membuang sembarang arah lalu -
byurrr...
Arkan kini sudah berada di kolam renang. "Sini, Kak! Kak Melisa pasti belum mandi?!"
Remaja itu menyiram Melisa hingga Melisa bangun dari duduk santainya dan siap berlari meninggalkan kolam.
"Eitss, Kak Melisa mau ke mana?" Erlan merentangkan tanganya menghadang Melisa.
"Yuk, temenin Erlan berenang!"
Ujung-ujungnya Melisa ikut nyebur dan berenang bersama kedua adiknya itu, mengilangkan sejenak perasaan aneh yang selalu menghantuinya.
* * * *
Hesti membawa nampan yang berisi susu dan juga roti untuk Gibran, sejak semalam pria itu mengaku tidak enak badan!
"Gibran? Mama masuk ya?"
Tidak ada sahutan apapun. Akhirnya Hesti pun masuk karena memang pintu kamar Gibran tidak dikunci.
"Gibran? Bangun, Nak!"
Hesti membelai rambut hitam legam anaknya yang masih berbaring di atas kasur dengan tubuh ditutupi selimut putih tebal.
"Bangun dulu, sarapan!"
"Hmmm."
"Apa kita perlu ke rumah sakit?"
Gibran menggeleng, namun masih enggan untuk menepis selimut yang menghangatkan tubuhnya.
"Kalo gitu ayo bangun sarapan!"
"Nanti, Ma."
"Nanti nggak hangat lagi susunya!"
Dengan malas Gibran akhirnya bangun, dengan rambut acak-acakan dan wajah pucat seperti setan!
"Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit?"
"Nggak, Ma. Gibran kayaknya kecapekan deh! Cuman butuh istirahat!"
"Ya udah sarapan dulu, terus istirahat lagi, Mama mau pergi jalan-jalan sama Euni, mau beli oleh-oleh!"
"Huh, kenapa sih Mama suka banget sama dia!" gumam Gibran sembari mengunyah roti panggang selai coklat buatan Mamanya.
"Mama suka aja, masih muda tapi udah bisa beli rumah sendiri, punya usaha sendiri, mandiri, nggak minta-minta sama orangtuanya lagi!"
"Hmmm, kalo Gibran nggak suka gimana?"
Hesti menatap Gibran yang juga menatapnya.
"Mama siap-siap dulu!"
Wanita 42 tahun itu melangkah keluar kamar tanpa menjawab pertanyaan Gibran!
"Huh, Mama selalu begitu!"
Gibran meletakkan gelas susu yang baru ia minum dua teguk itu di atas meja. Sepertinya tubuh Gibran sedikit kaget setelah bertemu Tuan Felix semalam! Membuat Gibran tidak tenang sepanjang malam dan baru bisa tidur setelah jam 4 subuh!
Gibran masih kepikiran dengan keputusan apa yang harus ia ambil mengenai hubungannya dengan Melisa!
"Kak Gibran!" Livi langsung membuka pintu kamar Gibran tanpa mengetuk terlebih dahulu!
"Kenapa?" tanya Gibran malas.
__ADS_1
"Lihat ini!" Livi menunjukkan Story Instagram Melisa yang menunjukkan foto kolam yang begitu tenang dengan menandai lokasinya di Villa Aela, Pulau XX.
"Tenyata Kak Melisa di sini juga! Huh, kebetulan banget nggak sih!" seru Livi.
Gibran tersenyum samar, ternyata dugaannya benar!
"Mau ketemu Kak Melisa nggak, Kak?"
"Kayaknya nggak bisa deh, Ayahnya juga ada sini!"
"Iyakah? Kak Gibran tau dari mana?"
Gibran diam sejenak, dia tidak mau membuat Livi khawatir, jadi terpaksa harus menutupi kejadian semalam dari Livi!
"Kak Gibran nebak aja sih, lagian nggak mungkin kan Melisa sendiri di sini! Via kan lagi di Jepang! Dan nggak mungkin juga sama Rere, kan?!" Gibran tau info itu karena sering melihat postingan Instagram Via di berandanya!
"Emmm, iya juga sih, gimana ya, masak Kak Gibran nggak mau ketemu? Deket loh jaraknya!"
"Ya mau sedekat apapun kalo nggak ditakdirin ketemu ya nggak bakal ketemu! Dan mau sejauh apapun kalo ditakdirin ketemu ya bakal ketemu, entah dengan cara apapun itu!"
"Huh, Kak Gibran mah! Masak nggak mau usaha sih!"
"Bukannya nggak mau usaha, cuman Kak Gibran juga mikirin Melisa, gimana nanti kalo Ayahnya tau dia ketemu Kak Gibran di sini! Kan kasian dianya!"
"Hiks, kenapa jadi serumit ini sih!"
Gibran mengangkat bahunya. "Nggak tau juga!"
"Oh ya, tadi malam Kak Gibran ke mana, hah?! Livi sampe ketiduran tau nungguin Kak Gibran pulang!"
"Nggak kemana-mana, Kak Gibran duduk di pinggir pantai, jam dua belas juga udah pulang!"
"Hmmm, tadinya mau Livi ajak keliling nyari oleh-oleh, tapi Kak Gibran malah sakit gini!"
"Heh, Kak Gibran juga nggak mau ya sakit! Lagian kenapa nggak ikut sama Mama aja tadi!"
"Ih, ogah! Ada si Mak Lampir! Lebih baik Livi pergi sendiri daripada harus sama dia!"
"Hahaha, Mama tuh udah diapain sih sampe segitu sukanya sama si Mak Lampir!" imbuh Livi bergidik ngeri.
"Nggak tau, ah. Males bahas dia!"
Gibran kembali menarik selimut, rasa ngantuknya belum terbayar lunas!
"Ish, nggak seru banget, lagi liburan gini masak Kak Gibran cuman tidur di kamar! Temenin Livi kek!"
"Heh, udah Kak Gibran temenin ya dari kemarin-kemarin! Sekarang Kak Gibran butuh istirahat, kapan lagi bisa tidur nyenyak tanpa mikirin kerjaan!"
"Males, ah!" Livi menghentakkan kakinya, meninggalkan kamar Gibran.
"Ya udah Kak Gibran istirahat sampai sembuh, terus nanti malam harus temenin Livi! Nggak mau tau, nggak boleh ada penolakan! Malem terakhir soalnya!" ucap gadis itu dari depan pintu kamar Gibran.
"Huh." Gibran meraih Handphone nya di atas meja dekat lampu tidur. Membuka aplikasi Instagram, yang kebetulan akun Instagram Livi log in di sana.
"Apa mungkin cewek yang aku liat malam itu adalah Melisa? Bukan orang yang mirip Melisa?" gumam Gibran. Pria itu mengunjungi akun Instagram Melisa.
"Sekarang aku bingung, Mel. Perasaanku sebenarnya masih sama, tapi satu sisi aku takut kalo suatu saat nanti aku bakal ngecewain kamu!"
"Entah, aku nggak tahu takdir seperti apa yang Tuhan rencanakan untuk kita! Tapi apapun itu, aku harap akan berakhir bahagia!"
Tatapan Gibran terfokus pada foto itu, mengumpul kembali semua memori tentang Melisa, mulai dari awal mereka bertemu sampai saat ini, mereka yang terpaksa untuk saling menghindari!
* * * *
Seperti biasa, Jefri selalu siap siaga untuk menemani Melisa, kemana pun Melisa ingin membawa langkahnya!
Tapi kali ini bukan hanya Melisa, melainkan ada Arkan juga yang katanya ingin ikut mencari oleh-oleh untuk ia berikan kepada beberapa teman dekatnya! Erlan tidak ikut dengan mereka, tidak mau jauh-jauh dari Ayah dan Mama katanya, biasalah si paling bungsu dan manja!
"Nah, kita turun di sana aja, Nona."
Mobil Jefri terparkir bersama mobil-mobil yang lainnya, memasuki kawasan pusat perbelanjaan, sepertinya ada bazar besar-besaran untuk merayakan tahun baru!
"Kak." Arkan mengulurkan tangannya, minta digandeng, biar seperti pasangan couple, gitu!
"Hahaha, sini-sini kita kencan!" Melisa merangkul lengan Arkan, layaknya sepasang kekasih muda yang sedang berkencan, Jefri tak berkomentar apa-apa, hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua kakak-beradik di depannya.
"Wah kayaknya yang ini bagus!" Melisa menyentuh sebuah bikini yang membuat Arkan ataupun Jefri langsung memelototinya.
"Beli yang lain saja, Nona!" Jefri memalingkan wajah, menahan tawa.
"Ayo, jangan aneh-aneh deh, Kak!"
Arkan langsung menyeret tangan Melisa yang malah tertawa, puas rasanya melihat ekspresi kesal Arkan! Yakali Melisa mau beli begituan sebagai oleh-oleh!
Melisa berhenti pada sebuah toko yang menjual segala jenis tas rajut, mulai dari yang selempang, Tote bag, handbag dan tas punggung dari ukuran paling kecil hingga paling besar dengan aneka motif dan warna!
Setelah lama memilih dan memilah, akhirnya Melisa memutuskan untuk membeli 8 tas, 3 selempang untuk dirinya sendiri, Rere, dan Via dengan warna yang sama tapi motif berbeda. 2 Tote bag couple untuk Mbak Indah dan Mbak Tuti, lalu 3 handbag lucu untuk Mama, Mamanya Rere dan Mamanya Via! Yang mana harga semuanya lumayan menguras uang tabungan Melisa!
Melisa juga membeli beberapa baju kaos spesial untuk Rere dan Via. Bahkan memesan gantungan kunci yang terukir nama mereka!
Arkan yang melihat belanjaan Melisa saja sampai tercengang!
"Udah, Kak?"
"Hehehehe, udah."
"Mau istirahat dulu, Tuan, Nona?" tanya Jefri yang ikut serta membawa barang belanjaan Melisa.
"Iya, sangat butuh istirahat!" sahut Arkan.
"Mau makan di sana?" Jefri menunjuk salah satu rumah makan yang masih berada di pusat perbelanjaan.
"Ayo!"
"Emm, gimana kalo belanjaannya kita taruh di mobil dulu, Nona?"
"Iyaya, pasti kamu kewalahan!"
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke parkiran terlebih dahulu, sebenernya Jefri bisa saja balik sendiri, tapi tidak mungkin dia meninggalkan Melisa dan Arkan begitu saja! Jadi terpaksa harus mengajak mereka juga!
Saat mereka kembali masuk, suasana lebih ramai dan padat dari sebelumnya, banyak orang yang keluar masuk dari toko yang satu ke toko yang lainnya!
Sampai-sampai Melisa tidak sengaja menabrak seorang gadis yang membuat barang-barang gadis itu jatuh!
__ADS_1
"Maaf, saya nggak sengaja!" Melisa berjongkok memunguti barang-barang yang berserakan karena ketidaksenggajaannya!
"Kak Melisa?"
Eh -
Melisa mendongak menatap Livi yang kini ikut berjongkok memunguti barang-barangnya!
"Loh, Livi? Kamu di sini juga?"
"Iya Kak, udah dari 3 hari yang lalu! Kalo Kak Melisa?" Livi menatap dua pria yang bersama Melisa.
Aish, si ganteng kok di sini juga?!
Batin Livi ketika melihat Arkan, remaja itu tersenyum sembari melambaikan tangannya. "Hai."
"Lah kok sama!" Melisa menoleh pada Arkan, lalu menatap Livi yang senyum-senyum sendiri.
"Oh ya, Arkan, ini Livi, adik kelas Kak Melisa. Livi, ini Arkan Adik kandungku!"
"Hai, senang bertemu lagi denganmu," ucap Arkan tersenyum. Livi kini beralih menatap Jefri.
"Emmm, yang itu, siapa, Kak?" tanya Livi sedikit berbisik.
"Ah ya lupa. Kenalin Jefri temen Kak Melisa. Jefri ini Livi, adik kelasku!"
Jefri hanya tersenyum seraya mengangguk pelan.
Beneran temen nggak sih?
Batin Livi yang tadinya mengira kalau Jefri adalah kekasih Melisa! Kalau benar begitu, bisa patah hati Kakaknya!
"Kamu udah mau pulang?" tanya Melisa setelah mereka diam beberapa saat.
"Belum, Kak. Mau makan dulu di sana!" Livi menunjukkan rumah makan yang ingin Melisa kunjungi tadi!
"Emm, mau samaan nggak? Kita juga mau ke sana!"
"Emang boleh, Kak?"
Melisa menoleh pada Arkan dan Jefri, keduanya mengangguk membolehkan!
Ke-empatnya pun memasuki rumah makan, duduk dan makan di meja yang sama!
Diam-diam ternyata Arkan dan Jefri menyimak percakapan kedua gadis itu, bertukar cerita tentang liburan mereka selama di pulau ini, bahkan Livi menceritakan momen di mana Arkan tak sengaja menabraknya waktu itu!
Ini hanya Livi kan, nggak mungkin Ayah bakal ngelarang!
Batin Melisa. Toh Livi juga adik kelasnya. Ya walaupun ada hubungannya dengan Gibran!
"Emmm, Kak Melisa, boleh foto bareng nggak?"
"Boleh-boleh, mau pakek Hp siapa?"
"Hp Livi aja!"
Livi membuka kamera depan, mengambil beberapa foto selfi dengan Melisa. Ada foto selfi berempat juga dengan Arkan dan Jerfi.
Kayaknya ini bakal jadi oleh-oleh spesial deh buat Kak Gibran!
Batin Livi.
Di tengah-tengah makan Jefri mendapat pesan dari Tuan Felix yang meminta agar mereka cepat kembali ke Villa!
"Nona, sepertinya kita tidak bisa berlama-lama, Ayah Anda meminta untuk segera kembali ke Villa!" bisik Jerfi.
"Tunggu sebentar lagi."
Melisa menghabiskan makanan yang ada piringnya saja dan kebetulan juga Livi sudah di suruh pulang oleh Papanya!
"Makasih ya, Kak. Seneng banget bisa ketemu Kak Melisa di sini!"
"Iya, sama-sama, Livi. Kamu pulang sama siapa?"
"Sama Papa, Kak. Lagi otw ke sini!"
"Ya udah kalo gitu aku duluan, ya!"
"Hati-hati di jalan, Kak!"
"Kamu juga hati-hati, titip salam buat-" Melisa menghentikan ucapannya, entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Melisa!
Livi yang mengerti pun tersenyum. "Tenang, nanti Livi sampain!"
Livi mengelus lengan Melisa yang malah tersenyum canggung.
"Dadah, Kak!"
"Dadah."
Argghhhhhhhhhh. Please, kenapa dunia sesempit ini... Masak ia aku malah terpesona sama adiknya Kak Melisa!
Batin Livi yang masih memperhatikan punggung Arkan, remaja itu sama sekali tidak menoleh lagi seperti yang Livi harapkan!
"Jadi nggak sabar buat pulang dan cerita ke Kak Gibran!"
* * * *
"Nona Melisa tadi bertemu dengan adik kelasnya, Tuan. Namanya Livi. Nona mengajak gadis itu untuk ikut makan bersama, sepertinya mereka cukup akrab."
"Ada lagi?"
"Hanya itu, Tuan."
"Baiklah, terimakasih sudah menjaga Arkan dan Melisa."
"Sama-sama, Tuan, saya senang Anda mempercayai saya!"
Sambungan telepon terputus, Jerfi memasukkan kembali Handphone ke dalam saku celana setengah mengirim pesan pada Lucas, agar kekasihnya itu bersabar sampai pekerjaannya selesai!
Sabarlah, kita akan menghabiskan malam tahun baru ini bersama!
Batin Jefri. Pria itu tersenyum membayangkan momen malam tahun bersama dengan Lucas, pria yang sudah membersamainya sejak dua tahun terakhir ini!
__ADS_1