Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Aturan


__ADS_3

Rere dan Via yang mendengar cerita Melisa mengenai aturan-aturan yang Tuan Felix berikan hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak habis pikir kalau Melisa dan Gibran menyetujui aturannya.


"Jadi setiap kalian mau keluar, Gibran harus izin langsung ke Mama atau Ayah kamu?" tanya Rere.


"Iya, bisa lewat telpon juga, tapi ada aturan lain yang menyebutkan, kalau nggak boleh dijemput di sekolah atau di luar sekolah, harus dijemputnya langsung ke rumah! Jadi sama artinya bohong, tetap nggak bisa izin dari telpon, kan?!"


"Nggak sih, Mel, mungkin maksudnya, kalau semisalnya Ayah sama Mama kamu nggak ada di rumah, jadi bisa berlaku dong izin dari telponnya?"


Melisa diam sejenak, benar juga apa yang Via katakan.


"Oh ya terus, gimana ceritanya kado dari Mamanya Gibran? Udah kamu buka?"


"Udah, tapi aku kurang enak buat nerimanya. Kalian faham, kan maksudku?"


"Iya faham, Mel. Pasti rasanya kayak dapat kado dari orang asing, kan?"


"Bisa dibilang gitu!"


"Tapi ya, Mel, aku masih belom percaya loh sama semua ini!" lirih Rere.


"Maksudnya?"


"Iya, kek nggak nyata, Mel. Coba deh kamu inget-inget lagi dari awal! Mulai dari kita yang nggak sengaja ketemu Om Gibran di bukit cinta!"


Ingatan Melisa secara otomatis mengingat kembali moment itu, memutar kembali semua momen demi momen bersama Gibran, sampai pada titik mereka sekarang.


"Iya sih, kalau dipikir-pikir aku nggak pernah bayangin kalau bakal sampai di titik sekarang ini!" lirih Melisa.


"Tapi kamu beruntung sih, Mel."


Melisa menatap Via.


"Iya, kamu beruntung dapatin cowok kayak Gibran, dia mau berjuang buat dapetin restu orangtua kamu dan sampai seserius itu."


Melisa tersenyum samar. "Iya, aku sangat beruntung, Vi."


"Mel?" panggil Rere.


"Iya, kenapa, Re?"


"Gimana, udah izin buat campingnya?"


"Udah, Ayah juga ngizinin."

__ADS_1


"Serius?"


"Iya."


"Yeayyy.... Kita bisa camping samaan!!" Rere memeluk Melisa dan Via secara tiba-tiba, entah apa yang membuat gadis itu bisa sebahagia sekarang!


...****************...


Gibran bergegas menuju rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Mamanya, kalau Papanya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sesampainya di sana, ia melihat Mamanya sedang berdiri di depan jendela kaca ruang rawat pasien ditemani oleh Gama, sepupunya.


"Ma?"


Hesti yang mendengar suara Gibran pun langsung menoleh dan memeluk Gibran erat, suara tangisnya kembali terdengar. Gibran mengusap pelan punggung Mamanya, tatapan matanya tertuju pada Papa yang terbaring lemah di dalam sana.


"Gama?"


"Iya, Kak?"


"Jemput Livi sekarang!"


"Tapi--"


"Sekarang!" Tegas Gibran tak menerima bantahan.


Hesti mengangguk pelan mendengar ucapan Gama. Lantas pria itu berlalu meninggalkan Ibu dan anak yang masih berdiri menatap sang Ayah dari balik jendela kaca.


"Tadi, Mama mau anterin kopi ke ruang kerja Papa, tapi pas Mama masuk, nggak ada siapapun di sana. Awalnya Mama kira, Papamu lagi di belakang lagi kasih makan ikan, tapi pas Mama cek, Papa juga nggak ada di sana. Terus pas Mama balik lagi ke kamar buat ngambil handphone, Mama liat pintu kamar mandi udah ke buka, dan Papa pingsan di dalam sana!" ucap Hesti menjelaskan sambil sesekali mengusap air matanya.


"Udah, Ma, udah. Sekarang kita doain yang terbaik buat Papa!" Gibran berusaha menenangkan Mamanya, padahal pikiran dan hatinya sendiri sedang kacau balau sekarang.


Setelah hampir setengah jam, Dokter pun memanggil Gibran untuk membicarakan kondisi Tuan Yohan, Dokter menjelaskan kalau benturan keras akibat jatuh itu mengakibatkan patah tulang di bagian punggung belakang, yang sangat kecil kemungkinan untuk disembuhkan, karena jika Dokter mengambil keputusan untuk operasi pun tidak bisa, mengingat Tuan Yohan memiliki kelainan pada jantung dan juga gangguan pernafasan.


Gibran yang mendengar itu langsung tertunduk, air matanya sudah berlinang, namun sekuat tenaga ia tahan.


"Tolong, lakukan yang terbaik untuk Papa saya, Dok!"


...****************...


Melisa yang baru balik dari kamar mandi tak sengaja melihat Livi yang baru saja keluar dari kelasnya, belom sempat Melisa menyapa Livi, gadis itu sudah terlebih dahulu berlari menuruni tangga.


"Mungkin dia lagi nggak enak badan, ya?" gumam Melisa, karena jelas saja ini belum waktunya pulang sekolah, tapi Livi sudah keluar kelas sambil membawa tas.


Sempat terlintas pikiran Melisa untuk menayangkan tentang Livi pada Gibran. Namun belum sempat Melisa mengeluarkan Handphonenya, Melisa teringat sebuah peraturan bahwa ia tidak boleh menghubungi Gibran saat masih di sekolah, kecuali dalam keadaan mendesak.

__ADS_1


Pada akhirnya, Melisa menyimpan rasa penasarannya sampai waktu pulang sekolah tiba.


...****************...


Livi yang tiba-tiba dijemput oleh Gama sudah menaruh perasaan tidak enak sejak awal, dan benar saja, Gama akhirnya memberitahu Livi apa alasan pria itu sampai menjemputnya di tengah-tengah jam belajar!


"Paman masuk rumah sakit, dan Kak Gibran sendiri yang menyuruhku untuk menjemputmu."


Wajah Livi pucat setelah mendengar hal itu, punggungnya bersandar pada kursi mobil, tatapannya lurus ke depan dengan kedua tangan di atas pangkuannya.


"Papa kenapa? Bukannya tadi pagi Papa baik-baik saja?" lirih Livi, mengingat tadi pagi mereka masih sempat sarapan bersama seperti biasa, dan jelas sekali, Papanya terlihat baik-baik saja.


Gama terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa? Karena dirinya sendiri pun tidak tau persis apa yang terjadi pada Tuan Yohan, Pamannya.


Sampai di rumah sakit, Livi berlari kecil menuju ruang rawat diikuti oleh Gama. Dari kejauhan, Livi bisa melihat Gibran berdiri di luar ruangan, tanpa aba-aba gadis itu langsung berhamburan memeluk Gibran.


"Kak Gibran.... Papa kenapa, Kak?"


"Suust.... Papa nggak apa-apa...," ucap Gibran menenangkan.


Spontan Livi menatap ke dalam ruangan, di dalam sana ada Mama yang duduk di samping ranjang Papa dengan kondisi Papa yang masih terpejam.


"Papa lagi istirahat."


Gibran mengusap air mata Livi, menatap gadis kecil itu. "Maaf sudah membuatmu khawatir."


"Nggak, Kak Gibran nggak perlu minta maaf, bukannya Livi sendiri yang minta ke Kak Gibran buat langsung kasih tau Livi, kalau ada sesuatu yang terjadi sama Papa dan Mama kalau Livi masih di sekolah? Bukan kah Kak Gibran hanya memenuhi permintaan Livi? Jadi Kak Gibran nggak salah!"


Kali ini Gibran mengusap kepala Livi dan memberikan sebuah kecupan di kening gadis itu.


"Livi boleh masuk, Kak?"


"Boleh, tapi jangan lama-lama."


Gibran mundur dua langkah dan hanya memperhatikan dari luar ruangan saja.


"Gama?"


"Iya, Kak?"


"Kamu balik aja ke kantor, biar Kak Gibran yang tetap di sini!"


Gama mematuhi perintah Gibran tanpa adanya penolakan. Hingga tersisalah Gibran sendiri di luar sana.

__ADS_1


Gibran sempat mengecek jam, masih tersisa 2 jam lagi sebelum jam pulang sekolah Melisa! Pria itu hanya bisa menghembuskan napas pelan, ia tak bisa melanggar apa yang sudah menjadi peraturan yang ditetapkan oleh Ayah Melisa!


__ADS_2