
Hari yang Melisa tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, tepat di Rabu pagi dengan cuaca langit mendung disertai dengan tiupan angin yang begitu dingin! Melisa berdiri tepat di belakang Ayah dan Mamanya! Di sampingnya ada Arkan dan Erlan! Lalu dibelakangnya ada Om Noah berserta keluarga 3 putranya dan istrinya!
Beberapa tetesan air hujan mulai jatuh, Arkan menarik tangan Melisa untuk menjauhi makam dan berteduh! Tapi Melisa tak bergerak sedikitpun!
"Kakak mau menemani Ayah, cukup berikan payung saja!"
Melisa memegang payung hitam yang Arkan berikan, melindungi tubuh tegap Ayahnya dari tetesan hujan. Sekarang tersisa mereka berdua di sana! Yang lain sudah berteduh karena memang acara pembacaan doa sudah selesai sebelum hujan turun!
"Kenapa diam di sini?" ucap Felix tanpa menoleh ke arah putrinya!
"Untuk menemani Ayah!"
"Masuk dan tunggu di mobil! Biarkan Ayah sendiri di sini!"
"Tidak, Melisa akan tetap di sini. Setidaknya jika Melisa tidak bisa bersama Ayah di saat bahagia, maka biarkan Melisa menemani Ayah sekarang!"
"Masih keras kepala rupanya!"
Melisa tersenyum ketir. Tahun-tahun sebelumnya Ayah selalu menjadi orang terakhir yang pulang dari makam, bahkan saat Arkan, Erlan dan Mama ingin menemaninya Ayah selalu menolak! Dan menyuruh semua orang untuk pulang duluan! Menjadi sesuatu hal yang membanggakan bagi Melisa bisa berdiri menemani Ayahnya di sini. Walaupun tanpa ada percakapan lagi!
Felix tertunduk menatap makam Felia, ingatannya seolah terputar ulang pada kejadian 27 tahun yang lalu. Tepat di saat usia Felix baru 18 tahun, sedangkan adiknya Felia baru 15 tahun dan Kakaknya Noah berusia 20 tahun saat itu!
Felia adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga mereka! Yang kelahirannya menjadi hari paling luar biasa dalam hidup orangtua dan keluarga mereka!
Semua orang menyayangi Felia, bahkan sampai bisa dibilang, Felia adalah pemegang tahta teratas dalam keluarganya, mengalah kedua Kakak laki-lakinya, Felix dan Noah!
Felix dan juga Noah sangat menyayangi Felia, sama seperti Ayah dan Ibunya menyayangi gadis itu, Felia diperlakukan bak Putri jika berada di tengah-tengah mereka!
Namun, karena Felia adalah kesayangan semua orang, dan bisa dibilang juga kelemahan orangtuanya, ada beberapa orang yang mulai mengincarnya! Terutama para saingan bisnis Ayahnya!
Puncak kejadiannya adalah ketika Felia izin pergi menghadari pesta ulang tahun teman sekolahnya! Malam itu, Felix sempat mengantar Felia ke tempat berlangsungnya acara, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun!
Acara ulang tahun itu kebanyakan di hadari oleh para gadis yang seusia dengan Felia! Pesta awalnya berjalan lancar. Sampai tiba-tiba lampu ruang pesta padam dan asap mengepul memenuhi ruangan! Semua orang berlari untuk keluar ruangan!
Saat Felia berlari menuju pintu keluar! Tiba-tiba seseorang menarik tangannya! "Lewat sini!"
Felia yang tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang bersamanya saat itu pun hanya menurut saja, ketika orang itu membawanya keluar dari gedung! Tapi setelah itu, Felia tidak sadarkan diri dan ketika dia tersadar dia sudah berada di sebuah kamar dengan keadaan telanjang bulat!
"Di-dimana ini?" Felia menarik selimut putih tipis itu untuk menutupi tubuhnya, rasa sakit dan nyilu di bagian ************ membuat Felia merintih kesakitan!
"Ayah... Kak Felix... Kak Noah... Kalian di mana? Felia takut! Tolong Felia!" isak gadis itu, ia tertatih menuju pintu kamar!
"Ayah...." Teriak Felia sekuat tenaganya sambil menggedor-gedor pintu, berharap ada seseorang yang datang dan membuka pintu kamar ini untuknya!
Sementara itu, Felix yang baru mendapat kabar tentang kejadian yang terjadi di pesta langsung menancap gas untuk kembali ke tempat pesta, saat di perjalanan Felix sempat menghubungi dan memberitahu Ayahnya, karena perasaannya tentang Felia sudah tidak enak!
"Di mana Felia?" tanya Felix pada Athaya, si pemilik acara pesta ulang tahun!
"Felia?" Athaya menoleh ke kanan dan kiri, dia baru sadar kalau dia tidak melihat Felia sejak tadi!
"Apakah masih di dalam?!" Felix berlari ke dalam gendung! Tak peduli dengan beberapa aparat keamanan yang menghalanginya!
"Tidak ada siapapun di dalam, Tuan! Kami baru saja memeriksanya!"
"Tidak mungkin! Adikku pasti masih ada di sana! Biarkan aku masuk untuk mencarinya! Dia benci asap! Dia dalam bahaya jika aku telat menyelamatkannya!"
Felix berlari setelah aparat keamanan melepaskannya dan ikut membantu mencari Felia di dalam sana!
Tapi nihil, mereka sama sekali tidak menemukan Felia!
"CCTV?" Felix menatap sudut ruangan. Hanya ada satu CCTV di ruang ini!
"Bagaimana dengan CCTV di dalam sana? Bisakah kalian memutarkan rekamannya?"
"CCTV sudah dimatikan sebelum kejadian, Tuan!"
"Sial!" Felix meninju tembok, tangannya terkepal erat dengan tubuh yang gemetar menahan amarah!
"Di mana Felia?" tanya Noah yang baru datang bersama dengan Ibu dan Ayah!
Felix tertunduk sambil menggeleng pelan!
"Kerahkan semua orang yang ada di markas kalian untuk mencari putriku!" Ayah mematikan sambungan telpon, menatap lekat semua orang yang ikut hadir di acara tadi!
"Siapapun yang berani menyakitinya, akan kupastikan hidupnya tak akan pernah tenang!"
Athaya memeluk Ibunya, ketakutan melihat ekspresi Kedua Kakak dan Ayah Felia!
"Ibu?" Noah menahan tubuh sang Ibu. Membawanya kembali masuk ke dalam mobil.
"Cepat temukan adikmu! Dia sedang butuh bantuan!" Firasat seorang Ibu tak pernah salah!
"Ibu tenang aja, kita pasti akan menemukan Felia secepatnya!"
"Felix? Kamu mau ke mana!"
"Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkan Felia tadi! Seharusnya aku menunggu sampai pestanya selesai! Biarkan aku ikut mencari, Felia!" Felix membuka pintu mobil, namun di tahan oleh Ayahnya.
"Jangan gegabah, bisa jadi ini hanya sebuah jebakan!"
"Jebakan? Siapa yang berani melakukan ini?!"
"Ayah belum tau, tapi Ayah yakin ada seseorang yang sengaja melakukan ini!"
Felix memukul kaca mobil, bagaimana bisa hal seperti ini terjadi pada adiknya?! Felix benar-benar tidak becus menjaga gadis itu!
__ADS_1
***
Felia melangkah mundur begitu pintu kamar terbuka, seorang pria dengan tubuh tinggi, setinggi Ayahnya masuk dengan dada telanjang, dan hanya menggunakan celana hitam pendek! Pria itu berjalan mendekati Felia!
"Si-siapa ka-kamu?!"
Senyuman itu, membuat Felia mempererat pegangannya pada selimut yang masih menutupi tubuhnya!
"Putri kesayangan, akhirnya aku bisa mendapatkanmu!" lirihnya, tangan kekar itu menyentuh ujung rambut Felia, namun Felia malah menepisnya!
"Ja-jangan sentuh a-aku!" Felia melangkah mundur! Ia benar-benar merasa jijik melihat wajah dan senyum pria ini!
"Ayolah gadis kecil! Aku sudah lama menginginkanmu, mari lakukan sekali lagi!"
"Ti-tidak!"
Felia menggeleng pelan, tubuhnya bergetar ketakutan, air matanya sudah berlinang!
"Ayah... Ayah di mana?!" lirih Felia, ia memperhatikan sekitar kamar, hanya ada satu kasur besar, tidak ada lemari, ataupun meja dan peralatan yang lain!
"Ayahmu tidak akan bisa menemukanmu, tidak akan pernah bisa!" Pria itu melangkah mendekati Felia.
"Apa yang kamu mau?" lirih Felia, tak berani mengangkat pandangannya!
"Aku menginginkanmu, Felia Agata!" Tangannya membelai pelan kepala Felia, lalu menyentuh dagu Felia, sampai wajah Felia terangkat dan beradu tatap dengannya.
"Boleh kah aku melakukannya sekali lagi?"
Air mata Felia menetas. Ia benar-benar jijik sekarang, bahkan dengan tubuhnya sendiri, ia jijik!
"Jangan menangis, aku janji tidak akan menyakitimu! Hei!"
"Menjauh dariku!" Teriak Felia.
"Aku akan membantumu membersihkan tubuhmu--"
Dalam satu tarikan tubuh Felia masuk ke dalam dekapannya! Felia masih berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang ada!
"Lepaskan aku!!"
"Diam dan menurutlah!"
"Ti-tidak! Singkirkan tanganmu! Jangan sentuh---"
Felia menggeleng saat tangan pria itu menyentuh bagian tubuhnya, Felia benci ini! Tapi Felia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri!
"Aku mencintaimu, Felia!"
"Tidak, ini bukan cinta!!" Felia mengalihkan wajahnya, tidak rela jika pria yang bahkan Felia tidak tau siapa dia itu menciumnya!
"Lepaskan aku, biarkan aku kembali ke keluargaku!"
"Tidak akan, aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk ini!"
"Seharusnya jika kamu mencintaiku, kamu tidak melakukan hal seperti ini untuk mendapatkanku!"
"Ayahmu tidak mungkin membiarkan aku mendekatimu!"
"Kumohon lepaskan aku!"
"Tidak akan, sampai Ayahmu yang menjemputmu ke sini!"
"Kamu menyakitiku, kamu menyakiti Ayahku, kamu menyakiti Ibuku, kamu menyakiti kedua Kakakku jika seperti ini!"
"Maaf..." Pria itu sedikit melonggarkan pelukannya. "Aku akan membawakan makan untukmu!"
Satu kecupan lembut jatuh di bahu Felia, sebelum akhirnya pria itu melepaskan tubuhnya dan beranjak meninggalkan kamar!
"Apakah ini mimpi?" gumam Felia, tapi jika benar ini sebuah mimpi, lalu kenapa rasa sakitnya sengaja ini?!
"Ayah, bawa aku pergi dari sini..."
Tidak butuh waktu 2 X 24 jam orang-orang suruhan Ayah Felia sudah menemukan keberadaan Felia, bahkan sekarang sudah berhasil masuk ke dalam ruang bawah tanah dengan menghabisi penjaga di bagian depan! Bahkan dari jumlah saja suruhan Ayah Felia menang banyak!
"Felia? Apakah kau di dalam sana?" teriak Noah, ia dan Ayahnya ikut masuk setelah semua penjaga dilumpuhkan.
Felia menatap Barka yang sudah mengarahkan pistolnya, jika Felia berteriak sekarang, maka orang-orang di luar sana akan menyelamatkannya! Atau bisa jadi juga Barka akan menembaknya!
Barka menurunkan pistolnya, ia menatap Felia lekat dan sedalam-dalamnya, lalu berbisik pelan!
"Aku salah, aku terlalu meremehkan kekuatan Ayahmu, Felia. Hidupku tidak lama lagi, aku pasti akan habis di tangan mereka, tapi sebelum itu, aku ingin kamu tau, kalau aku benar-benar mencintaimu, dan ingin hidup selamanya bersamamu--"
Barka mundur dua langkah, pistolnya terangkat, tepat mengarah ke arah dada Felia! Felia menggeleng pelan. "Kakak!!" Teriak Felia sekencang mungkin.
"Aku mencintaimu, Felia--"
Dor
Bersamaan dengan melesatnya peluru itu pintu kamar pun terbuka setelah usaha pembobolan dan pendobrakan yang terus gagal!
"Felia!!!"
Ayah Felia dan Noah terpaku saat melihat tubuh Felia sudah berlumuran darah dengan tubuh seorang pria yang terkapar di dekatnya, sebuah pistol tergeletak tak jauh dari keduanya!
"Felia??!" Ayah mendekap tubuh Felia, ia langsung membawa gadis itu ke dalam gendongannya setelah mengetahui bahwa detak jantung Felia masih ada!
__ADS_1
"Kalian bereskan dia!" Noah menatap lekat wajah pria berengshek yang sudah berani menyentuh adiknya itu sebelum meninggalkan kamar dan membiarkan orang-orang suruhan Ayahnya yang membereskan!
"Tidak lebih rendah dari hewan!" gumam Noah setelah mengetahui Barka menghabisi nyawanya sendiri dengan menembakkan pistol tepat di bagian ulu hatinya sebanyak dua kali! Perkiraannya setelah beberapa detik peluru mengenai Felia!
****
"Felia, bertahanlah!" Ayah mendekap tubuh Felia, sampai darah gadis itu mengotori kemeja putihnya!
"Ayah...." Felia mencengkram bahu sang Ayah saat rasa sakit menyerang tubuhnya.
Ayah menggeleng pelan saat cengkraman Felia terhenti di bahunya. "Felia? Felia?"
Felia menghembuskan napas terakhir dalam dekapan Ayahnya, menyisakan trauma dan rasa sakit yang begitu mendalam pada setiap orang yang mengenalnya! Terutama pada Felix yang selalu dihantui rasa bersalah sepanjang hidup, bahkan sampai 27 tahun pun sudah berlalu, rasa sakit, trauma dan penyesalan itu masih ada!
Tidak ada yang mengetahui pasti apa alasan Barka melakukan ini pada Felia, hanya dia dan Felia yang tau, tapi Ayah, Felix dan Noah mengambil kesimpulan lain, mengira ini semua ada hubungannya dengan bisnis! Karena Barka adalah anak dari salah satu saingan bisnis keluarga!
"Jika saja Ayah tidak menunjukkan pada semua orang betapa berharganya kamu dalam hidup Ayah, mungkin kejadian ini tidak terjadi padamu, mungkin tidak akan ada orang yang akan menyakitimu seperti ini, Sayang!" kata-kata itu selalu terucap dari Ayah dan selalu terdengar oleh Felix!
Sejak kepergian Felia, Ibu mulai sakit-sakitan dan setelah 4 bulan melakukan perawatan medis, Ibu menyusul Felia, meninggalkan luka yang mendalam di hati Ayah, Felix dan Noah!
Ketiganya hidup dalam bayang-bayang trauma yang selalu menghantui tidur malam mereka!
Sampai Noah dan Felix takut menjalin hubungan, takut wanita yang mereka cintai dalam bahaya karena mereka!
Di usia 26 tahun, tepatnya setelah 6 tahun berlalu, Noah pun memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga terpandang juga, dan dari pernikahannya dia mendapatkan 3 putra tampan tanpa adanya seorang putri, karena Noah sendiri tidak pernah mengharapkan kehadirannya!
Berbeda dengan adiknya Felix, yang baru menikah saat berusia 27 tahun, atau 9 tahun setelah kematian Felia! Felix menikah dengan seorang gadis yang memberikannya anak pertama seorang bayi perempuan yang manis yang diberi nama Melisa Dwi Pratiwi!
Rasa trauma dengan kejadian Felia membuat Felix takut dengan kehadiran anak perempuannya! Felix takut dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, takut kejadian yang dialami Felia akan dialami juga oleh putri manisnya!
Jadi untuk melindungi anaknya, Felix memutuskan untuk tidak pernah menyangkut pautkan anak perempuannya itu dengan bisnis, atau apapun yang berhubungan dengan bisnis keluarga!
Bahkan Felix melindungi Melisa dengan cara yang tidak masuk akal, dia tidak mempernah menunjukkan bentuk kasih sayangnya secara nyata pada Melisa! Bahkan sejak Melisa berusia 5 tahun, Felix sudah tidak pernah lagi membawanya keluar, untuk melindungi Melisa dari ancaman! Felix tidak ingin orang-orang yang tidak menyukainya malah menjadikan Melisa sebagai kelemahannya!
Oleh sebab itu, Felix lebih menunjukkan bahwa Melisa tak sebeharga itu dalam hidupnya! Bahkan Felix dengan tega memisahkan tempat tinggal Melisa dengan Kedua adik dan Mamanya, jika terjadi sesuatu di rumah utama, biar mereka yang mengalaminya, jangan sampai Melisa! Itu maksud Felix!
Dengan cara itulah Felix melindungi anaknya, mendekap dan menjaga Melisa dari jauh, bahkan tanpa pernah Melisa sadari, 2 orang suruhan Felix selalu mengawasinya setiap ia keluar rumah!
Dan alasan kenapa Melisa tidak izinkan menggunakan mobil rumah, hanya semata-mata untuk melindungi juga! Felix takut seseorang yang mengenali mobilnya itu akan menyakiti Melisa! Berbeda jika Melisa keluar masuk rumah dengan mobil yang berbeda-beda setiap harinya! Felix rasa itu jauh lebih aman!
Selama beberapa tahun ini, semuanya berjalan lancar, tidak ada kejadian janggal atau pun mencurigakan yang menimpa putrinya, sampai pada suatu saat 2 orang suruhannya menyerahkan sebuah foto saat Melisa sedang liburan dengan kedua sahabatnya!
"Siapa pria ini?" tanya Felix, sambil menunjuk pria yang berdiri di dekat Melisa, tangannya merangkul bahu Melisa, foto itu diambil saat mereka sedang di bukit cinta!
"Seorang pengunjung seperti Nona Melisa juga, Tuan!"
"Jadi mereka tidak saling mengenal?"
"Sepertinya tidak."
"Selidiki dia!"
"Baik, Tuan!"
Felix kira ini hanya sebuah kejadian kecil yang tak seharusnya mengganggu pikirannya, sama seperti anak laki-laki dengan nama Fais yang selalu menganggu Melisa! Itu hanyalah serangga pengganggu yang tak berarti apa-apa!
Sampai pada saat di mana kedua orang suruhannya beritahu bahwa pria itu pernah muncul di sekitar sekolah Melisa! Felix benar-benar langsung mengambil berat tentangnya!
"Gibran Yuandara?" gumam Felix saat membaca identitas pribadi Gibran! Yang berhasil didapatkan oleh salah seorang suruhan!
"Ikuti Melisa, dia baru saja keluar rumah!"
"Baik, Tuan!"
Malam di mana Melisa keluar pertama kali dengan Gibran, Felix tidak bisa tenang di rumah, dia terus memperhatikan CCTV, menunggu sampai anak perempuannya itu pulang!
"Kamu terlihat bahagia ketika bersamanya?" gumam Felix saat menatap foto yang dikirim padanya, foto saat Melisa sedang makan bersama Gibran di Ayam Square, senyuman bahagia Melisa membuat Felix tanpa sadar ikut tersenyum!
Meskipun mengetahui anaknya bahagia setiap bersama Gibran, Felix tetap saja takut, terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Gibran adalah direktur baru di perusahaan yang menjadi saingannya beberapa tahun terakhir ini!
"Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi!"
Ketakutan Felix semakin menjadi-jadi ketika mengetahui Gibran beberapa kali mendatangi Melisa sekolah! Dan puncaknya adalah ketika Gibran datang ke rumahnya beberapa malam yang lalu!
Rasa trauma Felix membuat Felix buta akan bahasa cinta yang berusaha Gibran tunjukkan pada anaknya, Felix menilai semua itu hanya sebagai sebuah kebohongan dan sebuah jebakan untuk Melisa!
"Dia hanya menginginkan Melisa sebagai mainan yang akan dia hancurkan kan?" Kesimpulan itulah yang Felix ambil, membuang jauh-jauh kesimpulan bahwa Gibran benar-benar mencintai putrinya!
*****
Sebenarnya selama ini Tania kurang setuju dengan perlakuan Felix pada anak mereka, Melisa. Ini terkesan seperti mereka semua tidak menyanyi Melisa, kan?
Tapi mengetahui betapa khawatirnya Felix dan seberapa dalam rasa trauma Felix membuat Tania mengalah dan mengikuti semua perkataan Felix, meski Melisa mungkin saja akan membenci mereka!
"Semoga setelah hari ini, semuanya akan kembali seperti biasa!" gumam Tania, ia menatap Suaminya dan Melisa yang kini berjalan bersamaan ke arah mereka!
"Ikut dengan mobil Ayah!"
Melisa menatap Mamanya, yang hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Arkan, Erlan, ikut dengan Om Noah!"
"Iya, Yah."
Mobil hitam itu melaju meninggalkan pemakaman, diikuti oleh 3 mobil hitam lain di belakangnya!
__ADS_1
"Aku harus mengakhiri semuanya hari ini, sebelum aku menyesal untuk yang kedua kalinya!" gumam Felix, ia memperhatikan wajah manis putrinya dari kaca mobil. Sekarang yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, apakah Melisa mau mengikuti dan mendengarkan perintah?